Monday, September 10, 2012

Menik sang primadona


“Saya minum Saparela  saja”,  Menik tiba tiba memutuskan pilihannya. Saya terhenyak sesaat. Kami sedang minum di  warung di  sudut lapangan Manahan, Solo suatu sore yang cerah di tahun 1974. Saya belum pernah tahu minuman itu. Minuman khas dari tumbuhan sarsaparilla yang tumbuh di Amerika Latin. Hanya teringat samar samar cerita pendek di tahun 60 yang saya baca di majalah Panyebar Semangat. Dalam cerita itu, sepasang mantan kekasih janjian bertemu sesudah berpisah puluhan tahun. Saat bertemu si teman wanita pesan minuman Saparela, minuman kesukaan mereka saat masih pacaran dahulu. Lokasi ceritanya di Surabaya, bukan di Solo.  Saya dan Menik minum bersama  bukan dalam rangka pacaran atau mengingat masa pacaran. Saya baru  kenal dia beberapa minggu, saat ko skap di rumah sakit Kadipolo.
Menik masih kuliah di suatu akademi tari di Solo. Katanya sudah dua kali ikut pentas sendratari Ramayana. Nggak tahu sebagai apa, jelas bukan  Dewi Sinta atau Dewi Trijata. Nggak pas, terlalu gagah untuk memainkan kedua peran tadi. Dia berperawakan tinggi dan gagah untuk ukuran wanita Jawa,   berwajah manis, muka oval indah. Yang paling menarik  adalah gerak gerik tubuhnya saat bicara. Gerakan spontan dengan  sinar mata menari nari  mengiringi kata kata yang keluar teratur dari mulutnya.  Gerakan yang indah dan koheren. Entah karena bawaan atau karena kebiasaannya sebagai penari. Begitu mulai bicara  dia biasanya akan bercerita  terus dengan penuh gairah dan mata berbinar.  Bukan sekedar  seperti burung prenjak yang selalu riang berkicau. Wanita yang banyak bicara sering mendapat julukan si burung prenjak dalam khasanah budaya Jawa. Dia lebih menyerupai burung branjangan, saat berkicau tubuh dan ekornya selalu bergerak indah, seolah ingin pamer ke dunia.
Terus terang saya lebih tertarik mengamati gerak gerik tubuh dan sinar matanya saat bercerita. Bukan materi pembicaraannya. Isi pembicaraan cenderung kabur, mendekati imaginer. Melompat dari satu topik ke topik yang lain, kadang agak manja kekanakan.  “ Ki, saya kok pengin tahu,  mahasiswa kedokteran itu kalau pacaran pakai ciuman mulut enggak ya ?” Tidak perlu saya jawab pertanyaan itu. Usang, pantasnya diajukan 20 tahun lalu, di tahun lima puluhan, ketika orang pacaran biasanya hanya ciuman pipi atau tangan. Kalau memanas, paling banter  berpelukan dan kaki kanan si pria naik sedikit, atau nangkring.  Tahun enam puluhan sudah terjadi revolusi besar besaran. Orang pacaran hampir pasti cium bibir. Termasuk para kamerad di negara tirai besi sekalipun. Hanya  sapi dan  domba  mencium bokong saat bermadu kasih, maklum mereka memang bukan spesies Homo sapiens.
“Saya tidak akan berciuman bibir, jika pasangan saya belum periksa Roentgen dan terbukti bersih paru parunya. Calon dokter biasanya pasti sudah diperiksa Roentgen ya Ki?”.  Pertanyaan ini secara teknis  seratus persen benar, tetapi tak enak rasanya untuk dibahas di dunia nyata. Menghindari penularan penyakit tuberculosis. Kami ngobrol sampai menjelang pukul lima sore. Pembicaraan tanpa arah, tanpa substansi yang berarti. Tetapi saya tetap  menikmati gerak geriknya yang  luwes dan terkoordinir rapi. Di akhir pembicaraan, dia membetulkan make up di wajahnya. Wajah yang halus terpelihara. Tidak lupa meneteskan minyak wangi di bajunya. Bau wangi dan menyengat dalam sekali, untung sudah mau pisah, baunya bikin pusing. “ Ki Sabtu depan saya ada latihan sampai jam empat sore. Habis latihan saya mampir ke rumah sakit. Main ke rumah ya?”. Saya mengiyakan dengan ringan. Dia memang sering latihan di sasana tari, di dekat rumah sakit Kadipolo. Dengan sepeda jengki warna hijau, dia mengayuh ke arah utara, menghilang berbaur dengan iringan manusia yang pulang ke rumah masing masing.
Dua hari kemudian, hari Sabtu, saya tidak giliran jaga. Bangun tidur siang cepat cepat mandi. Menik datang sesuai janji, kira kira jam setengah lima sore. Mengenakan celana panjang cutbray dan baju lengan panjang warna putih. Sangat serasi dan anggun. Senyum ceria tersungging di wajahnya. Dia memang berpenampilan dan berwajah menarik. Seperti umumnya gadis Solo,  gampang bergaul dan cepat akrab, agak sedikit kenes. Saya merasa bersahabat akrab semata. Tak ada keinginan lebih dari itu. It is not my style, its too vibrant and noisy.  Sore itu kami sempat jalan menyusur Singosaren. Kami makan malam di suatu rumah makan di ujung jalan. “Ki, orang pacaran harus selalu sedia minuman segar ya? Teman saya cerita, dia pacaran sama orang Tasik ”. Saya membalas sekenanya “ Benar, orang Tasik biasanya suka makan petai dan jengkol. Bisa terbius pasangannya”. Menik cerita dengan semangat. Ingin jadi penari beken, jadi primadona, atau paling tidak punya sasana tari di kemudian hari.
Jam tujuh kami naik becak menuju ke rumah Menik. Arah ke utara, sampai Manahan ke Barat, lalu masuk jalan gelap menuju desa Sumber. Gelap gulita. Penerangan listrik hanya di pusat kota waktu itu. Menik menggengggam tangan saya erat sekali. Ceritanya tetap saja mengalir tanpa henti. Tetapi nada suaranya berubah rendah mendesah, tidak bernada kenes lagi. Duduk mepet bersandar di bahu saya, sesekali mengingatkan “Jangan macam macam lo Ki”. Batin saya, siapa yang mau macam macam. Perawan kencur selalu mendua, penuh keraguan.
Akhirnya becak berhenti di persimpangan gang. Sopir becak ternyata tak sanggup mengantar terus. Jalan terlalu rumit (Jawa : rumpil) dan gelap katanya. Saya bayar ongkos becak, dan kami berjalan berdua dalam kegelapan melalui jalan sempit di tengah ladang. Beberapa saat lewat ladang tiba tiba saja di sebelah kanan jalan sempit itu, terlihat rumpun kamboja. Kuburan batin saya. Menik menggamit tangan saya dengan erat. Tangan kiri saya memeluk pinggangnya, reaksi spontan untuk melindungi kalau ada apa apa. Bukan untuk yang lain. Bau bunga kamboja terbawa angin dingin menerpa lembut. Sesaat Menik berhenti, napasnya mendesah ringan. Dia menengok ke arah saya. Wajahnya begitu dekat sampai terdengar jelas irama napasnya. Dan hawa napas menyapu lembut wajah saya. Tanpa sadar kami telah berpelukan. Dia tersenyum manis, baris giginya yang putih nampak dalam kegelapan malam. Bau parfum itu sangat mengusik, menusuk paru saya.  Tiba tiba saja angan saya melayang. Iya kalau ini betul betul Menik ?  Jangan jangan jadi jadian. Rasa takut datang menghunjam mematikan semua naluri asmara. Resiko lebih besar dari manfaat.  Saya mengendurkan pelukan saya. “Nggak usah macam macam dulu aah”. Tersadar dia juga melepaskan genggaman tangannya. Kami terus berjalan dalam kegelapan dan keheningan.
Beberapa saat kemudian  sampai ke rumahnya. Ada halaman tak begitu luas di depan. Gelap tak ada penerangan, kecuali sinar lampu minyak dari ruang tamu. Bapaknya yang membukakan pintu depan. “Gek mulih nDhuk?”. “ Iya pak, saya dengan Ki dari Yogya”. Saya dikenalkan dengan bapak dan ibu Menik. Bapaknya seorang perwira polisi. Ibunya aktif di organisasi. Menik nampak manja dengan bapak ibunya. Keluarga yang bahagia dengan dua putra. Adik lelakinya duduk di bangku SMA. Ternyata satu sekolahan dengan adik saya, di SMA Santo Josef, sekolahan saya dulu.  Pembicaraan basa basi sejenak, kemudian saya dipersilahkan duduk di  ruang tengah. Kami duduk di sudut  ruangan. Diseberang ruangan bapaknya Menik duduk di kursi malas, sambil membaca koran. Nampak sebuah pistol berikut tempatnya tergantung di dinding di dekatnya.
Menik memberi isyarat untuk pindah ke ruang tamu. Kami duduk berdampingan di kursi panjang yang terbuat dari rotan. Mengobrol dengan berbisik. Tak banyak bersuara tetapi obrolan semakin intens. Gayanya semakin memukau seperti burung branjangan. Sesekali kursi rotan berderit ketika kami bergeser semakin mepet. Tangan saling menggenggam erat, kemudian tangan kiri saya melilit pinggang, wajah wajah kami semakin mendekat. Kursi rotan berderit ikut bernyanyi. Tiba tiba ada suara gaduh luar biasa. Braaak. Saya menengok ke arah ruang tengah. Ternyata bapak nya Menik meloncat berdiri dengan tiba tiba. Pikiran melayang ke revolver yang tergantung di dinding itu. Jantung saya berdebar keras mau putus. Hanya sesaat oleh karena kemudian dia beranjak mau ke belakang. Nyali saya terlanjur menciut. Ini risiko lebih besar dari pada enaknya. Lebih baik mundur secara taktis. Menjelang jam sembilan saya pamitan. Menik mengantar sampai pagar halaman. Pesannya singkat. “Minggu depan main lagi ya Ki”. Tak bisa janji saya. Itu minggu terakhir tugas  di Solo.
Hari Sabtu seminggu kemudian, setelah ujian, saya bergegas pulang ke Yogya. Tak bisa menemui Menik untuk pamitan. Saya titip surat lewat seorang teman. Minta maaf kalau saya harus cepat cepat pulang ke Yogya. Dua minggu kemudian saya menerima surat Menik beserta sebuah foto. Dia memakai celana cutbray hitam dan baju putih dan memegang payung dalam foto itu.  Kami masih saling berkirim surat beberapa kali sesudah itu. Tak ada obral janji. Tak ada pengkhianatan. Hanya pesahabatan. Saya menikmati persahabatan itu dan menghargai dia sepenuhnya. Foto itu dulu masih tersimpan di album lama saya. Kini saya cari album itu. Sudah rusak dan foto itu tidak ada lagi di sana.
Hampir lewat empat puluh tahun. Catatan ringkas mengenang Menik sang primadona. Semoga impiannya telah tercapai.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi


Orang tua itu seorang pemikir besar - Ki Ageng Suryamentaram


Saya berlari lari kecil di atas jalan berbatu. Tak mudah mengikuti jalan simbah kakung (kakek) saya yang tinggi semampai itu, dengan langkah langkah lebar. Suatu pagi di tahun 1956. Saya bersama simbah jalan jalan pagi di desa Kalijambe Beringin, Salatiga.  Biasanya pagi pagi begini ada dua arus manusia. Satu persatu wanita berjalan menuju pasar Kroya atau Beringin yang kira kira berjarak masing masing 4  dan  8 kilometer dari desa Kalijambe. Dan arus berlawanan para gembala menggiring  ternak sapi  menuju padang penggembalaan di luar desa di utara.  Lenguh  sapi atau suara kambing selalu ramai di pagi hari bercampur dengan suara burung.

Saya dan orang orang di desa itu, selalu memanggil simbah  Pak Dhe. Beliau mantan lurah Kalijambe di jaman Belanda. Masih gagah dan berwibawa dengan celana sampai di bawah lutut dan baju tanpa kerah,  pakaian khas para petani di Jawa dan Asia Tenggara. Hanya yang lajim biasanya  pakaian itu berwarna hitam. Pak Dhe saya selalu menyukai warna putih. Tak tahu alasannya. Tak pernah lupa adalah tongkat panjang yang selalu dibawa saat jalan jalan seperti ini. Di ujung desa, pak Dhe selalu berhenti di bawah pohon randu alas besar, memegang tongkatnya dan melihat ke padang penggembalaan yang terhampar luas sampai cakrawala. Saya selalu mengagumi penampilannya berdiri tegak dibawah pohon itu, tangan kanannya memegang tongkat, dan tangan kirinya  diletakkan di dahi menghindari silau matahari pagi.
Para gembala yang lewat satu persatu selalu memberikan salam “Selamat pagi Pak Dhe”. Dan Pak Dhe menjawab spontan salam mereka “Sapimu ana pira? Sapine sapa?”. Gembala gembala itu biasanya bekerja  dan tinggal bersama majikan si pemilik lembu. Setelah beberapa tahun, mungkin lima tahun, mereka baru dapat upah berupa anak sapi.  Hampir seperti bonded labour di Nepal dan India. Mungkin sekarang sudah jarang sekali.

Pak Dhe selalu bicara dengan saya dalam bahasa halus.  Dia selalu mencoba menanamkan agar kami selalu menggunakan bahasa Jawa halus. Tak pernah memanggil nama saya tanpa embel embel alias njangkar. Selalu memanggil saya dengan julukan “Mbah Lurah”, karena katanya saya mirip simbah saya di Ambarawa, yang juga mantan  lurah di jaman Belanda. Dia punya keinginan agar  salah satu cucunya  bisa mengikuti jejaknya menjadi lurah kelak. Sering mengalami sindrom perfeksionis, selalu mencatat dengan seksama nomer seri uang kertas yang dimilikinya sebelum digunakan. Perkerjaan yang paling membosankan, jika dapat giliran membaca nomer seri uang itu.
Ketika iring iringan lembu sudah lewat, kami berjalan ke arah selatan, mendaki jalan di lereng perbukitan menuju ke arah dukuh Krandon. Desa Kalijambe memang terletak di jepitan perbukitan. Kira kira dua ratus meter di depan rumah Pak Dhe, ada dinding bukit terjal tingginya hampir seratus meter. Di atas sana terdapat perkebunan karet milik negara. Salah satu adik Pak Dhe, tinggal di dukuh Krandon. Biasanya kami selalu mampir dalam perjalanan dari Beringin menuju Kalijambe.  

Selepas tanjakan, tiba tiba perhatian saya tertuju pada sosok seorang tua  yang berdiri di atas bebatuan di tepi jalan. Juga mengenakan baju kurung dengan kancing terbuka di depan. Selembar kain warna keputihan dengan corak kotak kotak, melilit lehernya. Dia  memegang tongkat panjang menopang tubuhnya yang renta. Pandangannya sayu menatap lembah dan padang yang membentang luas di bawah. Tak bisa saya mengerti, Pak Dhe  yang gagah, berwibawa dan disegani banyak orang di desa itu, serentak  melihat orang tua itu, dia memberikan salam dengan hormat yang dalam. “Sugeng enjang Kanjeng Rama”. Orang tua itu membalikkan mukanya dengan tatapan ringan dan sayu. “ Ki Lurah, piye kabare. Suwe ora ketemu ya”.
Mereka terlibat dalam pembicaraan yang  intens. Dalam bahasa Jawa yang sangat halus, yang saya juga tidak paham benar. Yang jelas terlihat, Pak Dhe hampir terus bersikap sangat sopan dan menghormati. Kedua tangannya selalu di depan ngapurancang , tidak lagi memegang tongkat dengan tangan kanan diatas pundak. Saya tertegun terheran heran. Orang tua itu berbincang dengan tatapan ringan  jauh ke depan. Walau nampak  berwibawa di muka Pak Dhe, terkesan ada semacam kegelisahan yang dalam di sorot matanya. Di akhir pembicaraan, Pak Dhe berpamitan dan memberikan salam hormat dengan menutupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Pemandangan itu ganjil rasanya, tidak pernah saya lihat sebelumnya. 
Mata hari sudah tinggi ketika kami  menuruni jalan kembali menuju desa Kalijambe, lewat jalan rindang di sela sela rumpun bambu yang lebat. Saya mencoba mencari tahu, siapa orang tua itu. Pak Dhe hanya menjawab ringan “ Gusti Pengeran Suryamentaram”. Waktu itu saya belum paham, siapa itu Pangeran Suryamentaram.   Hanya sering mendengar cerita tentang beliau.  Beliau bermukim di dukuh Kroya, desa Beringin, Salatiga. Setiap kali kami jalan menuju Kalijambe, dengan jelas bisa melihat atap seng rumah beliau di kejauhan, di lembah dibawah naungan pohon pohon kluwih yang rindang. 

Bertahun tahun kemudian baru saya mengetahui siapa Ki Ageng Suryamentaram. Beliau adalah putra  Sultan Hamengku Buwana VII, yang meninggalkan kehidupan mewah keraton dan mengasingkan diri hidup di kalangan rakyat jelata. Konon pernah tinggal di Cilacap dan berjualan setagen dan batik di pasar. Juga pernah menjadi tukang sumur di daerah Bagelen. Terakhir tinggal sebagai petani di desa Beringin, Salatiga.  Kisah perjalanan spiritual Ki Ageng Suryamentaram, mirip dengan kisah Pangeran Siddartha Buddha Gautama dari Lumbini, Nepal,  yang menemukan ajaran Buddha ribuan tahun lalu. Di balik kegelisahan spiritual Ki Ageng Suryamentaram, beliau meninggalkan ajaran  Kawruh Beja (pengetahuan tentang kehidupan), Kawruh Pangawikan Pribadi, yang tertulis dalam buku buku, Ilmu Jiwa Kramadangsa, Mawas Diri, Filsafat Rasa Hidup dan lain lain. Pemikiran besar berdasarkan filsafat  Jawa. Di bidang politik beliau terlibat dalam pembentukan PETA, Pembela Tanah Air. Belum sempat saya membaca dan mendalami ajaran ajaran ini.

Bertahun kemudian, jika mengingat saat berjalan dengan Pak Dhe di suatu pagi lebih lima puluh lima tahun lalu, saya merasa sangat beruntung, bisa bertatap muka dengan pemikir besar Jawa yang saya kagumi. Yang tragis, putra ke dua beliau, Raden Mas Jegot, meninggal di usia muda, tenggelam kecelakaan di Rawa Pening di tahun lima puluhan. Saya juga ingin setegar beliau, setelah kehilangan anak saya karena kecelakaan di tahun 1997.  Ki Ageng Suryamentaram wafat di tahun 1962.
Moga moga anda punya waktu membaca riwayat dan ajaran Ki Ageng Suryamentaram, salah satu pemikir Jawa klasik. Ajaran ajarannya tetap relevan dalam kehidupan masa kini yang hingar bingar (http://www.facebook.com/pages/Ki-Ageng-Suryomentaram/41261288299)
Ki Ageng Similikithi

Friday, August 17, 2012

Kesempatan tidak datang dua kali - sesal kemudian tak akan berguna

Malam yang hening di tahun 1974. Hujan rintik beserta angin segar meniup lembut. Kami naik becak berdua di jalan Slamet Riyadi Solo. Baru saja mengantar Galuh ke dokter kulit, periksa keloid bekas kecelakaan ringan di kakinya. Tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Galuh mencoba memulai pembicaraan, tetapi tak berhasil memancing pembicaraan yang asyik. Gadis cantik dan anggun yang pernah memenangkan gelar ratu kecantikan di Solo. Pikiran saya galau melayang. Hampir lulus belum punya kepastian mau kemana. Kami saling kenal sudah beberapa tahun. Semenjak saya kelas satu SMA di Solo. Tak banyak berhubungan selama lebih tujuh tahun, baru ketemu kembali ketika ko skap di rumah sakit Kadipolo. Keluarga kami saling kenal dekat. Galuh dari keluarga yang sangat dihormati. Sore tadi ibunya bilang agar saya mengantarnya ke dokter. “Adimu terna nang dokter mas”. “Injih Bu”. Saya menjawab singkat. Ini amanah. Saya telah terbiasa dengan instruksi tanpa banyak tanya. ‘Get the job done young man”. “Yes Mom/yes Sir”. Terbawa sampai saya menjalankan tugas profesi saya, dan diakhir misi memberikan laporan singkat , “ mission accomplished”. Lewat perempatan Pasar Pon, ada dua bioskop yang popular di Solo, Daddy dan UP. Tiba tiba Galuh menggamit tangan saya. “Ada film bagus mas”. Saya terhenyak. Kikuk, tak bisa bereaksi tepat. Uang pas pasan, nggak cukup. Hanya menggumam singkat. Film bagus. Kalau nggak salah “Lovers Must Learn” dibintangi oleh Suzanne Pleshette dan Troy Donahue. Galuh menggerakkan tas tangannya, seolah member isyarat dia yang akan bayar. Tetapi jaman itu, tak laik wanita mentraktir laki laki. Galuh menarik napas panjang ketika becak terus berjalan menyeberang perempatan. Kami kemudian terlibat pembicaraan asyik tentang kuliah, tentang ratu kampus dan lain lain. Lepas jalan Slamet Riyadi, kami memasuki jalan sepi dengan tembok tinggi di kiri dan kanan jalan. Lampu listrik di tahun tujuh puluhan, selalu temaram samar samar. Hening hanya suara serangga di rumpun rumpun tetamanan. Kami tenggelam dalam sepi masing masing. Bau parfum jasmine menerpa lembut. Galuh bersandar di pundak saya. Tangan kanan menumpang di pangkuan saya. Desah napasnya datang teratur bersama hembusan angin yang lembut. Hati saya berdesir hebat. Tetapi tak ada nyali sedikitpun. Tak ada keberanian maupun kemauan untuk mengambil inisiatif lebih lanjut, walau keinginan membara jauh di dalam sana. Jika sampai terjadi sesuatu dampaknya serius. Harus punya komimen jangka panjang. Beban mental menghimpit. Tak seperti biasanya. Terutama saat pacaran dengan teman kuliah di Yogya. Selalu bergairah, memburu, berbunga bunga, tanpa rasa takut memikir resiko ke depan. Ikuti saja aliran air, nikmati dulu, urusan belakangan. Kembali ke Yogya, pikiran saya berbulan bulan tak bisa lepas dari peristiwa itu. Ada penyesalan di dalam sana. Kok pengecut amat ? Tahun demi tahun berlalu. Banyak peristiwa penting datang silih berganti. Kenangan peristiwa itu seolah tenggelam dalam perjalanan waktu. Di akhir tahun delapan puluhan,, kami bertemu Galuh dalam suatu acara resepsi. Dia semakin anggun dan cantik. Mungkin puncak penampilan wanita di umur umur pertengahan tiga puluhan. Kami bercanda dan bercerita singkat tentang masa lalu. Ketika saya ingatkan peristiwa naik becak di jalan Slamet Riyadi itu, dia berkelakar dengan Nyi. “Ki ini tak berani ambil inisiatif sama wanita lo”. Dengan cepat Nyi membalas. “Sudah banyak berubah, saya kasih jamu STMJ, susu telor madu jahe”. Pesan untuk anak muda. Kesempatan tak akan datang dua kali. Jangan disia siakan. Sesal kemudian tak akan ada gunanya. Tetapi saya tak pernah menyesal kini, hanya berpikir, kok gebleg temen ya. Salam damai, Ki Ageng Similikithi

Tuesday, October 18, 2011

Pesta duduk atau prasmanan ?

Tiba tiba seseorang berteriak lantang dari barisan belakang. “Kene kurang loro raaa”. Suasana hiruk pikuk sedikit meredam gema teriakan itu di antara para hadirin yang sedang menghadiri acara resepsi perkawinan. Tetapi saya yang berdiri didekatnya tersentak kaget. Saat itu sedang menghadiri resepsi perkawinan seorang ponakan di tahun 1981. Acara berlangsung siang hari.

Pesta resepsi perkawinan di kota itu masih klasik. Resepsi duduk, mendengar beberapa pidato, kemudian acara makan dan hiburan. Rentetan hidangan biasanya dimulai dengan minuman teh panas dengan makanan kecil. Sesudah beberapa pidato, urutan hidangan makan mulai dari nasi dengan lauk sambal goreng ati atau krecek, telor separoh, bestik daging bersama kerupuk udang. Kemudian sup ayam, makaroni dan wortel. Ditutup dengan es pudding.

Saya selalu menikmati resepsi duduk seperti itu. Porsi makan tak terlalu berat. Hanya bagi yang suka makan banyak, kadang memang tak tepuaskan. Tamu yang berteriak tadi mungkin habis mencangkul di sawah, belum sarapan, terus datang ke resepsi. Harapannya bisa makan habis habisan. Tahunya porsi terlalu kecil untuk menutup panggilan perut yang belum kenyang. Dalam keadaan lapar orang bisa tampil dalam watak aslinya walau dalam resepsi dengan jas dan dasi rapi.

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikan. Kebisaan jamuan perkawinan juga berbeda di lain tempat. Juga bisa berubah dari waktu ke waktu. Ada tempat tempat yang masih mempertahankan cara resepsi duduk dengan hidangan yang dibagikan secara urut. Kelemahan resepsi duduk karena tamu seolah harus mengikuti seluruh acara yang mungkin berlangsung dua jam atau lebih. Banyak orang semakin sibuk dan waktu terbatas. Dibuatlah resepsi berdiri. Tamu tinggal datang, mengisi daftar hadir dan meninggalkan kado, memberikan selamat ke pengantin dan tuan rumah, langsung menikmati hidangan. Boleh pilih mana yang disenangi. Bisa ngobrol jika ketemu teman atau saudara. Bisa menikmati hidangan apa saja atau langsung pulang.

Kelihatan lebih praktis, tetapi juga harus lebih hati hati menyiapkannya. Banyaknya hidangan harus benar2 diperhitungkan jangan sampai kurang. Kebiasaan di masyarakat, kadang datang berbondong sama anak, cucu dan keponakan. Yang diundang sekalian (berarti dua orang), yang datang bisa sebelas orang, sekalian bal balan. Masih sering kita lihat kebiasaan yang tidak layak dalam menghadiri resepsi. Ada saja orang yang rakus. Setiap jenis makanan dijelajah, mulai dari Mongolian beef, kambing guling, sapi guling, bakso, soto, dimsum dan sebut apa lagi. Ambilnya juga kadang tak tanggung tanggung, sepiring penuh. Jika rasa makanan tak cocok cicipi sedikit lalu ditinggal begitu saja. Lalu menjelajah lagi. Bah tak elok atau saru dalam bahasa Jawa. Jika alur tamu tak diatur dalam antre makan, bisa rebutan seperti pasar malam. Jangan terlalu bernapsu mengundang tamu berlebihan, jika tak siap dengan kuota yang diperlukan. Kadang ada kecederungan untuk mengundang tamu sebanyak mungkin, sampai kenalan dari liang semut. Bukan tak boleh, tetapi harus siap logistiknya.

Memilih mau resepsi duduk atay berdiri dengan prasmanan juga harus lihat kebiasaan setempat. Jika memang biasanya kebiasaan resepsi duduk di tempat itu, hati hati untuk menyelenggarakan pesta prasmanan. Apa yang saya ungkapkan di atas bisa terjadi. Semua bisa kacau. Awal tahun 90an, sayamenyelenggarakan acara seminar di suatu kota. Diakhiri dengan makan siang. Peserta 300 orang sesuai rencana. Katering pesan 400 paket. Seminar berjalan lancar. Pas acara makan siang baru masalah datang. Entah karena saking enaknya, sebelum semua peserta dapat giliran makan, ayam goreng habis. Serep oleh katering juga ludes. Ternyata yang giliran duluan ambil porsi berlebihan. Sebagian dibungkus.

Saya tak pernah bisa menikmati makan prasmanan. Paling banter makan sup sama minum es. Tak tahu sebabnya. Saya selalu membayangkan masa kecil dulu, saat ikut resepsi. Duduk tenang, menunggu hidangan makan keluar. Biarkan yang pidato di depan, mau ngomong apa jangan ambil pusing, tenang saja menunggu. Kadang menebak supnya dulu atau nasi dan lauknya keluar duluan. Bisa ditebak, pasti nasi spucuk, sambel goreng ati atau krecek, bistik daging sapi atau potongan ayam dan kerupuk udang. Sup bening ayam dengan sosis dan macaroni. Tak ada yang teriak teriak, tak ada yang rebutan antre makan.

Terakhir pesta perkawinan dengan resepsi duduk ketika seorang tetangga mantu kira kira tiga belas tahun lalu. Almarhum pak Mardi, pensiunan polisi, mantu putri bungsu. Kenal sejak tahun 95 ketika saya pindah ke sebelah rumahnya. Selalu manggil saya Dan. Semula nggak mudeng apa maksudnya. Ternyata singkatan Komandan. Siapa yang nggak seneng dipanggil Komandan?. Saya khusus datang bersama Nyi. Saya benar benar menikmati acara resepsi duduk di halaman dengan tenda. Acara sederhana, tak bertele tele. Lancar dan efisien. Hidangan persis yang saya bayangkan di tahun tahun lima puluhan. Singkat tak sampai satu setengah jam. Masih ingat sampai sekarang.

Salam damai mohon jangan rakus kalau prasmanan.

Ki Ageng Similikithi

Manila, 13 Oktober 2011

Saturday, September 24, 2011

Minyak rambut

Tak pernah dalam kurun waktu puluhan tahun memelihara rambut terjadi krisis seperti saat ini. Kelaangkaan krim rambut Brylcreem. Sejak masih di bangku kuliah di tahun tujuh puluhan, saya selalu setia memakai krim rambut Brylcreem yang lembut. Tak terlalu berminyak dan tak terlalu kaku di rambut. Paling tidak sudah memakainya selama empat puluh tahun. Bentuk kemasan krim ini juga sudah berubah ubah selama kurun waktu ini. Tetapi tetap saja saya memakainya karena konsistensinya yang lembut. Dulu di tahun tujuh puluhan, dikemas dalam botol gelas pendek yang menggembung di tengahnya. Di tahun2 terakhir dikemas dalam plastik berbentuk silindris. Ada yang wadahnya berwarna merah dan ada yang hijau. Tak tahu bedanya apa.

Persediaan hampir habis tetapi sudah beberapa minggu tak menjumpainya di toko maupun di mall di Manila. Yang banyak tersedia adalah gel yang kaku. Pernah di ruang mandi golf saya menggunakannya, rambut jadi kaku berdiri. Gel mungkin khusus diperuntukkan untuk anak anak muda dengan model rambut jabrik, tegak berdiri. Di jaman tahun enam puluhan seperti rambut mas Klombrot, di karikatur Penyebar Semangat itu. Minggu kemarin sewaktu liburan di Yogya, saya menelusuri jalan Solo, dapat Brylcreem di salah satu toko kecil. Hanya dapat tiga kemasan botol kecil. Saat mengunjungi kakak di Semarang saya diberi tiga botol kemasan besar. Lumayan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Terhindar memakai gel yang kaku itu.

Perkenalan saya dengan minyak rambut buatan pabrik mulai di tahun 1963. Sebelumnya saat duduk di Sekolah Rakyat hanya memakai minyak cem=ceman, yakni minyak kelapa dicampur dengan berbagai akar dan daun tumbuhan. Baunya sedap walaupun tidak wangi. Tetapi jika wanita memakai pinyak ini dan tidak keramas berhari hari bau bisa berubah jadi apek.

Mula pertama menggunakan minyak rambut buatan pabrik atau pomade, merk Erasmic. Baunya lembut dan tidak terlalu kaku. Tetapi kadang kadang siang hari jika berkeringat, minyaknya turun ikut membasahi dahi. Jika tak salah Erasmic dikemas dengan botol gelas dengan bagian tengahnya menggembung waktu itu. Belum banyak diproduksi plastik. Selain merk Erasmic, kadang kadang saya menggunakan pomade Lavender. Dikemas dalam wadah metal berbentuk oval warna keemasan. Mungkin saya lebih jarang memakainya. Ingatan saya akan pomade Lavender begitu samar. Adik saya lebih banyak memakaianya.

Di masa sekolah menengah atas di St.Josef Solo, saya mengenal pomade dengan merk Yaparco. Lupa kemasannya. Kalau tak salah dalam botol silindris. Ingatan saya juga tidak terlalu kuat akan merk ini. Kadang kala memakai pomade merk Yardley. Ini merk untuk kelas atas. Saya sering nimbrung kakak ipar . Biasanya yang memakai adalah kelompok saudagar atau pebisnis atau pejabat kelas atas. Lembut dan tidak meninggalkan minyak yang membasahi dahi di kala berkeringat.

Di jaman mahasiswa di kompleks Ngasem Yogyakarta, saya mulai mengenal krim dengan merk Brylcreeem. Ini bukan pomade yang lengket. Tetapi krim lembut. Tidak berminyak sekali. Dan tetap lembut sepanjang hari. Banyak anak muda waktu itu memakai pomade merk Tancho Mandom yang diiklankan besar besaran. Pilihan saya tetap ke Brylcreem yang lembut itu. Dan berlangsung lebih empat puluh tahun sampai sekarang. Hanya ketika budaya pop culture masa kini menciptakan model rambut kaku menjulang tinggi seperti rambut landak, kelangkaan menimpa minyak rambut berbentuk krim seperti Brylcreem. Mungkin ada baiknya ingat kembali iklan iklan Brylcreem di masa lalu. Lambang pria percaya diri.

Jika ada kenangan mengenai minyak rambut silahkan ungkap di sini. Pria tak akan pernah bisa berpisah dengan minyak rambut. Tinggal pilih mau minyak rambut atau mau botak



Salam damai

Ki Ageng Similikithi

Saturday, August 27, 2011

Pengin punya anak tanpa suami

Agak terkejut mendengar ceritanya. Begitu lugas tanpa tedeng aling aling. Kami sedang berbincang selesai pertemuan beberapa minggu lalu. Minum di coffee shop di lobby hotel. Sejak dulu dia selalu bicara blak blakan dan lugas. Gaya bicaranya selalu penuh irama dan menarik lawan bicara. Dia datang mewakili organisasinya. Namanya Emine. Seorang wanita profesional dengan posisi yang mantap di salah satu lembaga internasional. Umur sekitar empat puluh, naik turun sedikit. Masih lajang. Berpenampilan menarik. Cantik, jika tidak bisa dibilang jelita. Khas penampilan wanita wanita perbatasan Asia dan Eropa. Sangat ramah dan enak jadi lawan bicara.

Bercerita dengan lancar, di sela derai tawanya yang riang. Ingin punya anak. Tetapi tak ingin bersuami. Buat apa bersuami ?. Bikin susah, harus meladeni di rumah. Saya kan juga punya banyak kerjaan. Perlu istirahat di rumah. Dia cerita pengalaman tidak enak hidup bersama (ko habitasi) dengan kawan hidupnya selama 7 tahun. Masak saya dihardik di rumah saya sendiri, jika ada sesuatu yang kurang? Saya mendengar ceritanya dengan sabar. Sesekali bertanya. Tentang perjalanannya selama ini. Kami memang pernah bertemu beberapa kali di berbagai negara. Di Asia dan di Eropa. Komunikasi juga tidak intens. Bukan teman yang karib. Beda generasi.

Saya mengenal Emine pertama kali enam belas tahun lalu sewaktu ikut misi di Bishkek, Kirghyztan. Dia baru saja lulus dari universitas di Budapest. Dia saat itu bekerja sebagai associate professional officer untuk sebuah lembaga donor yang dibeyai pemerintah Turki. Masih ingat ketika malam malam saya ditilpon. Ternyata rombongan tamu dari Uzbekistan mengundang makan malam. Ternyata mereka menyiapkan kambing panggang. Acara makan selesai lewat tengah malam. Ada kesempatan bicara lebih leluasa dengan dia.Dia cerita kalau pacarnya kerja di Departemen Luar Negeri.

Esoknya kami harus meninggalkan Bishkek menuju Almaty, jalan darat. Ternyata rombongan kami akan dilepas di batas kota oleh salah satu pejabat tinggi pemerintah. Saya mencoba menjelaskan jika tidak perlu asal diberi satu rombongan pengawal sampai perbatasan. Tetapi Emine mengatakan, itu kebiasaan mereka. Kami akhirnya menerima. Ternyata tidak hanya dilepas begitu saja. Ada pesta perpisahan di perbatasan. Lagi lagi kambing panggang.

Di akhir sembilan puluhan saya kembali bertemu dengan Emine di Jepang. Penampilannya tak berubah. Selalu anggun. Waktu itu dia cerita jika berpacaran dengan seorang diplomat Malaysia. Kenapa nggak kawin ? Tak bisa karena sang diplomat sudah berkeluarga. Dia tak mungkin mau dimadu. Tetapi menikmati hubungannya. Berbunga bunga. Ki, you are a family man with a sweet wife. Tak akan bisa mengerti gaya hidup bohemian saya, katanya. Tak tahu apa maksudnya.

Di tahun 2004 kembali lagi bertemu dalam suatu pertemuan internasional di Geneva. Dia mewakili negaranya dalam negosiasi. Kedudukannya tidak main main. Direktur Jendral di pemerintahan. Saya tak membayangkannya seperti petinggi petinggi kita yang suka pelesiran dengan alasan tugas negara. Dia benar benar seorang though negotiator yang handal untuk kepentingan negaranya. Sempat bertemu dan makan siang bersama. How is life? Pertanyaannya selalu datang dengan ramah. Dia cerita punya pasangan hidup bersama. Seorang tokoh lingkungan di negaranya. Dia cerita merencanakan akan kawin jka tidak ada aral melintang.

Beberapa minggu lalu, itulah pertemuan kami yang terakhir setelah tujuh tahun. Ketika dia cerita pengin punya anak, tetapi tak menghendaki suami. Dia masih menjalin hubungan dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan di negaranya. Sudah berkeluarga. Tak mungkin kawin. Kecuali jika teman prianya mau pisah dengan isterinya sekarang. Tak mungkin dilakukan. Bisa membunuh karier politiknya. Dia bingung karena susah pisah dengan teman prianya sekarang. Tetapi tak mungkin kawin. Dia mengharap dapat anak dari sang pejabat ini. Tanpa minta pertanggungan jawab apapun.

Saya tak banyak bereaksi. Hanya omong sekenanya. Please do not spoil your life. Time to start a happy family life. Jika ada pria yang mau mendampingi dan menemanimu mengapa tidak kawin saja? Dia akan memikirkannya. Omongannya serius. Jika ada pria mapan yang masih lajang di atas 35 tahun, good looking, yang ingin cari teman hidup, I am serious Ki, as my husband and the father of my kid.

Pagi ini masuk pesannya di inboks saya, any info Ki? Katanya ada seorang pelatih sepak bola dari Meksiko yang ingin kenalan. Saya bercanda, pemain bola itu hanya tembakan kakinya yang keras. Tembakan burungnya suka meleset, tidak indah sama sekali, apa lagi kalau sudah berkeluarga. Do not spoil again your life sweety, time is running out.

Salam damai untuk pria lajang mapan dan good looking.


Ki Ageng Similikithi

Manila 27 Agustus 2011.

Friday, August 26, 2011

Kereta terakhir ke Solo

Musim kering tahun 72. Kami bergegas masuk peron. Terdengar peluit keras berbunyi. Kereta akan segera diberangkatkan. Saya bersama Emi bergandengan tangan berlari sambil menjinjing tas ke arah kereta. Kereta Kuda Putih, Yogya Solo. Seperti dalam film film roman Indonesia atau India. Selalu ada saja adegan lari lari sambil berpegangan tangan. Untung tak ada krew televisi waktu itu. Tak ada paparazzi. . Yang ada hanyalah para makelar dan penjual makanan. Tak perlu GR. Siapa mau mengabadikan, kami hanya anak2 pondokan yang sedang jatuh cinta.

Itu kereta terakhir ke Solo. Sudah lewat jam lima. Baru saja siangnya kami selesai ujian semester. Tingkat 4. Emi terus pulang ke Solo. Dari Mangkubumen tadi saya menemani pulang ke pondokannya di jalan Suryotomo, Ngampilan. Jam empat ke stasiun Tugu. Sudah setahun lebih kami berhubungan dekat. Belum bisa dikatakan pasangan tetap, tetapi sudah serius. Sudah ada pernyataan verbal. Sudah berciuman bibir. Tetapi belum punya rencana pasti. Siang itu tak banyak yang kami bicarakan. Lebih banyak diam. Beberapa hari memang tidak begitu hangat pembicaraan di antara kami berdua. Tak tahu sebabnya. Emi segera naik ke gerbong. Duduk menghadap jendela. "Wis ya, ati ati. Sampai ketemu". Hanya itu yang dikatakan. Saya menjabat tangannya "Selamat liburan". Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun. Tak sempat saya memperhatikan ketika kereta menghilang. Saya juga cepat cepat ingin pulang ke Ambarawa. Naik becak ke jalan Magelang. Naik bis jurusan Semarang.

Saya menghabiskan hari hari libur di Ambarawa. Sepi di desa. Setiap siang menatap gunung di depan sana. Gunung Telomoyo dan Gadjah Mungkur. Sejak kecil dua gunung itu selaalu di sana tak pernah pindah, tak pernah berubah. Mesra bersanding. Kadang kadang angan angan melayang ke balik gunung, ke balik awan. Sedang apa Emi di Solo ? Apa yang dia pikirkan tentang kami berdua. Tentang masa depan. Tak tahulah. Masa depan urusan kemudian. Yang penting saya sudah lulus semua ujian semester. Walau harus mengulang satu. Kedokteran Kehakiman. Dikasih nilai dua. Saya mengerjakan pakai tinta warna hijau. Sang dosen yang berwibawa itu tak mau membacanya. Tak bisa tidur beberapa hari. Tetapi ujian ulangan berhasil.

Kira kira empat minggu saya liburan di Ambarawa. Sengaja tak ke mana mana. Pengin istirahat benar. Satu tahun terakhir ngurusi majalah mahasiswa. Begitu menguras tenaga daan waktu. Belajar tak konsentrasi. Hampir saja tak naik kelas. Acara pacaran sering terbengkelai. Pengin istirahat sepenuhnya. Saya sempatkan menulis surat ke Emi. Dua kali. Tak ada balasan. Mungkin juga sibuk. Di akhir minggu ke empat saya kembali ke Yogya. Sampai di pondokan di Patangpuluhan sudah lewat jam tujuh malam. Ada keinginan ke tempat Emi malam itu. Niat itu saya batalkan. Sudah kelewat malam. Besok pagi pagi kan ketemu di ruang kuliah. Esoknya pagi pagi saya sudah berangkat. Langsung ke tempat kuliah di Mangkubumen. Tak mampir ke tempat Emi, walau rumah kostnya terlewati.. Pengin cari tempat duduk yang enak di hari pertama kuliah. Saya ingat pakai baju putih dan celana kuning kesayangan saya.

Masih sepi ketika tiba di ruang kuliah. Saya ambil dua tempat duduk di baris kedua. Emi belum datang juga. Menjelang jam tujuh dia muncul. Langsung ambil tempat duduk di seberang. Mungkin tidak tahu jika saya sudah datang duluan. Saya dekati. Saya ulurkan tangan menyalami. ”Gimana liburannya?” Jawabannya singkat ”So so”. Tangannya dingin. Sikapnya dingin.

Tatapan matanya aneh, menusuk nanar. Saya beritahu jika ada tempat duduk kosong di barisan depan. Dia pindah duduk disamping saya selama kuliah. Lupa kuliah apa waktu itu. Jika tak salah ingat Kesehatan Anak. Emi terkesan gelisah. Tak seperti biasanya rajin mencatat. Kali ini hanya main main pena coret coret kertas kosong. Sebelum kuliah berakhir dia menulis sesuatu di kertas kecil. Kertas itu dilipat dan dikasihkan saya. ” I want to tell you something baby”. Dua jam kuliah berakhir. Dia pamit ingin pulang. Tak enak badan katanya. ”Nanti malam datanglah ke rumah”. Pesannya singkat.

Tak tenang saya mengikuti kuliah hari itu. Ada apa dengan Emi?. Tak sabar menunggu hari malam rasanya. Habis kuliah jam satu. Saya terus ke Bulak Sumur, naik sepeda. Jaga praktikum Farmakologi. Sudah setahun lebih asisteren di sana. Jaga pratikum juga nggak tenang. Mahasiswa tingkat tiga. Ramainya nggak karuan. Mereka dua tahun di bawah saya. Sebagian juga sudah kenal dengan baik. Pikir saya, mau gaduh silahkan, mau gagal silahkan. Pikiran saya baru tidak tenang. Praktikum selesai jam lima sore. Saya langsung pulang ke selatan.

Jam setengah enam lewat rumah kost Emi di Ngampilan. Rencana malam nanti mau datang ke sana. Tetapi tiba tiba saja pikiran saya berubah. Saya langsung mampir. Emi juga nggak terkejut ketika saya datang. Hanya sikapnya tetap saja diam tak banyak ngobrol seperti biasanya. Kami bicara formalitas saja. Dia kelihatannya menghundar jika ditanya tentang liburannya. Ketika akhirnya saya katakan ”Katanya mau cerita, kok diam saja?”. Dia terdiam sejenak.

Kemudian dengaan pelan dia bilang ” Maaf Ki, saya dengan mas Hepi sudah resmi kawin liburan kemarin”. Haaa, kaget luar biasa saya. Tak ada petir, tak ada kilat. Mas Hepi adalah mantan pacarnya dulu. Dua tingkat di atas kami. Kuliah di Hukum. ”Kok gitu?” pertanyaan saya tertahan di kerongkongan. ” Saya tidak bisa menolak ketika ditanya sama ibu. Habis kau nggak kasih kepastian. Malah kenalan sama anak Pekalongan itu”. Kenalan sama gadis lain kan bukan pengkhianatan tingkat pertama. Walau hati saya berdesir jika ingat gadis Pekalongan itu, tetapi hanya berdesir thok. Belum ada tindakan apa apa. Kok langsung di vonis, edan enggak? Saya hanya mengucapkan moga moga dia selalu bahagia. Tak berlama lama saya di sana. Duduk rasanya seperti di atas paku. Tak lebih sepuluh menit saya pamit. Terus pulang ke pondokan di Patangpuluhan.

Teman teman kost baru duduk duduk di depan kamar ketika saya datang. ” Gila nggak, Emi liburan kemarin sudah kawin. Saya baru saja tadi diberi tahu”. Khavid, adik kelas saya dua tahun langsung menukas ” Tenang Ki. Saya tadi juga dengar di kampus. Mau bilang situ kok sudah langsung ke Bulak sumur”. Batin saya menggerutu. Ada berita tak enak kok padha diam. Sore itu kami ramai ramai keluar. Makan bakmi Panut di Gerjen. Saya tetap saja galau. Tetapi Anton bilang. ”Laki laki pantang patah hati. Patah tumbuh hilang berganti”. Habis makan bakmi jalan jalan. Pas ada sekaten. Beli galundeng sekalian. Masih ada juga yang komentar ” Kalau ada yang patah hati tiap minggu dari kita, lumayanlah.

Beberapa minggu berlalu. Saya memberanikan diri berkunjung ke tempat kost Lina, mahasiswi AKUB yang saya kenal beberapa bulan lalu. Bukan pelarian. Bukan pengungsian. Ternyata jatuh hati benar benar. Wantek sampai sekarang setelah lewat hampir empat puluh tahun. Setelah kereta terakhir sore itu.

Salam damai

Ki Ageng Similikithi
Manila, 27 Agustus 2011.