Saturday, October 3, 2015

Pacuan sudah lama berlalu

Namanya Benediktus. Teman akrab sejak sekolah menengah atas. Dia masuk SMA St. Josef di kelas dua, di tahun 1966,  jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, pindahan dari SMA Negeri Sragen. Tutur katanya sangat halus dan sopan. Kami menjadi akrab sejak itu. Dia harus banyak mengejar pelajaran matematika, fisika, pengetahuan alam dan stereomometri waktu pindah ke sekolah kami di Solo. Dalam diskusi tentang mata pelajaran ini, saya berkesimpulan dia sangat teliti, ingin mengetahui sampai detail mengenai segala sesuatu. Bertentangan dengan kebiasaan saya, get the job done and mission accomplished. Di kelas tiga, dia menerima surat mesra dari seseorang di Sragen, mungkin teman sekelasnya dulu. Kami tukar pendapat mengenai masalah pribadi ini. Saya menerima surat mesra pertama kali di kelas 3 SMP tiga tahun sebelumnya di Ambarawa. Ben teman yang baik hati, tidak suka berhura hura seperti kelompok kami di kelas satu SMA dulu. Sikapnya selalu correct dan cenderung perfeksionis. Persahabatan yang mengasyikkan, bagaikan kepompong mengubah ulat menjadi kupu. Kami bersama berkembang dalam lingkungan pendidikan yang sama, sangat disiplin, mandiri, kompetitif dan dididik untuk penuh toleransi dan berkompetisi mengejar mimpi.

Di kelas dua dan tiga, kami sekelas, sering belajar bersama. Kadang dia punya kelompok teman yang lain, kadang dengan saya. Demikian juga saya, kadang sekelompok dengan Ben, kadang sekelompok dengan teman yang lain. Dua tahun berjalan sampai ujian akhir SMA. Kami sama sama lulus dengan nilai papan atas. Saya memperoleh nila rata rata 8.8 lebih sedikit, dan menduduki urutan kedua di seluruh Surakarta untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, sedangkan teman belajar sekelompok dari SMA Warga, namanya Hwie Swan memperoleh nilai rata rata 8.8, menduduki urutan ke tiga. Ben jika tidak keliru memperolah nilai rata rata 8.6. Urutan pertama diduduki oleh murid SMA 1 Margoyudan, namanya Muhamad Munawar, dengan rata rata 9.2. Beberapa bulan kemudian saya bertemu Munawar di Yogya, belajar bersama di Fakultas Kedokteran UGM.

Di akhir tahun 68, saya melihat pengumuman ujian bersama dengan Benediktus. Ketika kami dan teman teman saling bersalaman sambil bercanda ria, Benediktus ikut menyalami dengan serius. Masih ingat kata katanya yang teramat dalam dan membekas “ Pacuan belum berakahir”. Kata kata ini begitu membekas di hati saya. Bukan karena apa, tetapi teringat kata kata yang diucapkan oleh Messala sebelum meninggal sesudah kalah balapan kuda dengan Judah Ben Hur dalam film Ben Hur. The race is not over. Ben Hur berdiri dengan gagah dengan baju biru yang indah di tengah lapangan. Di tahun enam puluhan dan tujuh puluhan warna biru Ben Hur begitu populer, merasuki inspirasi banyak anak muda untuk berpacu. Berpacu dalam perjalanan karier. Tidak semua orang bisa berpacu naik kuda. Saya sejak kelas 3 Sekolah Rakyat, sangat terbiasa naik kuda. Tetapi tidak pernah terbayangkan berpacu antara hidup dan mati seperti dalam film, antara Ben Hur dan Messala.

Meski agak kaget dengan ucapan selamat Benediktus tadi, tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami berdua boncengan sepeda keliling kota di Solo Utara, melewati kali Pepe sampai ke timur, Jebres kemudian sampai ke tepi Bengawan Solo. Agak siang kami kembali ke daerah Manahan. Makan bakmi di salah satu warung di pinggir jalan yang sepi dan rindang di sekitar Manahan. Seolah kami ingin menghabiskan masa masa terakhir di Solo. Solo yang indah akan segera kami tinggalkan. Kami berbincang sampai menjelang sore. Sepakat bersama akan mendaftar di UGM, ITB dan UNDIP. Ujian masuk di Yogya, kami berangkat sendiri sendiri, Ben punya saudara di Baciro dan saya tinggal ditempat sepupu di Malioboro. Beberapa minggu kemudian kami selalu bersama, menjalani ujian masuk di UNDIP dan ITB.

Kami berdua diterima di semua universitas yang kami pilih, FKUGM, FK UNDIP dan ITB. Saya juga diterima di IPB. Saya tidak tahu persis apakah Ben, selain ketiga universitas tadi juga mendaftar di tempat lain. Samar samar saya ingat dia pernah bilang akan test di Jakarta, FKUI. Akhirnya kami dengan Benediktus, sama sama masuk di Ngasem, FK UGM. Masih ingat sewaktu dia datang di Ngasem untuk pendaftaran, dia memakai baju Kojarsena. Saya tidak punya kesan positip akan baju ini, tidak pernah saya pakai. Ada kenangan menyedihkan melihat seragam itu. Teman satu kost di Solo, Ping Kiat, meninggal saat latihan militer dengan seragam itu di tahun 65. Baju seragam itu hanya mengingatkan kesedihan saja. Seragam Kojarsena, Korps Pelajar Serba Guna, bukan seragam Pramuka, tetapi seragam pelajar yang telah mendapat latihan militer waktu itu.

Kami berdua menjalani pendidikan dokter di kompleks Ngasem seperti halnya teman teman yang lain. Hubungan perahabatan dengan Ben tetap akrab. Biasanya kami bicara masalah masalah pribadi. Bukan hanya pelajaran. Benediktus pernah mengantar saya mengajak Endang, teman manis sekelas yang sedang dalam pendekatan. Nonton sekaten di alun alun utara bertiga naik becak. Sayang dalam perjalanan pulang becak kebalik masuk selokan di Mangkuwilayan. Benediktus selalu dekat menemani saat saya menghadapi masalah berat, seperti mengajak Endang keluar nonton sekaten malam itu.
Tidak banyak kisah selama menjalani pendidikan dokter. Kami tidak dalam satu kelompok meski tetap bersahabat dekat. Waktu ko skap di klinik, siklus kami juga berbeda.

Yang saya kagumi dari Ben, adalah kemampuannya menahan emosi, dan melancarkan serangan balik secara tepat dan jitu. Saat ko skap dia cerita jika salah satu teman senior satu kost dulu, seorang lulusan ekonomi, mencoba mendekati calon pacar yang sedang didekati Ben dan menebar berita buruk tentang Ben. Dia akan menemui teman itu, pria asal Ponorogo. Saya menemani Ben datang ke rumah kostnya. Sore sore kami datang ke tempat pria tadi, lupa namanya. Obrolan ringan biasa. Ketika Ben melihat diantara pot pot bunga di ruang tamu ada  satu bunga hiasan  yang terbuat dari plastik, dia mulai beranjak serius. Mas ini kok plastik ya?. Iya baru musim hiasan bunga plastik dik. Ini serangan telaknya yang pertama. Ben berkata serius dengan tenang luar biasa. Bunga plastik, sebegitu jauh manusia membuat kepalsuan ya mas?. Pria itu wajahnya berkerut, mimiknya mulai berubah, meski tidak menyahut sama sekali. Dan ketika Ben melihat ada patung tanah liat, seekor macan menerkam macan lainnya dari belakang, dia berlanjut. Kenapa makhluk bumi selalu senang menyerang dari belakang ya mas?. Saya tidak ingin teman saya menusuk saya dari belakang dengan kepalsuan. Terlalu banyak kepalsuan diantara kita. Tak ingat lagi jawaban teman tadi, tetapi saya hanya lihat wajahnya memucat. Kami pulang sebelum magrib, tak banyak bicara di jalan. Beberapa minggu kemudian, seorang teman lulusan ekonomi dari Sragen, masih saudara sama Ben, cerita kalau sesudah kunjungan itu teman tadi nggak doyan makan, badan mriyang sampai dua minggu. Karena serangan balik yang dilancarkan dengan sangat sopan. Saya tidak pernah mampu melakukan serangan balik yang demikian tajam saat PDKT, selalu saja ketendang kalah KO di tengah jalan dan terpermalukan tanpa ampun. Hanya bisa selamat karena semangat patah tumbuh hilang berganti.

Sampai akhir pendidikan setelah lulus dokter, saya mendengar jika Ben memperoleh hadiah Kalbe Farma. Ingin mengucapkan selamat kepadanya. Tetapi saya sudah sangat sibuk oleh karena tinggal dan praktek di Ambarawa. Ben juga sudah praktek di luar kota Yogya. Sampai suatu pagi dia muncul di kantor saya. Saya ingin mengucapkan selamat padanya mumpung ada kesempatan. Di luar dugaan, dia tersenyum lebar dan bertanya. “ Wah kamu kabarnya dapat hadiah Kalbe Farma?”. Saya tertegun sesaat. Tak saya sadari saya bereaksi spontan. “Ah jangan nyindir, pacuan belum berakhir”. The race is not over yet. Kata kata yang dia lontarkan dengan canda saat lulus SMA, kira kira 6 tahun sebelumnya. Seperti kata kata yang dilontarkan Messala di akhir pacuan melawan BenHur, dalam film, begitu membekas dalam hati saya. Tak ada maksud apa apa. Semangat berkompetisi itu tertanam dalam karena pendidikan di SMA dulu.

Perjalanan karier kami berdua berkembang stabil. Dia menjadi dokter bedah vaskuler yang sangat teliti, sesudah sebelumnya menjadi dokter forensik. Saya mengagumi ketelitian, ketekunan dan sikap disiplinnya terhadap profesi. Suatu saat ketika konsul membawa seorang famili ke Ben, dia bercerita baru saja menyelamatkan seorang pasien yang sudah divonis di rumah sakit pendidikan lain untuk diamputasi kedua kakinya karena penyumbatan arteri. Sumbatan itu bisa diatasi melalui operasi vaskuler tanpa harus amputasi. Sayang keberhasilan tersebut tidak dipublikasi. Dia pribadi yang diam, tekun menjalankan profesi tanpa hiruk pikuk publikasi. Kami sempat menulis bersama di salah satu majalah Asia, menenai kasus kasus gangrene kaki karena gigitan ular di salah satu negara di Asia Tenggara.

Kata kata pacuan belum berakhir, tidak pernah ada dalam kamus  persahabatan kami. Kami tidak pernah merasa berpacu. Hanya refleksi pesan pendidikan semata saat SMA, untuk selalu berpacu dan berkompetisi. Kalau toh ada, pacuan itu sudah lama sekali berlalu, berpuluh tahun lalu ketika kami lulus SMA. Di masa senja, biasanya kami bertemu meski tidak sangat teratur. Sudah berbulan bulan tidak bertemu. Ingin ngobrol kembali mengingat masa masa berpacu itu. Pacuan sudah lama sekali berlalu. Hanya menunggu akhir perjalanan waktu.
Salam damai, salam persahabatan.

Ki Ageng Similikithi.

https://www.facebook.com/notes/santoso-budiono/pacuan-sudah-lama-berlalu/10153437518973467?pnref=lhc

Pengorbanan sia sia

Ingatan samar samar. Masa masa awal menempuh pendidikan SMA di Solo, di tahun 1965. Beberapa bulan tinggal di rumah pondokan di Sambeng. Ibu kost seorang ibu setengah umur yang baik hati, bu Dasuki. Sebagian besar teman kost berasal dari Jawa Timur, Sragen, Ponorogo, Walikukun, Madiun, Kediri dan lain lainnya. Salah satu bernama Ping Kiat, satu tahun diatas saya, duduk di kelas dua SMA Warga. Jika tidak salah dia berasal dari Sragen.

Sore hari biasanya waktu yang mengasyikkan. Habis mandi jika tidak ada acara keluar, selalu duduk duduk di ruang depan sambil mendengarkan radio. Belum umum televisi waktu itu. Acara radio yang paling menarik adalah pilihan pendengar dari RRI Surakarta dan radio Australia. Ping Kiat anak yang ceria, seperti tidak pernah mengenal kesedihan. Baginya tidak ada satu masalah yang membebani, semua dianggap ringan. Suka bercerita dan banyak bicara. Ada dua mahasiswa yang kost disana, keduanya kuliah di UBK (Universitas Bung Karno). Ping Kiat selalu dominan dalam debat. Tidak ada satupun teman kost yang bisa berdebat dengannya, termasuk ke dua mahasiswa tadi.

Hanya beberapa bulan tinggal di tempat kost di Sambeng, saya kemudian pindah bergabung dengan kakak di Badran Kota Barat. Tetapi saya masih rutin main ke tempat pondokan di Sambeng. Tetangga di sebelah Timur rumah pondokan itu, keluarga dengan beberapa anak putri. Hanya satu yang saya kenal yakni mbak Sri Sutarni. Sekarang beliau menjadi dosen di FK UGM, ahli syaraf. Di sebelah Barat, di seberang jalan, ada rumah besar dimana guru stenografi, pak Bustami, juga mondok. Dia sebenarnya masih duduk di bangku kuliah di UBK. Dia suka mendikte, dan kami harus menulis cepat dengan huruf steno. Masih teringat jelas yang dia diktekan di suatu siang. “ Ada desas desus. Tusuk satai itu. Arifin makan sayur tahu. Guru kami namanya pak Bustami”. Tiba tiba Diono, teman di belakang bangku saya menggumam meneruskan kalimat pak Bustami, “ Bustami gathel”. Pak Bustami langsung teriak “ Apa? Kamu nantang ya? Keluar kamu”. Diono keluar kelas menunggu sampai jam pelajaran selesai. Gathel memang bukan kata yang baik, umpatan negatip model Solo terhadap pernyataan seseorang.

Suatu petang ketika saya main ke tempat pondokan, Ping Kiat masih duduk di ruang depan. Dengan bu Dasuki. Teman teman lain berada di kamar masing masing. Suasana tidak seceria biasanya. Bu Dasuki tanya “ Baru genting, kok malam malam masih kluyuran nak Bud ?”. Ping Kiat langsung bilang, sebaiknya jangan keluar malam, bahaya, kondisi baru gawat. Memang Solo masih genting waktu itu. Setelah peristiwa Gestapu yang menggemparkan itu. Banyak culik menculik. Saya sebenarnya tidak keluar main. Tetapi harus menjemput kakak nanti jam 830 di Apotek Medika, dekat stasiun Balapan. Berangkat dari rumah lebih awal dan mampir di Sambeng, yang satu arah dengan stasiun Balapan. Ping Kiat tidak banyak bicara, tetapi bilang kalau mulai minggu besok harus ikut latihan militer Kojarsena, Korps Pelajar Serba Guna, di sekolahnya SMA Warga.

Kojarsena adalah siswa siswi SMP dan SMA, yang dilatih militer untuk membantu melawan gerakan komunis. Sebelumnya Kojarsena, dibentuk dalam rangka gerakan ganyang Malaysia. Sekolah saya, St. Josef sudah menyelesaikan latihan berat itu dua minggu sebelumnya. Kami semua mengikuti latihan militer itu selama dua minggu. Latihan berat, tidak hanya baris bebaris, benar benar latuhan militer, di sekitar lapangan Manahan. Anak anak muda, semua antusias berlatih. Kadang berlebihan. Komandan kompi sekolah kami, kebetulan ayahnya seorang polisi lalu lintas. Dia selalu memakai seragam Kojarsena, dengan sabuk dan wadah pistol dari kulit, dan topi polisi lalu lintas. Ada teman lain yang memakai topi bekas kondekur kereta api warna merah, karena ayahnya seorang kondektur sepur. Topi adalah simbol kegagahan dan kejantanan.

Banyak pengalaman konyol selama latihan militer. Salah seorang teman saat latihan penyusupan, harus merayap tiarap menelusuri jalan di sebelah utara Manahan. Bolak balik diperingatkan pelatih agar bersama teman satu regu di sisi kiri jalan. Tetapi dia ambil enaknya merayap tiarap di atas rerumputan disebelah kanan jalan. Kebetulan pakai baju merah. Suatu saat melewati segerombolan lembu yang sedang merumput, salah satu lembu mengamuk menyerangnya. Bajunya habis koyak di seruduk sapi. Dia teriak meraung menangis kesakitan. Untung saya berada di dekatnya, saya berpengalaman menangani sapi sejak sekolah dasar di Ambarawa. Sapi itu bisa ditenangkan, tidak mengejar teman yang berbaju merah tadi. Untung hanya bajunya yang terkoyak.

Suatu pagi kami satu regu diberi tugas mengamankan satu lokasi di kampung sebelah utara Sambeng. Hanya diberi peta. Instruksi oleh pelatih jelas, temukan lokasi dan amankan. Tunggu perintah lebih lanjut. Kami satu regu, 13 orang berangkat dengan segala atribut, tongkat bamboo dan berbagai dedaunan untuk penyamaran. Tidak sulit menemukan lokasi, rumah reyot ditepi selokan, pinggir desa. Dengan serius kami mengepung lokasi itu, dari pintu masuk depan dan belakang. Saya dan dua teman memasuki halaman samping di pinggir selokan. Ada WC terbuka disana. Seorang pria setengah umur sedang berak, menghamburkan isi perut, seperti rentetan tembakan. Kami menunggu instruksi lebih lanjut. Kira kira 15 menit stelling mengepung rumah reyot yang penghuninya baru berak besar besaran, kami diinstruksikan untuk menarik pasukan mundur kembali ke induk pasukan. Mission accomplished. Menonton orang sedang berak berhamburan. Saya yakin dalam perang sesungguhnya apa sempat mengepung orang sedang berak.

Suatu sore, beberapa hari sesudah saya berkunjung ke Sambeng, saya mendengar berita mengejutkan di radio. Enam siswa SMA Warga tewas dalam latihan kepemudaan. Tidak diberitakan lebih lanjut. Seperti berita biasa. Esoknya di sekolah ramai dibicarakan, jika ke enam siswa SMA Warga tersebut meninggal karena tenggelam di kali Pepe, saat latihan Kojarsena. Belum jelas nama nama korban. Pulang sekolah saya bermaksud mampir ke rumah pondokan di Sambeng. Hati saya terguncang ketika diberitahu, Ping Kiat tewas di kali Pepe. Teman teman masih terguncang. Ping Kiat yang ceria tidak lagi bersama diantara mereka. Dalam latihan Ping Kiat bersama regunya diharuskan menyeberangi kali Pepe, dia sudah sampai di seberang sebenanrnya. Tetapi dia balik kembali ke sungai untuk menolong teman yang tidak kunjung muncul dan mencapai seberang. Pelajar itu tersedot oleh pusaran air di belokan sungai. Ada cerita bahwa rombongan itu telah diingatkan oleh penduduk untuk tidak menyeberang di tempat itu. Tidak jelas mengapa pelatih mengambil resiko.

Sorenya radio Australia memberitakan insiden itu, termasuk bantahan dari petinggi militer bahwa tidak ada latihan militer, yang ada adalah latihan ketangkasan pemuda. Batin saya, kalau bukan latihan militer, lantas latihan apa ? Apakah latihan mengintip orang berak di selokan ? Enam nyawa melayang sia sia, anak anak muda yang masih punya cita cita panjang untuk masa depan. Tidak bisa membayangkan kesedihan ayah dan ibu serta saudara saudara korban. Jika dikatakan pengorbanan, pengorbanan sia sia. Mungkin malah jauh dari pengorbanan, mereka menjadi korban permainan kekuasaan semata mata yang menggunakan pelajar sekolah.

Hanya catatan kecil mengenang seorang teman. Semoga engka damai dan bahagisa di alam sana.

Salam damai,
Ki Ageng Similikithi

https://www.facebook.com/notes/santoso-budiono/pengorbanan-sia-sia/10153444549083467?pnref=lhc






Sunday, August 2, 2015

Kepalsuan akademik



Siang hari pukul 1430, musim gugur tahun 1980, NewCastle Upon Tyne. Saya sedang memasukkan hasil hasil pembacaan spectrometer ke dalam log book laboratorium. Hasilnya stabil dan memuaskan.  Metoda analisis kadar INH dalam darah yang nantinya akan dipakai dalam riset utama saya untuk PhD thesis. Tiba tiba tilpon berdering. Suara Vivienne terdengar lembut. Budi, please come down to the Library, professor is waiting. Agak kaget saya. Toh nanti jam 1500 semua staf akan turun kumpul minum kopi di sana. Pasti ada sesuatu.

Saya bergegas turun. Sebagian besar staf sudah disana. Kami berempat yang sedang menjalani program doctor waktu itu, Grant, Jeffery, Olivia dan saya. Semua staf senior sudah disana, Nick, Ken, Andrew. Semua diam tidak ada yang ngobrol seperti biasanya. Tiba tiba masuk professor, MDR yang juga supervisor saya,  bersama associatenya, Peter. Telah terjadi pemalsuan data di unit yang kita cintai ini. Saya baru saja menerima pengunduran diri Peter. Kami semua terhenyak. Peter berkata lirih. My sincere apology. Thank you everybody for support and friendship over the years. Peter keluar dari ruangan.  Itu penampilan terakhir Peter di unit, dan dia tidak pernah datang lagi. MDR meneruskan. Ini bukan tradisi bagus, bukan ciri akademik di UK dan tidak boleh terulang lagi. No more talks outside this room. Saya begitu terkejut, belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi. Mencoba bertanya, tetapi MDR  hanya menatap saya , tidak menjawab, dan meninggalkan ruangan. Sore itu senyap di seluruh unit. Tragedi besar telah terjadi.

Beberapa bulan sebelumnya Peter telah menerima penghargaan penelitian dari European Society. Tidak besar dinilai dari sisi uang. Tetapi penelitiannya termasuk kategori frontier research waktu itu, dan masuk penelitian papan atas di Eropa. Aktifitas enzim metabolisme senyawa karsinogen di kulit. Pada waktu seminar Department di awal tahun, saya sempat menanyakan, tanpa pretensi apa apa, korelasi biologis itu terlalu bagus. Saya tidak meneruskan too good to be true.  Seorang peneliti dari London berbulan bulan mencoba replikasi metoda yang telah dipublikasi dalam European Journal tadi, tetapi selalu gagal. Kemudian datang di NewCastle, bertemu dengan Peter. Di hari terakhir itu, dia tidak bisa menemukan data pembacaan spectrometer di log book. Log book yang sebagian besar saya dan Peter yang menggunakan. Sebelum makan siang, peneliti dari London itu pamitan ke MDR. Something is not normal. I could not find the data in the log book. Sesudah makan siang, jam 1400 Peter dipanggil MDR, kemudian kami semua dipanggil jam 1430. Penyelesaian sangat cepat, swift and decisive. Tak lebih lima menit. Ada pesan singkat disampaikan Vivienne, jangan temui MDR dulu. Give him a break. Kami biasa bertemu rutin setiap minggu sekali atau dua kali, membahas penelitian atau yang lain. MDR masih muda, umurnya hanya 3 – 4 tahun diatas saya. Tokoh terkemuka di Eropa.  Tidak banyak bicara dan sangat berwibawa. 

Kami tidak pernah bertemu dengan Peter sesudah itu. Hanya dua tahun kemudian, dia datang ke rumah, mengantar teknisi dari Indonesia yang tinggal bersama kami, sesudah mancing di laut di suatu akhir pekan. Dia membawa lebih dari 10 kg ikan, yang sebagian besar dengan telornya. Kami harus membaginya di kalangan teman teman Indonesia untuk menghabiskan ikan dan kaviar nya. Peter tidak lagi bekerja di bidang yang menghantarkannya menjadi associate professor. Dia merintis profesi lain dan telah mapan di salah satu perusahaan asuransi besar di Eropa.

Pelajaran yang teramat berharga bagi saya dalam perjalanan karier saya. Pemalsuan atau fabrikasi data penelitian juga  bisa terjadi di universitas terkemuka yang sudah berumur beratus ratus tahun, dan di negara yang maju dan sudah mapan seperti Inggris. Tetapi penyelesaiannya begitu tertata rapi, cepat dan  tanpa ragu. Tidak perlu ramai ramai. Sesuatu yang kemudian saya lihat berbeda sekali dengan situasi di tanah air. 

Pemalsuan data akademik atau plagiarisme (penjiplakan) karya ilmiah juga sering terjadi di dunia akademik kita. Yang berbeda adalah penyelesaiannya. Tidak pernah ada keputusan langsung, mesti berbelit belit dan beramai ramai. Kasus plagiarisme (penjiplakan) atau pemalsuan data selalu menjadi bahan panas untuk media massa. Para selebriti mulai dari penyanyi, penari, pelawak, politisi DPR, semua diajak berduka ria di koran dan televise. Bencana akademik. Tragedi intelektual. Erosi etika. Dan istilah apa lagi yang didengang dengungkan. Bahkan para penggubah lagu terinspirasi mengarang lagu Kepalsuan. Penyanyi dangdut pun ikut larut bernyanyi tentang kepalsuan dan pemalsuan. Sama sama makan batuuuu makan batuuuu.

Pemalsuan akademik dan plagiarisme dibahas dalam konteks pemalsuan barang apa saja.  Mulai dari pemalsuan ijazah, pemalsuan status perkawinan, katanya perjaka kok sudah punya isteri empat. Pemalsuan merek, pemalsuan olie. Pemalsuan organ tubuh, dulu dada rata seperti meja seterika kok pulang dari luar negeri, menjadi berdada ranum seperti papaya. Ini pembohongan publik. Sebaliknya yang bersangkutan berkilah, ini onderdil saya sendiri, suka suka lah. Para politisi lalu membuat RUU kepalsuan.  Mengenai apa saja yang bisa dipalsukan. Hanya gigi palsu yang sudah diterima umum.
 
Begitu riuh rendah, duka ria pemalsuan dan kepalsuan akademik. Tapi jarang ada keputusan yang decisive tanpa ragu. Semua dalam bayang bayang keraguan. Ketika seorang pimpinan PT abal abal mencantumkan titel PhD secara resmi, dia bebas dari ancaman hukuman karena dalam persidangan bisa meyakinkan aparat. Itu bukan Philosophiae Doctor, tetapi Ponakan Haji Djamaludin alias PhD. Ketika seorang calon ikut PILKADA dan mencantumkan gelar palsu DR, dia tetap lolos sebagai calon, karena syarat untuk calon hanya ijazah SMA bukan ijazah Doktor. Pembohongan publik, bukan aib yang bisa mengeliminer seseorang dari pencalonan PILKADA.  Itu norma yang berlaku. Etika adademik hanya dipandang sebagai norma. Bukan sesuatu yang harus menjadi penuntun dalam kehidupan sehari hari.

Dan kita selalu berambisi membuat norma norma baru, dibidang apa saja. Norma hukum, norma sosial, norma sopan santun, norma politik, norma pejabat publik, norma anggota partai dan norma DPR dan lain lain. Dan ketika norma norma itu saling berbenturan seluruh bangsa menjadi bingung, enaknya bagaimana, sama sama mempunyai dasar norma dan aturan  legal. Keputusan lembaga peradilan pun bisa saling berbenturan, tergantung siapa dan mana norma yang dipakai.
Ah saya  juga terseret ikut bingung. Bingung bingung aku bingung …………. Menjadi lagu yang top.

Salam damai.

Ki Ageng Similikithi


Nikmatilah hidup

"Godersi La Vita. Carpe diem", kata kata yang sering diucapkan oleh tante saya semasa hidupnya. Tak begitu nyaman di telinga.  Nikmati hidup, ayo mumpung masih ada waktu. Alfonso bercerita asyik mengenai tantenya. Kami baru makan malam dan ngobrol berdua di satu rumah makan di tepi danau Geneva. Musim panas yang indah di tahun 2009.  Saya kenal Alonso sudah lebih sepuluh tahun. Berteman akrab  ketika sama sama bekerja di lembaga antar bangsa yang sama, WHO, meskipun kami sering berbeda pendapat dalam kerja.  Sebenarnya sejak lama ingin ngobrol berdua, namun kesempatan tak pernah kunjung datang. Sejak pertemuan kami di tahun 2002.

Di tahun 2002, tim kami dijamu makan malam oleh pemerintah Hongkomg dan Cina. Acara makan malam yang mengasyikkan. Tetapi menjadi tegang, ketika nyonya rumah, Margareth, meminta staf WHO untuk menyanyi karena anggota2 delegasi  mereka sudah menyanyi. Tiba tiba Alfonso yang duduk disamping saya waktu itu, menggamit kaki saya, minta saya maju. Dia bilang, Jono, ketua delegasi kami, yang minta. Akhirnya kami bertiga maju, saya, Jono dan Alfonso. Tidak punya hobi nyanyi semua, tetapi Jono bisa main drum. Akhirnya Jono main drum, saya dan Alfonso nyanyi Fly Me to the Moon. Gak tahu kedengarannya kayak apa kombinasi ini. Perasaan saya pasti ambur adul. Tetapi toh tuan rumah bertepuk tangan. Biarkan saja. Alfonso bilang, kapan kapan saya bayar ganti rugi rasa malu ini dengan makan malam.

Malam itu Alfonso cerita tentang tantenya. Tante Angelica  baru meninggal tiga  minggu lalu di Verona, kota kelahirannya. Saya tidak pernah dekat dengan tante saya Angelica. Sebenarnya dia satu satunya saudara kandung ayah saya. Tetapi kehidupan kami berbeda seperti langit dan bumi. Angelica tidak pernah berkeluarga, tetapi berganti pacar atau pasangan puluhan kali. Tak terhitung. Dia seorang wanita pengusaha, bukan orang gajian, tetapi menggaji banyak pekerja di perusahaannya. Wanita yang sangat menikmati hidup. Hedonis dan flamboyan. Suka berpesta pora. Tidak punya anak.  Alfonso menunjukkan foto Angelica sewaktu muda,  cantik seperti Sophia Loren. Tante saya meninggal dalam umur 88 tahun, tiga minggu lalu, mendadak kena serangan jantung saat dansa ballroom, bersama pacar terakhirnya yang masih berumur 40 tahun. Edaaan enggak.

Alfonso sempat menghadiri upacara pemakaman Angelica. Dia satu satunya kemenakan yang ada. Alfonso anak tunggal, ayahnya seorang guru besar di universitas terkenal di italia. Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat religius dan terdidik. Tak heran jika dia tidak dekat dengan tantenya. Dia tidak segan bilang jika cara hidup Angelika dikutuk Tuhan. Tidak hidup di jalan Tuhan.  Dalam rapat rapat sering saya panggil dia Padre, dan dia senang dengan panggilan itu. Sebaliknya dia sering berseloroh memanggil saya mullah.

Dia cerita malam itu kalau Angelica ternyata meninggalkan warisan yang sangat banyak. Tidak menyebutkan jumlahnya. Tetapi melihat gambar rumah tantenya yang begitu megah, pasti harga rumah itu berjuta juta dolar.  Layaknya rumah bangsawan Eropa. Dia tidak mau menerima warisannya. Alfonso tetap tidak bisa menerima cara hidup tantenya yang hedonis, serba bebas. Bahkan Alfonso bermaksud menyumbangkan warisannya ke program program kesehatan dunia. Saya tak banyak bicara, hanya sekali sekali menyela. Namun ketika dia bermaksud menyumbangkan warisan tersebut, saya mencoba mengingatkannya. Banyak donor lain yang bisa melakukannya Alfonso. Tantemu pasti sangat menyayangimu, nyatanya dia tidak mewariskan ke pacarnya, tetapi ke kamu, satu satunya kemenakan. Toh tante Angelica tidak mengganggumu, tidak merugikanmu dengan cara hidupnya. Tetapi dia hidup dalam kutukan Tuhan. Tunggu, jangan tergesa memvonisnya, dia tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dia menikmati jalan hidupnya. Sampai saat meninggalpun dia dalam suasana sukaria, pesta dansa bersama pacarnya. Di akhir makan malam, nampaknya sikap Alfonso sedikit berubah. Dia akan meneruskan warisan tantenya kepada ke dua anaknya yang masih sekolah di London. Anak pertamanya wanita dan yang kedua laki laki. Yang wanita mengambil jurusan musik, dan adiknya ambil arsitektur. Bantuan pendidikan dari lembaga tempatnya bekerja jelas tidak cukup membeayai beaya hidup dan pendidikan mereka berdua. Keputusan yang sangat tepat, pikir saya.

Kami kembali tenggelam dalam kesibukan masing masing. Hampir setahun kemudian kami bertemu lagi di Manila. Kami makan malam di rumah makan Jepang dekat kantor saya. Alfonso akan pension dalam beberapa bulan ke depan. Sambil berseloroh dia cerita tentang anaknya. Gila, sesudah anak perempuan saya dapat warisan, meski sudah saya atur pengeluarannya, dia langsung beli mobil sport Lamborghini. Dia sangat menikmati pesta dan sudah punya pacar serius. Anak saya tidak hanya mewarisi harta tante Angelica, tetapi juga gaya hedonismenya. Saya menjawab ringan, biarlah dia menikmati hidupnya, toh dia tidak hidup dalam kutukan. Carpe diem, godersi la vita.

Hidup memang beragam. Kita tidak bisa memvonis orang lain denga gaya hidup yang berbeda. Sejauh tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Nikmatilah hidup ini.

Ki Ageng Similikithi

Sunday, May 31, 2015

Bir temulawak

"Biiiiirrrrrr, Biiirrrrrrrrrr, Biiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr temulawak". Teriak nyaring penjual jamu di tahun 56 - 57. Seorang pria usia lanjut. Mungkin kepala lima atau lebih. Rambutnya sudah memutih. Giginya sudah ompong. Berjalan pelan menyusur jalan. Lewat kampungku sekitar pukul 10. Dia berasal dari Sumber, kampung sebelah. Kami sedang duduk duduk di halaman gereja, di desa Ngampin Ambarawa. Sering terpancing untuk menyambut teriakan bakul jamu itu. Mbah Buang namanya. Raut wajahnya yang renta masih teringat jelas. Hampir selalu pakai celana kombor dan baju bodong warna putih. Spontan kami berteriak. " Lambe njedhir kakehan telak". Spontan saja, tak bermaksud memperolok olok. Juga tidak begitu perhatian apa makna kalimat itu.

Siang harinya. Hujan renyai. Kami kumpul kembali di halaman gereja, saya Kamto dan Jumadi. Kambing kambing saya dengan tenang makan rumput di kebun kami di sebelah gereja. Penjual jamu itu berjalan pelan dari arah barat. Dalam perjalanan pulang. Tiba tiba saja dia berbelok masuk halaman gereja. Berteduh bersama kami. Dia mulai merokok dengan rokok kelobotnya. Kamto yang memulai menyapa. "Empun telas mbah?". Menanyakan apakah jamunya sudah habis. "Wis entek, kari sisa. Wis entek telake". Dia menyahut ringan. tetapi saya membau nada sindiran yang tajam. Belum sempat bertanya lagi dia terus ber kata. " Nek cah sekolah ki sing sopan le. Ngerti tata krama. Ngapa ndadak muni Lambe Njedhir Kakehan Telak ?.  Kami bertiga hanya diam saja. Saya sendiri baru sadar jika teriakan kami pagi tadi membuatnya tidak senang. Pikir saya kok bisa  ya? Dia kan tidak njedhir bibirnya. Tak ada alasan untuk tersinggung. Tiba tiba dia mengambil cangkir dan mulai menuang jamunya, setengah cangkir. Memberikannya kepada kami. " Ayo dha ngicipi jamu temulawak le". Jumadi dan Kamto dengan sigap menerima dan meminumnya. Matur nuwun Mbah. Saya mendapat giliran terakhir. Berusaha meminumnya. Manis rasanya. Tetapi berat untuk menelannya. Penjual jamu itu kemudian meneruskan perjalanan. Memikul keranjang yang berisi 2 kuali kosong, satu  tempat jamu, dan satu kuali untuk air guna membersihkan cangkir. Pulang ke rumah, perut terasa mual. Saya muntah muntah. Mungkin tidak tahan aroma temu lawak, juga merasa bersalah memperolok penjual jamu yang renta itu.

Berpuluh tahun kemudian, 1971, saya ditawari jamu temulawak tetangga waktu mondok di Suronatan, Yogya. Dia juga menjual jamu temu lawak. Enak rasanya, saya minum dengan lahap sekaligus menghilangkan dahaga di siang yang panas. Sorenya, secara mendadak saya muntah muntah. Gak tahu mengapa. Jamu itu padahal terasa manis. Tahun 2015 dalam pesta perkawinan putra seorang teman, Prof. Hardhono di Semarang, disuguhkan jamu temulawak. Tamu tamu antre minum jamu. Nyi mendesak saya untuk minum. Biar sehat katanya. Saya minum sedikit. Rasanya enak. Pembuat jamunya, seorang wanita mudah yang ramah menarik. Tetapi ingatan saya tak lepas dari raut wajah Mbah Buang,  penjual jamu dari Ambarawa, yang kami teriaki lambe njedir kakehan telak itu puluhan tahun lalu. Tahun 77, saya telah menjadi asisten dosen waktu itu. Ikut menghadiri Konggres Farmakologi Indonesia, di Semarang. Seorang dosen senior berapi api mengajukan hasil penelitian mengenai temulawak. Kebetulan bibirnya agak tebal, suaranya keras. Ingatan saya melayang ke peristiwa di pertengahan tahun lima puluhan itu. "Lambe njedhir kakehan telak".  Temulawak (Curcuma) berisikan senyawa Curcumin, salah satu warisan nenek moyang yang sudah diterima di jaman modern. Saya pernah berkesempatan ikut jadi anggota pembimbing seorang teman, Alm. Dr. Imono Argo Donatus, menyelesaikan disertasinya tentang temu lawak. Sayang saya tidak pernah bisa menikmati rasa jamu temu lawak itu. Selalu saja terasa mual meski sudah berkali kali mencobanya. Tidak tahu apakah semata mata karena alasan biologis & fisiologis. Jangan jangan karena kualat memperolok mbah Buang, Lambe Njedhir Kakehan Telak. Pelajaran berharga, jangan sekali sekali memperolok orang tua.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi

Monday, January 12, 2015

Memberi pelajaran



Napas saya sudah hampir putus. Berusaha menutup lapangan kiri kanan, depan belakang. Partner main saya pak Nono, juga sama, padahal biasanya dia tangguh luar biasa dengan smash smash mematikan. Pertengahan tahun delapan puluhan. Minggu pagi yang cerah. Kami  main badminton bersama di lapangan kompleks Condongcatur. Klub kami namanya Orak Arik, dengan harapan bisa selalu mengobrak abrik lawan dalam setiap tanding di kandang lawan. Termasuk agresip, setiap dua bulan selalu mendatangi kandang klub lain dan unjuk kekuatan. Sayang semangat saja ternyata tidak cukup, jarang bisa menundukkan lawan di kandangnya. Dalam doktrin perang modern dikenal dengan pre-emptive strike. Kekuatan tim terlalu amburadul untuk melakukan preemptive strike.

Pagi itu saya berpasangan  dengan pak Nono. Umur kami hampir sama, saya sedikit diatas kepala empat, dia sedikit dibawah kepala empat. Biasanya  kami berdua bisa main efektif sekali. Menutup lapangan kiri kanan, depan belakang, dengan kompak, diseling dengan smash mematikan. Jika musuh tak berkutik menahan smash kami, sepatu kami hentakkan ke lantai, seolah ingin menggilas sampai lumat lawan yang sudah mati tidak berkutik di lantai. Waktu itu menjelang bulan Agustus,  banyak pertandingan antar kampong. Klub kami maunya ada seleksi pemain untuk persiapan nglurug ke kandang lawan. Lawan main kami pagi itu pak Dulah dan pak Rifai. Beliau sudah hampir atau lewat kepala enam. Dua duanya pensiunan pegawai negeri sipil. Gerakan mereka biasanya agak lambat. Lebih seneng main lop dan dropshot, jarang main smash. Sebelum main sempat bercanda, sekaligus perang urat saraf. Saya bilang ‘wah ini kesempatan memberi pelajaran’. Pak Dulah tertawa sambil berkata ‘ Enggih anggere tanggung jawab”.

Set pertama kami berdua dibuat terkejut. Taken by surprise. Cepat sekali pak Dulah dan pak Rifai mengumpulkan poin. Tahu tahu sudah tujuh kosong. Kami berdua masih berpikir, mungkin belum panas, belum inn benar. Tempo permainan kami tingkatkan dengan smash smash tajam. Tetapi liat sekali mereka. Di smash di manapun mereka bisa mengembalikan dengan baik. Permainan mereka cenderung lambat, kluthak kluthik di depan net, lalu lop ke belakang. Napas saya mulai ngos ngosan. Sementara pak Nono juga frustrasi, smash geledeknya seperti menghantam tembok yang liat. Yang bikin kami kehilangan konsentrasi, setiap kali memukul bola, entah lop atau drop shot, selalu sambil teriak “tanggung jawab mas”. Edan, pikir saya, biasanya pasti sudah saya beri pelajaran pasangan ini. Set pertama kami dihabisi dengan cepat, hanya mampu mengumpulkan 3 poin, itu saja karena salah pukul lawan. Smash kami tidak ada yang berhasil. Kami minta jeda beberapa saat. Ngatur napas sambil mikir enaknya diapakan pasangan ini. Apa mereka lupa siapa kita, yang selalu menghajar lawan dengan smash mematikan ?

Set kedua ganti taktik. Saya akan lebih banyak di depan, main drop dan netting. Jika ada kesempatan smash loncat seperti biasanya. Pak Nono menutup lapangan belakang dengan lop lop panjang. Mulanya menunjukkan hasil. Kami leading beberapa poin. Pukulan pukulan serong menyisir net yang saya kembangkan berhasil mengecoh mereka. Tetapi beberapa saat keadaan berbalik. Saya kehilangan konsentrasi ketika mereka mulai  teriak ‘tanggung jawab mas”.  Kami juga sangat terpengaruh pola permainan mereka yang lambat, lari lari kecil mengembalikan bola dengan tipis di atas net. Ketika kami dalam posisi sama sama game point, kami harus memperebutkan 3 poin sampai game. Meski napas sudah pas pasan ternyata kami bisa menambah dua poin, tinggal satu poin lagi, set kedua bisa kami ambil. Saya begitu yakin akan memenangkan set kedua. Pak Dulah dan pak Rifai, nampak keder, tidak berani menatap kami. Mungkin ketakutan, menerima serangan smash kami yang menggila. Ketika drop shot pak Nono, dikembalikan dengan tanggung agak ke depan, saya pikir inilah kesempatan emas menghajar dan memberi pelajaran mereka. Saya dengan sigap meloncat tinggi, melepaskan pukulan smash mematikan, sambil teriak “Pelajaran pakdhe”. Tiba tiba saja nyeri hebat datang menyerang lutut kiri saya. Begitu terasa nyeri, saya terduduk di depan net. Bola ternyata tidak mampu melewati net. Tidak mampu lagi meneruskan permainan saya. Kalah walk out. Saya dipapah keluar. Masih sendau gurau, pak Dulah bilang, ‘Wah ini pelajaran PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan)”. Kami tidak lolos seleksi untuk tanding tujuh belasan. Saya tidak mampu jalan pulang sendiri. Harus diantar naik vespa pulang.

Cerita tidak berhenti disitu. Ternyata cedera saya tidak sederhana. Berbulan bulan harus berjalan dengan tongkat. Lutut kiri tak kuat lagi menopang berat badan. Teman saya ahli ortopedi, menasehati untuk  dilakukan operasi untuk mengencangkan tendo. Saya pilih untuk tidak operasi. Lebih delapan bulan baru saya bisa berjalan normal tanpa penopang. Meski kembali normal kemudian, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari lapangan badminton. Tidak ada makna apa apa bagi orang lain. Tetapi begitu berat untuk saya meninggalkan olah raga yang saya cintai sejak umur 12 tahun. Tidak ada pilihan olah raga lain. Tenis saya belum pernah mencoba. Tenis meja nggak tertarik. The game is over. 

Akhirnya pelan pelan mulai belajar main golf sampai sekarang. Tidak terlalu jelek. Dalam kurun 20 tahun saya telah memenangkan pertandingan di klub 3 kali, sebagai runner up dua kali dan best net sekali . Tidak terlalu memalukan. 

Pada umur muda, orang gampang sekali menggunakan istilah ‘ memberi pelajaran’, tidak hanya dalam tanding olah raga di lapangan. Tetapi dengan berlalunya umur, hampir tidak pernah istilah itu mampir dalam kamus saya. Yang paling sering saya lihat sewaktu masih di universitas. Banyak dosen yang begitu berapi api ‘memberi pelajaran’ pada saat ujian terutama ujian paska sarjana. Calon sudah megap megap tidak bisa menjawab, masih dikejar kejar, seolah sesudah jatuh dibanting masih di injak injak di lantai sampai pendeng. Dengan penuh kebanggaan seolah kemudian berpikir, jangan main main, ini pelajaran buat kamu. Tetapi jika orang sudah mencapai kematangan emosi dan spiritual, yang bersangkutan akan sanggup mengendalikan diri, tidak mengumbar napsu ‘memberi pelajaran’ kepada pihak lain yang lebih lemah, apa lagi dalam ujian paska sarjana. 

Tahun 1979, ketika tentara Viet Nam memasuki Kamboja untuk membantu kubu perdana menteri Hun Sen menjatuhkan pemerintahan Khmer Merah yang bengis, perdana menteri China Deng Hsiao Ping mengirimkan pasukan menyerang Viet Nam dengan tujuan untuk ‘memberi pelajaran” (http://content.time.com/time/world/article/0,8599,2054325,00.html) . Sayang kemudian pelajaran itu berbalik arah, pihak tentara rakyat China dinilai memperoleh pelajaran berharga dari Viet Nam.  Seorang pemimpin besar yang telah memimpin perjuangan rakyat sebanyak 1. 3 milyard dan berhasil mentransformasi negara menuju ke arah negara modern yang kuat dan tangguh, di akhir perjalanan karier yang panjang itu sedikit tergelincir, karena semangat ‘memberi pelajaran”. Hanya gelincir kecil dalam perjalanan karier  beliau selama berpuluh tahun memimpin rakyat China ke arah modernisasi. Tak ingin menganalogikan dengan insiden yang saya alami. Saya tergelincir dalam arti sesungguhnya dalam permainan badminton seleksi tanding antar kampong untuk acara tujuh belasan, dan harus mengakhiri karier dan meninggalkan olah raga yang saya cintai selama lebih dari 30 tahun.

Pesan untuk anak muda, jangan suka ‘memberi pelajaran’ untuk orang lain, tetapi belajarlah untuk diri sendiri. Viva Deng Hsiao Ping.

Salam damai Ki Ageng Similikithi

Saturday, November 29, 2014

Apusi Wae



Kami tertawa terpingkal pingkal mendengar kisah sial itu. Sabtu sore  di musim panas tahun 2000. Summerhill House NewCastle, UK. Habis belanja akhir pekan, kami minum kopi di ruang makan, sambil ngobrol ringan, menghilangkan rasa rindu keluarga dan tanah air. Bersama pak Romi (alm), pak Sahala Hutabarat, dan satu teman lagi, lupa namanya. “Edan enggak pak. Saya dengan  tamu kok tersia sia, pada hal sudah terbayang sarapan lezat dengan pecel dan ikan goreng”.

Pak Sahala berapi api bercerita tentang  kisah konyol itu. Kejadian beberapa tahun sebelumnya di Semarang.  Menjelang akhir pekan waktu itu mereka berencana berpesiar ke Yogya dari Semarang bersama dengan mahasiswa2 dari NewCastle University yang sedang kuliah kerja di Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro Semarang. Mereka memang punya kerja sama antar universitas. Dalam pembicaraan atau rapat persiapan di kampus, salah seorang dosen senior, pak Gatot, yang pernah berdinas di Angkatan Laut sebelumnya, mengusulkan dengan simpatik. “ Berangkat pagi pagi,  nanti mampir di kompleks perikanan Magelang, sarapan pecel dan ikan goreng”.

Pucuk dicinta ulam tiba, pikir pak Sahala, pasti nikmat sekali makan pecel dengan ikan goreng segar dari kolam ikan. Pak Gatot memang tinggal di Magelang, di kebun perikanan, yang terletak di tepi jalan raya menuju Yogyakarta. Esoknya pagi pagi mereka berenam berangkat ke Yogya dengan mobil colt. Semua ceria, menikmati pemandangan sepanjang perjalanan Semarang Magelang yang indah. Kebun kopi Bedono yang sejuk. Sampai di Magelang rombongan itu langsung ke kebun perikanan tempat pak  Gatot tinggal.  Tetapi pak Sahala terheran heran, kok  sepi sepi saja. Pak Gatot masih pakai sarung duduk di kursi belakang rumah di tepi kolam. “ Lho pak, katanya kita diajak sarapan pecel pagi ini?”.
Pak Gatot dengan ringan menjawab sambal ketawa lebar “ Apusi wae”.  Agak dongkol memang, tetapi misi harus jalan terus.

Mereka meneruskan perjalanan sambil mencari tempat sarapan yang pas. Untung ada warung yang bersih menjelang Borobudur. Mereka sarapan di sana, meski tidak ada ikan gorengnya. Ketika salah satu tamu nyelethuk “ I thought we were going to have breakfast with pak Gatot”. Pak Sahala menjawab ringan berusaha menghindari pertanyaan lebih lanjut, “ Something was not in order”.  Perjalanan lebih lanjut lancar. Mission accomplished. Saya membayangkan pak Gatot. Belum pernah bertemu dengan beliaunya, tetapi pasti orangnya angin anginan seperti yang sering saya dengar dari teman teman di Semarang. Sambil bercanda, saya mengingatkan pak Sahala waktu itu, “Kan beliaunya memang bilangnya sarapan di Magelang dengan nasi pecel, bukan berarti dijamu oleh pak Romi. Apa lagi undangannya nggak tertulis. Nggak ada kekuatan hukumnya bung”.  Kami semua terbahak. Pak Gatot, pak Gatot.
Tidak berhenti sampai disitu ceritanya. Di awal tahun enam puluhan, saya pernah membaca cerita pendek di majalah Panyebar Semangat. Kisah seorang perwira angkatan laut. Dia menjalani pendidikan di salah satu negara di Eropa Timur, mungkin Yugoslavia, negaranya Presiden Tito. Kemudian dia beristerikan wanita Eropa dan kembali ke Indonesia sesudah beasiswanya selesai. Entah karena berbagai hal, hubungan mereka tidak berjalan mulus, sering bertengkar. Klimaksnya di suatu petang pertengkaran itu begitu dahsyat, dan sang isteri mengambil pistol suaminya serta  menembakkannya ke sang suami. Untung tidak fatal. Suami dirawat di rumah sakit dan wanita ini masuk tahanan. Beberapa minggu kemudian setelah sembuh dari perawatan, si suami itu menjenguk wanita tadi  di tahanan. Isterinya hanya bisa menangis dan minta maaf atas perbuatannya yang diluar kendali. 
Selang beberapa waktu kemudian, sang suami  mengajukan surat permohonan agar isterinya tiak diadili dan diijinkan kembali pulang ke Eropa Timur. Mungkin karena rasa cintanya. Beritanya sempat dimuat di beberapa surat kabar waktu itu. Saya membacanya di koran Suara Merdeka. Kasusnya memang kemudian sampai melibatkan pembicaraan politik tingkat tinggi, yang akhirnya pemerintah RI melepaskan wanita itu dan mengijinkannya kembali ke tanah airnya. Itu saja ingatan saya tentang peristiwa naas yang menjadi perhatian banyak orang. Saya membayangkan betapa perasaan sang suami waktu itu. Ditembak orang yang dicintai, memaafkannya dan mengijinkan meninggalkannya kembali ke tanah air. Sulit membayangkan. Beyond my comprehension. Ketika saya tanyakan ke pak Romi almarhum waktu itu, beliau membenarkan bahwa yang saya baca ceritanya di Panyebar Semangat, dan beritanya di koran koran di tahun enam puluhan, ya kisah pak Gatot itu.
Kisah anak manusia yang tragis dan menyedihkan. Hidup adalah perjalanan. Banyak kejadian terjadi  dalam perjalanan panjang tersebut. Kadang kejadian datang tak terduga tanpa kita kehendaki. Pak Gatot, sang isteri, pasti tidak pernah mengharapkan atau membayangkan akan kejadian tragis situ. Tetapi toh terjadi akhirnya. Mungkin mereka kurang peka untuk menghindari dan mencegahnya.
Cerita insiden mengenai pecel itu tak mengurangi simpati saya terhadap figure pak Gatot. Saya belum pernah bersua. Tetapi pasti beliau telah berpengalaman menjalani perjalanan hidup dengan segala pahit getirnya, termasuk peristiwa tragis itu.   Tulisan ini bukan untuk mencercanya. Hanya mengingatkan kita semua. Juga mengungkapkan rasa simpati saya semata.  Mohon maaf kepada family pak Gatot almarhum, jika membaca tulisan ini, taka da maksud apa apa kecuali ungkapan simpati semata.

Sering tanpa sengaja kami berdua menyinggung kisah pecel apusi wae itu  dalam percakapan dengan Nyi. Suatu saat  cucu pertama saya Rio yang waktu itu masih umur 4 tahun,  cerita kalau dia katanya barusan diajak bapak ibunya jajan soto di Kadipiro. Ketika hal tersebut saya tanyakan ke Bapaknya, dengan entheng Rio berteriak “Apusi wae”. Wah edan, cerita konyol dari Newcastle tiga puluh tahun lalu itu telah bocor ke cucu saya.
Pak Sahala sekarang masih menjabat guru besar oseanografi di Universitas Diponegoro Semarang dan dosen LEMHANAS. Beliau memperoleh doktornya juga di NewCastle selang sebentar sesudah saya. Pernah menjabat Direktur Jendral di salah satu kementerian RI (https://twitter.com/sahalahutabarat ). Pak Romi Muhtarto (alm) pernah menjabat sebagai Direktur Oseanologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Nama pak Gatot (alm) diabadikan dalam nama Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai prof. Dr. Gatot Rahardjo di Jepara. Salam dan simpati abadi saya untuk beliau.

Manusia memang tidak mampu menghindari petaka yang tidak terduga dalam perjalanan panjang kehidupan ini.

Salam damai

Ki Ageng Similikithi
Jakarta 29 Nopember 2014.