Saturday, May 1, 2010

Berpisah di simpang jalan

Tak ingat lagi kapan persisnya. Di suatu sore yang cerah kira kira tiga tahun lalu. Saya bersama Nyi mau jalan jalan ke pantai Manila. Di ruang parkir lantai bawah, sepasang penghuni baru, menyapa ramah “Selamat sore. Apa kabar ?”. Saya menjawab spontan “Magandang hapon. Kabar baik. Kamusta?” Mereka baru masuk beberapa hari di apartemen sebelah. Pintunya persis bersebelahan dengan pintu saya. Mereka tahu mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia. Temannya banyak dari Indonesia sewaktu tinggal di Amerika.

Pasangan suami isteri Efren Morelos dan Cynthia Morelos. Mereka baru kembali dari Amerika setelah tinggal di sana lima belas tahun lebih. Kegiatan bisnis mereka dialihkan ke Manila dan menjangkau negara sekitar Filipina, seperti Palau, Papua new Guinea dan negara2 Pasifik lainnya. Bisnis generator dan alat berat. Pasangan suami isteri yang rukun dan serasi. Umur mereka baru di sekitar pertengahan empat puluhan. Mereka mempunyai anak tunggal, masih duduk di SMP. Sering tinggal di asrama. Bisnis berkembang bagus. Kehidupan mereka nampak makmur dengan gaya hidup flamboyant. Khas keluarga tingkat menengah atas Filipina.

Seperti halnya pria Filipina, Efren orangnya kalem dan ramah. Selalu menyapa bila ketemu saya. Senyumnya tak pernah lepas. Cynthia berpenampilan menarik. Gaya berpakaiannya sehari hari cenderung casual. Yang sering saya lihat pakai celana pendek ketat dan t shirt tanpa lengan. Modis dan seksi. Kami tak berhubungan lebih dekat. Hanya kadang kadang bicara bila bertemu di lantai parkir. Yang menarik saya mobilnya. Mereka mempunyai dua mobil, satu X trail dan satunya Moris model seperti mobil Mr. Bean. Beberapa lama kemudian saya tahu kalau Cynthia, berasal dari keluarga kaya jaman Marcos. Sesudah kejatuhan Marcos keluarganya pindah ke Amerika. Karena menyurutnya ekonomi di Amerika, mereka kemudian mengalihkan bisnisnya ke Asia dan kembali ke Manila.

Karena kegiatan usahanya, Efren harus sering bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Mungkin sampai dua minggu dalam sebulannya. Kami pernah janjian mau makan malam dan ball room sama sama. Namun tak pernah kesampaian. Jika di Manila, Efren sering hanya tinggal di rumah saja. Semua berjalan normal. Seperti halnya pasangan pasangan tengah baya pada umumnya. Selalu rukun tak pernah terdengar suara mereka bertengkar, apalagi menjerit histeris. Semua berjalan biasa saja. Namun kira kira satu setengah tahun lalu, ada sedikit perubahan. Kami jarang lagi berjumpa di lantai parkiran. Di akhir pekan Efren keluar sendirian biasanya sekitar jam depalan atau sembilan dan pulang sekitar tengah malam. Cynthia sebaliknya berdiam diri di rumah. Namun menjelang tengah malam dia keluar dan kembali dini hari. Tak ada suara berisik. Hanya saat mereka keluar dan masuk apartemen, suara pintu sangat jelas terdengar. Juga saat mereka berjalan di koridor, selalu nampak dari jendela ruang depan saya.

Tak pernah terpikir perubahan itu. Hanya suatu saat Cynthia secara tak sengaja menyapa di koridor “ Do you still go for ball room Ki ?”. “ Once and a while in the week end. Not more than two hours”. Dia cerita kalau sering ke salah satu bar dengan live music di dekat apartemen. Hanya jalan 5 menit. Tak bicara lebih lanjut. Hanya kemudian acara ke bar tidak hanya di akhir pekan. Hampir setiap malam. Efren juga secara teratur pergi lebih awal, pulang menjelang tengah malam. Di akhir pekan dia sama sekali tak pulang ke rumah. Berbulan bulan irama berjalan dengan tenang. Tak ada suara pertengkaran antara mereka.

Suatu saat saya melihat Efren bicara serius dengan Datoin, petugas keamanan, di lantai parkir. Efren kelihatan rusuh dan murung. Tetapi tetap tersenyum menyapa saya. Bahkan sempat ngobrol sebentar. Kami secara sambil lalu bicara mau saling pinjam mobil selama week end. Saya boleh memakai Moris kecilnya. Dia akan pakai mobil saya. Saya sih senang senang saja. Walau merk Benz, pendinginnya selalu bermasalah. Tak pernah mengenakkan untuk ke luar kota. Malamnya Datoin cerita katanya Efren ketahuan sama Cynthia kalau punya teman wanita. Seorang gadis cantik yang tinggal di Mandaluyong. Makanya dia sering keluar petang hari. “Babaero sir”. Babaero maksudnya sugar daddy.

Habis pertemuan itu saya jarang sekali ketemu Efren. Dia praktis sudah pindah tempat tinggal. Kedua mobilnya ternyata tak dibawa. Milik Cynthia. Cynthia tetap asyik menikmati live musicnya. Selalu sampai pagi. Tak ada hak saya untuk menilai mereka. Kesukaan mereka berbeda. Efren suka musik klasik. Sering sendirian menonton konser di Cultural Centre. Sementara Cynthia suka musik keras. Waktu dan tempat tak pernah pas. Musik klasik dan music keras. Satu di Cultural Centre, satunya di bar. Satunya petang hari, satunya lewat tengah malam. Mereka menjalani perbedaan dengan tenang dan damai selama bertahun tahun. Cuma di Manila resiko jadi lain. Pria segantheng Efren, dari kelompok menengah atas, sering sendirian, dengan cepat akan menjadi daya tarik gadis belia. Datoin bilang, teman wanita Efren masih berumur 26 tahun. Seorang sekretaris. Edaaan. Keberuntungan sering datang tak terduga.

Beberapa bulan kemudian, selama tiga minggu persis, Cynthia tak pernah keluar malam hari. Mengurung diri di rumah sepanjang hari. Datoin bilang katanya mereka sedang dalam proses pengadilan untuk bercerai. Ada detektif swasta yang selalu mengawasi Cynthia di depan rumah. Tak tahu untuk apa. Mungkin di pengadilan jika salah satu pihak berhasil megajukan bukti penyelewengan, mereka akan menang dalam pembagian harta kepemilikan.

Ketika proses pengadilan selesai, beritanya menyebar di apartemen. Dari petugas keamanan. “It is all over Sir. The Morelos, officially divorced”. Petang itu Cynthia pergi ke luar. Tak lama seperti biasanya. Jam sepuluh malam sudah kembali. Tidak sendirian. Bersama seorang pria setengah baya. Mobilnya Benz di parkir di lantai bawah. Saya melihatnya saat turun mau ke ball room. Menjelang tengah malam saat saya pulang, mobil itu masih terpakir di sana. Dua orang pengawal nampak sabar menunggu. Paginya Datoin cerita, tamu Cynthia adalah penasehat hukumnya. Baru jam tiga pagi meninggalkan apartemen. Konsultasi hukum memang bisa bertahan lama. Apa lagi kalau kliennya secantik Cynthia. Edaaan.

Di akhir pekan saya ketemu Cynthia di lantai bawah. “ How is your ball room? You still have your ball room Ki ?”. Saya iyakan pertanyaannya. “ That’s good but not for me”. Tak apa apa. Saya juga tak bernyali mengajaknya kok belum belum sudah bilang duluan nggak minat. Belum tahu dia siape gue.

Jika ingat saat saat pertama kami berkenalan dengan keluarga Morelos, pasangan yang nampak begitu serasi dan rukun, rasanya sayang sekali melihat mereka bercerai. Namun saya menghargai mereka. Bercerai tanpa suara. Tanpa bertempur ramai ramai. Apa lagi sampai konperesi pers segala. Efren dapat teman baru. Sekretaris yang cantik. Cynthia dapat pasangan baru. Bukan penasehat hukum yang sudah setengah baya itu. Tetapi pemain live music di bar yang selalu dikunjungi hampir tiap hari. Juga lebih muda.

Mereka berani memutuskan hubungan perkawinan yang sudah berjalan hampir dua puluh tahun. Bersimpang jalan. Tanpa jeritan histeris, tanpa pertengkaran hebat yang mengganggu tetangga. Tanpa gebug gebugan dan saling menjelekkan. Hanya saling mengintai dengan detektif swasta. Berpisah di simpang jalan dengan damai.

Salam damai
Ki Ageng Similikithi

4 comments:

paromo suko said...

yang paling seru ada di bagian: belum tahu diE, siape gue

emangnye nape, ki? hehehe

Ki Ageng Similikithi said...

Matur nuwun Kanjeng Romo.

Isane mung mbatin. Peh wong tuwa ora ditawani ora ketang idep idep mung basa basi. Durung tau ngrasakke sih.
Amit amit
Ki Ageng

paromo suko said...

ada ungkapan yang saya pungut dari jalanan surabaya:
siapa berpikir tentang ular, berarti dia sudah menginjak ekornya
hahahaha.... udah ah, ki, saya nanti kuwalat sama panjenengan.....

Ki Ageng Similikithi said...

Kanjeng Romo,

Bukan masalah ular atau nginjak ular. tetapi masalah tepa slira. Enak disangga bareng karo tangga. Rekasa ditinggal dewe he he he