Monday, February 18, 2008

Monumen nasional

Manusia selalu membuat karya cipta. Imaginasi dan pikiran manusia selalu mengembara menghasilkan karya karya indah mengagumkan. Perlambang eksistensi dan keperkasaan manusia berinteraksi dengan alam. Saya selalu mengagumi karya arsitektur manusia yang kebanyakan telah berumur ribuan tahun. Angkor Wat, Borobudur & Prambanan, Machu Picchu, tembok besar Cina, piramid Mesir, Taj Mahal dan tak terhitung lagi. Saya tak membayangkan apa yang ada di benak perancang karya kara kolosal sepanjang jaman ini. Penuh imaginasi yang menembus batas waktu dan jaman. Tak lapuk oleh perjalanan masa ribuan tahun ke depan. Kadang perlu banyak imaginasi untuk mengerti makna karya karya tersebut. Tak selalu gampang untuk mengerti makna apa di balik karya karya itu. Monumen sebenarnya dibangun untuk memperingati suatu peristiwa, seorang tokoh atau untuk tempat kegiatan sipiritual. Dalam budaya kotemporer kita juga banyak melihat monumen dalam skala mikro. Sebagai contoh gapura. Apa maknanya ? Tempat masuk gang ? Tempat masuk kelompok hunian. Untuk melindungi mereka yang tinggal di balik gapura? Belum tentu juga. Pada waktu gempa melanda Yogya, banyak gapura yang runtuh menimpa manusia yang seharusnya terlindungi. Jadi konsep gapura untuk melindungi penghuni dibaliknya, sudah terbukti tak benar. Mungkin menjadi refleksi kebersamaan penghuni gang, iuran bersama, membangun gapura bersama. Bisa jadi salah satu program kerja pengurus RT.

Dalam kehidupan modern Indonesia, warga negara tak lepas dari perlambang monumen nasional. Lambang kejayaan dan keperkasaan negara nasional. Monumen nasional yang berupa Tugu Monumen Nasional. Tak bermaksud mengecilkan makna dan arti nasionalisme. Tak mengurangi penghargaan saya yang tinggi akan imaginasi penciptanya. Saya ingin mengungkapkan makna monumen dengan imaginasi dan pengalaman saya. Sebagai pengagum karya arsitektur manusia. Termasuk pengagum para pencipta karya kolosal tersebut. Monumen Nasional tak bisa dilepaskan dari gagasan Bung Karno, Pemimpin Besar waktu itu, untuk memberikan perlambang keperkasaan bangsa Indonesia, negara Indonesia dan manusia Indonesia.

Inilah cerita yang pernah saya dengar. Suatu sore di musim panas di penghujung tahun lima puluhan di Roma. Tiga orang diplomat Indonesia mendapat tugas khusus menyampaikan kiriman dari ibu kota. Seorang diantaranya baru saja tiba dari Jakarta, membawa barang kiriman dengan pesan khusus. Bukan hanya dari Menteri Luar Negeri. Tetapi dari Ajudan Pemimpin Besar Bung Karno. Isi pesan agar lukisan diri Bung Karno, disampaikan ke bintang ternama, bintang terseksi Gina Lolobrigida. Konon beberapa bulan sebelumnya mereka pernah bertemu dan sempat makan malam. Kontak telah dilakukan dengan asisten pribadi sang bintang, dan disepakati untuk mengantar titipan lukisan. Lukisan Pemimpin Besar yang gagah dan ada tanda tangannya.

Ke tiga diplomat muda dengan berdebar sampai di rumah kediaman sang bintang. “”Buonasera ! Kami membawa lukisan dari Pemimpin Besar untuk Madame””.
“”Benvenuto. Iya kami telah menerima pemberitahuan dari kedutaan anda””, jawab sang asisten pribadi. “Maaf Madame sedang ada acara di luar kota. Ada surat untuk Pemimpin Besar. Grazie ””. Tak banyak percakapan. Ketiga diplomat itu cepat cepat pamitan. Mission accomplished. Siapa nggak bangga bisa melakukan tugas khusus untuk Pemimpin Besar. Ketiga diplomat muda itu kemudian memang menjadi tokoh malang melintang di dunia diplomatik Indonesia.

Tak banyak cerita sesudah itu. Tak jelas apa isi surat Gina. Namun ada kabar burung mengatakan bahwa Gina bercerita mengeluh tentang menara Pisa yang bengkok miring. Kalau mau membuat monumen di Jakarta, buatlah yang lurus menjulang tinggi ke angkasa. Harus nampak perkasa runcing menembus langit. Kebetulan Bung Karno juga sedang mengolah banyak gagasan membuat perlambang perlambang keperkasaan nasional. Beliau sendiri ikut menseleksi design mana yang dianggap cocok. Beberapa karya terbaik terpilih menjadi masterpiece lambang keperkasaan Jakarta dan Indonesia. Ada Tugu Monas dengan puncak runcing dari emas 35 kg. Ada Air Mancur yang semprotan airnya sampai puluhan meter menjulang ke angkasa. Ada jembatan Semanggi yang indah. Tugu Selamat Datang. Hotel Indonesia. ISTORA Senayan. Rancangan rancangan asli putra Indonesia pilihan Bung Karno. Mungkin bisa dikatakan awal mula karya arsitektur modern putra Indonesia. Menjadi kebanggaan warga Jakarta dan bangsa Indonesia dengan imaginasi masing masing.

Saya datang ke Jakarta pertama kali di tahun 1964. Umur saya 14 tahun. Bangga sekali melihat Jakarta waktu itu, termasuk melihat Tugu Nasional yang belum rampung. Juga sempat melihat Air Mancur, yang airnya selalu muncrat puluhan meter. Ingat lagu Lilis Suryani menggambarkan keindahan Air Mancur. Ini penggalannya.

Tinggi menjulang ke langit biru
Gemercik suaramu
Bila senja telah mendatang
Kau bertambah ayu
Terpesona aku oleh keindahanmu
Kau lambang penghias ibu kota

Sewaktu melihat Air Mancur dengan mata kepala sendiri imaginasi saya susah berkait dengan kata kata indah lagu almarhum Lilis Suryani itu. Tetapi ingatan saya melayang ke penjual jamu di pasar Ambarawa yang sering teriak teriak di hari pasaran, Pon, mempromosikan jamu buatannya. Katanya ramuan asli Kalimantan. Dia selalu mengatakan punya ramuan mujarab laki laki. Kalau ada pria minum jamu ramuannya, katanya kalau buang air seni akan nyemprot ratusan meter. Sering menimbulkan konflik antar tetangga karena air kencingnya nyemprot ke halaman sekitar. Harus hati hati bung, lihat kri kanan kalau mau buang air. Edan. Kok bisa ya ?

Sejak dibuka resmi di tahun 1975 oleh Orde Baru, monumen2 tadi selalu menjadi kebanggaan. Tak hanya kebanggan warga Jakarta saja. Bahkan mereka yang tinggal di pelosok yang belum pernah datang ke Jakarta, juga mengaguminya. Mereka hanya melihat gambar di koran atau dari radio. Persis seperti yang diungkapkan seorang tetangga saya di Suryodiningratan Yogyakarta, namanya pak Prawito di tahun 1978. Dia belum pernah mengunjungi Tugu Monas. Tetapi bangganya setengah mati dengan karya2 arsitektur Jakarta, terutama Tugu Monas. Umur sudah lanjut sekitar delapan puluh tahun. Tinggal bersama anaknya yang sudah berkeluarga. Isteri pertama sudah meninggal lama. Dia saat itu punya isteri yang masih belia, umurnya baru 23 tahun. Saya kadang sempat nggosip dengan pak Prawito kalau pas beli rokok. Punya jualan rokok di sisi rumah anaknya. Tentang banyak hal. Pengalaman hidupnya. Pengalaman sebagai suami. Dan tak ketinggalan kebanggaannya akan Tugu Monas. Candi candi yang jumlahnya ribuan di Prambanan tak pernah jadi kebanggaannya. Bukan lambang keperkasaan oleh karena jumlahnya banyak beramai ramai. Tugu Monas itu perkasa, karena menjulang ke angkasa sendirian. Hebat. Pak Prawito punya anak kecil kira2 umur 1.5 tahun namanya Sukar. Anak saya tertua Aryo masih umur 2 tahun, selalu main bersama dan memanggilnya “adik Kang”.

Suatu pagi saya berangkat ke kantor saya lihat kios rokok pak Prawito masih tutup. Biasanya pagi2 dia sudah buka. Saya tak banyak perhatian waktu itu karena memang tak ada keperluan beli rokok. Siangnya ketika pulang, rumah pak Prawito sudah banyak orang kumpul. NYI bilang, pak Prawito meninggal barusan, belum ada satu jam yang lalu. Kami bergegas layat ke sana. Mayat belum sempat dimandikan. Istri pak Prawito masih menangis berkepanjangan di samping jenazah suami yang dicintai. Saya bersama beberapa tetangga ikut memandikan jenazah disamping rumah. Saya sebenarnya takut melihat jenazah. Tetapi mau tak mau harus ikut oleh karena tak banyak orang.

Sesaat sebelum dimandikan, sewaktu kain penutup dibuka, semua yang hadir terhenyak kaget. Bahkan beberapa pelayat yang hadir nampak menahan geli. Tak layak di muka jenazah, ada orang kesusahan kok malah menahan geli. Susah ditahan. Melihat burungnya pak Prawito menjulang tinggi puluhan sentimeter, mungkin lebih dua puluh sentimeter. Belum pernah saya lihat dalam karier dokter saya burung sebesar itu. Memang sesudah meninggal pasti akan terjadi rigor mortis atau kaku jenazah. Tetapi saya tak pernah melihat burung yang sudah meninggal menjulang begitu lurus dan tinggi. Istri pak Prawito semakin meraung raung. Kami semua merasa iba dan kasihan melihatnya. Tetapi dalam hati tak bisa menahan rasa geli. Apalagi waktu melihat isteri pak Prawito menangisi dan memegang burung kesayangan. Selesai memandikan jenazah saya pamitan pulang, dari pada membuat dosa, ada orang kesusahan kok malah menahan geli.

Acara pemakaman selesai tanpa insiden. Untung tak banyak yang mengetahui peristiwa pemandian jenazah itu. Tetapi tak urung jadi bahan bisik bisik waktu rapat RT dan arisan ibu ibu. Biasanya kalau rapat RT selalu ngantuk. Sekali itu rapat RT jasi asyik bisik bisik mengenang almarhum, terutama tentang burungnya. Istri pak Prawito kembali ke dusun beberapa Minggu kemudian. Mungkin tak enak hidup ikut anak menantunya. Kami para tetangga selalu mengenang pak Prawito dengan kenangan yang baik. Tak sampai semilitan mengenang pahlawan. Tetapi mengenangnya sebagai seorang manusia yang penuh rasa bangga akan karya arsitektur lambang keperkasaan nasional. Kebanggaannya akan Tugu Monas dibawa sampai akhir hayatnya.

Salam Monas Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Kolom Kita Kompas cyber, 18 Feb 2008)

4 comments:

Indro Saswanto said...

Di jaman modern ini ada orang yg masih dlam proses membuat bangunan monumental. Tepatnya di desa Sananrejo Turen Malang. Belum banyak orang tahu. Kalau Aki mau kesana saya siap antar sambil nyari Achdiat.

Budiono Santoso said...

Matur nuwun. Bangunan monumental lebih merupakan simbol. Mungkin ada gunanya untuk meningkatkan keteritakan mental walaupun tanpa fungsi. Kapan kapan kalau saya di Indonesia lama saya sempatkan. Salam

paromo suko said...

nuwun sewu nyelonong di sini.
dalam kategori monumen ini termasuk di dalamnya mungkin kuburan ya? yang mungkin kalau dibangun secara khusus sekali namanya mouselum.
yang ini kalau diopeni gak papa, tapi kalau dibangun buagus lantas sama cucu-moyangnya gak diopeni rak malah jadi lo-lo-bah medeni bocah.
Ya kalau anak cucunya masih stand-by di tempat, kalau nyebar ke tempat jauh? iya kalau untuk mbandhani perawatannya kemudian dananya cukup, kalau ndak cukup? belum lagi kalau nantinya ada peraturan bahwa bangunan kuburan model begini-begini-begini kena pajeg segini-segini dst. begitu pula kalau kemudian identifikasi garis dan jejak keluarga masih dipelihara oleh anak cucu, kalau hilang jejak?
tapi sangat dimaklumi bahwa mundhi kaluhuraning para asepuh memang hal sangat positif dan perlu dilestarikan, agar keteladanannya menjadi referensi bagi anak turun.
pas di sini, saya berpikir bahwa blog dapat juga di set menjadi monumen, kenapa tidak?
malah ini adalah sebuah monumen yang sangat jujur, karena bukan saja bentuk fisik, tetapi di dalamnya ada pemikiran yang dapat dinilai oleh anak-putu dan siapa saja.
nuwun sewu, komennya liar dan ndrawasi sekali

Budiono Santoso said...

Matur nuwun pak Paromosuko. Musoleum juga masuk monumen per definisi. Hanya kadang org2 yang bikin musoleum hrs sadar betul bahwa ada yang akan ngopeni sesudah meninggal. Kebanyakan kita kan hanya sampai cucu. Kecuali kalau seseorang punya karya sesuatu yang bisa ditinggal dan tak lapuk oleh jaman. Misalnya Mao Tse Tung, Ho Chi Minh dll. Kalau saya, cucu saya saja mungkin sdh wegah suruh ngopeni. Hanya ngudoroso lho. Matur nuwun