Tuesday, July 4, 2017

Bolehkah aku memelukmu?


Bolehkah saya memelukmu ?

Bandara Frankfurt kira2 sepuluh tahun lalu. Sedang menunggu penerbangan sambungan dengan Lufthansa ke Manila, di business lounge. Petang hari yang sibuk. Saya menikmati minum diet Coke dan makanan kecil seperti asinan, nggak tahu namanya apa. Seseorang datang duduk di seberang meja, dengan senyum santun menyapa, Hi.

Kami berdiam diri dan sibuk dengan laptop masing2, saya menyiapkan agenda pertemuan utk minggu depannya. Tiba tiba dia bersapa " Minuman dan makanan kecil itu apakah sehat? Kesukaan kakak saya juga". Namanya Winnie, gak tau nama belakangnya. Dia sedang menunggu penerbangan lanjutan ke Sao Paolo. Kemudian kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup intens. Dia bekerja untuk Wella di Sao Paolo. Menguasai bahasa Potugis, Perancis dan inggris. bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia cerita, kakaknya juga seorang dokter, umur sekitar 40 tahun, baru saja meninggal beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada gejala, selalu sehat dan suka sport. Matanya berkaca ketika cerita tentang kakaknya. Terkesan dia begitu dekat dengan kakaknya.

Pembicaraan kami harus berakhir, tidak lebih dari 40 menit. Dia harus menuju ke anjungan (gate) ok pesawatnya akan berangkat beberapa saat kemudian. Saya meneruskan pekerjaan di laptop. Saya lihat dia masih termangu di depan pintu. Pelan pelan dia melangkah kembali ke tempat duduk semula. Berkata sedikit ragu " You look like my brother. Can I just hug you dear ?". Saya hanya mengangguk pelan. Dia memeluk erat sambil berkata " I miss him so much". Matanya berkaca. Kemudian cepat cepat meninggalkan saya. Hanya bisa berkata "All the best Winnie. Have a nice flight". Tidak ada selfi, tidak ada tukar identitas. Perbincangan sesaat.

Saya sangat memahami. Pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Ketika melihat seorang anak muda dengan anak dan isterinya. Wajahnya persis anak saya almarhum Moko. Saya pengin sekali menyapa dan memeluknya melepas kerinduan yang dalam. Saya hanya berani memandangnya dari seberang meja. Kemudian tenggelam dalam rindu yang dalam ketika sampai rumah. Tetapi Winnie yang saya jumpai di bandara Frankfurt itu berani mengungkapan dan melepas rindunya meski hanya sesaat. Semoga dia selalu membawa kenangan indah akan kakaknya yang sudah tiada.
Salam damai
Ki Ageng BS Setrajaya

Thursday, June 15, 2017

Perburuan Yang Tidak Perlu



Seorang teman maya, penggemar Kolom Kita Kompas di Kanada, Nita Lau, mengirim pesan ke saya untuk menulis kisah perburuan calon istri dulu. Katanya, siapa tahu bisa jadi inspirasi cowok yang masih single. Yang akan saya ceritakan ini kisah konyol. Malah jangan sampai di tiru. Salam untuk Nita sekeluarga. Seperti saya, dia alumni dari SMA St. Josef Solo.
Saya menulis kisah ini sesudah cerita ke isteri saya. Ada berapa bagian yang belum pernah saya ceritakan. Sebenarnya saya tidak akan pernah cerita ke siapa pun kisah ini. Tetapi 33 tahun telah berlalu. Rahasia negara pun boleh dibuka sesudah tiga puluh tahun. Mengapa rahasia pribadi ini harus ditutup sepanjang jaman ?

Sesudah lulus dokter muda, sering disebut ko-asisten, biasanya yang belum punya pacar (tetap) berusaha keras untuk memperoleh pasangan untuk terus ke jenjang perkawinan. Perburuan di mulai. Jika tidak, tugas ke daerah terpencil nanti, belum kawin bisa susah.
Suatu siang di RS Mangkuwilayan, teman teman ko-as sudah pada mau pulang. Saya masih duduk di poliklinik sendirian. Ada pasien terakhir yang belum dilayani karena baru saja datang. Sewaktu suster memberi tahu saya bersedia melayani. Pasien seorang wanita muda, nampak pendiam dengan wajah melankolis.

Saya masih ingat benar, dia mengenakan celana jin warna abu abu dan T shirt biru tua. Dalam tanya jawab, dia ternyata mahasiswi tingkat akhir di salah satu fakulas dari universitas terbesar di kota Yogya. “Nama saya Santi (samaran), sedang mempersiapkan skripsi”. Pemeriksaan berjalan seperti biasa. Resep diberikan sesuai dengan obat yang diperlukan. Penjelasan diberikan secara tuntas sesuai prosedur. Di akhir konsultasi saya bilang, jangan terlalu khawatir, tak ada tanda yang serius. Kekhawatiran di wajahnya yang sendu, nggak sebanding dengan gejala ringan yang diderita. Hanya alergi.

Sebelum meninggalkan ruang dia bilang, “ Saya senang beberapa tulisanmu”. Agak kaget, tulisan saya di majalah mahasiswa atau di koran setempat tak istimewa. Menulis selain hobi juga untuk menutup kebutuhan hidup. Sempat ngobrol sebentar di ruang tunggu. Obrolan ringan, terutama mengenai penelitian akhirnya. Tidak menyinggung private life. Dia berasal dari Semarang . Mulanya biasa saja. Berjalan fajar fajar saja. Kesan singkat, a smart girl. Cantik dan kalem. Kalimat kalimatnya keluar penuh pertimbangan. Bukan tipe persistent talker.
Kami berjalan bersama keluar halaman rumah sakit ok memang waktunya pulang. Sebelum pisah dia bilang “Kapan kapan main ke rumah ya “. Dia indekost di dekat kampus di Terban. Dia pulang naik becak. Jam menunjukkan lebih pukul dua siang. Saya naik sepeda tua, ke arah Patangpuluhan. Hari itu hari Sabtu.

Hari Minggu acara rutin cuci pakaian, sambil malas malasan di rumah kost. Seringkali, pak Slamet (almarhum), pemilik kost, pensiunan dari departemen Pekerjaan Umum banyak cerita. Beliau sudah usia lanjut. Ceritanya sama dari waktu ke waktu, tentang saat beliau membangun jalan raya di Dieng di jaman Belanda. “ Ini jalan yang kemiringannya paling terjal di Indonesia , nak “.

Sudah puluhan kali saya mendengarnya. . Beliau tak lupa selalu menirukan bunyi dinamit “ Bluueeeeeng”, sewaktu menghancurkan batu batu besar. Sialnya sebelum dia sampai ke bunyi dinamit tersebut, selalu ada saja kawan kost dari dalam kamar yang mendahului teriak “bluueeeeeng”. Lho kok sudah tahu ya ? Kalau begini saya nggak bisa menahan tawa terpingkal pingkal. Nampak tak sopan di hadapan orang setua beliau.

Hari Seninnya saya masih tugas di poliklinik. Siang itu Santi datang lagi untuk kontrol. Keluhan dan gejalanya sudah hampir hilang. Dia menunggu sampai jam poliklinik berakhir. Kami ngobrol ringan kembali. Mulai terasa akrab walau dia nggak banyak ceritanya. Beberapa teman mulai bertanya tanya, siapa dia. Siang itu kami sempat makan bakso di warung di daerah situ. Biasa saja. Dia pulang naik becak lewat alun alun Selatan. Dia bilang ‘’Silahkan main ke tempat saya kapan kapan “. Saya pulang naik sepeda lewat Pugeran. Main ke tempat teman putri yang baru kenal, saya ragu ragu. Tak ada minat PDKT (pendekatan). Platonis saja.

Hari Rabu sore teman dekat saya datang ke kost. Dia seorang tokoh kampus. Sedang menjalani praktek klinik di bagian lain, ngajak jalan jalan. Achdiat Agoes namanya tetapi jangan disebarkan demi stabilitas. Tiba tiba saja timbul hasrat mengunjungi Santi. Saya jelaskan secara singkat, ada kenalan baru, kenal di poliklinik, dia sedang penelitian skripsi. Waktu itu tak mungkin membuat janji, nggak ada tilpun, apa lagi cell phone.

Kami boncengan skuter, ke tempat kost kenalan baru, Santi, di Terban. Perasaan biasa biasa saja. Saya ingat pakai baju putih kesayangan saya. Tak lupa pakai scarf warna lembut di balik baju. Sejak lulus SMA saya nggak pernah pakai baju kaos. Hanya kadang2 kalau keluar malam pakai scarf di bawah baju. Tak sukar menemukan alamat tempat kostnya.
Ada penghuni putri yang menemui kami dan memanggilkan Santi di kamar. Agak terkejut Santi melihat kami. Saya kenalkan teman saya dan kami bercakap cakap ringan. Biasa saja. Dia cerita tentang studinya, tentang penelitiannya. Saya tak banyak bicara, mendengar dengan setia. Kira kira dua puluh menit berlalu, tiba tiba gadis tadi datang berbisik ke Santi. Wajah Santi berubah sejenak. Dia pamit ke belakang sebentar.

Kami berdua menunggu di kamar tamu. Beberapa saat kemudian gadis tadi kembali menemui kami, “Mbak Santi tadi pergi”. Kami berdua kaget sekali. Gadis itu mencoba mencairkan suasana dan mencoba ngobrol. Ini sudah tidak biasa. Kami berdua pulang dengan pertanyaan besar. Saya minta maaf ke teman saya. Dia hanya bilang “ Never ever tell this to any body”. Dia mahasiswa idola di kampus. Jika sampai bocor harga diri dan kredibilitasnya dipertaruhkan karena kekeliruan saya. Dia mungkin membaca tulisan ini. Saya minta maaf telah membocorkan cerita ini. Sudah lewat tiga puluh tahun.

Malam itu saya nggak bisa tidur. Merasa benar benar tolol. Esoknya saya tugas di poliklinik seperti biasa. Lebih banyak diam, nggak bisa lupa peristiwa semalam. Apa dosa dan salah saya mendapat perlakuan seperti itu ? Menjelang poliklinik tutup, saya diberi tahu suster ada tamu yang ingin ketemu.. ‘’Pasien yang kemarin dulu itu lho”.

Hati saya nggak karuan, harus bersikap bagaimana. Saya menemui Santi di ruang tunggu. “Saya minta maaf sekali kejadian semalam. Pacar saya datang dan langsung mengajak saya pergi”. Saya masih terluka. Itu bukan masalah biasa. Saya menjawab dingin “ Tidak apa, lupakan semuanya ”. Kami lebih banyak diam. Saya melihat matanya berkaca. Dia tak banyak bicara, hanya minta maaf itu saja.

Timbul rasa kasihan dia menangis. Mencoba bersikap gentleman, ‘’Biarlah semuanya telah lewat. Kita lupakan baik baik”. Ada dokter senior yang lewat saat kami bicara. Kemudian kami pulang. Kami berjalan bersama lewat alun alun selatan. Dia naik becak ke utara. Kami mencoba menormalkan situasi. Ngobrol seolah tak pernah terjadi apa apa. Malam itu saya bisa tenang. It is not my fault. Merasa ringan ok tak merasa dendam kepadanya. Hanya ke teman Achdiat Agoes, saya merasa bersalah besar.

Paginya saya tugas seperti biasa. Sebelum pulang, dokter senior yang kemarin melihat saya dan Santi bicara, datang menemui saya. Dengan tegas dia bicara “ Mas jangan sekali sekali mempermainkan wanita di sini ya. Sangsinya bisa berat “. Saya tak sempat menjelaskan, dia sudah pergi. Tak ada yang perlu saya jelaskan. Saya tak merasa mempermainkan siapapun. Saya merasa yang terpermainkan, tetapi defenceless and voiceless. Tak ada yang bisa saya lakukan.

Beberapa hari kemudian saya menerima surat dari Santi. Dia minta maaf akan peristiwa itu dan cerita lebih banyak tentang dia. Ceritanya lebih substantif. Kami sempat bertukar beberapa surat. Sewaktu saya bertugas di Gunung Kidul, dia minta saya menulis ke dia, tentang alam, tentang keindahan dan kehidupan. Saya kirim beberapa puisi tentang bukit bukit karang yang teguh, tentang air Kali Oya yang mengalir jernih di sela sela bukit. Tentang keheningan ditengah hutan Eucalyptus. Hanya surat biasa. Platonis meski penuh rasa. Salah satu suratnya masih ingat kalimatnya, ‘....ceritamu tentang keindahan semata, kekasihmu pasti sangat bahagia membacanya cerita2mu...”

Saya kemudian bertemu calon isteri saya sekarang di bis Mustika dalam perjalanan dari Ambarawa ke Yogya. Dia barusan pulang dri Pekalongan. Tak pelu perburuan itu. Jodoh tak perlu diburu. Kami hanya berjalan menuruti perjalanan waktu.
Salam semuanya.
Ki Ageng Similikithi

Friday, June 9, 2017

Kenaikan Pangkat Pertama Kali - Adakah yang Janggal?



Saya pertama kali masuk sebagai asisten honorer tahun 1972. Kerjaannya membantu praktikum mahasiswa. Kemudian lulus bulan Nopember 1975, meneruskan sebagai asisten honorer, kerjaannya membimbing kegiatan praktikum, asistensi dan melakukan penelitian. Tahun 1977, diangkat sebagai pegawai negeri tidak tetap golongan III A, dan pada tahun 1978 diangkat sebagai pegawai negeri sipil golongan III A. Saya mencintai bidang saya dan akan menempuh perjalanan ke depan dengan penuh percaya diri.
Menurut ketentuan yang berlaku waktu itu, setiap pegawai negeri berhak mengajukan kenaikan pangkat istimewa setiap dua tahun, dan kenaikan pangkat biasa setiap empat tahun. Akhir tahun 1979 saya sudah diterima untuk memulai program doktor di Newcastle Upon Tyne, bulan Oktober 1979. Saya minta pengunduran selama tiga (3) bulan oleh karena sedang mempersiapkan penyelenggaraan Second Southeast Asian and Western Pacific Regional Conference on Pharmacology (SEAWP). Lupa bulannya, mungkin bulan September. Saya bertindak sebagai Executive Secretary dari Organising Committee, mengkoordinir semua program baik ilmiah, logistic dan organisasi bersama teman teman di Bagian. Bagian kami hanya kecil, hanya berenam saja waktu itu.
Konggres berjalan lancar, dibuka bersama sama oleh Menteri P dan K, DR. Daud Jusuf dan Menteri Kesehatan, Dr. Suwardjono Suryaningrat. Sangat menggembirakan oleh karena dihadiri oleh lebih dari 300 peserta dari Asia, Eropa dan Amerika. Jepang datang dengan rombongan besar 65 orang. Australia hampir 30 orang. Konggres yang sangat menyenangkan, diskusi produktif dan diselingi acara2 kebudayaan yang memikat. Indonesia masih belum begitu terbuka waktu itu, belum banyak event2 ilmiah internasional diselenggarakan di Indonesia. Ketua delegasi Jepang, sempat berkata pada malam kesenian, “ We all come here asking you wake up and move along with other colleagues in Asia”. Alm Prof. Hosoya adalah lulusan doktor pertama dari Jepang di Amerika Serikat, sesudah Perang Dunia Kedua. Konggres berjalan lancar. Laporan singkatnya dimuat di majalah Trends in Pharmacological Sciences kemudian di awal tahun 1980.
Pada saat yang sama, saya sedang mempesiapkan program doktor ke University Upon Tyne di UK dengan beaya Rockefeller Foundation, dengan pembimbing prof. MD Rawlins. Sambil persiapan, saya mengajukan usulan kenaikan pangkat dari golongan III A ke III B. Semua persyaratan telah terpenuhi. Untuk kum penelitian, ada empat publikasi internasional di jurnal Modern Medicines of Asia dan International Journal of Tropical and Geographical Medicines, ditambah publikasi2 dan presentasi di forum nasional. Untuk kum pendidikan demikian juga, kumnya sudah melampaui ketentuan yang diperlukan. Kum pengabdian masyarakat berlebih, termasuk ceramah di masyarakat mengenai obat dan ikut siaran TVRI Yogya. Yang masih harus ditambah adalah kum loyalitas atau kesetiaan Universitas. Untuk ini saya masukkan peran saya sebagai Executive Secretary dari panitya the Second Southeast Asian and Western Pacific Regional Conference on Pharmacology.
Hanya dalam tempo singkat, mendapatkan jawaban dari Tim Penilai bahwa pemenuhan KUM kesetiaan atau loyalitas dari kontribusi sebagai Executive Secretary dari the Second Southeast Asian and Western Pacific on Pharmacology, tidak dapat diterima atau ditolak oleh karena tidak mewakili Fakultas atau Universitas. Disarankan agar diganti ikut kepanityaan kegiatan ilmiah di tingkat Fakultas. Boss saya waktu itu, alm Dr. RH Yudono, begitu berang saat saya lapori kasus ini, tetapi tidak bisa berbuat apa apa. Keputusan Tim Penilai tidak bisa diganggu gugat.

Akhirnya saya dijinkan untuk ikut di salah satu panitya pertemuan ilmiah di tingkat Fakultas, dengan catatan tidak mengganggu persiapan program doktor saya. Saya masuk di salah satu kepanityaan tingkat Fakultas, dan dimasukkan di Seksi Konsumsi. Lupa tanggalnya, pada waktu pertemuan ilmiah ini berlangsung, masih ingat betul, kerjaan saya adalah menerima kiriman minuman Coca Cola yang telah dipesan panitya dan mengaturnya di ruang makan. Sedikit tergesa oleh karena minuman akan disuguhkan pada jam istirahat sekitar jam 10 00, dan pesanan baru datang jam 0830. Dalam hati mengeluh, mengapa sebagai tenaga akademis harus mengurusi kegiatan logistik seperti ini untuk naik pangkat, sedangkan pekerjaan yang Intellectual and Logistical Intensive menyelenggarakan pertemuan ilmiah internasional, justru ditolak. Gak tahulah. Begitu selesai pertemuan, sertifikat sebagai anggota panitya seksi konsumsi ini saya serahkan ke Tim Penilai. Bulan Januari saya berangkat ke Newcastle Upon Tyne (UK) memulai program doktor.
Moga moga sudah tidak terjadi lagi di Universitas yang mengklaim Berkelas Dunia.
Ki Ageng BSantoso Setrajaya

Saturday, October 3, 2015

Pacuan sudah lama berlalu

Namanya Benediktus. Teman akrab sejak sekolah menengah atas. Dia masuk SMA St. Josef di kelas dua, di tahun 1966,  jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, pindahan dari SMA Negeri Sragen. Tutur katanya sangat halus dan sopan. Kami menjadi akrab sejak itu. Dia harus banyak mengejar pelajaran matematika, fisika, pengetahuan alam dan stereomometri waktu pindah ke sekolah kami di Solo. Dalam diskusi tentang mata pelajaran ini, saya berkesimpulan dia sangat teliti, ingin mengetahui sampai detail mengenai segala sesuatu. Bertentangan dengan kebiasaan saya, get the job done and mission accomplished. Di kelas tiga, dia menerima surat mesra dari seseorang di Sragen, mungkin teman sekelasnya dulu. Kami tukar pendapat mengenai masalah pribadi ini. Saya menerima surat mesra pertama kali di kelas 3 SMP tiga tahun sebelumnya di Ambarawa. Ben teman yang baik hati, tidak suka berhura hura seperti kelompok kami di kelas satu SMA dulu. Sikapnya selalu correct dan cenderung perfeksionis. Persahabatan yang mengasyikkan, bagaikan kepompong mengubah ulat menjadi kupu. Kami bersama berkembang dalam lingkungan pendidikan yang sama, sangat disiplin, mandiri, kompetitif dan dididik untuk penuh toleransi dan berkompetisi mengejar mimpi.

Di kelas dua dan tiga, kami sekelas, sering belajar bersama. Kadang dia punya kelompok teman yang lain, kadang dengan saya. Demikian juga saya, kadang sekelompok dengan Ben, kadang sekelompok dengan teman yang lain. Dua tahun berjalan sampai ujian akhir SMA. Kami sama sama lulus dengan nilai papan atas. Saya memperoleh nila rata rata 8.8 lebih sedikit, dan menduduki urutan kedua di seluruh Surakarta untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, sedangkan teman belajar sekelompok dari SMA Warga, namanya Hwie Swan memperoleh nilai rata rata 8.8, menduduki urutan ke tiga. Ben jika tidak keliru memperolah nilai rata rata 8.6. Urutan pertama diduduki oleh murid SMA 1 Margoyudan, namanya Muhamad Munawar, dengan rata rata 9.2. Beberapa bulan kemudian saya bertemu Munawar di Yogya, belajar bersama di Fakultas Kedokteran UGM.

Di akhir tahun 68, saya melihat pengumuman ujian bersama dengan Benediktus. Ketika kami dan teman teman saling bersalaman sambil bercanda ria, Benediktus ikut menyalami dengan serius. Masih ingat kata katanya yang teramat dalam dan membekas “ Pacuan belum berakahir”. Kata kata ini begitu membekas di hati saya. Bukan karena apa, tetapi teringat kata kata yang diucapkan oleh Messala sebelum meninggal sesudah kalah balapan kuda dengan Judah Ben Hur dalam film Ben Hur. The race is not over. Ben Hur berdiri dengan gagah dengan baju biru yang indah di tengah lapangan. Di tahun enam puluhan dan tujuh puluhan warna biru Ben Hur begitu populer, merasuki inspirasi banyak anak muda untuk berpacu. Berpacu dalam perjalanan karier. Tidak semua orang bisa berpacu naik kuda. Saya sejak kelas 3 Sekolah Rakyat, sangat terbiasa naik kuda. Tetapi tidak pernah terbayangkan berpacu antara hidup dan mati seperti dalam film, antara Ben Hur dan Messala.

Meski agak kaget dengan ucapan selamat Benediktus tadi, tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami berdua boncengan sepeda keliling kota di Solo Utara, melewati kali Pepe sampai ke timur, Jebres kemudian sampai ke tepi Bengawan Solo. Agak siang kami kembali ke daerah Manahan. Makan bakmi di salah satu warung di pinggir jalan yang sepi dan rindang di sekitar Manahan. Seolah kami ingin menghabiskan masa masa terakhir di Solo. Solo yang indah akan segera kami tinggalkan. Kami berbincang sampai menjelang sore. Sepakat bersama akan mendaftar di UGM, ITB dan UNDIP. Ujian masuk di Yogya, kami berangkat sendiri sendiri, Ben punya saudara di Baciro dan saya tinggal ditempat sepupu di Malioboro. Beberapa minggu kemudian kami selalu bersama, menjalani ujian masuk di UNDIP dan ITB.

Kami berdua diterima di semua universitas yang kami pilih, FKUGM, FK UNDIP dan ITB. Saya juga diterima di IPB. Saya tidak tahu persis apakah Ben, selain ketiga universitas tadi juga mendaftar di tempat lain. Samar samar saya ingat dia pernah bilang akan test di Jakarta, FKUI. Akhirnya kami dengan Benediktus, sama sama masuk di Ngasem, FK UGM. Masih ingat sewaktu dia datang di Ngasem untuk pendaftaran, dia memakai baju Kojarsena. Saya tidak punya kesan positip akan baju ini, tidak pernah saya pakai. Ada kenangan menyedihkan melihat seragam itu. Teman satu kost di Solo, Ping Kiat, meninggal saat latihan militer dengan seragam itu di tahun 65. Baju seragam itu hanya mengingatkan kesedihan saja. Seragam Kojarsena, Korps Pelajar Serba Guna, bukan seragam Pramuka, tetapi seragam pelajar yang telah mendapat latihan militer waktu itu.

Kami berdua menjalani pendidikan dokter di kompleks Ngasem seperti halnya teman teman yang lain. Hubungan perahabatan dengan Ben tetap akrab. Biasanya kami bicara masalah masalah pribadi. Bukan hanya pelajaran. Benediktus pernah mengantar saya mengajak Endang, teman manis sekelas yang sedang dalam pendekatan. Nonton sekaten di alun alun utara bertiga naik becak. Sayang dalam perjalanan pulang becak kebalik masuk selokan di Mangkuwilayan. Benediktus selalu dekat menemani saat saya menghadapi masalah berat, seperti mengajak Endang keluar nonton sekaten malam itu.
Tidak banyak kisah selama menjalani pendidikan dokter. Kami tidak dalam satu kelompok meski tetap bersahabat dekat. Waktu ko skap di klinik, siklus kami juga berbeda.

Yang saya kagumi dari Ben, adalah kemampuannya menahan emosi, dan melancarkan serangan balik secara tepat dan jitu. Saat ko skap dia cerita jika salah satu teman senior satu kost dulu, seorang lulusan ekonomi, mencoba mendekati calon pacar yang sedang didekati Ben dan menebar berita buruk tentang Ben. Dia akan menemui teman itu, pria asal Ponorogo. Saya menemani Ben datang ke rumah kostnya. Sore sore kami datang ke tempat pria tadi, lupa namanya. Obrolan ringan biasa. Ketika Ben melihat diantara pot pot bunga di ruang tamu ada  satu bunga hiasan  yang terbuat dari plastik, dia mulai beranjak serius. Mas ini kok plastik ya?. Iya baru musim hiasan bunga plastik dik. Ini serangan telaknya yang pertama. Ben berkata serius dengan tenang luar biasa. Bunga plastik, sebegitu jauh manusia membuat kepalsuan ya mas?. Pria itu wajahnya berkerut, mimiknya mulai berubah, meski tidak menyahut sama sekali. Dan ketika Ben melihat ada patung tanah liat, seekor macan menerkam macan lainnya dari belakang, dia berlanjut. Kenapa makhluk bumi selalu senang menyerang dari belakang ya mas?. Saya tidak ingin teman saya menusuk saya dari belakang dengan kepalsuan. Terlalu banyak kepalsuan diantara kita. Tak ingat lagi jawaban teman tadi, tetapi saya hanya lihat wajahnya memucat. Kami pulang sebelum magrib, tak banyak bicara di jalan. Beberapa minggu kemudian, seorang teman lulusan ekonomi dari Sragen, masih saudara sama Ben, cerita kalau sesudah kunjungan itu teman tadi nggak doyan makan, badan mriyang sampai dua minggu. Karena serangan balik yang dilancarkan dengan sangat sopan. Saya tidak pernah mampu melakukan serangan balik yang demikian tajam saat PDKT, selalu saja ketendang kalah KO di tengah jalan dan terpermalukan tanpa ampun. Hanya bisa selamat karena semangat patah tumbuh hilang berganti.

Sampai akhir pendidikan setelah lulus dokter, saya mendengar jika Ben memperoleh hadiah Kalbe Farma. Ingin mengucapkan selamat kepadanya. Tetapi saya sudah sangat sibuk oleh karena tinggal dan praktek di Ambarawa. Ben juga sudah praktek di luar kota Yogya. Sampai suatu pagi dia muncul di kantor saya. Saya ingin mengucapkan selamat padanya mumpung ada kesempatan. Di luar dugaan, dia tersenyum lebar dan bertanya. “ Wah kamu kabarnya dapat hadiah Kalbe Farma?”. Saya tertegun sesaat. Tak saya sadari saya bereaksi spontan. “Ah jangan nyindir, pacuan belum berakhir”. The race is not over yet. Kata kata yang dia lontarkan dengan canda saat lulus SMA, kira kira 6 tahun sebelumnya. Seperti kata kata yang dilontarkan Messala di akhir pacuan melawan BenHur, dalam film, begitu membekas dalam hati saya. Tak ada maksud apa apa. Semangat berkompetisi itu tertanam dalam karena pendidikan di SMA dulu.

Perjalanan karier kami berdua berkembang stabil. Dia menjadi dokter bedah vaskuler yang sangat teliti, sesudah sebelumnya menjadi dokter forensik. Saya mengagumi ketelitian, ketekunan dan sikap disiplinnya terhadap profesi. Suatu saat ketika konsul membawa seorang famili ke Ben, dia bercerita baru saja menyelamatkan seorang pasien yang sudah divonis di rumah sakit pendidikan lain untuk diamputasi kedua kakinya karena penyumbatan arteri. Sumbatan itu bisa diatasi melalui operasi vaskuler tanpa harus amputasi. Sayang keberhasilan tersebut tidak dipublikasi. Dia pribadi yang diam, tekun menjalankan profesi tanpa hiruk pikuk publikasi. Kami sempat menulis bersama di salah satu majalah Asia, menenai kasus kasus gangrene kaki karena gigitan ular di salah satu negara di Asia Tenggara.

Kata kata pacuan belum berakhir, tidak pernah ada dalam kamus  persahabatan kami. Kami tidak pernah merasa berpacu. Hanya refleksi pesan pendidikan semata saat SMA, untuk selalu berpacu dan berkompetisi. Kalau toh ada, pacuan itu sudah lama sekali berlalu, berpuluh tahun lalu ketika kami lulus SMA. Di masa senja, biasanya kami bertemu meski tidak sangat teratur. Sudah berbulan bulan tidak bertemu. Ingin ngobrol kembali mengingat masa masa berpacu itu. Pacuan sudah lama sekali berlalu. Hanya menunggu akhir perjalanan waktu.
Salam damai, salam persahabatan.

Ki Ageng Similikithi.

https://www.facebook.com/notes/santoso-budiono/pacuan-sudah-lama-berlalu/10153437518973467?pnref=lhc