Tak pernah dalam kurun waktu puluhan tahun memelihara rambut terjadi krisis seperti saat ini. Kelaangkaan krim rambut Brylcreem. Sejak masih di bangku kuliah di tahun tujuh puluhan, saya selalu setia memakai krim rambut Brylcreem yang lembut. Tak terlalu berminyak dan tak terlalu kaku di rambut. Paling tidak sudah memakainya selama empat puluh tahun. Bentuk kemasan krim ini juga sudah berubah ubah selama kurun waktu ini. Tetapi tetap saja saya memakainya karena konsistensinya yang lembut. Dulu di tahun tujuh puluhan, dikemas dalam botol gelas pendek yang menggembung di tengahnya. Di tahun2 terakhir dikemas dalam plastik berbentuk silindris. Ada yang wadahnya berwarna merah dan ada yang hijau. Tak tahu bedanya apa.
Persediaan hampir habis tetapi sudah beberapa minggu tak menjumpainya di toko maupun di mall di Manila. Yang banyak tersedia adalah gel yang kaku. Pernah di ruang mandi golf saya menggunakannya, rambut jadi kaku berdiri. Gel mungkin khusus diperuntukkan untuk anak anak muda dengan model rambut jabrik, tegak berdiri. Di jaman tahun enam puluhan seperti rambut mas Klombrot, di karikatur Penyebar Semangat itu. Minggu kemarin sewaktu liburan di Yogya, saya menelusuri jalan Solo, dapat Brylcreem di salah satu toko kecil. Hanya dapat tiga kemasan botol kecil. Saat mengunjungi kakak di Semarang saya diberi tiga botol kemasan besar. Lumayan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Terhindar memakai gel yang kaku itu.
Perkenalan saya dengan minyak rambut buatan pabrik mulai di tahun 1963. Sebelumnya saat duduk di Sekolah Rakyat hanya memakai minyak cem=ceman, yakni minyak kelapa dicampur dengan berbagai akar dan daun tumbuhan. Baunya sedap walaupun tidak wangi. Tetapi jika wanita memakai pinyak ini dan tidak keramas berhari hari bau bisa berubah jadi apek.
Mula pertama menggunakan minyak rambut buatan pabrik atau pomade, merk Erasmic. Baunya lembut dan tidak terlalu kaku. Tetapi kadang kadang siang hari jika berkeringat, minyaknya turun ikut membasahi dahi. Jika tak salah Erasmic dikemas dengan botol gelas dengan bagian tengahnya menggembung waktu itu. Belum banyak diproduksi plastik. Selain merk Erasmic, kadang kadang saya menggunakan pomade Lavender. Dikemas dalam wadah metal berbentuk oval warna keemasan. Mungkin saya lebih jarang memakainya. Ingatan saya akan pomade Lavender begitu samar. Adik saya lebih banyak memakaianya.
Di masa sekolah menengah atas di St.Josef Solo, saya mengenal pomade dengan merk Yaparco. Lupa kemasannya. Kalau tak salah dalam botol silindris. Ingatan saya juga tidak terlalu kuat akan merk ini. Kadang kala memakai pomade merk Yardley. Ini merk untuk kelas atas. Saya sering nimbrung kakak ipar . Biasanya yang memakai adalah kelompok saudagar atau pebisnis atau pejabat kelas atas. Lembut dan tidak meninggalkan minyak yang membasahi dahi di kala berkeringat.
Di jaman mahasiswa di kompleks Ngasem Yogyakarta, saya mulai mengenal krim dengan merk Brylcreeem. Ini bukan pomade yang lengket. Tetapi krim lembut. Tidak berminyak sekali. Dan tetap lembut sepanjang hari. Banyak anak muda waktu itu memakai pomade merk Tancho Mandom yang diiklankan besar besaran. Pilihan saya tetap ke Brylcreem yang lembut itu. Dan berlangsung lebih empat puluh tahun sampai sekarang. Hanya ketika budaya pop culture masa kini menciptakan model rambut kaku menjulang tinggi seperti rambut landak, kelangkaan menimpa minyak rambut berbentuk krim seperti Brylcreem. Mungkin ada baiknya ingat kembali iklan iklan Brylcreem di masa lalu. Lambang pria percaya diri.
Jika ada kenangan mengenai minyak rambut silahkan ungkap di sini. Pria tak akan pernah bisa berpisah dengan minyak rambut. Tinggal pilih mau minyak rambut atau mau botak
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
Saturday, September 24, 2011
Saturday, August 27, 2011
Pengin punya anak tanpa suami
Agak terkejut mendengar ceritanya. Begitu lugas tanpa tedeng aling aling. Kami sedang berbincang selesai pertemuan beberapa minggu lalu. Minum di coffee shop di lobby hotel. Sejak dulu dia selalu bicara blak blakan dan lugas. Gaya bicaranya selalu penuh irama dan menarik lawan bicara. Dia datang mewakili organisasinya. Namanya Emine. Seorang wanita profesional dengan posisi yang mantap di salah satu lembaga internasional. Umur sekitar empat puluh, naik turun sedikit. Masih lajang. Berpenampilan menarik. Cantik, jika tidak bisa dibilang jelita. Khas penampilan wanita wanita perbatasan Asia dan Eropa. Sangat ramah dan enak jadi lawan bicara.
Bercerita dengan lancar, di sela derai tawanya yang riang. Ingin punya anak. Tetapi tak ingin bersuami. Buat apa bersuami ?. Bikin susah, harus meladeni di rumah. Saya kan juga punya banyak kerjaan. Perlu istirahat di rumah. Dia cerita pengalaman tidak enak hidup bersama (ko habitasi) dengan kawan hidupnya selama 7 tahun. Masak saya dihardik di rumah saya sendiri, jika ada sesuatu yang kurang? Saya mendengar ceritanya dengan sabar. Sesekali bertanya. Tentang perjalanannya selama ini. Kami memang pernah bertemu beberapa kali di berbagai negara. Di Asia dan di Eropa. Komunikasi juga tidak intens. Bukan teman yang karib. Beda generasi.
Saya mengenal Emine pertama kali enam belas tahun lalu sewaktu ikut misi di Bishkek, Kirghyztan. Dia baru saja lulus dari universitas di Budapest. Dia saat itu bekerja sebagai associate professional officer untuk sebuah lembaga donor yang dibeyai pemerintah Turki. Masih ingat ketika malam malam saya ditilpon. Ternyata rombongan tamu dari Uzbekistan mengundang makan malam. Ternyata mereka menyiapkan kambing panggang. Acara makan selesai lewat tengah malam. Ada kesempatan bicara lebih leluasa dengan dia.Dia cerita kalau pacarnya kerja di Departemen Luar Negeri.
Esoknya kami harus meninggalkan Bishkek menuju Almaty, jalan darat. Ternyata rombongan kami akan dilepas di batas kota oleh salah satu pejabat tinggi pemerintah. Saya mencoba menjelaskan jika tidak perlu asal diberi satu rombongan pengawal sampai perbatasan. Tetapi Emine mengatakan, itu kebiasaan mereka. Kami akhirnya menerima. Ternyata tidak hanya dilepas begitu saja. Ada pesta perpisahan di perbatasan. Lagi lagi kambing panggang.
Di akhir sembilan puluhan saya kembali bertemu dengan Emine di Jepang. Penampilannya tak berubah. Selalu anggun. Waktu itu dia cerita jika berpacaran dengan seorang diplomat Malaysia. Kenapa nggak kawin ? Tak bisa karena sang diplomat sudah berkeluarga. Dia tak mungkin mau dimadu. Tetapi menikmati hubungannya. Berbunga bunga. Ki, you are a family man with a sweet wife. Tak akan bisa mengerti gaya hidup bohemian saya, katanya. Tak tahu apa maksudnya.
Di tahun 2004 kembali lagi bertemu dalam suatu pertemuan internasional di Geneva. Dia mewakili negaranya dalam negosiasi. Kedudukannya tidak main main. Direktur Jendral di pemerintahan. Saya tak membayangkannya seperti petinggi petinggi kita yang suka pelesiran dengan alasan tugas negara. Dia benar benar seorang though negotiator yang handal untuk kepentingan negaranya. Sempat bertemu dan makan siang bersama. How is life? Pertanyaannya selalu datang dengan ramah. Dia cerita punya pasangan hidup bersama. Seorang tokoh lingkungan di negaranya. Dia cerita merencanakan akan kawin jka tidak ada aral melintang.
Beberapa minggu lalu, itulah pertemuan kami yang terakhir setelah tujuh tahun. Ketika dia cerita pengin punya anak, tetapi tak menghendaki suami. Dia masih menjalin hubungan dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan di negaranya. Sudah berkeluarga. Tak mungkin kawin. Kecuali jika teman prianya mau pisah dengan isterinya sekarang. Tak mungkin dilakukan. Bisa membunuh karier politiknya. Dia bingung karena susah pisah dengan teman prianya sekarang. Tetapi tak mungkin kawin. Dia mengharap dapat anak dari sang pejabat ini. Tanpa minta pertanggungan jawab apapun.
Saya tak banyak bereaksi. Hanya omong sekenanya. Please do not spoil your life. Time to start a happy family life. Jika ada pria yang mau mendampingi dan menemanimu mengapa tidak kawin saja? Dia akan memikirkannya. Omongannya serius. Jika ada pria mapan yang masih lajang di atas 35 tahun, good looking, yang ingin cari teman hidup, I am serious Ki, as my husband and the father of my kid.
Pagi ini masuk pesannya di inboks saya, any info Ki? Katanya ada seorang pelatih sepak bola dari Meksiko yang ingin kenalan. Saya bercanda, pemain bola itu hanya tembakan kakinya yang keras. Tembakan burungnya suka meleset, tidak indah sama sekali, apa lagi kalau sudah berkeluarga. Do not spoil again your life sweety, time is running out.
Salam damai untuk pria lajang mapan dan good looking.
Ki Ageng Similikithi
Manila 27 Agustus 2011.
Bercerita dengan lancar, di sela derai tawanya yang riang. Ingin punya anak. Tetapi tak ingin bersuami. Buat apa bersuami ?. Bikin susah, harus meladeni di rumah. Saya kan juga punya banyak kerjaan. Perlu istirahat di rumah. Dia cerita pengalaman tidak enak hidup bersama (ko habitasi) dengan kawan hidupnya selama 7 tahun. Masak saya dihardik di rumah saya sendiri, jika ada sesuatu yang kurang? Saya mendengar ceritanya dengan sabar. Sesekali bertanya. Tentang perjalanannya selama ini. Kami memang pernah bertemu beberapa kali di berbagai negara. Di Asia dan di Eropa. Komunikasi juga tidak intens. Bukan teman yang karib. Beda generasi.
Saya mengenal Emine pertama kali enam belas tahun lalu sewaktu ikut misi di Bishkek, Kirghyztan. Dia baru saja lulus dari universitas di Budapest. Dia saat itu bekerja sebagai associate professional officer untuk sebuah lembaga donor yang dibeyai pemerintah Turki. Masih ingat ketika malam malam saya ditilpon. Ternyata rombongan tamu dari Uzbekistan mengundang makan malam. Ternyata mereka menyiapkan kambing panggang. Acara makan selesai lewat tengah malam. Ada kesempatan bicara lebih leluasa dengan dia.Dia cerita kalau pacarnya kerja di Departemen Luar Negeri.
Esoknya kami harus meninggalkan Bishkek menuju Almaty, jalan darat. Ternyata rombongan kami akan dilepas di batas kota oleh salah satu pejabat tinggi pemerintah. Saya mencoba menjelaskan jika tidak perlu asal diberi satu rombongan pengawal sampai perbatasan. Tetapi Emine mengatakan, itu kebiasaan mereka. Kami akhirnya menerima. Ternyata tidak hanya dilepas begitu saja. Ada pesta perpisahan di perbatasan. Lagi lagi kambing panggang.
Di akhir sembilan puluhan saya kembali bertemu dengan Emine di Jepang. Penampilannya tak berubah. Selalu anggun. Waktu itu dia cerita jika berpacaran dengan seorang diplomat Malaysia. Kenapa nggak kawin ? Tak bisa karena sang diplomat sudah berkeluarga. Dia tak mungkin mau dimadu. Tetapi menikmati hubungannya. Berbunga bunga. Ki, you are a family man with a sweet wife. Tak akan bisa mengerti gaya hidup bohemian saya, katanya. Tak tahu apa maksudnya.
Di tahun 2004 kembali lagi bertemu dalam suatu pertemuan internasional di Geneva. Dia mewakili negaranya dalam negosiasi. Kedudukannya tidak main main. Direktur Jendral di pemerintahan. Saya tak membayangkannya seperti petinggi petinggi kita yang suka pelesiran dengan alasan tugas negara. Dia benar benar seorang though negotiator yang handal untuk kepentingan negaranya. Sempat bertemu dan makan siang bersama. How is life? Pertanyaannya selalu datang dengan ramah. Dia cerita punya pasangan hidup bersama. Seorang tokoh lingkungan di negaranya. Dia cerita merencanakan akan kawin jka tidak ada aral melintang.
Beberapa minggu lalu, itulah pertemuan kami yang terakhir setelah tujuh tahun. Ketika dia cerita pengin punya anak, tetapi tak menghendaki suami. Dia masih menjalin hubungan dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan di negaranya. Sudah berkeluarga. Tak mungkin kawin. Kecuali jika teman prianya mau pisah dengan isterinya sekarang. Tak mungkin dilakukan. Bisa membunuh karier politiknya. Dia bingung karena susah pisah dengan teman prianya sekarang. Tetapi tak mungkin kawin. Dia mengharap dapat anak dari sang pejabat ini. Tanpa minta pertanggungan jawab apapun.
Saya tak banyak bereaksi. Hanya omong sekenanya. Please do not spoil your life. Time to start a happy family life. Jika ada pria yang mau mendampingi dan menemanimu mengapa tidak kawin saja? Dia akan memikirkannya. Omongannya serius. Jika ada pria mapan yang masih lajang di atas 35 tahun, good looking, yang ingin cari teman hidup, I am serious Ki, as my husband and the father of my kid.
Pagi ini masuk pesannya di inboks saya, any info Ki? Katanya ada seorang pelatih sepak bola dari Meksiko yang ingin kenalan. Saya bercanda, pemain bola itu hanya tembakan kakinya yang keras. Tembakan burungnya suka meleset, tidak indah sama sekali, apa lagi kalau sudah berkeluarga. Do not spoil again your life sweety, time is running out.
Salam damai untuk pria lajang mapan dan good looking.
Ki Ageng Similikithi
Manila 27 Agustus 2011.
Friday, August 26, 2011
Kereta terakhir ke Solo
Musim kering tahun 72. Kami bergegas masuk peron. Terdengar peluit keras berbunyi. Kereta akan segera diberangkatkan. Saya bersama Emi bergandengan tangan berlari sambil menjinjing tas ke arah kereta. Kereta Kuda Putih, Yogya Solo. Seperti dalam film film roman Indonesia atau India. Selalu ada saja adegan lari lari sambil berpegangan tangan. Untung tak ada krew televisi waktu itu. Tak ada paparazzi. . Yang ada hanyalah para makelar dan penjual makanan. Tak perlu GR. Siapa mau mengabadikan, kami hanya anak2 pondokan yang sedang jatuh cinta.
Itu kereta terakhir ke Solo. Sudah lewat jam lima. Baru saja siangnya kami selesai ujian semester. Tingkat 4. Emi terus pulang ke Solo. Dari Mangkubumen tadi saya menemani pulang ke pondokannya di jalan Suryotomo, Ngampilan. Jam empat ke stasiun Tugu. Sudah setahun lebih kami berhubungan dekat. Belum bisa dikatakan pasangan tetap, tetapi sudah serius. Sudah ada pernyataan verbal. Sudah berciuman bibir. Tetapi belum punya rencana pasti. Siang itu tak banyak yang kami bicarakan. Lebih banyak diam. Beberapa hari memang tidak begitu hangat pembicaraan di antara kami berdua. Tak tahu sebabnya. Emi segera naik ke gerbong. Duduk menghadap jendela. "Wis ya, ati ati. Sampai ketemu". Hanya itu yang dikatakan. Saya menjabat tangannya "Selamat liburan". Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun. Tak sempat saya memperhatikan ketika kereta menghilang. Saya juga cepat cepat ingin pulang ke Ambarawa. Naik becak ke jalan Magelang. Naik bis jurusan Semarang.
Saya menghabiskan hari hari libur di Ambarawa. Sepi di desa. Setiap siang menatap gunung di depan sana. Gunung Telomoyo dan Gadjah Mungkur. Sejak kecil dua gunung itu selaalu di sana tak pernah pindah, tak pernah berubah. Mesra bersanding. Kadang kadang angan angan melayang ke balik gunung, ke balik awan. Sedang apa Emi di Solo ? Apa yang dia pikirkan tentang kami berdua. Tentang masa depan. Tak tahulah. Masa depan urusan kemudian. Yang penting saya sudah lulus semua ujian semester. Walau harus mengulang satu. Kedokteran Kehakiman. Dikasih nilai dua. Saya mengerjakan pakai tinta warna hijau. Sang dosen yang berwibawa itu tak mau membacanya. Tak bisa tidur beberapa hari. Tetapi ujian ulangan berhasil.
Kira kira empat minggu saya liburan di Ambarawa. Sengaja tak ke mana mana. Pengin istirahat benar. Satu tahun terakhir ngurusi majalah mahasiswa. Begitu menguras tenaga daan waktu. Belajar tak konsentrasi. Hampir saja tak naik kelas. Acara pacaran sering terbengkelai. Pengin istirahat sepenuhnya. Saya sempatkan menulis surat ke Emi. Dua kali. Tak ada balasan. Mungkin juga sibuk. Di akhir minggu ke empat saya kembali ke Yogya. Sampai di pondokan di Patangpuluhan sudah lewat jam tujuh malam. Ada keinginan ke tempat Emi malam itu. Niat itu saya batalkan. Sudah kelewat malam. Besok pagi pagi kan ketemu di ruang kuliah. Esoknya pagi pagi saya sudah berangkat. Langsung ke tempat kuliah di Mangkubumen. Tak mampir ke tempat Emi, walau rumah kostnya terlewati.. Pengin cari tempat duduk yang enak di hari pertama kuliah. Saya ingat pakai baju putih dan celana kuning kesayangan saya.
Masih sepi ketika tiba di ruang kuliah. Saya ambil dua tempat duduk di baris kedua. Emi belum datang juga. Menjelang jam tujuh dia muncul. Langsung ambil tempat duduk di seberang. Mungkin tidak tahu jika saya sudah datang duluan. Saya dekati. Saya ulurkan tangan menyalami. ”Gimana liburannya?” Jawabannya singkat ”So so”. Tangannya dingin. Sikapnya dingin.
Tatapan matanya aneh, menusuk nanar. Saya beritahu jika ada tempat duduk kosong di barisan depan. Dia pindah duduk disamping saya selama kuliah. Lupa kuliah apa waktu itu. Jika tak salah ingat Kesehatan Anak. Emi terkesan gelisah. Tak seperti biasanya rajin mencatat. Kali ini hanya main main pena coret coret kertas kosong. Sebelum kuliah berakhir dia menulis sesuatu di kertas kecil. Kertas itu dilipat dan dikasihkan saya. ” I want to tell you something baby”. Dua jam kuliah berakhir. Dia pamit ingin pulang. Tak enak badan katanya. ”Nanti malam datanglah ke rumah”. Pesannya singkat.
Tak tenang saya mengikuti kuliah hari itu. Ada apa dengan Emi?. Tak sabar menunggu hari malam rasanya. Habis kuliah jam satu. Saya terus ke Bulak Sumur, naik sepeda. Jaga praktikum Farmakologi. Sudah setahun lebih asisteren di sana. Jaga pratikum juga nggak tenang. Mahasiswa tingkat tiga. Ramainya nggak karuan. Mereka dua tahun di bawah saya. Sebagian juga sudah kenal dengan baik. Pikir saya, mau gaduh silahkan, mau gagal silahkan. Pikiran saya baru tidak tenang. Praktikum selesai jam lima sore. Saya langsung pulang ke selatan.
Jam setengah enam lewat rumah kost Emi di Ngampilan. Rencana malam nanti mau datang ke sana. Tetapi tiba tiba saja pikiran saya berubah. Saya langsung mampir. Emi juga nggak terkejut ketika saya datang. Hanya sikapnya tetap saja diam tak banyak ngobrol seperti biasanya. Kami bicara formalitas saja. Dia kelihatannya menghundar jika ditanya tentang liburannya. Ketika akhirnya saya katakan ”Katanya mau cerita, kok diam saja?”. Dia terdiam sejenak.
Kemudian dengaan pelan dia bilang ” Maaf Ki, saya dengan mas Hepi sudah resmi kawin liburan kemarin”. Haaa, kaget luar biasa saya. Tak ada petir, tak ada kilat. Mas Hepi adalah mantan pacarnya dulu. Dua tingkat di atas kami. Kuliah di Hukum. ”Kok gitu?” pertanyaan saya tertahan di kerongkongan. ” Saya tidak bisa menolak ketika ditanya sama ibu. Habis kau nggak kasih kepastian. Malah kenalan sama anak Pekalongan itu”. Kenalan sama gadis lain kan bukan pengkhianatan tingkat pertama. Walau hati saya berdesir jika ingat gadis Pekalongan itu, tetapi hanya berdesir thok. Belum ada tindakan apa apa. Kok langsung di vonis, edan enggak? Saya hanya mengucapkan moga moga dia selalu bahagia. Tak berlama lama saya di sana. Duduk rasanya seperti di atas paku. Tak lebih sepuluh menit saya pamit. Terus pulang ke pondokan di Patangpuluhan.
Teman teman kost baru duduk duduk di depan kamar ketika saya datang. ” Gila nggak, Emi liburan kemarin sudah kawin. Saya baru saja tadi diberi tahu”. Khavid, adik kelas saya dua tahun langsung menukas ” Tenang Ki. Saya tadi juga dengar di kampus. Mau bilang situ kok sudah langsung ke Bulak sumur”. Batin saya menggerutu. Ada berita tak enak kok padha diam. Sore itu kami ramai ramai keluar. Makan bakmi Panut di Gerjen. Saya tetap saja galau. Tetapi Anton bilang. ”Laki laki pantang patah hati. Patah tumbuh hilang berganti”. Habis makan bakmi jalan jalan. Pas ada sekaten. Beli galundeng sekalian. Masih ada juga yang komentar ” Kalau ada yang patah hati tiap minggu dari kita, lumayanlah.
Beberapa minggu berlalu. Saya memberanikan diri berkunjung ke tempat kost Lina, mahasiswi AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Bukan pelarian. Bukan pengungsian. Ternyata jatuh hati benar benar. Wantek sampai sekarang setelah lewat hampir empat puluh tahun. Setelah kereta terakhir sore itu.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
Manila, 27 Agustus 2011.
Itu kereta terakhir ke Solo. Sudah lewat jam lima. Baru saja siangnya kami selesai ujian semester. Tingkat 4. Emi terus pulang ke Solo. Dari Mangkubumen tadi saya menemani pulang ke pondokannya di jalan Suryotomo, Ngampilan. Jam empat ke stasiun Tugu. Sudah setahun lebih kami berhubungan dekat. Belum bisa dikatakan pasangan tetap, tetapi sudah serius. Sudah ada pernyataan verbal. Sudah berciuman bibir. Tetapi belum punya rencana pasti. Siang itu tak banyak yang kami bicarakan. Lebih banyak diam. Beberapa hari memang tidak begitu hangat pembicaraan di antara kami berdua. Tak tahu sebabnya. Emi segera naik ke gerbong. Duduk menghadap jendela. "Wis ya, ati ati. Sampai ketemu". Hanya itu yang dikatakan. Saya menjabat tangannya "Selamat liburan". Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun. Tak sempat saya memperhatikan ketika kereta menghilang. Saya juga cepat cepat ingin pulang ke Ambarawa. Naik becak ke jalan Magelang. Naik bis jurusan Semarang.
Saya menghabiskan hari hari libur di Ambarawa. Sepi di desa. Setiap siang menatap gunung di depan sana. Gunung Telomoyo dan Gadjah Mungkur. Sejak kecil dua gunung itu selaalu di sana tak pernah pindah, tak pernah berubah. Mesra bersanding. Kadang kadang angan angan melayang ke balik gunung, ke balik awan. Sedang apa Emi di Solo ? Apa yang dia pikirkan tentang kami berdua. Tentang masa depan. Tak tahulah. Masa depan urusan kemudian. Yang penting saya sudah lulus semua ujian semester. Walau harus mengulang satu. Kedokteran Kehakiman. Dikasih nilai dua. Saya mengerjakan pakai tinta warna hijau. Sang dosen yang berwibawa itu tak mau membacanya. Tak bisa tidur beberapa hari. Tetapi ujian ulangan berhasil.
Kira kira empat minggu saya liburan di Ambarawa. Sengaja tak ke mana mana. Pengin istirahat benar. Satu tahun terakhir ngurusi majalah mahasiswa. Begitu menguras tenaga daan waktu. Belajar tak konsentrasi. Hampir saja tak naik kelas. Acara pacaran sering terbengkelai. Pengin istirahat sepenuhnya. Saya sempatkan menulis surat ke Emi. Dua kali. Tak ada balasan. Mungkin juga sibuk. Di akhir minggu ke empat saya kembali ke Yogya. Sampai di pondokan di Patangpuluhan sudah lewat jam tujuh malam. Ada keinginan ke tempat Emi malam itu. Niat itu saya batalkan. Sudah kelewat malam. Besok pagi pagi kan ketemu di ruang kuliah. Esoknya pagi pagi saya sudah berangkat. Langsung ke tempat kuliah di Mangkubumen. Tak mampir ke tempat Emi, walau rumah kostnya terlewati.. Pengin cari tempat duduk yang enak di hari pertama kuliah. Saya ingat pakai baju putih dan celana kuning kesayangan saya.
Masih sepi ketika tiba di ruang kuliah. Saya ambil dua tempat duduk di baris kedua. Emi belum datang juga. Menjelang jam tujuh dia muncul. Langsung ambil tempat duduk di seberang. Mungkin tidak tahu jika saya sudah datang duluan. Saya dekati. Saya ulurkan tangan menyalami. ”Gimana liburannya?” Jawabannya singkat ”So so”. Tangannya dingin. Sikapnya dingin.
Tatapan matanya aneh, menusuk nanar. Saya beritahu jika ada tempat duduk kosong di barisan depan. Dia pindah duduk disamping saya selama kuliah. Lupa kuliah apa waktu itu. Jika tak salah ingat Kesehatan Anak. Emi terkesan gelisah. Tak seperti biasanya rajin mencatat. Kali ini hanya main main pena coret coret kertas kosong. Sebelum kuliah berakhir dia menulis sesuatu di kertas kecil. Kertas itu dilipat dan dikasihkan saya. ” I want to tell you something baby”. Dua jam kuliah berakhir. Dia pamit ingin pulang. Tak enak badan katanya. ”Nanti malam datanglah ke rumah”. Pesannya singkat.
Tak tenang saya mengikuti kuliah hari itu. Ada apa dengan Emi?. Tak sabar menunggu hari malam rasanya. Habis kuliah jam satu. Saya terus ke Bulak Sumur, naik sepeda. Jaga praktikum Farmakologi. Sudah setahun lebih asisteren di sana. Jaga pratikum juga nggak tenang. Mahasiswa tingkat tiga. Ramainya nggak karuan. Mereka dua tahun di bawah saya. Sebagian juga sudah kenal dengan baik. Pikir saya, mau gaduh silahkan, mau gagal silahkan. Pikiran saya baru tidak tenang. Praktikum selesai jam lima sore. Saya langsung pulang ke selatan.
Jam setengah enam lewat rumah kost Emi di Ngampilan. Rencana malam nanti mau datang ke sana. Tetapi tiba tiba saja pikiran saya berubah. Saya langsung mampir. Emi juga nggak terkejut ketika saya datang. Hanya sikapnya tetap saja diam tak banyak ngobrol seperti biasanya. Kami bicara formalitas saja. Dia kelihatannya menghundar jika ditanya tentang liburannya. Ketika akhirnya saya katakan ”Katanya mau cerita, kok diam saja?”. Dia terdiam sejenak.
Kemudian dengaan pelan dia bilang ” Maaf Ki, saya dengan mas Hepi sudah resmi kawin liburan kemarin”. Haaa, kaget luar biasa saya. Tak ada petir, tak ada kilat. Mas Hepi adalah mantan pacarnya dulu. Dua tingkat di atas kami. Kuliah di Hukum. ”Kok gitu?” pertanyaan saya tertahan di kerongkongan. ” Saya tidak bisa menolak ketika ditanya sama ibu. Habis kau nggak kasih kepastian. Malah kenalan sama anak Pekalongan itu”. Kenalan sama gadis lain kan bukan pengkhianatan tingkat pertama. Walau hati saya berdesir jika ingat gadis Pekalongan itu, tetapi hanya berdesir thok. Belum ada tindakan apa apa. Kok langsung di vonis, edan enggak? Saya hanya mengucapkan moga moga dia selalu bahagia. Tak berlama lama saya di sana. Duduk rasanya seperti di atas paku. Tak lebih sepuluh menit saya pamit. Terus pulang ke pondokan di Patangpuluhan.
Teman teman kost baru duduk duduk di depan kamar ketika saya datang. ” Gila nggak, Emi liburan kemarin sudah kawin. Saya baru saja tadi diberi tahu”. Khavid, adik kelas saya dua tahun langsung menukas ” Tenang Ki. Saya tadi juga dengar di kampus. Mau bilang situ kok sudah langsung ke Bulak sumur”. Batin saya menggerutu. Ada berita tak enak kok padha diam. Sore itu kami ramai ramai keluar. Makan bakmi Panut di Gerjen. Saya tetap saja galau. Tetapi Anton bilang. ”Laki laki pantang patah hati. Patah tumbuh hilang berganti”. Habis makan bakmi jalan jalan. Pas ada sekaten. Beli galundeng sekalian. Masih ada juga yang komentar ” Kalau ada yang patah hati tiap minggu dari kita, lumayanlah.
Beberapa minggu berlalu. Saya memberanikan diri berkunjung ke tempat kost Lina, mahasiswi AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Bukan pelarian. Bukan pengungsian. Ternyata jatuh hati benar benar. Wantek sampai sekarang setelah lewat hampir empat puluh tahun. Setelah kereta terakhir sore itu.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
Manila, 27 Agustus 2011.
Saturday, August 20, 2011
Kau kejam
Minggu malam di musim panas tahun 1980. Saya tiduran di kamar di Summerhill House, NewCastle Upon Tyne (UK). Setiap Minggu malam selalu kesulitan tidur. Sengaja jam sembilan masuk kamar setelah lihat TV ramai ramai di ruang bawah. Pak Tarto dan Lisa masih berdua di bawah meneruskan nonton TV. Lisa sedang ambil program master di bidang pertambangan. Dia tinggal di asrama putri, di seberang kota, kira2 15 km jauhnya. Akhir pekan dia menginap mengunjungi pak Tarto. Tak tahu hubungan mereka. Sama sama sudah dewasa. Sudah berkeluarga.
Baru beberapa saat tiduran ketika pintu diketuk keras. Kaget setengah mati saya. Tetapi memang kebiasaan di sana kalau mengetuk pintu selalu keras. Lisa nampak emosional di muka pintu. "Ki tolong antar saya pulang".. Dia nampak gelisah dan marah. "Bukankah pak Tarto yang mau ngantar?". "Nggak mau. Dia sudah masuk kamar. Pintunya juga dikunci?". Saya berlagak pilon, tahu kalau mereka pasti bertengkar hebat. Saya pura pura bertanya "Ada apa sih kok aneh?". Jawabannya setengah teriak. "Tak ada apa apa. Masak saya dibilang gatel. Emangnya saya siapa".
Beberapa minggu lalu dia mengeluh, jika kulitnya kering dan gatal. Waktu itu saya anjurkan periksa ke poli di klinik universitas. Kebetulan dokternya saya juga kenal baik. Saya balik bertanya "Lo belum jadi periksa dokter rupanya?". Jawabnya semakin galak " Bloon kau. Yang dibilang gatel bukan kulit saya tahu". Baru paham saya, ternyata mereka baru saja tengkar. Lisa tak terima dibilang gatel walaupun dia sedang sakit kulit gatal dan kering. Lisa lulus undergraduate dari Praha. Sedangkan pak Tarto baru ambil program doktor di bidang Biologi. Saya juga baru memulai program doktor waktu itu.
Saya coba mengetuk kamar pak Tarto, tetapi terkunci rapat. Tak ada reaksi. Saya intip dari lobang pintu, Nampak dia sudah berselimut sarung rapat rapat. Akhirnya saya antar Lisa, naik bis kemudian ganti kereta cepat Metro. Tak banyak cerita dalam perjalanan. Saya memang tak akrab sekali. Orangnya manja tetapi suka uring uringan. Pernah beli jas hangat kepanjangan. Pas dicoba di rumah saya bilang apa nggak kepanjangan, dia marah sekali. Berhari hari saya didiamkan.
Menjelang tengah malam saya baru sampai rumah. Tak aman malam malam gini keluar sebenarnya. Banyak punk dijalan yang sering bertindak brutal. Kapan itu ada seorang Pakistan, seorang ahli hukum, baru nunggu bis dikeroyok sampai luka berat. Ketika masuk kamar, di bawah pintu saya temukan kertas kartu pustakan bertuliskan, "Kau kejam". Ternyata dari pak Tarto. Tak saya perhatikan, langsung saya tidur. Keesokan harinya kami bertemu di dapur waktu sarapan. Pak Tarto diam seribu bahasa. Saya juga diam, dari pada salah bicara. Dia sepuluh tahun di atas saya. Putri satu satunya sudah mau lulus ITB.
Saya baru bertemu pak Tarto malam harinya. Waktu makan malam. Kami bertiga, dengan seorang lagi teman dari Indonesia, Huta, selalu masak bersama. Dia lagi ambil program Master di bidang biologi laut, dosen salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah. Pak Tarto masih diam saja dengan wajah cemberut. Saya sindir, kok diam saja?. Eh malah si Huta ini yang menyahut "Ki kau kejam". Baru tahu rupanya dia cerita sama si Huta peristiwa semalam. Kejam gimana ? Nggak dhong saya.
Akhirnya pak Tarto bicara kalau dia tak enak hati, kenapa saya mengantar Lisa pulang ke asrama. Saya bilang, dia nggedor kamar saya, nangis2 minta diantar pulang. Pak Tarto sudah mengunci pintu Pak Tarto bilang, jika ada pasangan tetangga yang sedang bertengkar, jangan coba coba ikut campur, malah dikira cari kesempatan. Tak baik itu. Pikir saya, mau cari kesempatan ngapain, dikasih pun belum tentu mau. Sori mek, bukan selera saya. Pak Tarto juga bilang jika beberapa minggu lagi Lisa akan nggabung tinggal di Summerhill bersama kami.
Tanggal satu bulan depannya Lisa betul jadi pindah di apartemen kami. Cuma beda unit, beda pintu keluar masuk. Semua berjalan normal. Tak ada yang istimewa. Hanya suatu sore pak Tarto bilang jika Lisa akan gabung masak sama sama untuk makan malam. Kami tak keberatan. Setiap petang kami makan malam bersama. Ongkos belanja biasanya diperhitungkan tiap akhir minggu. Lisa memang sering belanja, kemudian kami semua mengganti beayanya. Tetapi rupanya dia tak bisa masak. Setiap kali masakan siap pak Tarto selalu mengetok pintunya untuk makan malam. Kadang kadang Huta yang memberi tahu Lisa, jika masakan telah siap.
Semua berjalan biasa saja, kami selalu masak bersama dan makan malam bersama, sambil ngobrol. Beberapa bulan kemudian, dalam rangka penyelesaian disertasinya, pak Tarto harus pergi ke London beberapa hari. Saya, Huta dan Lisa makan malam bertiga. Saya dan Huta yang masak. Lisa paling nyiapkan minuman. Kebetulan akhir pekan itu saya bersama pembimbing saya menghadiri pertemuan reguler di Sheffield. Naik mobil ramai ramai, berangkat pagi, pulang sore hari. Sampai Newcastle sudah menjelang petang. Tiba tiba saja, pembimbing saya ngajak makn malam semua peserta program doktor yang dibimbingnya. Ada empat orang. Kami makan sambil ngobrol sampai jam sembilan malam.
Sampai rumah di Summerhill sudah lewat jam sepuluh langsung masuk kamar. Mau tidur. Jam sebelas malam pintu diketok dari luar. Ternyata pak Tarto, masih berpakaian lengkap dengan jas berdiri di muka pintu. Rupanya dia baru datang dari London. Aturan dia datang sore tadi. Langsung mengeluh, "Gimana sih kamu ini?. Lisa terlantar, nggak ada yang masak". Ternyata pak Tarto datang terlambat dari London, tak tahu apa sebabnya.. Huta ada acara akhir pekan sama teman temannya. Hura hura, dia masih sorangan. "Kasihan Lisa, nggak terurus. Sampai hati kau menelantarkan dia Ki. Kejam kau". Tak saya layani keluhannya. Ngapain, jika memang mau makan malam di ujung jalan ada rumah makan. Di dapur juga banyak persediaan mie.
Peristiwa itu sudah 30 tahun berlalu. Ketika kami pulang ke Indonesia sempat bertemu pak Tarto sepuluh tahun kemudian, saat resepsi pernikahan Huta di Semarang. Saya bersama Nyi dan pak Tarto bersama isteri. Dia cerita kalau Lisa sudah kawin lagi dan punya anak. Dia memperkenalkan saya ke isterinya "Ini Ki, pacar Lisa di NewCastle" Edan batin saya kok bisa ya? Untung Nyi tahu persis cerita tentang peristiwa itu
Saya bertemu dengan pak Tarto terakhir di satu pertemuan ilmiah di Bandung, di awal tahun sembilan puluhan. Saya menerima penghargaan penelitian dari suatu Yayasan. Pak Tarto diundang mewakilki salah satu lembaga yang sangat terpandang di Indonesia untuk menyerahkan penghargaan itu. Kaget dia bertemu saya. Saat memberikan penghargaan itu, dia berbisik "Kau to Ki. Kau memang kejam. Lama saya tak ketemu Lisa". Saya tak bisa menahan tawa. "Gatel saya pak". Nyi kemudian bertanya, kok didepan cengengesan ada apa tadi ? Saya hanya menjawab ringan, Kau memang kejam. Jangan gatel.
Huta sekarang menjadi guru besar di bidangnya. Masih aktif, menjadi dosen teladan beberapa kali. Lisa, saya tak pernah bertemu lagi. . Moga moga dia bahagia. Baru saja saya tanya adik saya, ternyata Pak Tarto sudah lama berpulang. Beliau tokoh besar ilmu pengetahuan di Indonesia. Tak meninggalkan aib apa apa. Ini hanya peristiwa kecil dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan penuh warna. Selamat jalan pak Tarto. Beristirahatlah dalam damai. Saya tidak kejam loooo.
Salam damai
Ki AgengSimilikithi
Manila, 20 Agustus 2011.
Baru beberapa saat tiduran ketika pintu diketuk keras. Kaget setengah mati saya. Tetapi memang kebiasaan di sana kalau mengetuk pintu selalu keras. Lisa nampak emosional di muka pintu. "Ki tolong antar saya pulang".. Dia nampak gelisah dan marah. "Bukankah pak Tarto yang mau ngantar?". "Nggak mau. Dia sudah masuk kamar. Pintunya juga dikunci?". Saya berlagak pilon, tahu kalau mereka pasti bertengkar hebat. Saya pura pura bertanya "Ada apa sih kok aneh?". Jawabannya setengah teriak. "Tak ada apa apa. Masak saya dibilang gatel. Emangnya saya siapa".
Beberapa minggu lalu dia mengeluh, jika kulitnya kering dan gatal. Waktu itu saya anjurkan periksa ke poli di klinik universitas. Kebetulan dokternya saya juga kenal baik. Saya balik bertanya "Lo belum jadi periksa dokter rupanya?". Jawabnya semakin galak " Bloon kau. Yang dibilang gatel bukan kulit saya tahu". Baru paham saya, ternyata mereka baru saja tengkar. Lisa tak terima dibilang gatel walaupun dia sedang sakit kulit gatal dan kering. Lisa lulus undergraduate dari Praha. Sedangkan pak Tarto baru ambil program doktor di bidang Biologi. Saya juga baru memulai program doktor waktu itu.
Saya coba mengetuk kamar pak Tarto, tetapi terkunci rapat. Tak ada reaksi. Saya intip dari lobang pintu, Nampak dia sudah berselimut sarung rapat rapat. Akhirnya saya antar Lisa, naik bis kemudian ganti kereta cepat Metro. Tak banyak cerita dalam perjalanan. Saya memang tak akrab sekali. Orangnya manja tetapi suka uring uringan. Pernah beli jas hangat kepanjangan. Pas dicoba di rumah saya bilang apa nggak kepanjangan, dia marah sekali. Berhari hari saya didiamkan.
Menjelang tengah malam saya baru sampai rumah. Tak aman malam malam gini keluar sebenarnya. Banyak punk dijalan yang sering bertindak brutal. Kapan itu ada seorang Pakistan, seorang ahli hukum, baru nunggu bis dikeroyok sampai luka berat. Ketika masuk kamar, di bawah pintu saya temukan kertas kartu pustakan bertuliskan, "Kau kejam". Ternyata dari pak Tarto. Tak saya perhatikan, langsung saya tidur. Keesokan harinya kami bertemu di dapur waktu sarapan. Pak Tarto diam seribu bahasa. Saya juga diam, dari pada salah bicara. Dia sepuluh tahun di atas saya. Putri satu satunya sudah mau lulus ITB.
Saya baru bertemu pak Tarto malam harinya. Waktu makan malam. Kami bertiga, dengan seorang lagi teman dari Indonesia, Huta, selalu masak bersama. Dia lagi ambil program Master di bidang biologi laut, dosen salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah. Pak Tarto masih diam saja dengan wajah cemberut. Saya sindir, kok diam saja?. Eh malah si Huta ini yang menyahut "Ki kau kejam". Baru tahu rupanya dia cerita sama si Huta peristiwa semalam. Kejam gimana ? Nggak dhong saya.
Akhirnya pak Tarto bicara kalau dia tak enak hati, kenapa saya mengantar Lisa pulang ke asrama. Saya bilang, dia nggedor kamar saya, nangis2 minta diantar pulang. Pak Tarto sudah mengunci pintu Pak Tarto bilang, jika ada pasangan tetangga yang sedang bertengkar, jangan coba coba ikut campur, malah dikira cari kesempatan. Tak baik itu. Pikir saya, mau cari kesempatan ngapain, dikasih pun belum tentu mau. Sori mek, bukan selera saya. Pak Tarto juga bilang jika beberapa minggu lagi Lisa akan nggabung tinggal di Summerhill bersama kami.
Tanggal satu bulan depannya Lisa betul jadi pindah di apartemen kami. Cuma beda unit, beda pintu keluar masuk. Semua berjalan normal. Tak ada yang istimewa. Hanya suatu sore pak Tarto bilang jika Lisa akan gabung masak sama sama untuk makan malam. Kami tak keberatan. Setiap petang kami makan malam bersama. Ongkos belanja biasanya diperhitungkan tiap akhir minggu. Lisa memang sering belanja, kemudian kami semua mengganti beayanya. Tetapi rupanya dia tak bisa masak. Setiap kali masakan siap pak Tarto selalu mengetok pintunya untuk makan malam. Kadang kadang Huta yang memberi tahu Lisa, jika masakan telah siap.
Semua berjalan biasa saja, kami selalu masak bersama dan makan malam bersama, sambil ngobrol. Beberapa bulan kemudian, dalam rangka penyelesaian disertasinya, pak Tarto harus pergi ke London beberapa hari. Saya, Huta dan Lisa makan malam bertiga. Saya dan Huta yang masak. Lisa paling nyiapkan minuman. Kebetulan akhir pekan itu saya bersama pembimbing saya menghadiri pertemuan reguler di Sheffield. Naik mobil ramai ramai, berangkat pagi, pulang sore hari. Sampai Newcastle sudah menjelang petang. Tiba tiba saja, pembimbing saya ngajak makn malam semua peserta program doktor yang dibimbingnya. Ada empat orang. Kami makan sambil ngobrol sampai jam sembilan malam.
Sampai rumah di Summerhill sudah lewat jam sepuluh langsung masuk kamar. Mau tidur. Jam sebelas malam pintu diketok dari luar. Ternyata pak Tarto, masih berpakaian lengkap dengan jas berdiri di muka pintu. Rupanya dia baru datang dari London. Aturan dia datang sore tadi. Langsung mengeluh, "Gimana sih kamu ini?. Lisa terlantar, nggak ada yang masak". Ternyata pak Tarto datang terlambat dari London, tak tahu apa sebabnya.. Huta ada acara akhir pekan sama teman temannya. Hura hura, dia masih sorangan. "Kasihan Lisa, nggak terurus. Sampai hati kau menelantarkan dia Ki. Kejam kau". Tak saya layani keluhannya. Ngapain, jika memang mau makan malam di ujung jalan ada rumah makan. Di dapur juga banyak persediaan mie.
Peristiwa itu sudah 30 tahun berlalu. Ketika kami pulang ke Indonesia sempat bertemu pak Tarto sepuluh tahun kemudian, saat resepsi pernikahan Huta di Semarang. Saya bersama Nyi dan pak Tarto bersama isteri. Dia cerita kalau Lisa sudah kawin lagi dan punya anak. Dia memperkenalkan saya ke isterinya "Ini Ki, pacar Lisa di NewCastle" Edan batin saya kok bisa ya? Untung Nyi tahu persis cerita tentang peristiwa itu
Saya bertemu dengan pak Tarto terakhir di satu pertemuan ilmiah di Bandung, di awal tahun sembilan puluhan. Saya menerima penghargaan penelitian dari suatu Yayasan. Pak Tarto diundang mewakilki salah satu lembaga yang sangat terpandang di Indonesia untuk menyerahkan penghargaan itu. Kaget dia bertemu saya. Saat memberikan penghargaan itu, dia berbisik "Kau to Ki. Kau memang kejam. Lama saya tak ketemu Lisa". Saya tak bisa menahan tawa. "Gatel saya pak". Nyi kemudian bertanya, kok didepan cengengesan ada apa tadi ? Saya hanya menjawab ringan, Kau memang kejam. Jangan gatel.
Huta sekarang menjadi guru besar di bidangnya. Masih aktif, menjadi dosen teladan beberapa kali. Lisa, saya tak pernah bertemu lagi. . Moga moga dia bahagia. Baru saja saya tanya adik saya, ternyata Pak Tarto sudah lama berpulang. Beliau tokoh besar ilmu pengetahuan di Indonesia. Tak meninggalkan aib apa apa. Ini hanya peristiwa kecil dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan penuh warna. Selamat jalan pak Tarto. Beristirahatlah dalam damai. Saya tidak kejam loooo.
Salam damai
Ki AgengSimilikithi
Manila, 20 Agustus 2011.
Sunday, August 7, 2011
Jambalaya & Cintaku di kampus biru
Sabtu sore di Philippines Navy Golf. Saya bersama seorang teman, Dr Iwan, sedang menikmati makan sore sesudah main delapan belas holes. Sebenarnya tak ada rencana main ok paginya baru tiba dri Yogya. Jam 0530 tiba setelah penerbangan selama 3. 5 jam dri Jakarta. Rasanya masih ngantuk dan capek. Tetapi bosan sendirian di rumah. Akhirnya kami main jam 13 30, bersama dengan dua pemain asal Norwegia dan Australia. Tak sempat banyak ngobrol.
Setiap sabtu sore selalu ada live music di sini. Beberapa kelompok musik dari militer sering main. Yang paling saya sukai adalah dari kelompok marinir. Kali ini hanya ada seorang pianis dan seorang penyanyi wanita dengan suara sangat merdu. Seorang diplomat Australia, panggilannya John, ikut menyumbangkan lagu, When I Fall in Love. Saya lupa nama lengkapnya. Dia kelihatan kenal baik dengan si penyanyi. Di ujung ruangan nampak seorang senator yang sering masuk TV, lagi asyik ngobrol dengan teman2nya.
Sesaat kemudian lagu Jambalaya mengayun merdu menghentak dengan irama mengasyikkan. Gaya penyanyi ini pas benar dengan irama Jambalaya. Ingatan saya melayang ke masa tiga puluh empat tahun silam, tepatnya di tahun 1973. Di suatu petang di kampus Bulaksumur, ada pergelaran musik oleh mahasiswa UGM. Kelompok musik dan penyanyinya semua berasal dri UGM. Saya menonton bersama dengan seorang teman, yang juga ketua senat mahasiswa FK, Achdiat Agoes. Kami berdua masih belum punya pacar, masih dalam tahap pencarian dan PDKT.
Ada penyanyi cantik, saya tidak tahu mahasiswi mana, dengan elegan sekali menyanyi lagu Jambalaya. Irama nyanyian dan gerak tubuhnya demikian menghanyutkan dan mengundang para penonton untuk ikut bergoyang. Namun setiap kali teman saya ini selalu mengingatkan. Hi duduk tenang ! Saya ingat, si penyanyi memakai celana jean keputih putihan dan kaos merah jingga. Serasi dan mempesona. Penonton kebanyakan mahasiswa semua duduk di rumput dengan tertib menikmati irama musik satu per satu. Tak ada kegemparan, tak ada keributan. Semua berjalan tertib.
Saya mencoba cari tahu dari mana penyanyi itu. Teman saya hanya menjawab, “jangan tanya, she is far away from us”. Saya tak tahu apa maksudnya. Biasanya teman ini selalu proaktif, karena kami memang masih dalam taraf pencarian. Aneh kok kali itu dia menyerah duluan, mungkin sudah ditolak sebelumnya. Dua tahun lagi akan lulus, sebagian besar harus tugas di daerah terpencil. Pengin secepat mungkin punya pacar tetap. Sampai detik ini saya tak tahu siapa mahasiswi yang nyanyi itu, dan tak punya nyali cukup waktu itu untuk mencari tahu.
Kampus Bulak Sumur dengan Cemara Tujuh-nya, terpopulerkan lewat novel Ashadi Siregar ‘ Cintaku di Kampus Biru’ . Novel popular ini pernah tampil dalam cerita bersambung Kompas di awal tahun tujuh puluhan. Ada banyak novel Ashadi Siregar, yang berputar hampir semuanya tentang cinta di sekitar kampus. Ada semacam pengaruh menyejukkan dari musim novel2 cinta ini dalam kehidupan anak2 muda dan mahasiswa. Paling tidak di Yogyakarta. Ketertiban dan keasyikan tanpa keributan dalam pergelaran musik tadi mungkin juga terimbas dri pengaruh hipnotis dari novel novel Ashadi. Kampus UGM, kampus biru yang romantis, kampus perdamaian. Tak hanya dikumandangkan lewat musik, juga berbagai kegiatan lain seperti baca puisi, drama, dan kelompok2 sni yang lain. Setiap mahaiswa ingin menjaga kesan itu.
Di awal tahun sembilan puluhan sesudah saya jadi dosen di UGM, dalam salah satu acara pertemuan internasional, saya mengundang peserta ke kampus dan menikmati acara musik di petang hari. Salah satu peserta yang baru saja datang dri Amerika Latin, mengatakan mengapa Indonesia begitu damai ? Orang bisa menikmati acara musik di alam terbuka sore hari ? Di negara di mana dia bertugas, petang hari orang harus tinggal di dalam rumah oleh karena selalu ada kontak senjata antara militer dengan pemberontak atau antara gang2 narkotika. Saya tak membayangkan waktu itu. Tetapi di akhir sembilan puluhan suasana malam yang mencekam juga menghinggapi banyak tempat di Indonesia. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Para seniman senior waktu itu menolak novel2 Ashadi sebagai karya sastra. Dianggap terlalu murahan hanya mengungkap kisah roman picisan semata. Dan jawaban Ashadi lugas. ‘’ Saya tak kecil hati karya saya tak diakui sebagai karya sastra, juga tak akan merasa tambah bangga jika diakui sebagai karya sastra ‘’. Nggak tahulah, faktanya para mahasiswa sering mempersonifikasi dirinya seperti tokoh2 dalam novel2 tersebut.
Di kemudian hari dan terutama saat ini, kita juga banyak melihat kenyataan bahwa yang namanya pergelaran musik dan pergelaran akbar selalu sarat dengan keributan. Bahkan sering sering memakan korban jiwa. Saya yakin bahwa mereka yang datang, termasuk yang menjadi korban, sebenarnya hanya ingin menikmati hiburan musik, menikmati musik sesuai dengan irama hatinya. Memilukan jika pergelaran pergelaran seperti ini sering berakhir ricuh dan makan korban. Di Pekalongan tahun lalu, korban jiwa berjatuhan dalam konser musik.
Kita banyak kehilangan nuansa cinta dan damai dalam pergelaran2 akbar. Lihatlah rapat2 akbar yang selalu mengobarkan hujatan dan pesan pesan kebencian. Entah itu oleh organisasi massa atau oleh kelompok agama. Berangkat pergelaran akbar bawa pentungan sama batu. Kalau ada toko, ada polisi, ada penjual makanan di tepi jalan, rasanya mereka pengin nglempar batu, pengin menjarah, dan pengin mengeroyok. Kenyataanya sering terjadi kan ?
Mengapa karya2 yang mengungkapkan cinta dan kedamaian tak bisa masuk sebagai karya sastra ? Mengapa malu mengangkat dan mengumandangkan cinta kasih dan damai dalam pergelaran dan rapat akbar ? Berdosakah jika anak2 muda mempunyai bayangan tentang cinta sewaktu menonton pergelaran atau rapat akbar. Saya masih ingat pergelaran musik di tahun 1973 dengan kenangan yang indah, bukan karena hangar bingar kekacauan. Hanya mengingat penyanyi dengan kaos merah jingga yang begitu anggun. Hanya ingat peristiwanya, tak tahu siapa dia sebenarnya. Tak pernah sempat sampai tergila gila jatuh cinta padanya. Saya sering cerita mengenai peristiwa ini ke isteri saya kemudian. Pertanyaannya, mengapa saya tidak mengajak dia melihat pergelaran itu ? Jawaban saya juga sama. Pertama kami belum resmi pacaran, baru kenalan tahap awal. Kedua saya hanya punya kendaraan sepeda usang tanpa boncengan. Taksi belum ada, naik becak ke Bulaksumur terlalu jauh. Kalau ada taksi pun tak mungkin mampu naik taksi. Uang bulanan selalu defisit. Defisit ini saya tutup dengan menulis di koran dan media massa. Mentraktir pacar harus benar2 masuk dalam rencana bulanan, terutama cash flow yang selalu nyaris.
Inti dari tulisan saya mengapa pergelaran2 akbar saat ini selalu gemuruh dan bergelora dalam suasana panas ? Mengapa tidak mengemasnya dalam kemasan yang menyejukkan dan romantisme anak anak muda. Mungkin keributan dan kekerasan bisa dikurangi dicegah dan dikurangi. Tidak tentang roman picisan, bukan tentang karya sastra atau bukan, tetapi tentang kasih dan perdamaian. Inilah hakekat hidup manusia.
Ki Ageng Similikithi\
Pernah dimuat dalam Kolom Kita Kompas Cyber Media, 20 Maret 2007
Setiap sabtu sore selalu ada live music di sini. Beberapa kelompok musik dari militer sering main. Yang paling saya sukai adalah dari kelompok marinir. Kali ini hanya ada seorang pianis dan seorang penyanyi wanita dengan suara sangat merdu. Seorang diplomat Australia, panggilannya John, ikut menyumbangkan lagu, When I Fall in Love. Saya lupa nama lengkapnya. Dia kelihatan kenal baik dengan si penyanyi. Di ujung ruangan nampak seorang senator yang sering masuk TV, lagi asyik ngobrol dengan teman2nya.
Sesaat kemudian lagu Jambalaya mengayun merdu menghentak dengan irama mengasyikkan. Gaya penyanyi ini pas benar dengan irama Jambalaya. Ingatan saya melayang ke masa tiga puluh empat tahun silam, tepatnya di tahun 1973. Di suatu petang di kampus Bulaksumur, ada pergelaran musik oleh mahasiswa UGM. Kelompok musik dan penyanyinya semua berasal dri UGM. Saya menonton bersama dengan seorang teman, yang juga ketua senat mahasiswa FK, Achdiat Agoes. Kami berdua masih belum punya pacar, masih dalam tahap pencarian dan PDKT.
Ada penyanyi cantik, saya tidak tahu mahasiswi mana, dengan elegan sekali menyanyi lagu Jambalaya. Irama nyanyian dan gerak tubuhnya demikian menghanyutkan dan mengundang para penonton untuk ikut bergoyang. Namun setiap kali teman saya ini selalu mengingatkan. Hi duduk tenang ! Saya ingat, si penyanyi memakai celana jean keputih putihan dan kaos merah jingga. Serasi dan mempesona. Penonton kebanyakan mahasiswa semua duduk di rumput dengan tertib menikmati irama musik satu per satu. Tak ada kegemparan, tak ada keributan. Semua berjalan tertib.
Saya mencoba cari tahu dari mana penyanyi itu. Teman saya hanya menjawab, “jangan tanya, she is far away from us”. Saya tak tahu apa maksudnya. Biasanya teman ini selalu proaktif, karena kami memang masih dalam taraf pencarian. Aneh kok kali itu dia menyerah duluan, mungkin sudah ditolak sebelumnya. Dua tahun lagi akan lulus, sebagian besar harus tugas di daerah terpencil. Pengin secepat mungkin punya pacar tetap. Sampai detik ini saya tak tahu siapa mahasiswi yang nyanyi itu, dan tak punya nyali cukup waktu itu untuk mencari tahu.
Kampus Bulak Sumur dengan Cemara Tujuh-nya, terpopulerkan lewat novel Ashadi Siregar ‘ Cintaku di Kampus Biru’ . Novel popular ini pernah tampil dalam cerita bersambung Kompas di awal tahun tujuh puluhan. Ada banyak novel Ashadi Siregar, yang berputar hampir semuanya tentang cinta di sekitar kampus. Ada semacam pengaruh menyejukkan dari musim novel2 cinta ini dalam kehidupan anak2 muda dan mahasiswa. Paling tidak di Yogyakarta. Ketertiban dan keasyikan tanpa keributan dalam pergelaran musik tadi mungkin juga terimbas dri pengaruh hipnotis dari novel novel Ashadi. Kampus UGM, kampus biru yang romantis, kampus perdamaian. Tak hanya dikumandangkan lewat musik, juga berbagai kegiatan lain seperti baca puisi, drama, dan kelompok2 sni yang lain. Setiap mahaiswa ingin menjaga kesan itu.
Di awal tahun sembilan puluhan sesudah saya jadi dosen di UGM, dalam salah satu acara pertemuan internasional, saya mengundang peserta ke kampus dan menikmati acara musik di petang hari. Salah satu peserta yang baru saja datang dri Amerika Latin, mengatakan mengapa Indonesia begitu damai ? Orang bisa menikmati acara musik di alam terbuka sore hari ? Di negara di mana dia bertugas, petang hari orang harus tinggal di dalam rumah oleh karena selalu ada kontak senjata antara militer dengan pemberontak atau antara gang2 narkotika. Saya tak membayangkan waktu itu. Tetapi di akhir sembilan puluhan suasana malam yang mencekam juga menghinggapi banyak tempat di Indonesia. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Para seniman senior waktu itu menolak novel2 Ashadi sebagai karya sastra. Dianggap terlalu murahan hanya mengungkap kisah roman picisan semata. Dan jawaban Ashadi lugas. ‘’ Saya tak kecil hati karya saya tak diakui sebagai karya sastra, juga tak akan merasa tambah bangga jika diakui sebagai karya sastra ‘’. Nggak tahulah, faktanya para mahasiswa sering mempersonifikasi dirinya seperti tokoh2 dalam novel2 tersebut.
Di kemudian hari dan terutama saat ini, kita juga banyak melihat kenyataan bahwa yang namanya pergelaran musik dan pergelaran akbar selalu sarat dengan keributan. Bahkan sering sering memakan korban jiwa. Saya yakin bahwa mereka yang datang, termasuk yang menjadi korban, sebenarnya hanya ingin menikmati hiburan musik, menikmati musik sesuai dengan irama hatinya. Memilukan jika pergelaran pergelaran seperti ini sering berakhir ricuh dan makan korban. Di Pekalongan tahun lalu, korban jiwa berjatuhan dalam konser musik.
Kita banyak kehilangan nuansa cinta dan damai dalam pergelaran2 akbar. Lihatlah rapat2 akbar yang selalu mengobarkan hujatan dan pesan pesan kebencian. Entah itu oleh organisasi massa atau oleh kelompok agama. Berangkat pergelaran akbar bawa pentungan sama batu. Kalau ada toko, ada polisi, ada penjual makanan di tepi jalan, rasanya mereka pengin nglempar batu, pengin menjarah, dan pengin mengeroyok. Kenyataanya sering terjadi kan ?
Mengapa karya2 yang mengungkapkan cinta dan kedamaian tak bisa masuk sebagai karya sastra ? Mengapa malu mengangkat dan mengumandangkan cinta kasih dan damai dalam pergelaran dan rapat akbar ? Berdosakah jika anak2 muda mempunyai bayangan tentang cinta sewaktu menonton pergelaran atau rapat akbar. Saya masih ingat pergelaran musik di tahun 1973 dengan kenangan yang indah, bukan karena hangar bingar kekacauan. Hanya mengingat penyanyi dengan kaos merah jingga yang begitu anggun. Hanya ingat peristiwanya, tak tahu siapa dia sebenarnya. Tak pernah sempat sampai tergila gila jatuh cinta padanya. Saya sering cerita mengenai peristiwa ini ke isteri saya kemudian. Pertanyaannya, mengapa saya tidak mengajak dia melihat pergelaran itu ? Jawaban saya juga sama. Pertama kami belum resmi pacaran, baru kenalan tahap awal. Kedua saya hanya punya kendaraan sepeda usang tanpa boncengan. Taksi belum ada, naik becak ke Bulaksumur terlalu jauh. Kalau ada taksi pun tak mungkin mampu naik taksi. Uang bulanan selalu defisit. Defisit ini saya tutup dengan menulis di koran dan media massa. Mentraktir pacar harus benar2 masuk dalam rencana bulanan, terutama cash flow yang selalu nyaris.
Inti dari tulisan saya mengapa pergelaran2 akbar saat ini selalu gemuruh dan bergelora dalam suasana panas ? Mengapa tidak mengemasnya dalam kemasan yang menyejukkan dan romantisme anak anak muda. Mungkin keributan dan kekerasan bisa dikurangi dicegah dan dikurangi. Tidak tentang roman picisan, bukan tentang karya sastra atau bukan, tetapi tentang kasih dan perdamaian. Inilah hakekat hidup manusia.
Ki Ageng Similikithi\
Pernah dimuat dalam Kolom Kita Kompas Cyber Media, 20 Maret 2007
Saturday, August 6, 2011
Untuk teman para malaikat
Kau nyanyikan dendang ilahi
Yang melanglang langit sepi
Gegap gempita menantang matahari
Kau panjatkan doa khusuk setiap hari
Yang menyentuh hati
Merasuk sanubari
Kau sapa para malaikat dan bidadari
Yang bersorak sorai menghentak bumi
Kau tebarkan pesan moral
Bagi anak anak manusia yang berlimbah dosa.
Dalam benakmu pekak terpateri
Bagai duri menghunjam nurani
Kau adalah teman para malaikat
Kekasih para bidadari
Orang orang suci
Yang mengawal moral
Membersihkan dosa anak anak manusia
Yang terhimpit kegelapan dunia
Kau penentu kebenaran
Penunjuk jalan kesucian.
Pesan pesanmu selalu penuh kebencian
Kata katamu bertabur kedengkian
Tindak tandukmu berlimbah kekerasan
Hatimu tak kenal kedamaian
Karena kau terpisah jauh dari kemanusiaan dan peradaban
Tak perlu kau lagukan sorak sorai tentang aklak dan moral
Carilah bisik kemanusiaan dari nurani yang paling dalam.
Manila, 30 Juli 2011
Teriring salam damai
Ki Ageng Similikithi
http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&sk=notes#!/note.php?note_id=10150270897693467
Yang melanglang langit sepi
Gegap gempita menantang matahari
Kau panjatkan doa khusuk setiap hari
Yang menyentuh hati
Merasuk sanubari
Kau sapa para malaikat dan bidadari
Yang bersorak sorai menghentak bumi
Kau tebarkan pesan moral
Bagi anak anak manusia yang berlimbah dosa.
Dalam benakmu pekak terpateri
Bagai duri menghunjam nurani
Kau adalah teman para malaikat
Kekasih para bidadari
Orang orang suci
Yang mengawal moral
Membersihkan dosa anak anak manusia
Yang terhimpit kegelapan dunia
Kau penentu kebenaran
Penunjuk jalan kesucian.
Pesan pesanmu selalu penuh kebencian
Kata katamu bertabur kedengkian
Tindak tandukmu berlimbah kekerasan
Hatimu tak kenal kedamaian
Karena kau terpisah jauh dari kemanusiaan dan peradaban
Tak perlu kau lagukan sorak sorai tentang aklak dan moral
Carilah bisik kemanusiaan dari nurani yang paling dalam.
Manila, 30 Juli 2011
Teriring salam damai
Ki Ageng Similikithi
http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&sk=notes#!/note.php?note_id=10150270897693467
Ratu Kidul tak berkenan
“Ketiwasan Gus, gawat gawat gawat. Nyai Loro Kidul marah luar biasa. Calon mantu Kanjeng Ratu diambil, sudah tiga hari tidak kembali”.
Awal tahun tujuh puluhan. Sore hari yang panas. Pak Djo, pembantu tua di pondokan Gerjen Yogya, tiba tiba datang menemui saya. Saya baru saja pulang dari praktikum anatomi di Mangkubumen. Capai dan pusing bau mayat campur formalin. Saya belum jelas apa maksudnya, dia masih nyerocos terus, bahkan isterinya ikut nimbrung.
“Nyai Loro Kidul tidak berkenan karena tidak diaturi sesaji. Ditinggalkan dalam persiapan acara perkawinan agung minggu depan”.
Saya masih belum dhong dan menjawab sambil lalu.
“Saya tak kenal Nyai Loro Kidul. Apa hubungannya dengan perkawinan agung putri Kanjeng Ratu ?.
“ Gus jangan berlagak pilon. Calon mantu kanjeng Ratu hilang sudah tiga hari. Pamitnya hari Minggu kemarin ke Parangtritis. Sampai sekarang beritanya ramai di koran. Nyai Loro Kidul tersinggung berat”.
Saya memang tidak mengikuti rutin berita koran. Anak kos tak mampu lengganan koran. Kemudian pinjam koran tetangga sebelah. Memang ramai diberitakan, baik oleh koran lokal maupun nasional, jika calon mantu Kanjeng Ratu, hilang tak berbekas sudah beberapa hari ini. Mestinya sudah harus mulai masuk karantina, dipingit. Dia seorang insinyur lulusan perguruan tinggi terkenal di Semarang. Berpenampilan nggantheng dengan brengos gagah seperti intel. Sudah bekerja dengan karier gemilang di salah satu perusahaan umum milik pemerintah.
Banyak spekulasi berkembang di masyarakat tradisional Yogya tentang periistiwa mengejutkan itu. Ada yang katanya melihatnya waktu di Parangtritis, sang calon menantu, kencing dilaut. Nyai Loro Kidul yang menjadi pacar gelap raja raja Jawa, demikian terbuai melihat sang burung emas, lalu menariknya ke istananya di laut selatan. Kebanyakan percaya, seperti pak Djo, kalau telah ada kekilafan memberi sesaji, sehingga sang Ratu Kidul, tersinggung dan ngadat.
Lupa wartawan mana yang kemudian membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia melakukan penelitian secara mendalam dan mewawancarai banyak saksi yang layak dipercaya. Ternyata sang calon menantu, menghilang pergi bersama kenalan barunya, seorang peragawati yang rumah tinggalnya juga dekat kampung Gerjen. Tak bisa disalahkan. Seminggu lagi akan kawin dengan putri Kanjeng Ratu, seumur hidup harus setia tanpa reserve. Kapan lagi mau bersenang senang sama seorang peragawati selebriti?
Kebiasaan yang umum di dunia kotemporer dengan istilah bachelor party (http://en.wikipedia.org/wiki/Bachelor_party), untuk memperingati kebebasan di malam malam terakhir bagi sang burung. Seminggu kemudian dia memang kembali, tak banyak berita yang menyebutkan pengakuan sebenarnya. Cerita wartawan itu yang melaporkan kalau sang calon menantu rupanya bersembunyi di Tasikmalaya. Bukan Nyai loro Kidul yang tinggal di sana. Tetapi sang peragawatilah yang ada di sana. Maaf tak bermaksud menyinggung siapa siapa
Salam damai,
Ki Ageng Similikithi
Manila, 25 Juli 2011
http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&sk=notes#!/note.php?note_id=10150266732138467
Awal tahun tujuh puluhan. Sore hari yang panas. Pak Djo, pembantu tua di pondokan Gerjen Yogya, tiba tiba datang menemui saya. Saya baru saja pulang dari praktikum anatomi di Mangkubumen. Capai dan pusing bau mayat campur formalin. Saya belum jelas apa maksudnya, dia masih nyerocos terus, bahkan isterinya ikut nimbrung.
“Nyai Loro Kidul tidak berkenan karena tidak diaturi sesaji. Ditinggalkan dalam persiapan acara perkawinan agung minggu depan”.
Saya masih belum dhong dan menjawab sambil lalu.
“Saya tak kenal Nyai Loro Kidul. Apa hubungannya dengan perkawinan agung putri Kanjeng Ratu ?.
“ Gus jangan berlagak pilon. Calon mantu kanjeng Ratu hilang sudah tiga hari. Pamitnya hari Minggu kemarin ke Parangtritis. Sampai sekarang beritanya ramai di koran. Nyai Loro Kidul tersinggung berat”.
Saya memang tidak mengikuti rutin berita koran. Anak kos tak mampu lengganan koran. Kemudian pinjam koran tetangga sebelah. Memang ramai diberitakan, baik oleh koran lokal maupun nasional, jika calon mantu Kanjeng Ratu, hilang tak berbekas sudah beberapa hari ini. Mestinya sudah harus mulai masuk karantina, dipingit. Dia seorang insinyur lulusan perguruan tinggi terkenal di Semarang. Berpenampilan nggantheng dengan brengos gagah seperti intel. Sudah bekerja dengan karier gemilang di salah satu perusahaan umum milik pemerintah.
Banyak spekulasi berkembang di masyarakat tradisional Yogya tentang periistiwa mengejutkan itu. Ada yang katanya melihatnya waktu di Parangtritis, sang calon menantu, kencing dilaut. Nyai Loro Kidul yang menjadi pacar gelap raja raja Jawa, demikian terbuai melihat sang burung emas, lalu menariknya ke istananya di laut selatan. Kebanyakan percaya, seperti pak Djo, kalau telah ada kekilafan memberi sesaji, sehingga sang Ratu Kidul, tersinggung dan ngadat.
Lupa wartawan mana yang kemudian membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia melakukan penelitian secara mendalam dan mewawancarai banyak saksi yang layak dipercaya. Ternyata sang calon menantu, menghilang pergi bersama kenalan barunya, seorang peragawati yang rumah tinggalnya juga dekat kampung Gerjen. Tak bisa disalahkan. Seminggu lagi akan kawin dengan putri Kanjeng Ratu, seumur hidup harus setia tanpa reserve. Kapan lagi mau bersenang senang sama seorang peragawati selebriti?
Kebiasaan yang umum di dunia kotemporer dengan istilah bachelor party (http://en.wikipedia.org/wiki/Bachelor_party), untuk memperingati kebebasan di malam malam terakhir bagi sang burung. Seminggu kemudian dia memang kembali, tak banyak berita yang menyebutkan pengakuan sebenarnya. Cerita wartawan itu yang melaporkan kalau sang calon menantu rupanya bersembunyi di Tasikmalaya. Bukan Nyai loro Kidul yang tinggal di sana. Tetapi sang peragawatilah yang ada di sana. Maaf tak bermaksud menyinggung siapa siapa
Salam damai,
Ki Ageng Similikithi
Manila, 25 Juli 2011
http://www.facebook.com/profile.php?id=772324939&sk=notes#!/note.php?note_id=10150266732138467
Subscribe to:
Posts (Atom)