Sunday, October 7, 2007

Perkosaan TKI

Lagi lagi kita dikejutkan dengan berita pemerkosaan terhadap tenaga kerja wanita Indonesia di Malaysia. Berita Tempo hari ini mengabarkan adanya penculikan, penyekapan dan pemerkosaan seorang wanita tenaga kerja asal Indonesia, yang dilakukan oleh sekelompok orang di Malaysia, termasuk diantaranya polisi dan mahasiswa (http://www.tempointeraktif.com/) .

Tentu saja kita prihatin dengan kejadian kejadian tragis yang menimpa para pekerja pendatang di negara tetangga ini. Seringnya pemberitaan akan kejadian serupa bukan karena ada kesengajaan untuk mengobarkan kasus seperti ini untuk kampanye anti Malaysia. Tetapi jika anda mengikuti berita berita terkait, banyak kejadian juga menyangkut para pekerja pendatang dari Sri Langka, Bangladesh dan negara2 Asia lain yang notabene secara ekonomi tidak sebagus Malaysia. Jadi bukan hanya kejadian terisolir semata mata. Tetapi sudah menjadi gejala yang berkembang akibat sikap umum yang tak menghargai dan ingin memanfaatkan kelemahan pekerja pendatang. Juga bagian dari rangkaian peristiwa yang mencerminkan ketidak mampuan aparat di Malaysia untuk menerapkan hukum melindungi kaum pendatang.

Anehnya yang kita sering dengar justru alasan alasn yang dibuat buat untuk semakin memojokkan si korban, seperti alasan karena toh kasus kasus serupa juga terjadi di negara asal pekerja bersangkutan, karena mereka tenaga kerja illegal, karena mereka berasal dari negara yang penuh korupsi dan sebagainya. Bahkan maraknya pemberitaan ini juga sering justru kadang merupakan kebanggan minir adanya keterbukaan dan kebebasan media masa di negara tetangga tersebut.

Alasan apapun yang sering terdengar dari pihak Malaysia, sangat sulit untuk diterima akal sehat. Pelaku kejahatan ini bukan semata mata kelompok bawah yang tidak berpendidikan. Tetapi juga melibatkan para pejabat dan petinggi di Malaysia. Mungkin anda masih ingat kejadian kasus artis Mongolia yang di bom oleh polisi atas perintah seorang pejabat tinggi penasehat kantor perdana menteri ? Toh alasan yang berkembanga dan disebarluaskan karena adanya motif pemersan dari si artis Altantuya.

Kasus perkosaaan dan pengyaniayaan para pekerja pendatang mencerminkan betapa lemahnya sistem perlindungan buruh migrant. Di negara Malaysia yang sebenarnya sistem publik dan hukumnya sudah berjalan rapi pun kejadian ini tetap saja berulang, baik oleh polisi, aparat sukarela, dan kalangan awam. Tak ada alasan untuk melakukan kesewenangan ini dengan dalih toh mereka pendatang illegal, toh mereka di negaranya juga nggak terkamin dan terlindungi, toh di negaranya menjadi sarang korupsi. Ini hanya alasan2 yang sengaja digemborkan oleh pejabat Malaysia hanya mencoba membodohi masyarakat internasional saja. Sayangnya di negara asalnya, kecuali mungkin di Filipina, perlindungan hukum bagi pekerja migrant ini sering tak memadai. Mereka selalu menjadi korban penipuan dan pemerasan di negeri sendiri.

Selain mengembangkan mekanisme perlindungan buruh migrant oleh pemerintah, kalangan sipil membantu meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan ketaatan hukum dan keterampilan pekerja migrant melalui berbagai kegiatan. Kejadian tragis ini akan selalu berulang, berita beritanya akan selalu menghiasi media massa, mungkin kadang sampai membosankan untuk pihak yang berwenang atau untuk pembaca. Ada pejabat kedutaan yang bilang, kalau ngurusi TKI sih, nggak akan ada habisnya. Ya memang, maka yang paling baik adalah dengan mencegah dan mengurangi resiko melalui pemberdayaan dan perlindungan hukum bo ! Memang lebih baik mengirim tenaga terampil dan terdidik dari pada mengirim un-skilled workers. Ada kesan dan stigma jelek yang selalu mendorong orang yang punya wewenang untuk memanfaatkan kelemahan pekerja migrant tadi. Ini mungkin yang mendorong kelompok penjahat tadi yang diantaranya pejabat polisi dan mahasiswa itu untuk memanfaatkannya.

Salam damai

Ki Ageng Similikithi

( Dimuat di Kolom Kta Kompas Cyber Media, 6 Oktober 2007)

Thursday, October 4, 2007

Mitos dan kekuasaan

Dalam kehidupan spiritual, kita tak pernah lepas dari mitos. Yakni suatu cerita atau kepercayaan yang dianggap sakral yang berkaitan dengan asal muasal alam atau makhluk di dalamnya. Juga sering dikaitkan dengan dunia spiritual, dunia pahlawan, dunia pemimpin bangsa dan kekuasaan. Kadang banyak mitos dan legenda yang sengaja diciptakan untuk mendukung seorang penguasa, atau bahkan dalam kehidupan sehari hari untuk memberikan dukungan bagi orang yang disenangi. Saya bukan ahli filsafat atau antropologi. Tulisan saya hanyalah renungan pribadi semata dan tak bertujuan menghujat mitos tradisional yang sudah dipercaya ratusan tahun.

Contoh mitos atau legenda paling kuat yang saya kenal waktu anak anak adalah legenda Nyai Loro Kidul. Digambarkan sebagai seorang putri cantik yang menguasai laut Selatan, lautan Hindia yang ganas. Bahkan di tahun enam puluhan sewaktu saya di Sekolah Rakyat, saya membaca novel Nyai Loro Kidul, yang digambarkan sebagai wanita cantik dan seksi. Bahkan gambarnya sangat aduhai dengan pakaian dengan perut terbuka. Menurut kepercayaan banyak orang Jawa, Nyai Loro Kidul adalah TTM (teman tapi mesra) dari raja raja Jawa terutama dari Surakarta dan Yogyakarta. Sehingga selalu ada upacara persembahan larung di laut Selatan setiap tahun dari keraton keraton Jawa.

Saya masih ingat cerita di tahun tujuh puluhan, sewaktu seorang calon menantu pria salah satu keraton Jawa, menghilang beberapa hari sebelum pernuikahan agung. Ibu kost saya bilang, kelihatannya sang calon menantu ini diambil oleh Kanjeng Ratu Kidul oleh karena perkawinannya sebenarnya tidak disetujui. Yang terjadi sebenarnya sang calon menantu tidak lari ke laut Selatan dengan Nyai Loro Kidul, tetapi lari dengan seorang artis yang cantik. Mana tahan, si artis memang jelita ? Sayang hubungan cintanya dengan pria idaman yang notabene calon menantu keraton terlambat bersemi. Teman teman kost Ki Ageng berseloroh, mahasiswa kost memang tak pernah masuk hitungan para artist maupun Nyai Loro Kidul. Nggak usah ya!

Ada salah satu tulisan di Kompas di tahun tujuh puluhan yang mencoba mengungkap mengapa legenda Nyai Loro Kidul begitu hidup dalam kepercayaan Jawa. Mengapa tidak ada legenda mengenai laut Jawa di utara ? Ada beberapa kemungkinan, salah satunya karena utara tak pernah akrab dengan kerajaan2 Jawa. Musuh atau pengaruh kuat selalu datang dari utara. Salah satunya adalah armada Mongol, yang menyerbu Singasari di abad ke 13. Pengaruh budaya dan kekuasaan selalu masuk dari utara, termasuk masuknya orang Eropa di abad ke enam belas.

Tak pernah dalam sejarah Jawa musuh atau budaya kuat masuk dari selatan di masa lalu. Pengaruh kuat dari Selatan, terjadi waktu Timor Timur pisah dari RI, tetapi itu sudah bukan urusannya raja raja Jawa. Orang Jawa kemudian mencoba akrab dengan laut Selatan dengan legendanya. Putri cantik yang mengayomi, dan menjadi pacar raja raja Jawa. Saya pernah berseloroh dengan keluarga dekat Sinuwun Yogya mengenai hal ini, dan apa katanya ? Kurang kerjaan mas, kalau memang mau TTM nggak perlu cari demit dari laut Selatan. Dunia spiritual memang lain dengan dunia nyata. Kalau mau TTM nggak perlu susah2 kedinginan kungkum (mandi) di laut Selatan. Dugem (dunia gemerlap)dan spa yang hangat di kota2 besar di Jawa juga banyak, dan nggak pernah diskriminatif hanya untuk para raja bo !.

Cerita Ken Arok lain lagi. Ken Arok adalah salah satu penguasa Jawa di abad ke tiga belas, yang terkenal dari masa ke masa. Dia adalah raja Tumapel yang kemudian dikenal dengan Singasari. Dia berasal dari keluarga kebanyakan, bukan dari keluarga bangsawan. Tetapi karena kecerdikannya dia bisa menjadi pengawal (hulubalang) raja Tunggul Ametung. Suatu saat dia melihat sinar kemilau di antara paha Ken Dedes yang indah. Ken Dedes adalah isteri Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian bertanya ke guru spiritualnya dan diberi tahu makna sinar itu. Jika dia bisa memperisteri Ken Dedes dia akan menurunkan raja raja Jawa yang akan bertahan dari masa ke masa. Ken Arok kemudian secara licik membunuh Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring, setelah sang Empu juga dihabisinya.

Tragedi bunuh membunuh ini kemudian berlanjut selama tujuh turunan. Ken Arok dibunuh oleh anak Tunggul Ametung, Anusapati. Anusapati terbunuh oleh anak Ken Arok, Panji Tohjaya. Dan Panji Tohjaya juga mati oleh keturunan Anusapati. Sekali lagi banyak mitos tercipta untuk melanggengkan kekuasaan. Bahwa sebenarnya Ken Arok lahir dari batu, untuk menutup asal usulnya yang nggak jelas. Juga mitos adanya sinar memancar dari antara paha Ken Dedes. Sejak dulu kala tak pernah vagina bisa memancarkan sinar meskipun orangnya secantik bidadari sekalipun. Untuk memperhalus supaya tak kelihatan porno, maka para pujangga keraton diminta menceritakan bahwa yang bersinar sebenarnya adalah betis dari Ken Dedes. Di jaman dulu penulis pun bisa dikooptasi kekuasaan. Sinar kemilau itu hanya mitos belaka yang diciptakan untuk justifikasi merebut Ken Dedes.

Di tahun enam puluh tujuh di Solo keadaan kalut, tawuran antara berbagai faksi politik sering terjadi di jalan raya. Sering tak aman berjalan sendirian apalagi buat orang dari luar Solo. Anak anak muda sering kemudian mencari perlindungan ke tokoh spiritual untuk mendapatkan "gemblengan", supaya kebal. Kami bertiga dengan teman sekelas juga mencarinya. Bukan karena ingin tawuran, tetapi untuk keamanan diri oleh karena pernah pulang sekolah hampir dikeroyok massa kelompok politik tertentu, karena kami tak membalas teriakan heroik mereka.

Kami malam malam mengunjungi seorang tokoh spiritual di Kemlayan. Beliau sudah tua bicaranya sudah nggak jelas. Tetapi para muridnya percaya kalau dia punya isteri peri yang cantik (makhluk halus wanita). Dia dengan semangat bercerita tentang peri cantik itu, yang katanya selalu membawanya terbang ke alam lain. Teman saya Diono, sewaktu pulang menggumam " Wah peri kok sukanya malah sama pria yang sudah uzur ya ?" Kami harus puasa mutih tiga hari tiga malam. Tak ada manfaat gemblengan itu oleh karena memang kami tak pernah tawuran. Hanya kalau pas sepak bola lawan main kami agak keder untuk tackling. Beberapa kali sesudah itu saya berhasil memasukkan gol dalam pertandingan antar kelas. Tak pernah sebelumnya saya bisa meng-goal kan bola. Imbas dari mitos sang tokoh spiritual dengan pacar perinya.

Dalam dinua modern, terutama di bidang politik, kita selalu mendengar mitos yang sengaja diciptakan. Mitos politik atau mitos sosial, bahwa seseorang telah memperoleh wahyu untuk memimpin bangsa. Kita pernah terlena selama tiga puluh dua tahun karena mitos yang diciptakan untuk kekuasaan. Mitos Ratu Adil yang menjadi dambaan setiap orang untuk kehidupan yang makmur dan adil. Dalam kehidupan sehari hari, kadang kita menokohkan seseorang karena mitos kepercayaan, bukan karena karyanya. Termasuk dalam kehidupan akademis, seseorang ditokohkan karena kepercayaan lingkungannya, bukan karena karya karya akademisnya. Dalam PILKADA (Pilihan Kepala Daerah) banyak mitos tercipta untuk memenangkan pemilihan.

Marilah mencoba menilai seseorang dengan karya dan pengabdiannya. Biukan karena mitos dan kepercayaan semata.

Salam damai dalam lamunan. Salam hormat untuk Nyai Loro Kidul.

Ki Ageng Similikithi (bs2751950@yahoo.com)

(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cybermedia 4 Oktober 2007)

Monday, October 1, 2007

Glastnost - keterbukaan

Salam dari Geneva. Siang hari sehabis makan siang. Baru saja selesai acara pertemuan. Masih ada janjian untuk ketemu seseorang nanti jam tiga. Penerbangan pulang nanti malam jam setengah tujuh. Sambil menunggu saya mulai menulis cerita ini. Kali ini agak berat, bicara tentang politik. Sejarah politik tentang keterbukaan dan kebebasan.

Keterbukaan selalu merupakan kata mutiara yang harus diamalkan di dunia nyata bagi para tokoh demokrasi. Demokrasi tak bisa dipisahkan dengan keterbukaan dan kebebasan. Kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan kebebasan untuk melihat sesuatu secara jernih. Dalam situasi keterbukaan manusia bisa melihat dengan jernih dan pikiran tenang. Saya selalu mencoba mengerti, menghayati dan kadang kadang melihat keterbukaan ini dengan kebebasan yang ada dalam rambu rambu hukum dan sosial.

Bagi yang berminat dalam sejarah politik, pasti akan ingat siapa yang melontarkan kata
Glasnost, yang hakekatnya bermakna keterbukaan. Adalah mantan presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev. Glasnost yang dia pelopori telah meruntuhkan negara adi daya Uni Soviet dan negara negara Pakta Warsawa. Eksperimen sosial politik paham komunisme yang telah berjalan lebih dari lima puluh tahun luluh lantak dengan runtuhnya sistem komunisme di berbagai negara.

Saya bukan ahli politik dan selalu gagal mempelajari perkembangan wahana keterbukaan ini dari kaca mata politik. Selalu macet di tengah jalan. Inilah kisah konyol ketidak mampuan saya membaca artikel tentang Mikhail Gorbachev dan teori glasnost dan perestroika.

Beberapa bulan lalu saya bersama Nyi dalam perjalanan pulang ke Yogya, lewat Singapura. Menunggu sambungan penerbangan ke Jakarta selama dua jam di bandara Changi. Saya mencoba membaca artikel yang menceritakan tentang riwayat gerakan glasnost dan perestroika yang digalakkan oleh Presiden Mikhail Gorbachev. Mula mula memang sangat asyik membaca artikel tersebut. Tetapi lama lama kok jenuh, kemampuan mengikuti dan berkonsentrasi terhadap pokok masalah buyar. Rupanya lebih menarik melihat gaya bicara presiden Mikhail Gorbachev di televisi dari pada membaca pikiran pikirannya lewat artikel dari penulis politik. Kemampuan imaginasi saya begitu terbatas untuk mengendapkan pengertian glastnost dan perestroika.

Saya mencoba istirahat mau tiduran sebentar. Kaca mata gelap yang barusan dibeli saya pakai supaya bisa memejamkan mata sejenak. Nyi Ageng sudah jalan jalan sendiri lihat toko toko di bandara. Saya mulai mengantuk. Banyak orang bisa menikmati rasa kantuk, terutama kalau pas rapat atau mendengarkan pidato. Saat itu saya sempat menikmati rasa kantuk yang membelai.

Tak saya sadari seorang bapak bersama isteri dan dua anak gadisnya, duduk di muka saya. Dia kira kira pertengahan empat puluhan, nampak ganteng dan berwibawa. Saya tetap menikmati rasa kantuk saya. Mereka ngobrol sambil bergurau akrab. Kelihatan bahagia benar. Mereka ngobrol sambil bergurau ringan. Kedua anak gadisnya nampak manja sama sang bapak.

Tak lama kemudian ada dua wanita, ibu ibu dengan pakaian modis duduk di sebelah kiri saya. Keduanya memakai celana panjang jean. Juga ngobrol asyik sendiri sambil ketawa renyah. Kadang2 cekikikan. Boleh tahan lah. Si bapak yang tadinya ramai bergurau dengan isteri dan kedua anak gadisnya kemudian diam asyik membaca koran. Serius benar. Sambil lalu saya melihat wajahnya dibalik lembaran koran, tetapi pandangan matanya kok nggak fokus membaca koran. Mula mula saya nggak perhatian. Tetapi lama lama kok mulai bertanya Instink intel saya mengatakan, something is going wrong. Tiba tiba saja instink muncul, pengin tahu apa yang terjadi.

Saya menoleh ke arah kedua ibu ibu yang asyik ngobrol ketawa ketawa renyah tadi. Eee ladalah ternyata mereka berdua mengenakan celana panjang dan baju kaos seksi. Nampak jelas bagian perut mereka terbuka dan sangat mudah terlihat walau tanpa kijker. Batin saya, inilah penyebab bapak itu asyik sekali pura pura baca koran. Belum habis rasa kaget saya, ternyata baru saya sadar kalau isteri bapak tadi dan kedua anak gadisnya juga memakai pakaian dengan gaya modis yang sama, perut terbuka. Transparan dan demonstratif.. Saya hanya bisa menyebut ”Aja kagetan lan aja gumunan" Jamane jaman keterbukaan dan transparansi. Nggak ngimpi nggak ada firasat apa apa, kok wudel (pusar) bertaburan. Inilah refleksi dari teori glastnost yang sedang saya baca tadi.

Dalam beberapa tahun terakhir memang nampak benar berkembangnya mode pakaian dengan perut terbuka. Pusar terlihat jelas sebagai lambang keterbukaan dan kebebasan individu, sekaligus lambang kecantikan. Tak hanya di kalangan anak gadis belasan tahun, tetapi juga di kalangan ibu ibu. Sah sah saja dan saya tidak ada maksud menghujatnya sama sekali. Toh ini hak dan kesenangan masing masing orang. Nggak ada manfaatnya menghujat. Kalau senang ya dilihat atau diterapkan. Kalau nggak senang ya diamkan saja. Tetapi kalau ada mata yang melirik jangan gampang mengeluh pelecehan. Yang melihat kan juga punya kebebasan untuk melihat dengan jernih.

Ingatan saya mencoba kembali ke teori glasnost dan perestroika dari presiden Mikhail Gorbachev. Keterbukaan dan kebebasan. Ternyata jauh lebih mudah mencerna teori itu dari sisi mode pakaian masa kini. Tak perlu banyak konsentrasi dan imaginasi. Semua gampang dimengerti. Tak perlu teori muluk muluk tentang ilmu politik. Orang bisa saja menghujat, namanya Ki Ageng kok suka melirik wudel. Lha wong namanya negara adidaya Uni Soviet saja runtuh karena keterbukaan dan kebebasan, kok manusia biasa harus menutup mata pura pura nggak melihat. Kan ini juga bagian dari kebebasan melihat dengan jernih dan jelas. Hanya manusia biasa.

Jamannya ya memang jaman keterbukaan. Kebijakan dan administrasi publik harus transparan dan terbuka. Tak secepat yang dibayangkan. Korupsi dan penyelewengan kewenangan publik masih merajalela. Masih kalah cepat dengan perkembangan keterbukaan wudel sama perut bo.

Wis embuh lur, jamane jaman edan.

Salam damai dan keterbukaan.

Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Kolom kita Kompas Cyber Media, 1 Oktober 2007)

Saturday, September 29, 2007

Gray''s Anatomy

Salam dari bandara Frankfurt. Jam tujuh pagi. Barusan tiba untuk transit ke Geneva. Ada waktu dua jam lebih menunggu. Semalam berangkat jam sembilan dari bandara Nino Aquino, Manila dengan pesawat Lufthansa. Lumayan bisa tidur lelap dan menikmati dua filem, Mr. Bean dan Gray's Anatomy. Filem kedua dibintangi oleh bintang2 tenar yang menggambarkan cerita ringan pengalaman para calon dokter sewaktu pertama kali kerja praktek di klinik. Cerita ini mengingatkan saat saat saya menjalani kepaniteraan klinik pertama kali di awal tahun tujuh puluhan. Kasus kasus serupa juga kami hadapi waktu itu hanya teknologi diagnostik dan terapi yang diperlihatkan dalam film ini benar2 mutakhir.

Hanya saja judulnya kok nggak pas benar . Gray's Anatomy adalah judul buku teks sekaligus atlas anatomi yang pasti setiap mahasiswa kedokteran di seluruh dunia selalu menekuninya sewaktu mereka mengambil mata kuliah anatomi di tahun pertama atau ke dua. Di Indonesia dan di Eropa mungkin banyak dipakai buku teks/atlas anatomi Spalteholz. Cuma yang terakhir ini harganya memang lebih mahal. Buku buku ini lebih banyak dipakai di tahun tahun awal kedokteran, dan nggak terlalu banyak dipakai waktu para calon dokter masuk praktek klinik.

Dikisahkan ketika para calon dokter ini menghadapi pasien dengan berbagai jenis penyakit pada siklus pertama kerja praktek di rumah sakit. Di Indonesia sering dikenal dengan istilah ko-skap atau kepaniteraan klinik. Beberapa kasus klinik yang ditampilkan adalah khas kasus kasus yang dihadapi dalam pelayanan darurat di rumah sakit. Ada kasus emboli paru yakni masuknya udara ke pembuluh darah paru sebagai komplikasi operasi, aneurisma (pelebaran) pembuluh darah di otak , operasi apendektomi dan lain lain. Pokoknya segala macam kasus sehari hari yang dihadapi dirumah sakit rujukan.

Ingatan saya melayang di tahun 1974. Kejadian yang saya ceritakan ini hanyalah sebagian kecil dari ragam kasus dan peristiwa yang terjadi semasa ke paniteraan klinik Kejadian pertama di rumah sakit umum Klaten, waktu itu namanya belum RS DR Soeradji. Saya menjalani kerja praktek di Bagian Kandungan dan Kebidanan bersama beberapa orang teman. Jika nggak salah kami bertiga atau berempat. Ada seorang dokter asisten ahli, yang sedang menjalani tahun terakhir pendidikan spesialisasi yang juga sedang dinas di rumah sakit tersebut. Dokter S yang menurut hemat kami sangat terampil dan intelligent. Kami semua tidur di rumah sakit. Harus siap 24 jam. Suatu siang ada kasus kehamilan mola. Suatu kelainan kehamilan yang berkembang menjadi tumor seperti buah anggur. Siang hari pasien telah menjalani operasi dengan lancar, tak ada keluhan apa apa. Operasi berjalan lancar. Saya menjadi asisten dua operasi.

Salah satu komplikasi paska operasi yang paling ditakuti adalah emboli pembuluh darah paru. Semua prosedur telah dilakukan dengan lancar termasuk pencegahan komplikasi paska operasi. Dokter S sesaat sesudah operasi mengatakan, semua tindakan yang diperlukan telah dijalankan. Bila komplikasi emboli paru terjadi, angka kematian masih sangat tinggi waktu itu. Sebagian besar kasus emboli paru biasanya gagal teratasi dan meninggal. Sore dan malam itu sangat tenang. Nggak banyak pasien darurat yang masuk. Semua pasien rawat inap terawasi dengan baik. Jam sembilan malam saya masih berkeliling bangsal mencek kondisi pasien terutama yang menjalani operasi atau tindakan di siang harinya.

Jam sebelas malam saya kembali ke kamar. Jam 0230 tiba tiba dibangunkan "Pasien X mendadak nyeri dada dan sesak napas".Saya begitu terkejut dan lari ke bangsal. Saya dapati pasien yang tadi siang menjalani operasi mengangkat kehamilan mola, dalam kesakitan hebat dan sesak napas. Dokter S berlari datang kurang dari lima menit kemudian. Saya sempat berteriak "Dok emboli paru". Hati saya sangat kecut. Terapi yang diperlukan kami berikan termasuk morfin untuk mengurangi nyeri dan pemasangan oksigen. Jam 0300 pasien membaik, tensi membaik, nyeri berkurang dan pasien bisa tertidur kembali. Pasien dalam pengawasan ketat. Kami diharuskan mengontrol setiap saat. Direncanakan untuk merujuk kasus ke rumah sakit yang lebih lengkap di Yogya. Jam delapan pagi sesak napas menghebat dan pasien tak tertolong meskipun semua penanganan yang ada telah diberikan. Semua tercekam kebekuan.

Tak seperti dalam film Gray's Anatomy, di mana para ko-asisten nampak begitu ceria walaupun juga ada kasus yang meninggal, kami bertiga begitu terdiam dan tegang menyiapkan laporan kematian. Ini kasus kematian pertama yang saya hadapi sejak masuk kepaniteraan klinik sejak beberapa bulan lalu. Dokter S nampak tetap tenang dan menyampaikan ucapan belasungkawa ke keluarga pasien. Kami sudah berusaha mengatasi semaksimal mungkin.

Kasus lain yang saya tak akan lupa adalah sewaktu menerima pasien rujukan dari Gunung Kidul di rumah sakit Mangkuyudan Yogyakarta. Suatu sore yang tenang, saya kebetulan jaga dan habis mandi sore hari. Tiba tiba datang kiriman pasien diangkut dengan mobil kolt. Seorang wanita umur antara tiga puluhan dalam proses persalinan. Sebelumnya telah ditangani dukun (laki2). Berdasarkan wawancara dengan suami pasien, rupanya karena persalinan nggak maju dukun mendiagnosa bahwa jalan lahir dihalangi oleh setan. Dukun mendorong perut pasien dengan kaki, dan kemudian terjadi perdarahan hebat. Pasien dalam keadaan syok, tekanan darah sangat rendah. Pemeriksaan memastikan kalau sudah terjadi ruptura kandungan atau dinding kandungan robek. Dokter senior secepat mungkin dilapori tindakan operasi disiapkan.

Saya bertugas menjelaskan ke suami pasien dan mendapatkan persetujuan untuk operasi darurat. Saya ikut sebagai asisten 2 operasi. Operasi bisa dimulai dalam waktu relatif singkat. Sewaktu dinding perut dibuka, nampak jelas kandungan sudah pecah dengan robekan di berbagai tempat. Janin sudah meninggal dan sebagian lengan janin nampak di luar kandungan. Jaringan kandungan sudah sangat rapuh. Nggak mungkin menyambung dengan menjahitnya. Satu satunya cara untuk menyelamatkan nyawa pasien adalah mengangkat kandungan. Tak mungkin memberitahu lagi keluarga pasien oleh karena balapan dengan waktu. Hati saya kecut dan pesimis kalau pasien akan teratasi dengan kondisi kandungan demikian parah. Dukun itu memang keparat. Operasi berjalan baik, kondisi pasien stabil. Pasien sembuh setelah lewat seminggu. Walaupun hanya ko asisten, kami merasa sangat bersyukur melihat pasien pulang dengan kondisi sehat.

Suasana kepaniteraan klinik (internship) memang menarik dalam film. Dalam kenyataannya tidaklah seceria yang dibayangkan. Dari hari ke hari tekanan datang silih berganti. Pasien gawat datang silih berganti. Kadang berhasil ditangani kadang kadang gagal. Sering dampak psikologis menyaksikan saat saat terakhir pasien menghembuskan napas, tidaklah mudah hilang dari ingatan.

Saya menyelesaikan tulisan ini di Geneva sambil mengikuti rapat. Baru sadar kalau kaca mata saya ketinggalan di bandara Frankfurt sewaktu kontrol keamanan sebelum masuk anjungan keberangkatan. Luftansa katanya mau ngirim kok belum ada berita.

Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Klom Kita Kompas Cybermeda, 29 September 2007)

Thursday, September 27, 2007

Plesetan - jamane jaman edan

Beberapa waktu ini saya sering merenung memikirkan perjalanan hidup, tentang filsafat hidup. Konon semakin tua orang harus semakin bijak menyikapi sesuatu. Petuah Jawa bilang 'Aja dumeh". "Aja kagetan lan aja gumunan". Jangan takabur. Jangan gampang terkejut dan terheran heran. Sikapilah segalanya dengan tenang dan bijak. Namun tak gampang selalu bersikap bijak dan tenang di dunia nyata yang begitu hiruk pikuk.

Dalam kehidupan filsafat Jawa, banyak petuah mulia yang dirangkai dalam kata kata mutiara yang indah. Maksudnya ya supaya semua orang tertarik dengan keindahan kata kata tersebut dan mengamalkan isi petuahnya di dunia nyata. Tetapi manusia selalu saja beragam. Apa yang indah dalam dunia filsafat tak selalu dibawa dalam dunia nyata. Dalam lingkungan kebudayaan populer masa kini kadang kadang petuah petuah bagus yang dirangkai dalam kata kata indah tersebut sering di-plesetkan, dibelokkan secara sengaja sehingga arti melenceng dari arti sebenarnya. Hanya beberapa contoh berikut ini.

"Sugih tanpa bondho", terjemahannya "kaya tanpa harta". Maksudnya supaya orang juga bisa merasa kaya karena karya dan karena kebajikannya, bukan semata mata karena harta dan kekayaan. Tetapi kadang orang melencengkan artinya. Kalau harus kaya tanpa harta, ya mungkin lebih baik nyolong atau korupsi. Orang berlomba menumpuk harta dengan jalan korupsi dan penyelewengan. Tak jauh jauh, dalam UUD 45 dikatakan bahwa 'Perekonomian Indonesia disusun berdasarkan atas usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan dan gotong royong". Tetapi apa nyana, banyak penguasa dan pejabat melakukan penyelewengan dengan memberikan kesempatan kepada anggota keluarganya untuk berbisnis ria melalui kewenangan yang dipegangnya. Mulai dari penguasa nomer satu sampai yang paling bawah sekalipun.

"Alon alon waton kelakon", atau pelan pelan asal kesampaian, sebenarnya dimaksudkan agar orang melakukan sesuatu secara hati hati. Tidak grusa grusu dan tergesa gesa. Tetapi mungkin ini banyak diselewengkan sebagai alasan untuk bermalas malasan. Saya selalu diolok olok oleh teman2 dari Jakarta, orang Yogya sukanya naik andhong, alon alon waton kelakon. Tetapi di bidang saya saya tak pernah merasa kecil dengan olokan tersebut. Bagian yang saya pimpin di Yogya dulu toh bisa tampil di dunia global dengan prinsip tersebut. Semua langkah dipertimbangkan secara seksama. Di bidang kesehatan angka harapan umur di Yogya paling tinggi di Indonesia. Juga angka kematian bayi di bawah satu tahun (infant mortality rate).

"Tut Wuri Handayani" merupakan petuah bagi pendidik untuk tidak mendikte anak didik. Tetapi selalu mendorong anak didik untuk maju ke depan. Anak didik tak harus mengikuti sang guru dari belakang semata mata. Ini adalah prinsip pendidikan Sokratik yang telah di terapkan ribuan tahun sebenarnya dalam pendidikan filsafat di padepokan2 Jawa masa lalu. Di abad modern ini kata kata ini begitu indah dan diterapkan di semua lini di luar pendidikan. Kalau para pelatih atlet lari kita menerapkan petuah ini bagi pelari pelarinya, mana mungkin atlit kita akan menang. Sampai kiamat kita nggak akan menang marathon atau balapan lari.

Petuah lain yang saya juga nggak begitu mendalami artinya yalah "Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake" . Terjemahannya 'menyerbu tanpa balatentara, menang tanpa harus mengalahkan". Maksudnya sebenarnya kita bisa saja memenangkan suatu perbedaan dengan bijaksana, tanpa lawan kita merasa dikalahkan. Mungkin dalam dunia modern sekarang maksudnya tak jauh dengan "Win win solution". Jelas maknanya.
Tetapi plesetan sering mengatakan "Nglurug tanpa bala, kalah tanpa ngasorake". Menyerbu tanpa kawan, kalah tanpa memenangkan sesuatu. Pelatih pelatih bola supaya menghindari jauh jauh petuah ini dan tidak menerapkannya dalam pola permainan sepakbola modern.

Bebera waktu saya mengantar seorang tamu pejabat putri dari salah satu negara di Asia Tengah. Makan malam kemudian lihat ball room. Ada beberapa pertunjukan yang sangat menarik. Salah satunya adalah tarian samba yang sangat ritmis. Ada beberapa penari putri yang gerakannya sangat indah dan susah diterangkan. Saya sampai tertegun, kok bisa gerakan tubuh begitu indah, meliuk liuk kaya ular mengikuti irama musik. Walau saya berupaya tegar "Aja kagetan lan aja gumunan", tetap saja saya tertegun dan terheran heran menyaksikannya. Kok bisa ya? Penarinya memang bukan penari Jawa yang lemah gemulai. Penari2 tersebut adalah penari2 yang akan ikut kejuaraan Asia. Jarang bisa lihat kesempatan seperti itu. Bukan dosa besar, walau pakai embel embel Ki Ageng-pun, ternyata harus banyak belajar untuk tidak gumunan dan tidak kagetan menghadapi tanda tanda jaman.

Jamane jaman edan, bo!.

Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cybermedia 25 September 2007)

Friday, September 21, 2007

Pagi yang cerah

Kami berjalan bersama. Di pagi yang indah. Di antara pematang sawah dan ladang yang permai. Dia berlari lari kecil. Bernyanyi nyanyi riang walau lafalnya nggak jelas benar. Bermain menatap langit. Menggapai awan. Kadang kadang dia menggapai tanganku "Pa, bawalah saya ke langit. Saya ingin tiduran di antara awan itu". Permainan lamunan rutin yang selalu kami lakukan, saya bersama anak anak. "Saya ingin sama bapak dan ibu mendaki gunung itu. Akan kubelai awan di puncak puncak gunung itu''.

Tangan tangan kecilnya selalu sibuk. Melambai, meraih sesuatu, menggapai tanganku. Dia memang sedang menikmati panorama. Menikmati semua gerakan, dan kegiatan hidup disekitarnya. Suaranya tak juga berhenti bernyanyi tanpa nada jelas. Hanya nada kegembiraan semata.

Pagi itu seperti pagi pagi biasanya. Kami berjalan jalan berdua. Ibunya di rumah. Anak anak yang lain tidak ikut. Mereka telah punya acara sendiri dengan teman tetangga. Kami menelusuri jalan jalan kecil di desa. Udara cerah,begitu indah. Langit tak bertepi, lamunan tak berhenti. Kami menikmati pagi yang indah dan damai.

"Haus pak " teriaknya. Lupa nggak bawa air minum. Mampir di warung kecil di ujung desa. Ada beberapa makanan kesukaanya. Dia masih senang makan. Umurnya belum genap sepuluh tahun memang. Selalu suka bercerita. Selalu suka ngomong. Di warung itu banyak sekali pertanyaannya ke penjual makanan. Bilangnya sesudah keluar dari warung 'Penjual makanan itu pasti senang. Bisa makan kueh terus tanpa bayar.

Kami berjalan sepanjang tepi selokan Mataram. Air mengalir tenang.. Dia bermain main air dengan patahan ranting bouginvilla. Saya mengingatkan agar hati hati. Berjalan ringan menelusuri tepian desa. Lewat kampus Bulaksumur. Masih sepi. Tak banyak manusia. Tak banyak kendaraan. Tanaman menghijau di sela sela bangunan dan jalan jalan kampus.

Bertemu beberapa kawan sekantor yang juga sedang jalan jalan pagi. "Kami libur. Laporan laporan penelitian semua sudah selesai. Menunggu proyek baru". Mereka nampak begitu relaks. Nggak kelihatan tegang karena dikejar kejar deadline. Hidup nampak ringan dan mulus. Tak terlihat tekanan.

Da masih berlari lari riang. Menikmati pagi yang cerah. Perhatiannya begitu intens mengejar kupu kupu yang beterbangan di antara bunga bunga biru itu. Saya terlena ngobrol dengan kolega yang bekerja di bekas laboratorium yang saya pimpin dahulu.

Tiba tiba anakku menjerit. Dia terjatuh mengejar kupu kupu itu. Saya dekati dan saya angkat dia di lenganku. Saya petik bunga biru itu. Sebentar kemudian dia sudah tertawa lagi. Dia ceria lagi dan teriak " Pak pulang saya kangen Ibu"

Tiba tiba terhenyak. Terjaga dari mimpi indah itu. Terduduk l;emas. Saya tersedu di pagi yang cerah merindukan saat saat indah seperti dalam mimpi tadi. Saat saat bermain dengan dia, sewaktu masih kecil. Saya tak kuasa berbuat apa. Dia telah pergi sepuluh tahun lalu. Kecelakaan itu telah merenggut semua kebahagiaan dan impian yang ada. Saya tilpon Nyi pagi itu. "Moko datang dalam mimpiku". Jawabnya terisak " Berdoalah, bulan puasa dia selalu akan datang". Dia datang hanya dalam impian sesaat. Dalam lamunan berkepanjangan. Impian impian indah itu selalu saja datang. Membawa kenangan indah, kebahagiaan masa lalu. Namun selalu meninggalkan kepedihan yang mendalam. Sepanjang perjalanan waktu. Ya Tuhan , berikan dia kedamaian di sisiMu.


Ki Ageng Similikithi


(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber media 22 September 2007)

Bangun siang & tidur siang akhir pekan

Sabtu pagi di Jeju, Korea. Jam tujuh pagi, matahari belum juga muncul. Cuaca mendung di luar. Hujan rintik rintik sejak kemarin siang. Pemandangan laut lepas lewat jendela kamar hotel. Tak ada yang membatasi. Tak ada yang menghalangi. Suasana syahdu dalam siraman hujan ringan. Segar menyiram bumi. Tak mendera liar bersama angin. Seminggu ini di Jeju, mengikuti rapat antar negara negara Pasifik Barat untuk kebijakan bidang kesehatan. Pertemuan selesai hari Jumat siang kemarin. Selesai acara makan siang sebenarnya ada acara tour. Batal karena hujan. Tetapi saya tetap bersyukur karena bisa menikmati keindahan dan ketenangan Jeju, walau hanya lewat jendela kamar hotel.

Pulau Jeju yang indah dan alami. Nampak sangat bersih dan teratur asri. Tak sempat kemana mana. Hanya berkisar dari kamar hotel ke International Convention Centre. Berangkat pagi pulang sore, malam hari harus ikut acara makan malam. Selalu tegang dikejar laporan dan tanya jawab mengenai perkembangan program yang harus dilaporkan ke negara negara anggota. Para menteri kesehatan atau wakilnya, mewakili masing masing negara. Kemarin kemarin ketika sidang masih berjalan, rasanya pengin sekali menikmati bangun agak siang. Hanya bangun tidur agak siang kemudian malasan malasan di kamar sambil lihat TV.

Pagi ini ternyata sejak jam setengah lima sudah terbangun dan nggak bisa tidur lagi. Semalam tak bisa juga tidur pulas, beberapa kali terjaga. Gejala alamiah umur lewat setengah abad. Buyar keinginan bangun siang dan malas malasan pagi hari di tempat tidur. Tak apa, toh bisa menikmati pemandangan laut dengan ombak gemuruh di bawah sana. Sambil menghabiskan waktu menunggu waktu berangkat ke bandara, saya menulis untuk Koki. Lebih seminggu nggak sempat buka Koki.

Sejak kecil kami bersaudara terbiasa atau terpaksa harus bangun pagi benar. Di awal tahun enam puluhan, di desa di Ambarawa, kami harus bangun jam empat pagi, untuk memerah susu. Ada puluhan ekor sapi yang harus diperah. Hanya berdua dengan adik saya. Tukang hantar susu biasanya datang jam setengah enam pagi, dan dia juga nggak bisa memerah sapi. Kemudian jika pas musim vanili berbunga kami harus mengawinkan bunga bunga vanili itu. Waktunya sempit sekali, hanya antara pukul setengah enam sampai jam enam. Bunga vanili jika tidak dikawinkan setelah merekah akan cepat layu. Biasanya lewat jam tujuh pagi jika kena sinar matahari, kelopak sudah mulai layu dan susah dikawinkan. Jam setengah tujuh kami harus berangkat sekolah berjalan empat kilometer ke Ambarawa. Jalan masih sepi nggak banyak kendaraan umum lalu lalang seperti saat ini.

Kami bangun ketika burung burung srigunting mulai berkicau saat fajar menyingsing. Burung burung lain seperti kacer, kutilang bangun agak siang sekitar jam enam sesudah matahari mulai terbit di ufuk timur. Setiap kali mendengar suara srigunting dan harus bangun, saya selalu membayangkan alangkah enaknya bangun agak siang. Hasrat ini selalu datang dari waktu ke waktu sampai di usia lanjut kini walau sering tak kesampaian. Alangkah nikmatnya bisa tidur pulas sampai siang. Saya kadang iri melihat anak anak saya atau keponakan, mereka bisa bangun siang di akhir pekan, walau pekerjaan mereka juga begitu sibuk menyita waktu. Sering ketika saya telpon jam delapan pagi Sabtu atau Minggu, mereka masih tidur.

Sewaktu masih di Yogya, jam kerja mulai pukul 0700 dan sebelumnya harus mengantar anak anak ke sekolah. Harus berangkat sebelum jam setengah tujuh, mengantar anak anak ke sekolah yang berbeda. Sekolah Dasar IKIP di Bulaksumur, SMP 1 di muka RS Panti Rapih dan SMP 5 di Kridosono. Bangun harus jam setengah enam. Gantian kamar mandi sama anak anak, oleh karena hanya ada dua kamar mandi di rumah. Untung waktu itu jalan nggak sepadat sekarang. Anak anak bisa sampai di masing2 sekolah sebelum jam tujuh. Saya nggak membayangkan mereka yang tinggal di pemukiman jauh dari tempat kerja, jam berapa mereka harus berangkat kantor. Jam berapa mereka sampai rumah sore atau malam hari ? Apalagi jika suasana macet, berapa banyak waktu hidup kita hilang di perjalanan yang melelahkan dari hari ke hari.

Kini di Manila ada flexy time, bisa mulai ngantor jam setengah sembilan. Jam kerja normal mulai jam tujuh. Namun rasanya susah untuk bangun siang. Selalu terjaga sebelum jam setengah enam walau sering masih ngantuk. Hanya akhir pekan ada kesempatan bangun siang, terutama di hari Minggu. Hari Sabtu malah kadang harus bangun pagi2 jika mau main golf, apa lagi jika main di luar kota. Kesempatan bangun siang biasanya hanya ada di hari Minggu. Nyi Ageng biasanya habis sholat pagi mulai berisik didapur atau lihat TV, drama filem Korea. Acara bangun siang selalu tak kesampaian.

Tiga tahun lalu, kami pernah berdua ke Hongkong akhir pekan, rasanya pengin sekali tiduran di kamar hotel, hujan kepagian. Tiba tiba saja Nyi Ageng pengin lihat marathon massal di luar sana. Pikir saya marathon di mana mana ya sama, pagi2 hujan gitu kok pengin keluar lihat orang marathon. Padahal acaranya juga disiarkan TV. Akhirnya acara malas malasan di tempat tidur gagal total. Di bawah hujan rintik rintik kami menyaksikan start marathon. Ada sedikit insiden, kami berdua ikut antrean panjang manusia. Saya kira antre mau lihat marathon, tahunya antre ke WC. Enak menyaksikan lewat TV dari kamar hotel sebenarnya. Apa oleh buat, nggak semuanya selalu indah dalam hidup ini.

Bicara tentang tidur siang, jika tak ada acara, Sabtu sore atau Minggu sore adalah waktu paling pas untuk menikmati tidur siang. Sejak kecil saya tak terbiasa tidur siang. Hanya sewaktu kuliah di Yogya saja kadang kadang tidur sore jika tak ada praktikum. Waktu itu masih di pondokan. Sewaktu masa kecil di Ambarawa, nggak ada acara tidur siang. Nggak mungkin tidur siang. Hewan piaraan terutama lembu itu nggak bisa ditinggalkan untuk tidur siang. Acara tidur siang hanya untuk anak anak kota. Di daerah saya di desa dulu, para petani berangkat pagi2 sekali ke sawah sebelum matahari terbit. Kemudian pulang sarapan kira kira jam sepuluh sambil istirahat siang oleh karena hawa siang hari terlalu panas untuk bekerja di lapangan. Sebagian mungkin akan tidur sebentar. Siang hari sesudah jam dua, mereka kembali ke sawah sampai kira kira jam lima sore. Begitu irama waktu dari hari ke hari.

Di kalangan sebagian masyarakat kita tidur siang adalah kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. Juga di negara negara lain di Asia atau di Eropa Selatan, tidur siang adalah bagian siklus keseharian. Dalam situasi dunia kerja masa kini, buat mereka yang bekerja di kantor atau di dunia usaha, agak sulit menikmati tidur siang. Jaman dulu kantor mulai jam 0700 sampai jam 0200 siang. Pulang kantor masih bisa tidur. Namun kantor kantor sekarang umumnya sampai jam empat atau lima sore. Nggak ada kesempatan tidur. Hanya secara kebetulan karena kemacetan jalan, ada yang bisa memanfaatkan waktu untuk tidur selama perjalanan. Beberapa bulan lalu ada berita di CNN kalau ada kantor swasta di Amerika yang mengijinkan karyawan tidur siang di kantor selama setengah jam semasa istirahat makan siang. Kabarnya bisa meningkatkan tingkat produktifitas karyawan.

Di waktu saya masih mengajar di tahun delapan puluhan, ada mahasiswa yang protes karena saya minta seminar sore hari sesudah acara kuliah, antara jam 3 sampai jam 4. Katanya mengganggu waktu tidur sore hari. Juga seorang teman dosen yang mengeluh saya undang rapat jam dua sampai jam tiga. Jam jam tidur siang. Kadang kita lupa kalau acara tidur siang sudah demikian mengakar untuk sebagian dari kita. Terbawa sejak kecil. Nggak tahulah memang banyak yang berbeda dan banyak yang berubah, meskipun hanya acara bangun pagi dan tidur siang.

Semalam saya kembali tiba di Manila. Lepas tengah malam. Tadi pagi bangun jam enam, Pengin bangun siang sebenarnya. Kira kira jam sembilan ada langganan pijat yang selalu datang di hari Minggu. Habis pijat bisa tidur sampai siang. Jam tiga mulai meneruskan tulisan ini. Salam hangat untuk anda semua, selamat menikmati bangun siang dan tidur siang di akhir pekan.

Ki Ageng Similikithi (bs2751950@yahoo.com)

(Dimuat di kolom Kita Kompas Cyber media 17 September 2007)