Salam dari Geneva yang dingin.
Genderang pemilihan, entah itu PEMILU (pemilihan umum) atau PILKADA (pemilihan kepala daerah), sudah berdentang di tanah air.. Bukan genderang perang. Pemilu atau Pilkada itu sama sekali bukan perang, walaupun kadang gelora kampanyenya seperti seolah olah mau perang. Sentimen (mood) pemilihan ada di mana mana. Genderang pemilihan membahana bahkan di tingkat propinsi dan kabupaten. Suasana agak sedikit memanas. Ada yang bilang ini pesta pora demokrasi. Bagi saya sama sekali bukan pesta pora. Rasa ketar ketir setiap kali ketemu rombongan kampanye di jalan raya.
Para tokoh dan politisi yang berambisi terpilih nampak siap berlaga. Masyarakat seolah disibukkan atau terpaksa larut secara emosional dalam kegiatan kampanye, baik yang secara aktif menikmati hiruk pikut itu, atau bahkan yang ketar ketir terkena imbas di jalan raya. Semua terlibat baik secara aktif atau pasif dalam hiruk pikuk kampanye. Katakanlah itu pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, DPR, bahkan lurah. Hanya pemilihan ketua RT yang sepi dan senyap, tak ada gelora kampanye. Orang jadi ketua RT karena semangat sukarela dan pengorbanan. Tak ada kekuasaan tak ada otoritas yang bisa dibelokkan untuk kepentingan pribadi. Jarang ketua RT terlibat dalam penggelapan harta negara.
Banyak terjadi perubahan perlaku para tokoh dan pimpinan politik. Perilaku untuk memikat pemilih. Yang tadinya suka dugem, untuk jaim (jaga image) mulai banyak ikut pengajian, diskusi kelompok di masyarakat, atau bahkan tirakat. Jika memungkinkan semua diskusi kelompon dan seminar diikuti, mulai dari perdamaian dunia, terorisme, pelecehan seksual, hak azasi manusia, good governance. Sebagian ada yang kemudian mendekatkan diri dengan tokoh tokoh para normal untuk sekedar minta doa restu, berkah sampai ke dukungan supranatural. Mantan Gubernur Jakarta nampak sangat akrab berfoto dengan Mbah Maridjan, untuk meluruskan jalan ke RI 1. Mbah Maridjan urusannya sebenarnya hanya mengamati gunung Merapi, menandingi para pakar gunung api dari Lembaga Geologi di tingkat propinsi dan nasional. Tetapi karena ada demand spiritual dari dunia politik dan selebritis, ya mau sekedar turun gunung memenuhi demand budaya pop politik masa kini. Saling menguntungkan.
Lokasi lokasi untuk nyepi tidak lagi sepi. Banyak tokoh yang tiba tiba senang nyepi. Bisa ke Parangtritis untuk ngalap berkah Nyai Loro Kidul. Nyai Loro Kidul juga senang disambangi tokoh2 ini. Betapa sepinya hidup di bawah laut sendirian. Kalau ada calon yang datang menyambangi apa salahnya. Peri pun juga perlu hiburan. Dunia memang berubah. Nyai Loro Kidul juga kadang kala suka dugem, apa lagi sama calon Gubernur atau Bupati. Gunung yang kesohor untuk nyepi juga makin banyak dikunjungi, Gunung Kawi, Gunung Kendalisodo, Gunung Srandil dan lain lain. Namun jangan lupa, gunung2 ini khasiatnya beda beda untuk nyepi. Kalau mau kaya nyepilah ke gunung Kawi. Kalau mau cari WIL atau PIL, nyepilah ke gurung Srandil. Kalau mau naik pangkat nyepilah ke Gunung Kendalisodo. Kalau mau menang pemilihan, datanglah ke pantai Parangtritis.
Jangan sampai nyepi di tempat yang salah. Penginnya cari sebanyak mungkin pendukung, salah salah bisa dapat WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain). Di Indonesia punya WIL atau PIL adalah kontra indikasi untuk terpilih. Hanya presiden Clinton yang bisa menang PEMILU sekaligus dapat WIL Monica Lewinski. Jangan sampai ketahuan kalau punya WIL atau PIL, kalau mau menang.
Buat orang awam seperti saya, datangnya masa kampanye Pemilu kadang terasa seperti datangnya bencana yang terencana. Jalanan macet, kadang harus menunggu berjam jam sampai barisan kampanye lewat. Masih untung kalau mobil tak digores gores. Tetapi jelas mobil akan di gebrak gebrak jika ada barisan kampanye lewat.
Pemilihan di tingkat manapun selalu menebarkan suasana hingar bingar, tak nyaman dan tak aman untuk kalangan awan. Kapankan para pimpinan partai politik dan organisasi massa ini mampu menciptakan suasana sejuk dan damai dalam pemilihan ? Tidak kah mereka punya kamus kata kata sejuk, kata kata damai dengan toleransi ? Membakar massa untuk berperilaku keras dan sok heroik bisa dilakukan siapa saja. Jika kemampuannya hanya mampu membakar massa, tetapi tak mampu meciptakan kesejukan dan tak mampu menyejahterakan masyarakat, bukanlah karakter pemimpin yang bijak.
Sebagai orang awam saya tak banyak bisa menyumbang bagaimana menciptakan suasana pemilu yang damai dan sejuk. Tetapi karena saya ada minat perdukunan dan perintelan, saya mencoba menyumbangkan sesuatu. Saya berusaha menggelar satu operasi sandi melincinkan pemilihan. Saya namakan dengan kode sandi operasi PILKADA. Operasi khusus pemilihan damai dan sejuk. Kombinasi operasi dukun dan intel ini akan melibatkan berbagai unit intelijen dari badan badan terkait di tingkat nasional, KopKamtibus, Kasipidus, Balibangopsus, Baopsusintel, Polkamsus. Saya juga nggak dhong arti singkatan singkatan ini. Yang saya tahu hanyasingkatan TONANGKIMA (Peleton Angkutan Kompi Lima) di dekat kraton Yogya , DANCUKPELI (komandan pucuk peluru kendali) di Surabaya. Tetapi badan badan tersebut belum saatnya masuk dalam koordinasi intelijen operasi ini.
Saya akan menggelar operasi sandi untuk membersihkan mimpi yang tak rasional, mimpi pengin jadi presiden, atau jadi gubernur. Kalau mau mimpi, mimpilah jadi ketua RT. Banyak anak kecil suka diberi pesan agar bermimpi jadi presiden atau gubernur. Ini bisa merusak stabilitas nasional. Maka target operasi saya akan saya persempit ke guru guru TK. Sebagian besar dari mereka adalah figur2 lembut, cantik dan menarik. Saya selalu mengagumi guru TK sejak masa kanak kanak. Memandangpun orang bisa terbawa hanyut. Tetapi karena saya berjiwa INTEL, rasa pribadi ini saya redam. Ini prinsip, titik. Tetapi jika ibu ibu guru ini ngajari anak anak TK jadi presiden atau gubernur, ini bisa membahayakan stabilitas nasional. Sebagai abdi negara (bukan abdi dalem), saya harus bertindak decisive.
Ada dua strategi dalam operasi sandhi ini. Pertama dengan memonitor mimpi anggota masyarakat. Para tokoh spiritual atau dukun yang kampiun akan saya kumpulkan untuk mengembangkan alat khusus yang bisa memonitor mimpi seseorang di masyarakat. Karena tingkat kesulitan spiritualnya tinggi, mungkin para dukun ini akan minta kenduri dengan menyembelih kambing dan sapi sampai empat puluh ekor. Ini terlalu mahal dan boros. Kalau syarat motong ayam 7 ekor sih boleh. Kalau kambing atau sapi sampai empat puluh, payah. Kalau mereka sekedar pengin sate atau gulai kambing, bisa saya traktir.
Strategi kedua adalah memonitor materi yang diajarkan oleh ibu ibu guru TK ini. Jangan jangan disisipkan pesan tersamar agar bercita cita jadi presiden atau gubernur. JIka ada murid TK yang diberitahu ibunya agar kelak jadi presiden atau gubernur, ibu ini akan saya litsus. Litsus itu kepanjangannya adalah penelitian khusus di jaman Orba. Rencana operasi sandi ini siap digelar dan dikoordinasi lintas sektoral.
Namun sebelum digelar saya merenung, tidakkah para pemimpin partai dan kelompok kelompok politik ini punya strategi alternatif untuk menciptakan suasana pemilu yang sejuk dan damai. Mungkin dengan melihat rencana operasi sandhi ini bisa mendorong mereka untuk mencari alternatif alternatif yang lebih rasional. Ketakutan saya kalau mereka malah melaksanakan strategi konyol yang saya uraikan di sini. Jamane jaman edan.
Salam damai Ki Ageng Similikithi
Saturday, November 17, 2007
Saturday, November 10, 2007
Khayalan dan cita cita masa kecil
Saya menulis cerita ini dalam perjalanan Manila Amsterdam. Dengan maskapai KLM. Pesawat tak begitu penuh. Langit cerah membiru di luar. Terbang melintas di atas awan. Kota Manila mendung pagi tadi. Tetapi begitu pesawat menembus awan, langit begitu cerah di atas. Badan masih terasa letih ok kurang tidur semalam. Di bandara Aquino sempat tertidur sejenak waktu massage di lounge. Lingkungan cepat berganti, seminggu yang lalu sore2 begini masih bisa menikmati keindahan sungai Tonle Sap di Phnom Penh.
Pukul 300 sore waktu Manila. Tak bisa tidur di pesawat. Hamparan awan putih sebatas cakrawala. Ingatan saya melayang lebih lima puluh tahun lalu. Sebelum masuk sekolah dasar di tahun lima puluhan. Belum punya banyak teman ok pergaulan masih terbatas. Hanya dengan teman tetangga di sebelah timur kebun kami. Tak pernah bermain melewati jalan raya. Itulah demarkasi tak tertulis dunia pergaulan saya waktu itu. Awal pengembaraan dunia. Ada dua teman seumur, Jumadi dan Kamto. Rumahnya di sebelah timur gereja. Masih ada kelompok di bawah umur kami. Jumari adiknya Jumadi. Warno adiknya Kamto dan Gondo adik saya. Mereka tak selalu ikut dengan kami bertiga . Mereka belum punya kematangan emosional mengeksplorasi dunia mikro sekitar kami.
Waktu itu saya selalu membayangkan bisa terbang di atas awan. Membelai awan putih yang lembut. Beristirahat dan tiduran di balik awan yang berarak arakan itu. Melanglang dunia. Tak hanya terkungkung demarkasi jalan raya di muka kebun kami. Kadang kami tiduran di halaman gereja dan mengawati awan yang begitu anggun di langit. Sambil memejamkan mata bermain membayangkan seolah kami berlari lari, bersembunyi di antara awan yang indah. Hanya angan angan anak kecil semata. Kebiasaan berangan angan ini terbawa sampai tua. Saya dengan anak anak saya sering bermain sambil tiduran dan membayangkan seolah terbang melintasi awan awan itu. Dunia anak anak. Hanya membayangkan dan memimpikan yang indah indah saja.
Kadang kami mengamati burung burung terbang dan bernyanyi riang di kebun. Ada kepodang, pelatuk, kutilang, kacer, derkuku, manyar, prenjak, emprit peking, srigunting, gagak dan masih banyak yang lain. Kami selalu membayangkan ingin terbang seperti burung burung itu. Selalu beradu pendapat seolah kami adalah burung burung itu. Jika dewasa kami ingin seperti kepodang yang menyanyi anggun, kutilang yang ceria. Saya selalu membayangkan ingin seperti burung sikatan yang begitu gesit dan trengginas. Tak banyak bernyanyi. Tak banyak bersuara. Tetapi kecepatan terbang dan manuvernya luar biasa. Setiap habis mengamati burung burung itu selalu adu pendapat, burung mana yang menjadi idola. Saya tak begitu menyukai burung kacer, walaupun kicauannya indah, suka makan singgat kotoran sapi.
Suatu malam ibu saya bertanya, kalau saya besar ingin jadi apa? Saya jawab, ingin jadi burung sikatan yang gesit. Ibu saya tak senang mendengar jawaban saya. Orang tak bisa jadi burung sampai kapanpun. Tak masuk akal. Paginya saya menyampaikan pesan singkat ke Jumadi. Mulai saat itu saya tak akan membayangkan ingin jadi burung. Tak mungkin. Kami tak banyak mempersoalkan impian jadi burung lagi. Tetapi tetap memuja dan menyukai berbagai jenis burung yang kami kenal. Beberapa tahun kemudian, Gondo berhasil menangkap beberapa burung kutilang dengan jerat. Entah bagaimana kemudian, dia mampu memelihara dan menjadikan burung2 itu pomah (domestic). Nggak di taruh dalam sangkar tetapi bebas di rumah kami. Kadang2 bermain dengan anjing dan mencari kutu di badan anjing tua Pleki.
Suatu pagi kami mendapat cerita tentang Antareja, satria dari cerita Mahabarata, yang mampu hidup di bawah tanah dan air. Dia hanya muncul ke permukaan kalau kangen sama kakaknya Gatotkaca yang bisa terbang. Saya lupa siapa yang cerita, mungkin
Rahmat, tetangga seberang jalan raya yang sudah sekolah. Pagi itu kami duduk duduk di tepi kolam kecil di belakang rumah mBah Kastubi, tetangga sebelah timur kebun saya. (Cucu mBah Kastubi, Purwitono adalah pembaca Koki, saat ini tinggal di Pekan Baru). Mungkin karena imbas cerita tentang Antareja, si Jumari yang kira kira baru berumur empat tahun, berteriak keras dan terjun masuk kolam. Kami tak ada yang berani terjun menolongnya. Saya berteriak sekeras kerasnya. Ada seseorang datang berlari dan menolongnya. Selamat tak ada korban. Hanya Jumari menangis berkepanjangan. Mendengar teriakan saya, saya sama Gondo, dipanggil pulang. Ibu saya memberi peringatan, tidak boleh cerita macam macam, bisa bikin nasib apes atau sial. Hanya dampak khayalan anak anak.
Kami saat itu memang belum mampu membedakan, mana khayalan, mana angan angan, mana impian, mana cita cita. Campur aduk jadi satu. Mixed up. Mulai mengarah ke jalan impian atau cita cita, beberapa tahun kemudian, sewaktu di sekolah rakyat. Guru saya bertanya, Ki kalau dewasa pengin jadi apa ? Karena sering mendengar mitos putri Solo, saya jawab lugas 'Pengin dapat isteri putri Solo". Guru saya terhenyak, Itu bukan cita cita Ndhul. Impianmu ora nggenah. Sewaktu Jumadi ditanya, dia serentak menjawab " Ingin jadi Samson". Guru saya bilang, nggak mungkin cerita Samson sudah lama berlalu ribuan tahun lalu. Tetapi dia juga yang menceritakannya ke kami. Ternyata cita cita itu masih kabur. Istilah manajemennya mungkin, 'not well defined, not tangible, not measurable and not achievable".
Ada seorang blantik (pedagang hewan sapi atau kambing) yang sering datang ke rumah waktu itu. Di mata saya dia sangat gagah.Selalu memegang pecut pendek, celana hitam sampai dibawah lutut, dan sarung melilit pinggang. Topi hitam lebar, lebih banyak dipegang di tangan dari pada dipakai di kepala. Jika menilai sapi dia tak pernah menatap langsung sapi dengan kedua matanya, tetapi hanya melirik sebelah mata. Seolah dialah penguasa dunia binatang itu. Baru kemudian saya tahu kalau dia memang juling. Suatu saat saya bilang ke ibu saya, kalau dewasa saya ingin jadi blantik sapi saja. Apa, belantik kathok kombor itu ? Tak mungkin ! Bapakmu guru, kalau mau niru jadi guru, jadilah insinyur atau dokter dulu. Saya akan berjuang dan berdoa untukmu. Mulai saat itu, cita cita mulai muncul di cakrawala. Walau belum membayangkan jelas, kayak apa itu insinyur. Dokter yang saya tahu hanya, dokter Djajus di Ambarawa. Gagah dan isterinya cantik luar biasa. Belum ada insinyur di Ambarawa waktu itu.
Jumadi kemudian pernah berucap ingin jadi guru. Bahkan dia sudah mengarang nama belakang, kalau dia nanti jadi guru. Sedangkan Kamto pengin memelihara kuda. Hanya orang yang punya ketrampilan khusus yang mampu menguasai kuda. Kami omong omong di bawah rumpun bambu waktu itu. Menyedihkan, beberapa tahun kemudian Jumadi tak meneruskan sekolahnya. Beban beaya terlalu berat waktu itu. Kamto memang punya andong dan kuda di waktu tua. Saya pernah naik andhongnya dengan anak anak sewaktu pulang dari Inggris di tahun 1983.
Cita cita memang campur aduk dengan khayalan, angan angan dan impian. Hanya perkembangan waktu yang akan mematangkan cita cita anak anak. Keputusan terpenting dalam hidup saya sewaktu lulus SMA, mau masuk ITB untuk belajar teknik atau Gadjah Mada belajar kedokteran. Saya ambil pilihan kedua oleh karena lebih dekat dengan kemanusiaan.
Mungkin hanya orang yang agak konyol yang tak bisa membedakan mana angan angan, impian dan cita cita. Di tahun tujuh puluhan, ada seorang tokoh yang mimpi jadi presiden RI. Katanya ketiban wahyu. Kemudian dia mengumpulkan teman temannya dan membuat surat pernyataan untuk ditanda tangani presiden RI waktu itu. Isinya presiden RI menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada sang pemimpi ini. Semua rencana sudah matang, tetapi baru mau minta waktu ke Cendana, sudah ditangkap Kopkamtib, dituduh makar. Masuk penjara 7 tahun.
Untung impian impian alamiah masa kecil saya waktu itu hanya untuk diri sendiri dan terbatas dalam kelompok kami saja. Dan belum ada Kopkamtib waktu itu, yang mampu mendeteksi mimpi. Terutama mimpi yang bisa mengganggu stabilitas nasional. Ada radar khusus untuk ini, dipesan dari seorang dukun yang berkaliber internasional. Banyak anak berkhayal ingin jadi presiden. Kalau Kopkamtib masih ada anak anak ini bisa di litsus atau opsus. Paling tidak bapak ibunya diberi pengarahan politik stabilitas nasional.
Saya tak dapat isteri putri Solo. Juga tak pernah pacaran sama orang Solo. Selalu kalah wibawa berhadapan dengan gadis Solo di tahun tujuh puluhan. Tetapi Nyi Ageng kalau tanggal muda juga ceria kayak putri Solo. Walaupun tak berjalan seperti macan luwe (macan lapar).
Ah angan angan saya kok kapan kapan pengin ngumpulkan teman teman masa kecil dulu. Mengevaluasi kayalan kayalan dan impian masa kecil dulu. Mumpung masih ada waktu.
Di luar sana matahari masih bersinar terang. Pramugari lewat menawari minuman. Saya ambil champagne.
Salam dari balik awan.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber 7November 2007)
Pukul 300 sore waktu Manila. Tak bisa tidur di pesawat. Hamparan awan putih sebatas cakrawala. Ingatan saya melayang lebih lima puluh tahun lalu. Sebelum masuk sekolah dasar di tahun lima puluhan. Belum punya banyak teman ok pergaulan masih terbatas. Hanya dengan teman tetangga di sebelah timur kebun kami. Tak pernah bermain melewati jalan raya. Itulah demarkasi tak tertulis dunia pergaulan saya waktu itu. Awal pengembaraan dunia. Ada dua teman seumur, Jumadi dan Kamto. Rumahnya di sebelah timur gereja. Masih ada kelompok di bawah umur kami. Jumari adiknya Jumadi. Warno adiknya Kamto dan Gondo adik saya. Mereka tak selalu ikut dengan kami bertiga . Mereka belum punya kematangan emosional mengeksplorasi dunia mikro sekitar kami.
Waktu itu saya selalu membayangkan bisa terbang di atas awan. Membelai awan putih yang lembut. Beristirahat dan tiduran di balik awan yang berarak arakan itu. Melanglang dunia. Tak hanya terkungkung demarkasi jalan raya di muka kebun kami. Kadang kami tiduran di halaman gereja dan mengawati awan yang begitu anggun di langit. Sambil memejamkan mata bermain membayangkan seolah kami berlari lari, bersembunyi di antara awan yang indah. Hanya angan angan anak kecil semata. Kebiasaan berangan angan ini terbawa sampai tua. Saya dengan anak anak saya sering bermain sambil tiduran dan membayangkan seolah terbang melintasi awan awan itu. Dunia anak anak. Hanya membayangkan dan memimpikan yang indah indah saja.
Kadang kami mengamati burung burung terbang dan bernyanyi riang di kebun. Ada kepodang, pelatuk, kutilang, kacer, derkuku, manyar, prenjak, emprit peking, srigunting, gagak dan masih banyak yang lain. Kami selalu membayangkan ingin terbang seperti burung burung itu. Selalu beradu pendapat seolah kami adalah burung burung itu. Jika dewasa kami ingin seperti kepodang yang menyanyi anggun, kutilang yang ceria. Saya selalu membayangkan ingin seperti burung sikatan yang begitu gesit dan trengginas. Tak banyak bernyanyi. Tak banyak bersuara. Tetapi kecepatan terbang dan manuvernya luar biasa. Setiap habis mengamati burung burung itu selalu adu pendapat, burung mana yang menjadi idola. Saya tak begitu menyukai burung kacer, walaupun kicauannya indah, suka makan singgat kotoran sapi.
Suatu malam ibu saya bertanya, kalau saya besar ingin jadi apa? Saya jawab, ingin jadi burung sikatan yang gesit. Ibu saya tak senang mendengar jawaban saya. Orang tak bisa jadi burung sampai kapanpun. Tak masuk akal. Paginya saya menyampaikan pesan singkat ke Jumadi. Mulai saat itu saya tak akan membayangkan ingin jadi burung. Tak mungkin. Kami tak banyak mempersoalkan impian jadi burung lagi. Tetapi tetap memuja dan menyukai berbagai jenis burung yang kami kenal. Beberapa tahun kemudian, Gondo berhasil menangkap beberapa burung kutilang dengan jerat. Entah bagaimana kemudian, dia mampu memelihara dan menjadikan burung2 itu pomah (domestic). Nggak di taruh dalam sangkar tetapi bebas di rumah kami. Kadang2 bermain dengan anjing dan mencari kutu di badan anjing tua Pleki.
Suatu pagi kami mendapat cerita tentang Antareja, satria dari cerita Mahabarata, yang mampu hidup di bawah tanah dan air. Dia hanya muncul ke permukaan kalau kangen sama kakaknya Gatotkaca yang bisa terbang. Saya lupa siapa yang cerita, mungkin
Rahmat, tetangga seberang jalan raya yang sudah sekolah. Pagi itu kami duduk duduk di tepi kolam kecil di belakang rumah mBah Kastubi, tetangga sebelah timur kebun saya. (Cucu mBah Kastubi, Purwitono adalah pembaca Koki, saat ini tinggal di Pekan Baru). Mungkin karena imbas cerita tentang Antareja, si Jumari yang kira kira baru berumur empat tahun, berteriak keras dan terjun masuk kolam. Kami tak ada yang berani terjun menolongnya. Saya berteriak sekeras kerasnya. Ada seseorang datang berlari dan menolongnya. Selamat tak ada korban. Hanya Jumari menangis berkepanjangan. Mendengar teriakan saya, saya sama Gondo, dipanggil pulang. Ibu saya memberi peringatan, tidak boleh cerita macam macam, bisa bikin nasib apes atau sial. Hanya dampak khayalan anak anak.
Kami saat itu memang belum mampu membedakan, mana khayalan, mana angan angan, mana impian, mana cita cita. Campur aduk jadi satu. Mixed up. Mulai mengarah ke jalan impian atau cita cita, beberapa tahun kemudian, sewaktu di sekolah rakyat. Guru saya bertanya, Ki kalau dewasa pengin jadi apa ? Karena sering mendengar mitos putri Solo, saya jawab lugas 'Pengin dapat isteri putri Solo". Guru saya terhenyak, Itu bukan cita cita Ndhul. Impianmu ora nggenah. Sewaktu Jumadi ditanya, dia serentak menjawab " Ingin jadi Samson". Guru saya bilang, nggak mungkin cerita Samson sudah lama berlalu ribuan tahun lalu. Tetapi dia juga yang menceritakannya ke kami. Ternyata cita cita itu masih kabur. Istilah manajemennya mungkin, 'not well defined, not tangible, not measurable and not achievable".
Ada seorang blantik (pedagang hewan sapi atau kambing) yang sering datang ke rumah waktu itu. Di mata saya dia sangat gagah.Selalu memegang pecut pendek, celana hitam sampai dibawah lutut, dan sarung melilit pinggang. Topi hitam lebar, lebih banyak dipegang di tangan dari pada dipakai di kepala. Jika menilai sapi dia tak pernah menatap langsung sapi dengan kedua matanya, tetapi hanya melirik sebelah mata. Seolah dialah penguasa dunia binatang itu. Baru kemudian saya tahu kalau dia memang juling. Suatu saat saya bilang ke ibu saya, kalau dewasa saya ingin jadi blantik sapi saja. Apa, belantik kathok kombor itu ? Tak mungkin ! Bapakmu guru, kalau mau niru jadi guru, jadilah insinyur atau dokter dulu. Saya akan berjuang dan berdoa untukmu. Mulai saat itu, cita cita mulai muncul di cakrawala. Walau belum membayangkan jelas, kayak apa itu insinyur. Dokter yang saya tahu hanya, dokter Djajus di Ambarawa. Gagah dan isterinya cantik luar biasa. Belum ada insinyur di Ambarawa waktu itu.
Jumadi kemudian pernah berucap ingin jadi guru. Bahkan dia sudah mengarang nama belakang, kalau dia nanti jadi guru. Sedangkan Kamto pengin memelihara kuda. Hanya orang yang punya ketrampilan khusus yang mampu menguasai kuda. Kami omong omong di bawah rumpun bambu waktu itu. Menyedihkan, beberapa tahun kemudian Jumadi tak meneruskan sekolahnya. Beban beaya terlalu berat waktu itu. Kamto memang punya andong dan kuda di waktu tua. Saya pernah naik andhongnya dengan anak anak sewaktu pulang dari Inggris di tahun 1983.
Cita cita memang campur aduk dengan khayalan, angan angan dan impian. Hanya perkembangan waktu yang akan mematangkan cita cita anak anak. Keputusan terpenting dalam hidup saya sewaktu lulus SMA, mau masuk ITB untuk belajar teknik atau Gadjah Mada belajar kedokteran. Saya ambil pilihan kedua oleh karena lebih dekat dengan kemanusiaan.
Mungkin hanya orang yang agak konyol yang tak bisa membedakan mana angan angan, impian dan cita cita. Di tahun tujuh puluhan, ada seorang tokoh yang mimpi jadi presiden RI. Katanya ketiban wahyu. Kemudian dia mengumpulkan teman temannya dan membuat surat pernyataan untuk ditanda tangani presiden RI waktu itu. Isinya presiden RI menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada sang pemimpi ini. Semua rencana sudah matang, tetapi baru mau minta waktu ke Cendana, sudah ditangkap Kopkamtib, dituduh makar. Masuk penjara 7 tahun.
Untung impian impian alamiah masa kecil saya waktu itu hanya untuk diri sendiri dan terbatas dalam kelompok kami saja. Dan belum ada Kopkamtib waktu itu, yang mampu mendeteksi mimpi. Terutama mimpi yang bisa mengganggu stabilitas nasional. Ada radar khusus untuk ini, dipesan dari seorang dukun yang berkaliber internasional. Banyak anak berkhayal ingin jadi presiden. Kalau Kopkamtib masih ada anak anak ini bisa di litsus atau opsus. Paling tidak bapak ibunya diberi pengarahan politik stabilitas nasional.
Saya tak dapat isteri putri Solo. Juga tak pernah pacaran sama orang Solo. Selalu kalah wibawa berhadapan dengan gadis Solo di tahun tujuh puluhan. Tetapi Nyi Ageng kalau tanggal muda juga ceria kayak putri Solo. Walaupun tak berjalan seperti macan luwe (macan lapar).
Ah angan angan saya kok kapan kapan pengin ngumpulkan teman teman masa kecil dulu. Mengevaluasi kayalan kayalan dan impian masa kecil dulu. Mumpung masih ada waktu.
Di luar sana matahari masih bersinar terang. Pramugari lewat menawari minuman. Saya ambil champagne.
Salam dari balik awan.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber 7November 2007)
Wednesday, November 7, 2007
Jaket musim dingin
Salam dari Geneva. Cuaca sudah terasa dingin walau belum menggigit sekali. Baru menembus kulit, belum sampai tulang. Mungkin sekitar lima derajat. Tetapi sudah harus memakai pakaian hangat. Jaket hangat musim dingin. Buat yang tinggal di negeri tropis seperti saya, kadang ingatan tak otomatis datang, untuk siap dengan pakaian hangat. Ada sesuatu yang tak biasa dilakukan yang terpaksa harus dilakukan, jika datang waktu musim dingin ke negara empat musim. Kadang terasa agak repot, tak praktis. Ini yang sedkit saya rasakan sekarang.
Beberapa tahun lalu saya berkunjung ke Mongolia, di bulan Mei. Mestinya sudah mulai musim semi dan cuaca tak terlalu dingin. Ternyata suhu masih sekitar 3 dejajat, dan nggak bawa jaket dan pakaian hangat. Untung hanya tiga hari. Jatuh sakit dan cepat cepat kembali ke Manila. Jika mungkin maunya menghindari perjalanan di musim dingin ke negara negara seperti Mongolia dan China.
Perjalanan kali ini juga tak mungkin dihindari. Mau tak mau harus pakai jaket dan pakaian hangat walau terasa agak risih dan berat. Kalau pas pakai coat kok badan seperti melembung kayak kalkun. Tambahan lagi saya nggak terbiasa lagi pakai kaos dalam sejak tiga puluh tahun terakhir. Pakai kaos hanya kalau pakai pakaian Jawa, itupun paling lama hanya tiga jam, kalau ada acara mantenan.
Dua hari lalu sewaktu naik bis dari stasiun Cornavin ke Appia Avenue, ke kantor pusat, dua orang penumpang yang duduk berseberangan menatap aneh jaket saya. Jaket warna krem dengan model lumayan trendi saya beli beberapa tahun lalu di Manila. Nggak nampak ndesit (ndeso) sama sekali dengan jaket itu. Ternyata ada noda merah di lengan kiri. Saya tidak cek di Manila sewaktu ambil dari penatu. Noda tak begitu menyolok, bisa ditutupi dengan menggulung sedikit lengan jaket. Tetapi perasaan agak terganggu, nggak PD. Ketemu seorang kawan lama di koridor, Detta. Cipika cipiki,dia menyapa akrab. "What happen to you ? Having accident or killing somebody ? Ternyata dia melihat noda merah di lengan kiri jaket saya. Asyem, pikir saya makin terganggu !
Hanya sekedar penghangat badan. Tetapi seperti halnya topi, cincin, dan syaal saya selalu punya rasa dan kenangan khusus dengan atribut2 tersebut. Perkenalan dengan jaket hangat pertama kali bulan Januari 1980. Pertama kali ke Inggris waktu itu untuk menjalani pendidikan paska sarjana. Saya dapat pinjaman dari adik ipar, jaket panjang atau coat terbuat dari bahan kordore. Modelnya juga sangat pas waktu itu, panjang sampai sedikit di bawah lutut. Model intel tetapi warnanya coklat lembut. Belum kuat beli sendiri. Gaji pegawai negeri pertama kali belum penuh waktu itu, hanya empat puluh lima dollar per bulan.
Di Newcastle, di tahun 1982, Nyi mendesak agar saya beli jaket dengan model yang lebih sport dan casual. Akhirnya dapat di Marks Spencer, jaket sedang sampai di atas lutut. Warna krem ringan bahan polyester. Serbaguna oleh karena waterproof, tetapi tidak rainproof. Harganya relatif murah. Hanya 24.99 sterling waktu itu. Dua saku besar di depan dan di samping kiri dan kanan, sangat mengenakkan. Bisa sebagai tempat penyimpangan logistik sementara. Kotak makan, pisang raja dan buah apel bisa tertampung tanpa nampak melembung. Jaket ini berumur sampai beberapa tahun. Saya lupa nasib jaket itu waktu kembali ke Yogya. Kalau nggak salah saya berikan ke tenaga yang membantu menata rumah di Condongcatur di tahun 1985 .
Kami kembali ke Indonesia tahun 1983. Di pertengahan delapan puluhan mulai terlibat konsultasi ke banyak tempat. Saya masih ingat benar waktu itu kesukaan saya adalah jaket kulit. Satu warna coklat tak merata, saya beli New Delhi. Satu warna krem beli di Nepal. Dan satu warna hijau muda pemberian adik saya buatan Salatiga. Modelnya lumayan bagus. Sayang ketiganya bernasib malang Di kerokoti tikus sewaktu digantung di dinding. Mungkin baunya masih peka untuk tikus. Oh ya saya masih ingat ada satu lagi jaket kulit warna hitam beli di Madras. Beberapa tahun dipakai kok lantas jadi kaku sekali, bisa disandarkan di dinding. Saya tak pernah lagi berniat punya jaket kulit. Namun tiga tahun kemarin anak saya kedua menghadiahkan satu jaket kulit dan satu jaket kasual untuk dipakai sehari hari. Bukan untuk musim dingin. Jarang saya memakai jaket kulit sekarang, sudah umur rasanya nggak pas saja. Setiap kali pakai jaket kulit, malah ditanya 'sedang sakit?'
Di akhir delapan puluhan, setahun dua kali harus ke Washington ok kebetulan jadi penasehat salah satu lembaga standarisasi obat di sana (US Pharmacopeia). Sudah lama sekali tak ingat tempat tempatnya secara tepat. Kantor tempat rapat di Rokville Pike di Bethesda kalau ngak salah. Suatu sore jalan jalan mau beli kacamata, ada saudara minta di belikan Ray Ben. Nggak dapat kaca matanya. Tetapi malah tertarik ada coat (jas panjang) dari kain drill halus warna abu abu. Model seperti seragam musim dingin tentara Rusia. Ada ikat pinggang dengan timang keemasan, ada lipatan di kedua pundak seperti untuk menempatkan tanda pangkat. Ada topi yang bisa dilepas. Saya sudah beberapa waktu ingin jas model itu tetapi harganya di Eropa mahal betul. Overcoat itu buatan Meksiko, harga cuma 99 dollar.
Senang sekali memakai jas panjang, sampai di bawah lutut. Sedikit terasa agak berat dan susah dipakai kasual. Terlalu resmi dan nggak ramping. Sampai sekarang masih sering saya pakai kalau pas pergi musim dingin. Mungkin akan tambah pas kalau dipakai dengan sepatu lars tinggi. Saya punya beberapa model topi dan syaal yang pas dengan jas panjang ini. Dua tahun lalu ketinggalan sewaktu makan di restaurant di Geneva. Saya minta di kirim kehotel pakai taksi, bayar 25 franc. Jas itu nilainya nggak sampai segitu sekarang tetapi tak apa saya masih senang. Terkesan kalem dan nggak bisa berkelebat ke sana kemari oleh karena memang agak berat.
Beberapa tahun lalu sesudah pindah ke Manila, saya menemukan jaket hangat seperti yang dulu saya beli di Newcastle itu. Tak sengaja waktu jalan jalan di Shoemart Harison Plaza. Warna krem persis jaket hangat saya dua puluh tahun sebelumnya. Terasa ringan dan ramping, panjang di atas lutut. Cocok dipakai jika hawa tak sangat dingin. Terlalu tipis jika musim dingin telah tiba di bulan Januari atau Desember. Entah berapa kali jaket ini ketinggalan, di tempat rapat, di rumah makan, tetapi masih selalu saya temukan kembali. Empat minggu lalu sekembali dari Geneva, saya kirim ke laundry kok tahu tahu sekarang ada noda merah. Apalagi dengan kantong dua besar besar. Bisa untuk menyembunyikan tangan dari hawa dingin.
Siang tadi saya memakai jaket itu berjalan jalan menyusuri tepi danau Geneva. Rencana pengin ke Jardine botanical garden. Tetapi kok terasa dingin dan capai oleh karena semalam beberapa kali terbangun. Tetangga kamar berkali kali bicara keras dengan temannya di koridor. Hanya berjalan jalan melihat orang lalu lalang. Tak sengaja melihat beberapa model jaket di satu toko di rue Chantepoulet. Hanya melihat sebentar, ada dua model yang menarik. Satu warna abu2 agak gelap dan satunya coklat kemerahan. Jaket pendek di atas lutut. Menelusuri tepian danau. Sangat indah dan bersih.
Setelah lepas jalan di sekitar danau, saya kembali ke toko itu dan mulai saya mencoba-coba. Kelihatan pas dan ringan. Penjaga toko dua orang muda mudi, mungkin kakak beradik, sekitar umur dua puluh tahunan. Tak banyak pengunjung. Hanya ada dua orang pengunjung di samping saya. Musik reggae menggema dalam ruang toko ukuran sedang dan tertata sangat artistik. Saya tanya ke kedua orang tadi. Anda suka dansa dengan irama lagu itu ? Mereka hanya menggeleng, bahasa Inggrisnya tak lancar sama sekali. Si gadis memanggil ibunya, nggak tahu omong apa. Anda suka ballroom, Tanya si mama? Yes of course. Kami sempat dansa reggae di dalam toko sekitar 2 menit. Pengunjung satunya agak terperanjat. I will reduce the price 20 france for the dance. Asem nggak dikorting 20 france pun pasti saya ambil jaket itu. Coklat kemerahan buatan Jerman. Lumayan murah harga salenya hampir separohnya.
Waktu di hotel saya tilpun Nyi. Dia pengin dibelikan sekalian. Coat yang Nyi miliki beli di pasar Hong Kong dua tahun lalu. Sangat sederhana dan ukuran kekecilan. Buru buru kembali ke toko itu dengan memakai jaket yang coklat kemerahan itu. You are lucky to have that jacket, katanya. Tak banyak pilihan untuk wanita. Hanya ada satu model dan relatif konvensional sekali. Saya keseberang jalan, ada toko khusus busana wanita. Sepi tak ada pengunjung. Ada dua penjaga wanita, relatif usia lanjut. Tak lancar bahasa Inggris tetapi mencoba menjelaskan berbagai model yang mereka punya. Beberapa jaket dengan harga diskon. Ada satu warna lumut yang modelnya kelihatan cocok untuk Nyi. Saya tilpun NYI menyesuaikan ukurannya. Saya putuskan ambil jaket itu. Sambil nunggu saya bilang ke penjaga toko itu, "Please write the original price, not the discounted price". Dia tertawa, '' You are terrible", katanya. I am trying to be a good husband. Whatever !
Saya berjalan lembali ke hotel. Hanya tentang jaket hangat musim dingin. Membawa kembali ingatan riwayat jaket jaket saya sebelumnya. Saya memakainya dengan rasa senang dan sayang, with great affection. Cintailah dan sayangilah apa pun yang anda miliki. Hidup terasa indah dan damai.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita KOmpas Cyber 5 November 2007)
Beberapa tahun lalu saya berkunjung ke Mongolia, di bulan Mei. Mestinya sudah mulai musim semi dan cuaca tak terlalu dingin. Ternyata suhu masih sekitar 3 dejajat, dan nggak bawa jaket dan pakaian hangat. Untung hanya tiga hari. Jatuh sakit dan cepat cepat kembali ke Manila. Jika mungkin maunya menghindari perjalanan di musim dingin ke negara negara seperti Mongolia dan China.
Perjalanan kali ini juga tak mungkin dihindari. Mau tak mau harus pakai jaket dan pakaian hangat walau terasa agak risih dan berat. Kalau pas pakai coat kok badan seperti melembung kayak kalkun. Tambahan lagi saya nggak terbiasa lagi pakai kaos dalam sejak tiga puluh tahun terakhir. Pakai kaos hanya kalau pakai pakaian Jawa, itupun paling lama hanya tiga jam, kalau ada acara mantenan.
Dua hari lalu sewaktu naik bis dari stasiun Cornavin ke Appia Avenue, ke kantor pusat, dua orang penumpang yang duduk berseberangan menatap aneh jaket saya. Jaket warna krem dengan model lumayan trendi saya beli beberapa tahun lalu di Manila. Nggak nampak ndesit (ndeso) sama sekali dengan jaket itu. Ternyata ada noda merah di lengan kiri. Saya tidak cek di Manila sewaktu ambil dari penatu. Noda tak begitu menyolok, bisa ditutupi dengan menggulung sedikit lengan jaket. Tetapi perasaan agak terganggu, nggak PD. Ketemu seorang kawan lama di koridor, Detta. Cipika cipiki,dia menyapa akrab. "What happen to you ? Having accident or killing somebody ? Ternyata dia melihat noda merah di lengan kiri jaket saya. Asyem, pikir saya makin terganggu !
Hanya sekedar penghangat badan. Tetapi seperti halnya topi, cincin, dan syaal saya selalu punya rasa dan kenangan khusus dengan atribut2 tersebut. Perkenalan dengan jaket hangat pertama kali bulan Januari 1980. Pertama kali ke Inggris waktu itu untuk menjalani pendidikan paska sarjana. Saya dapat pinjaman dari adik ipar, jaket panjang atau coat terbuat dari bahan kordore. Modelnya juga sangat pas waktu itu, panjang sampai sedikit di bawah lutut. Model intel tetapi warnanya coklat lembut. Belum kuat beli sendiri. Gaji pegawai negeri pertama kali belum penuh waktu itu, hanya empat puluh lima dollar per bulan.
Di Newcastle, di tahun 1982, Nyi mendesak agar saya beli jaket dengan model yang lebih sport dan casual. Akhirnya dapat di Marks Spencer, jaket sedang sampai di atas lutut. Warna krem ringan bahan polyester. Serbaguna oleh karena waterproof, tetapi tidak rainproof. Harganya relatif murah. Hanya 24.99 sterling waktu itu. Dua saku besar di depan dan di samping kiri dan kanan, sangat mengenakkan. Bisa sebagai tempat penyimpangan logistik sementara. Kotak makan, pisang raja dan buah apel bisa tertampung tanpa nampak melembung. Jaket ini berumur sampai beberapa tahun. Saya lupa nasib jaket itu waktu kembali ke Yogya. Kalau nggak salah saya berikan ke tenaga yang membantu menata rumah di Condongcatur di tahun 1985 .
Kami kembali ke Indonesia tahun 1983. Di pertengahan delapan puluhan mulai terlibat konsultasi ke banyak tempat. Saya masih ingat benar waktu itu kesukaan saya adalah jaket kulit. Satu warna coklat tak merata, saya beli New Delhi. Satu warna krem beli di Nepal. Dan satu warna hijau muda pemberian adik saya buatan Salatiga. Modelnya lumayan bagus. Sayang ketiganya bernasib malang Di kerokoti tikus sewaktu digantung di dinding. Mungkin baunya masih peka untuk tikus. Oh ya saya masih ingat ada satu lagi jaket kulit warna hitam beli di Madras. Beberapa tahun dipakai kok lantas jadi kaku sekali, bisa disandarkan di dinding. Saya tak pernah lagi berniat punya jaket kulit. Namun tiga tahun kemarin anak saya kedua menghadiahkan satu jaket kulit dan satu jaket kasual untuk dipakai sehari hari. Bukan untuk musim dingin. Jarang saya memakai jaket kulit sekarang, sudah umur rasanya nggak pas saja. Setiap kali pakai jaket kulit, malah ditanya 'sedang sakit?'
Di akhir delapan puluhan, setahun dua kali harus ke Washington ok kebetulan jadi penasehat salah satu lembaga standarisasi obat di sana (US Pharmacopeia). Sudah lama sekali tak ingat tempat tempatnya secara tepat. Kantor tempat rapat di Rokville Pike di Bethesda kalau ngak salah. Suatu sore jalan jalan mau beli kacamata, ada saudara minta di belikan Ray Ben. Nggak dapat kaca matanya. Tetapi malah tertarik ada coat (jas panjang) dari kain drill halus warna abu abu. Model seperti seragam musim dingin tentara Rusia. Ada ikat pinggang dengan timang keemasan, ada lipatan di kedua pundak seperti untuk menempatkan tanda pangkat. Ada topi yang bisa dilepas. Saya sudah beberapa waktu ingin jas model itu tetapi harganya di Eropa mahal betul. Overcoat itu buatan Meksiko, harga cuma 99 dollar.
Senang sekali memakai jas panjang, sampai di bawah lutut. Sedikit terasa agak berat dan susah dipakai kasual. Terlalu resmi dan nggak ramping. Sampai sekarang masih sering saya pakai kalau pas pergi musim dingin. Mungkin akan tambah pas kalau dipakai dengan sepatu lars tinggi. Saya punya beberapa model topi dan syaal yang pas dengan jas panjang ini. Dua tahun lalu ketinggalan sewaktu makan di restaurant di Geneva. Saya minta di kirim kehotel pakai taksi, bayar 25 franc. Jas itu nilainya nggak sampai segitu sekarang tetapi tak apa saya masih senang. Terkesan kalem dan nggak bisa berkelebat ke sana kemari oleh karena memang agak berat.
Beberapa tahun lalu sesudah pindah ke Manila, saya menemukan jaket hangat seperti yang dulu saya beli di Newcastle itu. Tak sengaja waktu jalan jalan di Shoemart Harison Plaza. Warna krem persis jaket hangat saya dua puluh tahun sebelumnya. Terasa ringan dan ramping, panjang di atas lutut. Cocok dipakai jika hawa tak sangat dingin. Terlalu tipis jika musim dingin telah tiba di bulan Januari atau Desember. Entah berapa kali jaket ini ketinggalan, di tempat rapat, di rumah makan, tetapi masih selalu saya temukan kembali. Empat minggu lalu sekembali dari Geneva, saya kirim ke laundry kok tahu tahu sekarang ada noda merah. Apalagi dengan kantong dua besar besar. Bisa untuk menyembunyikan tangan dari hawa dingin.
Siang tadi saya memakai jaket itu berjalan jalan menyusuri tepi danau Geneva. Rencana pengin ke Jardine botanical garden. Tetapi kok terasa dingin dan capai oleh karena semalam beberapa kali terbangun. Tetangga kamar berkali kali bicara keras dengan temannya di koridor. Hanya berjalan jalan melihat orang lalu lalang. Tak sengaja melihat beberapa model jaket di satu toko di rue Chantepoulet. Hanya melihat sebentar, ada dua model yang menarik. Satu warna abu2 agak gelap dan satunya coklat kemerahan. Jaket pendek di atas lutut. Menelusuri tepian danau. Sangat indah dan bersih.
Setelah lepas jalan di sekitar danau, saya kembali ke toko itu dan mulai saya mencoba-coba. Kelihatan pas dan ringan. Penjaga toko dua orang muda mudi, mungkin kakak beradik, sekitar umur dua puluh tahunan. Tak banyak pengunjung. Hanya ada dua orang pengunjung di samping saya. Musik reggae menggema dalam ruang toko ukuran sedang dan tertata sangat artistik. Saya tanya ke kedua orang tadi. Anda suka dansa dengan irama lagu itu ? Mereka hanya menggeleng, bahasa Inggrisnya tak lancar sama sekali. Si gadis memanggil ibunya, nggak tahu omong apa. Anda suka ballroom, Tanya si mama? Yes of course. Kami sempat dansa reggae di dalam toko sekitar 2 menit. Pengunjung satunya agak terperanjat. I will reduce the price 20 france for the dance. Asem nggak dikorting 20 france pun pasti saya ambil jaket itu. Coklat kemerahan buatan Jerman. Lumayan murah harga salenya hampir separohnya.
Waktu di hotel saya tilpun Nyi. Dia pengin dibelikan sekalian. Coat yang Nyi miliki beli di pasar Hong Kong dua tahun lalu. Sangat sederhana dan ukuran kekecilan. Buru buru kembali ke toko itu dengan memakai jaket yang coklat kemerahan itu. You are lucky to have that jacket, katanya. Tak banyak pilihan untuk wanita. Hanya ada satu model dan relatif konvensional sekali. Saya keseberang jalan, ada toko khusus busana wanita. Sepi tak ada pengunjung. Ada dua penjaga wanita, relatif usia lanjut. Tak lancar bahasa Inggris tetapi mencoba menjelaskan berbagai model yang mereka punya. Beberapa jaket dengan harga diskon. Ada satu warna lumut yang modelnya kelihatan cocok untuk Nyi. Saya tilpun NYI menyesuaikan ukurannya. Saya putuskan ambil jaket itu. Sambil nunggu saya bilang ke penjaga toko itu, "Please write the original price, not the discounted price". Dia tertawa, '' You are terrible", katanya. I am trying to be a good husband. Whatever !
Saya berjalan lembali ke hotel. Hanya tentang jaket hangat musim dingin. Membawa kembali ingatan riwayat jaket jaket saya sebelumnya. Saya memakainya dengan rasa senang dan sayang, with great affection. Cintailah dan sayangilah apa pun yang anda miliki. Hidup terasa indah dan damai.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita KOmpas Cyber 5 November 2007)
Thursday, October 25, 2007
Topi tak selalu bundar
Salam dari bandara Svarnabhumi, Bangkok. Dalam perjalanan dari Phnom Penh ke Manila. Pagi tadi keluar dari hotel agak pagi, jam 0700, walaupun pesawat berangkat baru jam 10 lewat. Sebelum ke bandara lewat jalan raya 199, mau singgah ke tempat yang saya kunjungi semalam. Topi saya ketinggalan. Topi itu harganya nggak seberapa. Tetapi ada beberapa kisah menarik berkaitan dengannya. Saya beli di warung makan bandara Solo beberapa tahun lalu. Saya beli tiga topi, yang satu dengan merek bandara Adisumarmo, yang satu TNI AU dengan merk Sukhoi dan yang satu tanpa merk. Bentuknya sama seperti topi yang dikenakan para pilot.
Semalam ditilpun teman kalau ada yang punya batu safir Ratanakiri. Kami kemudian ke tempat yang punya batu. Tak banyak koleksinya oleh karena kalau asli memang jarang dan harganya selangit. Di Central Market kelihatan banyak sekali pilihan. Tetapi sebenarnya yang ada di sana sebagian besar adalah batu yang diproses atau tiruan. Ada dua safir Ratanakiri yang saya pilih. Saya belum punya jenis ini. Saya memang suka koleksi batu mulia. Topi yang saya cari ternyata sudah diantar ke hotel pagi tadi. Berselisih jalan . Untung salah seorang teman yang juga akan ke Manila, membawakannya ke bandara. Kali ini cerita saya bukan tentang batu tetapi tentang topi. Ada banyak cerita tentang topi yang mungkin menarik untuk direnungkan. Tentang batu lain kali saja ok akan lebih nges kalau di sertai foto. Sampai saat ini belum berhasil kirim foto ke Koki.
Bagi banyak orang topi mungkin sekedar merupakan asesori supaya penampilan lebih menarik. Tetapi di balik itu tentu ada fungs, entah melindungi kepala ( misalnya topi baja) atau sebagai lambang kebudayaan (misalnya blangkon). Masing masing jenis punya peran dan fungsi masing masing. Bisa dibayangkan betapa konyol jika dalam peralatan pesta perkawinan Jawa, topi blangkon diganti dengan topi baja. Atau dalam parade militer di hari Angkatan Bersenjata, topi baja diganti dengan blangkon.
Setiap jenis topi punya makna dan filosofi. Blangkon sebagai salah satu perangkat pakaian adat Jawa, juga berbeda antara Yogya dan Solo. Blangkon Solo tanpa tambahan hiasan telor (mondolan) di belakang. Tetapi blangkon Yogya, pasti ada mondolannya. Mungkin beberapa ratus tahun lalu, raja raja Solo kalau leyeh leyeh atau tiduran telentang selalu pakai blangkon. Sedangkan raja raja Yogya, kalau mau leyeh leyeh harus copot blangkon ok mondolan itu akan mengganjal. Nggak usah leyeh leyeh, pakai blangkon Yogya untuk nyopir pun selalu terganggu karena mondolan di belakang itu rasanya selalu mengganjal dengan sandaran kursi di belakang kepala.
Liburan lebaran kemarin saya bawa oleh oleh topi untuk cucu cucu saya, Rio (4 th), Laras (2 th) dan Karin (1.5 th). Masing masing 3 jenis topi anak anak yang masih ngetop modelnya. Rio sama Laras senang sekali pakai topi topi itu, apa lagi yang dengan bentuk kepala kelinci atau beruang. Tetapi Karin sama sekali nggak mau pakai, kalau di coba malah dibuang. Anak anak itu mungkin mempunyai persepsi yang berbeda akan topi. Orang dewasa juga punya persepsi dan kesukaan lain lain tentang topi. Tak semua orang suka topi.
Sewaktu kecil saya selalu memimpikan pakai topi. Perasaan saya seolah ada nilai lebih dengan topi di kepala. Sayang saya tak pernah dibelikan topi oleh orang tua saya. Sampai kelas 3 SR justru selalu plonthos alias gundul. Sehingga sering diledhek teman teman dengan lagu Gundul Pacul. Di kelas empat SR saya mencoba membuat topi sendiri, dari kulit batang pisang. Design bisa macam macam, bisa seperti bangkon, atau topi model kini. Sayang saya tak diijinkan memakai topi itu ke sekolah. Pengalaman memakai topi waktu kecil hanya kalau ke sawah, harus memakai caping untuk melindungi kepala dari panas mata hari. Jarang orang ke sawah tanpa caping. Panasnya sangat menusuk.
Pengalaman dengan topi yang agak membekas adalah sewaktu mahasiswa. Salah seorang teman saya dari Ponorogo, ayahnya pensiunan masinis. Topi peninggalan ayahnya, topi masinis, warna merah bundar, disimpan baik baik. Ternyata banyak gunanya. Saya pernah naik kereta api bersama dia ke Solo. Dia tak beli karcis. Ketika kondektur melakukan pemeriksaan karcis, teman saya ini pura pura tidur. Tetapi topi masinis almarhum ayahnya, didekap di dadanya. Ternyata ada pengaruhnya. Kondektur jadi ragu ragu untuk membangunkannya, dia berlalu saja meskipun nampak heran dengan topi itu.
Saya mulai suka mengkoleksi dan memakai topi sesudah lulus dan bertugas sebagai dosen. Jika bepergian selalu memakai topi, terutama topi warna gelap dengan model topi detektif. Mengapa suka pakai topi ? Ya hanya suka saja. Kakak saya juga selalu pakai topi. Jelas salah tujuannya untuk meningkatkan penampilan. Biar nampak beken mungkin.
Di awal tahun sembilan puluhan saya sering bolak balik ke Jakarta, sebagai konsultan proyek untuk Dep Kes. Biasanya nginap di Wisma Karya di depan rumah sakit Cikini di jalan Raden Saleh. Suatu sore saya pengin beli tahu goreng di depan RS. Saya pakai topi kesayangan saya, dan kebetulan pakai celana pendek. Si penjual ternyata nggak di tempat, baru ngantar pesanan ke dalam. Saya menunggu dengan sabar. Tiba tiba ada ibu ibu yang juga ingin beli tahu langsung bilang ke saya " Bang, tahunya dua puluh potong. Cepet ya, saya terburu buru". Asem, saya malah dikira penjual tahu. Dia baru sadar kalau keliru sewaktu si penual aslinya datang, "Maaf saya keliru", katanya. Tetapi waktu pergi, saya lihat dia menahan ketawa dengan temannya.
Tiga topi yang saya beli di Solo punya kisah menarik. Modelnya kayak topi pilot AU, sehingga dengan topi itu setiap kali saya masuk Navy Golf, mobil nggak pernah di geledah, malah penjaga selalu memberi hormat militer. Lumayan ngurangi waktu buka buka begasi. Yang payah kalau ada yang ngajak ngobrol tentang dunia militer, dikiranya saya pejabat militer dari Indonesia. Jika begini pelan pelan saya buka jati diri.
Yang aneh sewaktu kami akan ikut turnamen golf di salah satu klub private. Kami bertiga dengan teman orang Amerika. Salah satunya adalah boss di kantor saya. Dia yang membawa mobil ok mobil saya AC nya baru rusak. Di sebelahnya adalah teman sekantor , orang Haiti yang tinggi besar. Saya duduk di belakang dengan celana dan baju lengan panjang warna krem dan topi pilot bertuliskan Sukhoi.
Topi Sukhoi sebenarya hanya untuk psywar kalau mereka ngajak totohan main golf. Mereka berdua pakai seragam casual, celana pendek dan kaos pendek. Di pintu masuk klub, antrean mobil melambat ok ada pemeriksaan keamanan. Teman saya yang bawa mobil tanpa bilang a atau b, langsung bilang ke penjaga "We have His Excellency Ambasador and his bodyguard". Ternyata manjur, penjaga memberi hormat dan menyilahkan mobil kami masuk tanpa menunggu antrean. Begitu turun di pintu depan, penjaga membukakan pintu mobil dan memberi hormat militer. Saya sih manut manut saja, membalas dengan hormat militer. Teman saya berdua menggerutu habis habisan. Saya hanya bisa bilang ' It is not my fault, its your idea". Saya hanya manusia biasa, kadang juga seneng Petruk jadi Ratu. Kemarin malam di Phnom Penh, kami diajak ke ball room. Saya pakai topi itu, di pintu masuk penjaga keamanan memberi hormat militer. Tanpa sadar saya kok membalas juga dengan hormat militer. Anyway !
Kadang saya merenung. Topi ternyata bisa mengubah persepsi orang. Mengubah penampilan kita di mata orang lain. Kadang persepsi atau penampilan sok penting. Kadang persepsi dan penampilan budaya pop anak muda. Terserah anda pilih yang mana. Tetapi yang paling bijak adalah penampilan apa adanya. Apapun topi yang anda pakai. Topi memang tak selamanya bundar. Orang bisa mempunyai persepsi lain lain tergantung dari kesan masing masing.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
(Kolom Kita Kompas Cyber Media, 26 Oktober 2007)
Semalam ditilpun teman kalau ada yang punya batu safir Ratanakiri. Kami kemudian ke tempat yang punya batu. Tak banyak koleksinya oleh karena kalau asli memang jarang dan harganya selangit. Di Central Market kelihatan banyak sekali pilihan. Tetapi sebenarnya yang ada di sana sebagian besar adalah batu yang diproses atau tiruan. Ada dua safir Ratanakiri yang saya pilih. Saya belum punya jenis ini. Saya memang suka koleksi batu mulia. Topi yang saya cari ternyata sudah diantar ke hotel pagi tadi. Berselisih jalan . Untung salah seorang teman yang juga akan ke Manila, membawakannya ke bandara. Kali ini cerita saya bukan tentang batu tetapi tentang topi. Ada banyak cerita tentang topi yang mungkin menarik untuk direnungkan. Tentang batu lain kali saja ok akan lebih nges kalau di sertai foto. Sampai saat ini belum berhasil kirim foto ke Koki.
Bagi banyak orang topi mungkin sekedar merupakan asesori supaya penampilan lebih menarik. Tetapi di balik itu tentu ada fungs, entah melindungi kepala ( misalnya topi baja) atau sebagai lambang kebudayaan (misalnya blangkon). Masing masing jenis punya peran dan fungsi masing masing. Bisa dibayangkan betapa konyol jika dalam peralatan pesta perkawinan Jawa, topi blangkon diganti dengan topi baja. Atau dalam parade militer di hari Angkatan Bersenjata, topi baja diganti dengan blangkon.
Setiap jenis topi punya makna dan filosofi. Blangkon sebagai salah satu perangkat pakaian adat Jawa, juga berbeda antara Yogya dan Solo. Blangkon Solo tanpa tambahan hiasan telor (mondolan) di belakang. Tetapi blangkon Yogya, pasti ada mondolannya. Mungkin beberapa ratus tahun lalu, raja raja Solo kalau leyeh leyeh atau tiduran telentang selalu pakai blangkon. Sedangkan raja raja Yogya, kalau mau leyeh leyeh harus copot blangkon ok mondolan itu akan mengganjal. Nggak usah leyeh leyeh, pakai blangkon Yogya untuk nyopir pun selalu terganggu karena mondolan di belakang itu rasanya selalu mengganjal dengan sandaran kursi di belakang kepala.
Liburan lebaran kemarin saya bawa oleh oleh topi untuk cucu cucu saya, Rio (4 th), Laras (2 th) dan Karin (1.5 th). Masing masing 3 jenis topi anak anak yang masih ngetop modelnya. Rio sama Laras senang sekali pakai topi topi itu, apa lagi yang dengan bentuk kepala kelinci atau beruang. Tetapi Karin sama sekali nggak mau pakai, kalau di coba malah dibuang. Anak anak itu mungkin mempunyai persepsi yang berbeda akan topi. Orang dewasa juga punya persepsi dan kesukaan lain lain tentang topi. Tak semua orang suka topi.
Sewaktu kecil saya selalu memimpikan pakai topi. Perasaan saya seolah ada nilai lebih dengan topi di kepala. Sayang saya tak pernah dibelikan topi oleh orang tua saya. Sampai kelas 3 SR justru selalu plonthos alias gundul. Sehingga sering diledhek teman teman dengan lagu Gundul Pacul. Di kelas empat SR saya mencoba membuat topi sendiri, dari kulit batang pisang. Design bisa macam macam, bisa seperti bangkon, atau topi model kini. Sayang saya tak diijinkan memakai topi itu ke sekolah. Pengalaman memakai topi waktu kecil hanya kalau ke sawah, harus memakai caping untuk melindungi kepala dari panas mata hari. Jarang orang ke sawah tanpa caping. Panasnya sangat menusuk.
Pengalaman dengan topi yang agak membekas adalah sewaktu mahasiswa. Salah seorang teman saya dari Ponorogo, ayahnya pensiunan masinis. Topi peninggalan ayahnya, topi masinis, warna merah bundar, disimpan baik baik. Ternyata banyak gunanya. Saya pernah naik kereta api bersama dia ke Solo. Dia tak beli karcis. Ketika kondektur melakukan pemeriksaan karcis, teman saya ini pura pura tidur. Tetapi topi masinis almarhum ayahnya, didekap di dadanya. Ternyata ada pengaruhnya. Kondektur jadi ragu ragu untuk membangunkannya, dia berlalu saja meskipun nampak heran dengan topi itu.
Saya mulai suka mengkoleksi dan memakai topi sesudah lulus dan bertugas sebagai dosen. Jika bepergian selalu memakai topi, terutama topi warna gelap dengan model topi detektif. Mengapa suka pakai topi ? Ya hanya suka saja. Kakak saya juga selalu pakai topi. Jelas salah tujuannya untuk meningkatkan penampilan. Biar nampak beken mungkin.
Di awal tahun sembilan puluhan saya sering bolak balik ke Jakarta, sebagai konsultan proyek untuk Dep Kes. Biasanya nginap di Wisma Karya di depan rumah sakit Cikini di jalan Raden Saleh. Suatu sore saya pengin beli tahu goreng di depan RS. Saya pakai topi kesayangan saya, dan kebetulan pakai celana pendek. Si penjual ternyata nggak di tempat, baru ngantar pesanan ke dalam. Saya menunggu dengan sabar. Tiba tiba ada ibu ibu yang juga ingin beli tahu langsung bilang ke saya " Bang, tahunya dua puluh potong. Cepet ya, saya terburu buru". Asem, saya malah dikira penjual tahu. Dia baru sadar kalau keliru sewaktu si penual aslinya datang, "Maaf saya keliru", katanya. Tetapi waktu pergi, saya lihat dia menahan ketawa dengan temannya.
Tiga topi yang saya beli di Solo punya kisah menarik. Modelnya kayak topi pilot AU, sehingga dengan topi itu setiap kali saya masuk Navy Golf, mobil nggak pernah di geledah, malah penjaga selalu memberi hormat militer. Lumayan ngurangi waktu buka buka begasi. Yang payah kalau ada yang ngajak ngobrol tentang dunia militer, dikiranya saya pejabat militer dari Indonesia. Jika begini pelan pelan saya buka jati diri.
Yang aneh sewaktu kami akan ikut turnamen golf di salah satu klub private. Kami bertiga dengan teman orang Amerika. Salah satunya adalah boss di kantor saya. Dia yang membawa mobil ok mobil saya AC nya baru rusak. Di sebelahnya adalah teman sekantor , orang Haiti yang tinggi besar. Saya duduk di belakang dengan celana dan baju lengan panjang warna krem dan topi pilot bertuliskan Sukhoi.
Topi Sukhoi sebenarya hanya untuk psywar kalau mereka ngajak totohan main golf. Mereka berdua pakai seragam casual, celana pendek dan kaos pendek. Di pintu masuk klub, antrean mobil melambat ok ada pemeriksaan keamanan. Teman saya yang bawa mobil tanpa bilang a atau b, langsung bilang ke penjaga "We have His Excellency Ambasador and his bodyguard". Ternyata manjur, penjaga memberi hormat dan menyilahkan mobil kami masuk tanpa menunggu antrean. Begitu turun di pintu depan, penjaga membukakan pintu mobil dan memberi hormat militer. Saya sih manut manut saja, membalas dengan hormat militer. Teman saya berdua menggerutu habis habisan. Saya hanya bisa bilang ' It is not my fault, its your idea". Saya hanya manusia biasa, kadang juga seneng Petruk jadi Ratu. Kemarin malam di Phnom Penh, kami diajak ke ball room. Saya pakai topi itu, di pintu masuk penjaga keamanan memberi hormat militer. Tanpa sadar saya kok membalas juga dengan hormat militer. Anyway !
Kadang saya merenung. Topi ternyata bisa mengubah persepsi orang. Mengubah penampilan kita di mata orang lain. Kadang persepsi atau penampilan sok penting. Kadang persepsi dan penampilan budaya pop anak muda. Terserah anda pilih yang mana. Tetapi yang paling bijak adalah penampilan apa adanya. Apapun topi yang anda pakai. Topi memang tak selamanya bundar. Orang bisa mempunyai persepsi lain lain tergantung dari kesan masing masing.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
(Kolom Kita Kompas Cyber Media, 26 Oktober 2007)
Tuesday, October 23, 2007
Arsitektur kota, baliho, spanduk dan umbul umbul.
Salam dari Phnom Penh. Kebetulan menghadiri rapat di ibu kota Kampuchea. Entah ke berapa kali mengunjungi kota yang indah ini. Bulevard di jalan utamanya nampak tertata asri, terutama Russian Boulevard. Bangsa Kamboja di masa lalu telah melahirkan arsitek2 unggul.. Bayangkan karya karya arsitektur kolosal mereka, seperti Angkor Wat dan Angkor Tom. Tak pernah lekang oleh waktu dan bertahan sepanjang jaman, paling tidak selama seribu tahun.
Saya selalu mengagumi karya aristektur kolosal. Karya cipta manusia yang penuh imaginasi dan intelektualitas. Jika anda berdiri di salah satu halaman candi Angkor, saya lupa yang mana, anda akan merasa kecil. Bangunan bangunan klasik itu sangat anggun, megah dan berwibawa. Mesin mesin berat yang dipakai untuk membantu renovasi, nampak kecil dan tak banyak daya berdiri dibawah bangunan bangunan kolosal itu. Pesan saya ke anak anak muda. Kunjungilah Angkor, di sana anda akan melihat puncak kejayaan arsitektur klasik Asia di luar Cina.
Saya juga menyenangi arsitektur tata ruang luar (landscape architecture), bagaimana menata letak suatu bangunan agar harmonis dengan alam sekitar. Bangunan klasik Asia selalu diletakkan dalam lingkungan begitu pas seolah menyatu dengan alam. Di manapun itu. Jika anda sempat berdiri di keraton Boko di sebelah selatan Prambanan, dan melihat kea rah utara, nampak pas sekali penempatan candhi Prambanan, candhi Sewu di bawah gunung Merapi. Begitu indah dan mengagumkan.
Saya membayangkan sang arsitek waktu itu dalam merencanakan bangunan bangunan tersebut, pasti dengan imaginasi luar biasa. Juga jika anda memandang titik lokasi candhi Gedhong Songo, titik titik lokasi itu seolah merefleksikan sesuatu. Diam tak bergeming sepanjang masa. Mungkin sang arsitek dulunya membayangkan lokasi bintang di langit.
Monumen Yogya Kembali di Yogya. Bukan hanya kebanggaan warga Yogya. Tetapi juga kebanggaan nasional melambangkan kembalinya Yogya ke tangan Republik. Saya pribadi tak bisa menyalurkan kebanggaan rasa nasionalisme ini menjadi kebanggaan akan karya seni arsitektur. Monumen tersebut dirancang dengan bentuk gunungan melambangkan asal mula cerita kehidupan dalam mitologi Jawa. Tetapi karya arsitekturnya tak memberikan pesan imaginer ini. Tak menggambarkan kebesaran dan keindahan alam. Jika anda melihat lokasinya dari udara, bangunan itu terkesan seolah menjadi benda asing di lingkungan alam sekitarnya
Arsitektur tata kota di Jawa juga selalu khas dengan adanya alun alun, pohon beringin, bangunan pendopo dan gedung pemerintahan di belakangnya.. Banyak arsitektur tata kota yang indah di Jawa. Temanggung, Banjarnegara, Magelang, Purworejo, Wonosobo hanya beberapa contoh kota ciri tata kota yang khas. Jika anda memasuki satu kota di Jawa pasti akan di sambut dengan gapura masuk yang masing masing kota akan berbeda.
Dalam tahun tahun terakhir setiap kali mengamati simbol dan cirri masing masing kota di Asia, saya selalu terusik dengan budaya pop masa kini yang mengganggu keasrian tata kota. Ciri arsitektur tata kota tertutup oleh iklan luar atau outdoor advertising. Bayangkan yang namanya spanduk, baliho (billboard) maupun umbul umbul yang selalu menutup keaslian keindahan tata kota. Gapura selamat datang ke satu kota kadang ditutup oleh baliho besar atau spanduk, lambang budaya konsumerisme masa kini.
Banyak ragam pesan visual yang terpampang, entah itu iklan komersial, pesan politik dari salah satu partai, pesan pendidikan untuk masyarakat. Tak semua isi pesan itu negatip sebenarnya. Tetapi sosok dan ukurannya agar mudah dibaca oleh massa yang menjadi target, telah demikian mengganggu keaslian ciri kota yang bersangkutan.
Salah satu contoh, beberapa tahun lalu, spanduk besar bergambar BH dengan merek tertentu banyak menghiasi jalan utama kota kota di Indonesia. Seolah memberi ucapan selamat datang bagi para pengunjung yang masuk kota kota itu. Belum lagi pesan pesan visual yang menyolok di billboard di tepi jalan utama masuk kota. Seolah kota kota itu menjadi milik produk produk komersial yang diiklankan. Bayangan untuk menikmati cirri arsitektur kota yang bersangkutan telah terenggut secara semena mena oleh gambar iklan.
Kadang ironis. Dalam pergaulan internasional ada semacam konvensi untuk mengurangi kebiasaan merokok, kota kota dan media massa kita dipenuhi dengan iklan merokok. Indonesia memang satu satunya negara di ASEAN yang tidak menanda tangani konvensi untuk mengurangi rokok, FCTC (Framework Convention of Tobacco Control, http://www.who.int/tobacco/framework/en/)
Rasa gemas selalu mampir ketika tepian jalan utama masuk kota dipenuhi dengan umbul umbul. Yang paling sering adalah umbul umbul milik partai politik. Seolah kota kota itu menjadi milik salah satu partai politik. Beberapa tahun lalu di masa jaya Orde Baru bahkan batang pohon di tepi jalan pun kadang kadang dicat dengan warna tertentu yang menjadi lambang partai. Keaslian alam pepohonan diperkosa oleh ambisi partai. Pohon beringin yang menjadi ciri arsitektur kota kota di Jawa direnggut begitu saja oleh kekuasaan menjadi lambang politik..
Fenomena dominasi iklan luar ini tak hanya menjadi masalah bagi kota kota di Indonesia. Dewan kota Sao Paolo melarang outdoor advertising terutama lewat billboard ok dianggap sebagai polusi visual (The Economist, 13 Oktober 2007). Gabungan pengusaha iklan jelas protes dan menempuh upaya hukum melawan larangan ini. Apapun hasilnya pemerintah pemerintah kota selalu menghadapi masalah dilematis oleh karena iklan iklan ini menjadi salah satu sumber pemasukan.
Jika tak mungkin dihilangkan tidak-kah ada alternatif lain untuk menempatkan iklan luar ini di lokasi yang tak mengganggu ciri arsitek tata kota ? Tak mudah untuk mencari alternative kompromistis. Tetapi kota kota yang saya selalu kagumi di Jawa, kebanyakan kota kota yang relatif kecil sehingga dominasi baliho, spanduk dan umbul umbul ini belum begitu merusak keindahan kota.
Salam damai, Ki Ageng Similikithi (Dimuat di Kolom Kita Kompas, 22 Oktober 2007)
Saya selalu mengagumi karya aristektur kolosal. Karya cipta manusia yang penuh imaginasi dan intelektualitas. Jika anda berdiri di salah satu halaman candi Angkor, saya lupa yang mana, anda akan merasa kecil. Bangunan bangunan klasik itu sangat anggun, megah dan berwibawa. Mesin mesin berat yang dipakai untuk membantu renovasi, nampak kecil dan tak banyak daya berdiri dibawah bangunan bangunan kolosal itu. Pesan saya ke anak anak muda. Kunjungilah Angkor, di sana anda akan melihat puncak kejayaan arsitektur klasik Asia di luar Cina.
Saya juga menyenangi arsitektur tata ruang luar (landscape architecture), bagaimana menata letak suatu bangunan agar harmonis dengan alam sekitar. Bangunan klasik Asia selalu diletakkan dalam lingkungan begitu pas seolah menyatu dengan alam. Di manapun itu. Jika anda sempat berdiri di keraton Boko di sebelah selatan Prambanan, dan melihat kea rah utara, nampak pas sekali penempatan candhi Prambanan, candhi Sewu di bawah gunung Merapi. Begitu indah dan mengagumkan.
Saya membayangkan sang arsitek waktu itu dalam merencanakan bangunan bangunan tersebut, pasti dengan imaginasi luar biasa. Juga jika anda memandang titik lokasi candhi Gedhong Songo, titik titik lokasi itu seolah merefleksikan sesuatu. Diam tak bergeming sepanjang masa. Mungkin sang arsitek dulunya membayangkan lokasi bintang di langit.
Monumen Yogya Kembali di Yogya. Bukan hanya kebanggaan warga Yogya. Tetapi juga kebanggaan nasional melambangkan kembalinya Yogya ke tangan Republik. Saya pribadi tak bisa menyalurkan kebanggaan rasa nasionalisme ini menjadi kebanggaan akan karya seni arsitektur. Monumen tersebut dirancang dengan bentuk gunungan melambangkan asal mula cerita kehidupan dalam mitologi Jawa. Tetapi karya arsitekturnya tak memberikan pesan imaginer ini. Tak menggambarkan kebesaran dan keindahan alam. Jika anda melihat lokasinya dari udara, bangunan itu terkesan seolah menjadi benda asing di lingkungan alam sekitarnya
Arsitektur tata kota di Jawa juga selalu khas dengan adanya alun alun, pohon beringin, bangunan pendopo dan gedung pemerintahan di belakangnya.. Banyak arsitektur tata kota yang indah di Jawa. Temanggung, Banjarnegara, Magelang, Purworejo, Wonosobo hanya beberapa contoh kota ciri tata kota yang khas. Jika anda memasuki satu kota di Jawa pasti akan di sambut dengan gapura masuk yang masing masing kota akan berbeda.
Dalam tahun tahun terakhir setiap kali mengamati simbol dan cirri masing masing kota di Asia, saya selalu terusik dengan budaya pop masa kini yang mengganggu keasrian tata kota. Ciri arsitektur tata kota tertutup oleh iklan luar atau outdoor advertising. Bayangkan yang namanya spanduk, baliho (billboard) maupun umbul umbul yang selalu menutup keaslian keindahan tata kota. Gapura selamat datang ke satu kota kadang ditutup oleh baliho besar atau spanduk, lambang budaya konsumerisme masa kini.
Banyak ragam pesan visual yang terpampang, entah itu iklan komersial, pesan politik dari salah satu partai, pesan pendidikan untuk masyarakat. Tak semua isi pesan itu negatip sebenarnya. Tetapi sosok dan ukurannya agar mudah dibaca oleh massa yang menjadi target, telah demikian mengganggu keaslian ciri kota yang bersangkutan.
Salah satu contoh, beberapa tahun lalu, spanduk besar bergambar BH dengan merek tertentu banyak menghiasi jalan utama kota kota di Indonesia. Seolah memberi ucapan selamat datang bagi para pengunjung yang masuk kota kota itu. Belum lagi pesan pesan visual yang menyolok di billboard di tepi jalan utama masuk kota. Seolah kota kota itu menjadi milik produk produk komersial yang diiklankan. Bayangan untuk menikmati cirri arsitektur kota yang bersangkutan telah terenggut secara semena mena oleh gambar iklan.
Kadang ironis. Dalam pergaulan internasional ada semacam konvensi untuk mengurangi kebiasaan merokok, kota kota dan media massa kita dipenuhi dengan iklan merokok. Indonesia memang satu satunya negara di ASEAN yang tidak menanda tangani konvensi untuk mengurangi rokok, FCTC (Framework Convention of Tobacco Control, http://www.who.int/tobacco/framework/en/)
Rasa gemas selalu mampir ketika tepian jalan utama masuk kota dipenuhi dengan umbul umbul. Yang paling sering adalah umbul umbul milik partai politik. Seolah kota kota itu menjadi milik salah satu partai politik. Beberapa tahun lalu di masa jaya Orde Baru bahkan batang pohon di tepi jalan pun kadang kadang dicat dengan warna tertentu yang menjadi lambang partai. Keaslian alam pepohonan diperkosa oleh ambisi partai. Pohon beringin yang menjadi ciri arsitektur kota kota di Jawa direnggut begitu saja oleh kekuasaan menjadi lambang politik..
Fenomena dominasi iklan luar ini tak hanya menjadi masalah bagi kota kota di Indonesia. Dewan kota Sao Paolo melarang outdoor advertising terutama lewat billboard ok dianggap sebagai polusi visual (The Economist, 13 Oktober 2007). Gabungan pengusaha iklan jelas protes dan menempuh upaya hukum melawan larangan ini. Apapun hasilnya pemerintah pemerintah kota selalu menghadapi masalah dilematis oleh karena iklan iklan ini menjadi salah satu sumber pemasukan.
Jika tak mungkin dihilangkan tidak-kah ada alternatif lain untuk menempatkan iklan luar ini di lokasi yang tak mengganggu ciri arsitek tata kota ? Tak mudah untuk mencari alternative kompromistis. Tetapi kota kota yang saya selalu kagumi di Jawa, kebanyakan kota kota yang relatif kecil sehingga dominasi baliho, spanduk dan umbul umbul ini belum begitu merusak keindahan kota.
Salam damai, Ki Ageng Similikithi (Dimuat di Kolom Kita Kompas, 22 Oktober 2007)
Friday, October 19, 2007
Disiplin, tata tertib dan toleransi
Selamat berlebaran. Moga moga anda semua menikmati lebaran kali ini dan bertemu sanak saudara. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Hanya beberapa hari saya di Yogya. Juga dalam rangka lebaran dan menghadiri acara lima puluh tahun ulang tahun perkawinan paklik saya, adik terkecil ayah almarhum. Acara sangat meriah kemarin siang, semalam dilanjutkan kumpul2 sambil berdansa ria di rumah tua, di Ambarawa. Mungkin akan saya ceritakan lain kali, jika ada kesempatan.
Beberapa hari di Yogya, sempat melihat arus mudik penumpang lebaran lewat tayangan televisi. Ada pemandangan yang sangat terbiasa, paling tidak selama empat puluh tahun terakhir. Penumpang yang berdesakan berebut tempat duduk di kereta atau bis antar kota. Banyak disiarkan oleh berbagai saluran televisi. Tak ada maksud untuk menghujat atau menjelekkan sama sekali. Hanya ada rasa kekecewaan dan keprihatinan melihat pemandangan demikian setelah kita merdeka lebih dari enam puluh tahun. Tak banyak perubahan. Tak banyak perbaikan.
Ingatan saya melayang ke tahun tahun enam puluhan dan tujuh puluhan. Sewaktu mencari bis di standplat Djohar di Semarang, atau di Gemblegan Solo, untuk pulang ke Ambarawa. Selalu harus berebut, berdesakan, saling dorong, untuk dapat naik dan mendapatkan tempat duduk di bis. Waktu itu memang masih ada keterbatasan sarana angkutan umum jalan raya. Mungkin ini bisa dijadikan alasan mengapa calon penumpang mesti berebut, adu kuat, adu fisik, dan adu cepat untuk naik ke bis atau ke kereta api. Tetapi kadang hal serupa pun terjadi walau penumpang nggak penuh, baik bis atau kereta. Sudah menjadi kebiasaan yang lajim bahwa naik kendaraan umum harus selalu berebut adu kuat seperti mau tawuran.
Seolah ada semacam rasa ketidak amanan dan ketidak percayaan, bahwa antre secara tertib akan menempatkan mereka di barisan belakang. Sehingga yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat, cepat akan dapat tempat. Undang undang lalu lintas yang telah diberlakukan dengan segala perdebatan di forum parlemen yang terhormat itu ternyata tak bisa mengubah atau menggantikan peran hukum rimba yang berlaku. Hukum rimba ini semakin sulit ditinggalkan ketika para aparat yang mengawasi ketertiban terlibat konflik kepentingan. Bagian penjualan karcis terlibat kolusi dengan para calo. Petugas pengawas enggan menjatuhkan sanksi bagi sopir atau perusahaan yang melanggar ketentuan, atau memang sengaja menutup mata.
Para calon penumpang terlanjur kehilangan kepercayaan akan efisiensi pengelolaan dan pengaturan penumpang di standplat atau stasiun kereta api. Namun di sisi lain para pengelola juga akan selalu menyalahkan ketidak disiplinan calon penumpang, para sopir, kenek dan pengusaha bis. Kebiasaan yang lajim dalam masyarakat kita, kalau masih bisa menunjuk hidung pihak lain mengapa mesti introspeksi. Apapun yang benar, kesemrawutan yang kita lihat di standplat dan stasiun sewaktu calon penumpang berebut naik adalah kombinasi dari ketidak disiplinan, kesemrawutan pengelolaan dan pengawasan lalu lintas. Hasil akhirnya sama. Semrawut, tak aman dan tak manusiawi. Bukan sekali dua kita membaca berita adanya korban jiwa karena kesemrawutan seperti ini. Penumpang meninggal terjatuh dari atap kereta. Penumpang bis terjatuh saat berebut akan naik kendaraan.
Bayangkan jika anda melihat tayangan televisi yang menunjukkan penumpang pada berdiri di atap kereta api, apa yang anda pikirkan ? Jika para penumpang berlari lari, berdesakan berebut akan naik kereta atau bis ? Bukankah ini pemandangan yang tak wajar sama sekali. Entah karena sistem yang nggak bener atau disiplin manusia yang jelek. Mengapa pemandangan seperti ini masih saja terlihat selama puluhan tahun terakhir, walaupun perundangan makin lengkap, sarana dan prasarana semakin bagus ?
Saya mencoba merenungkannya dari sisi lain. Dari sisi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem pendidikan kita yang robust paska kemerdekaan mungkin telah berhasil meningkatkan intelektualitas formal masyarakat. Tingkat pendidikan rata rata warga negara jauh lebih tinggi dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir. Tingkat baca atau melek huruf juga sangat bagus. Tetapi sistem pendidikan kita mungkin tak banyak merubah intelektualitas riel anggota masyarakat. Juga tak banyak mengubah komponen perilaku (behavioral component). Tingkat baca meningkat, tingkat pengetahuan meningkat, tetapi tingkat disiplin, kemampuan menaati ketertiban, kemampuan toleransi dan menghargai sesama masih rendah. Tak hanya dalam disiplin antrean bis dan kereta, manifestasi ini sering kita lihat dengan meledaknya amuk massa, tawuran dan segala bentuk kekerasan sosial.
Dalam tingkat makro juga tak bisa diingkari akan adanya kepincangan ini. Beberapa lembaga pendidikan tinggi bisa masuk dalam rangking atas di dunia. Tetapi banyak kalangan intelek kita yang masih juga percaya akan dunia klenik dan perdukunan. Terutama jika sedang mengejar jabatan basah. Hampis semua lulusan, bahkan lulusan Sekolah Rakyatpun, yang pernah menjalani pendidikan tentang Panca Sila. Tetapi kita tak bisa mengingkari kejadian pelanggaran hak asasi merajalela. Mulai dari kejahatan dan pembunuhan massal sekitar 1965, pembersihan etnis dan pembunuhan di Kalimantan, huru hara berdarah 1968, dan lain lain yang makan banyak korban.
Seorang pendidik, kakak saya Ki Hadiwaratama, ahli Fisika Teknik pensiunan ITB, yang sekarang mencoba mendalami aksara Jawa Hanacaraka, mempertanyakan akan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengapa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa banyak terseok dalam kehidupan sosial sehari hari. Sistem pendidikan kita seolah tak mampu mentransformasi mesyarakat ke arah masyarakat modern, disiplin, ber-etos kerja tinggi, bertoleransi tinggi. Pertanyaan yang harus selalu menjadi renungan dan pemecahan dari para pemikir, pendidik dan tokoh tokoh soaial. Bukan hanya semata tugas para pendidik di lembaga2 pendidikan. Tidaklah bijak para pemimpin politik dan masyarakat lebih banyak mengobarkan semangat kebebasan tetapi mau benar sendiri, mau menang sendiri, apa lagi mengobarkan semangat kebencian.
Ah terlalu jauh saya merenung. Pertanyaan saya hanya sederhana saja. Mengapa selama empat puluh tahun, masih saja calon penumpang itu berebut adu kuat untuk antre bis dan kereta. Mengapa hukum rimba itu tetap saja yang dominan ? Sebenarnya tak perlu waktu puluhan tahun untuk menertibkan antrean itu. Tak perlu juga membentuk Komando Operasi Tertib (Kopkamtip) untuk menertibkan. Jika saja kita sebagai warga bisa menanamkan disiplin, toleransi, taat ketentuan pada diri masing masing. Dan para pengelola sistem publik lebih mementingkan kepentingan dibanding kepentingannya sendiri, saya yakin kita akan bisa menciptakan masyarakat yang disipiln dan tertib.
Salam damai dari Yogya
Ki Ageng Similikithi`
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber media, 19 Oktober 2007)
Beberapa hari di Yogya, sempat melihat arus mudik penumpang lebaran lewat tayangan televisi. Ada pemandangan yang sangat terbiasa, paling tidak selama empat puluh tahun terakhir. Penumpang yang berdesakan berebut tempat duduk di kereta atau bis antar kota. Banyak disiarkan oleh berbagai saluran televisi. Tak ada maksud untuk menghujat atau menjelekkan sama sekali. Hanya ada rasa kekecewaan dan keprihatinan melihat pemandangan demikian setelah kita merdeka lebih dari enam puluh tahun. Tak banyak perubahan. Tak banyak perbaikan.
Ingatan saya melayang ke tahun tahun enam puluhan dan tujuh puluhan. Sewaktu mencari bis di standplat Djohar di Semarang, atau di Gemblegan Solo, untuk pulang ke Ambarawa. Selalu harus berebut, berdesakan, saling dorong, untuk dapat naik dan mendapatkan tempat duduk di bis. Waktu itu memang masih ada keterbatasan sarana angkutan umum jalan raya. Mungkin ini bisa dijadikan alasan mengapa calon penumpang mesti berebut, adu kuat, adu fisik, dan adu cepat untuk naik ke bis atau ke kereta api. Tetapi kadang hal serupa pun terjadi walau penumpang nggak penuh, baik bis atau kereta. Sudah menjadi kebiasaan yang lajim bahwa naik kendaraan umum harus selalu berebut adu kuat seperti mau tawuran.
Seolah ada semacam rasa ketidak amanan dan ketidak percayaan, bahwa antre secara tertib akan menempatkan mereka di barisan belakang. Sehingga yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat, cepat akan dapat tempat. Undang undang lalu lintas yang telah diberlakukan dengan segala perdebatan di forum parlemen yang terhormat itu ternyata tak bisa mengubah atau menggantikan peran hukum rimba yang berlaku. Hukum rimba ini semakin sulit ditinggalkan ketika para aparat yang mengawasi ketertiban terlibat konflik kepentingan. Bagian penjualan karcis terlibat kolusi dengan para calo. Petugas pengawas enggan menjatuhkan sanksi bagi sopir atau perusahaan yang melanggar ketentuan, atau memang sengaja menutup mata.
Para calon penumpang terlanjur kehilangan kepercayaan akan efisiensi pengelolaan dan pengaturan penumpang di standplat atau stasiun kereta api. Namun di sisi lain para pengelola juga akan selalu menyalahkan ketidak disiplinan calon penumpang, para sopir, kenek dan pengusaha bis. Kebiasaan yang lajim dalam masyarakat kita, kalau masih bisa menunjuk hidung pihak lain mengapa mesti introspeksi. Apapun yang benar, kesemrawutan yang kita lihat di standplat dan stasiun sewaktu calon penumpang berebut naik adalah kombinasi dari ketidak disiplinan, kesemrawutan pengelolaan dan pengawasan lalu lintas. Hasil akhirnya sama. Semrawut, tak aman dan tak manusiawi. Bukan sekali dua kita membaca berita adanya korban jiwa karena kesemrawutan seperti ini. Penumpang meninggal terjatuh dari atap kereta. Penumpang bis terjatuh saat berebut akan naik kendaraan.
Bayangkan jika anda melihat tayangan televisi yang menunjukkan penumpang pada berdiri di atap kereta api, apa yang anda pikirkan ? Jika para penumpang berlari lari, berdesakan berebut akan naik kereta atau bis ? Bukankah ini pemandangan yang tak wajar sama sekali. Entah karena sistem yang nggak bener atau disiplin manusia yang jelek. Mengapa pemandangan seperti ini masih saja terlihat selama puluhan tahun terakhir, walaupun perundangan makin lengkap, sarana dan prasarana semakin bagus ?
Saya mencoba merenungkannya dari sisi lain. Dari sisi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem pendidikan kita yang robust paska kemerdekaan mungkin telah berhasil meningkatkan intelektualitas formal masyarakat. Tingkat pendidikan rata rata warga negara jauh lebih tinggi dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir. Tingkat baca atau melek huruf juga sangat bagus. Tetapi sistem pendidikan kita mungkin tak banyak merubah intelektualitas riel anggota masyarakat. Juga tak banyak mengubah komponen perilaku (behavioral component). Tingkat baca meningkat, tingkat pengetahuan meningkat, tetapi tingkat disiplin, kemampuan menaati ketertiban, kemampuan toleransi dan menghargai sesama masih rendah. Tak hanya dalam disiplin antrean bis dan kereta, manifestasi ini sering kita lihat dengan meledaknya amuk massa, tawuran dan segala bentuk kekerasan sosial.
Dalam tingkat makro juga tak bisa diingkari akan adanya kepincangan ini. Beberapa lembaga pendidikan tinggi bisa masuk dalam rangking atas di dunia. Tetapi banyak kalangan intelek kita yang masih juga percaya akan dunia klenik dan perdukunan. Terutama jika sedang mengejar jabatan basah. Hampis semua lulusan, bahkan lulusan Sekolah Rakyatpun, yang pernah menjalani pendidikan tentang Panca Sila. Tetapi kita tak bisa mengingkari kejadian pelanggaran hak asasi merajalela. Mulai dari kejahatan dan pembunuhan massal sekitar 1965, pembersihan etnis dan pembunuhan di Kalimantan, huru hara berdarah 1968, dan lain lain yang makan banyak korban.
Seorang pendidik, kakak saya Ki Hadiwaratama, ahli Fisika Teknik pensiunan ITB, yang sekarang mencoba mendalami aksara Jawa Hanacaraka, mempertanyakan akan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengapa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa banyak terseok dalam kehidupan sosial sehari hari. Sistem pendidikan kita seolah tak mampu mentransformasi mesyarakat ke arah masyarakat modern, disiplin, ber-etos kerja tinggi, bertoleransi tinggi. Pertanyaan yang harus selalu menjadi renungan dan pemecahan dari para pemikir, pendidik dan tokoh tokoh soaial. Bukan hanya semata tugas para pendidik di lembaga2 pendidikan. Tidaklah bijak para pemimpin politik dan masyarakat lebih banyak mengobarkan semangat kebebasan tetapi mau benar sendiri, mau menang sendiri, apa lagi mengobarkan semangat kebencian.
Ah terlalu jauh saya merenung. Pertanyaan saya hanya sederhana saja. Mengapa selama empat puluh tahun, masih saja calon penumpang itu berebut adu kuat untuk antre bis dan kereta. Mengapa hukum rimba itu tetap saja yang dominan ? Sebenarnya tak perlu waktu puluhan tahun untuk menertibkan antrean itu. Tak perlu juga membentuk Komando Operasi Tertib (Kopkamtip) untuk menertibkan. Jika saja kita sebagai warga bisa menanamkan disiplin, toleransi, taat ketentuan pada diri masing masing. Dan para pengelola sistem publik lebih mementingkan kepentingan dibanding kepentingannya sendiri, saya yakin kita akan bisa menciptakan masyarakat yang disipiln dan tertib.
Salam damai dari Yogya
Ki Ageng Similikithi`
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber media, 19 Oktober 2007)
Tuesday, October 16, 2007
Mental priyayi dan kebanggaan profesi
Menjelang dini hari di bandara Cengkareng. Baru saja datang dari Manila dengan Cebu Air Pacific, tengah malam tadi. Menunggu pesawat ke Yogya nanti jam enam. Di salah satu kafe terminal keberangkatan saya menunggu sambil terkantuk kantuk. Sepi pengunjung. Hanya ada beberapa pembeli. Ada satu keluarga, bapak, ibu dan anak gadisnya yang tertidur di meja seberang. Dan beberapa petugas yang sedang istirahat minum di ruang sebelah sambil ngobrol.
Sambil menahan kantuk saya menulis cerita ini. Mulanya pengin cerita tentang perasaan saat pulang tiba di bandara. Pulang ke Yogya. Sudah ratusan kali saya alami sejak tahun delapan puluhan.
Namun tiba tiba pikiran berubah. Seorang petugas polisi menyapa dengan ramah, kemudian dia duduk bersama dengan teman temanya di meja sana. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Tetapi agak aneh buat saya. Ada tulisan dilarang merokok jelas terpampang di kafe ini. Tetapi rombongan petugas polisi yang sedang istirahat itu merokok dengan tenang. Mestinya merekalah yang ikut menegakkan aturan dilarang merokok di bandara ini. Sesudah beberapa saat, saya pindah keluar. Saya berjalan menelusuri terminal keberangkatan. Banyak calon penumpang yang menunggu pesawat lanjutan sedang berstirahat. Terminal ini sebenarnya artistik dan asri.
Seorang calon penumpang asing nampak terbaring di salah satu bangku. Tiduran sambil merokok dan di sampingnya berserakan botol bekas minuman. Nampak tak peduli dengan larangan merokok. Tak bisa disalahkan. Jika petugaspun tak mampu mentaaati, mana orang akan mentaati aturan. Ternyata di dalam terminal juga sama saja. Banyak petugas baik yang sedang bertugas maupun beristirahat pada merokok. Walaupun jelas ada tulisan dilarang merokok di mana mana. Seolah hanya jadi bagian dari dekorasi yang meramaikan dinding2 terminal.
Keinginan menulis saya berubah. Sekedar ingin menulis tentang kebanggaan petugas terhadap profesi dan tugas yang diembannya. Tak ada maksud untuk mencerca dan menjelekkan sama sekali. Di masa lalu kita selalu mendengar kritikan keras terhadap pejabat atau petugas yang bermental priyayi. Tak jelas benar apa itu mentalitas priyayi. Bisa feodal, bisa minta selalu diladeni. Setelah jaman kemerdekaan apa yang berbau mentalitas priyayi di babat habis. Terutama yang berakar dari bekas bekas pegawai pemerintahan Hindia Belanda.
Betulkah hanya sifat feodalisme, sifat yang minta selalu diladeni itu saja yang ada dalam apa yang disebut mentalitas priyayi itu ? Benarkah hanya ada keburukan dari apa yang dikenal dengan mentalitas priyayi ? Saya menerima kesan yang berbeda tentang persepsi mentalitas priyayi dari mereka yang pernah menjadi priyayi, pegawai pemerintah jaman Hindia Belanda.
Ketika saya kecil saya mengenal pakdhe saya almarhum yang pernah menjadi pegawai PTT (lupa kepanjangannya mungkin poste, telegraf dan telefone). Jabatan terakhir sebagai Kepala Kantor Pos Ambarawa di tahun lima puluhan. Saya bertahun tahun selalu tidur di rumah beliau setiap malam. Dari beliau saya melihat disiplin yang begitu tinggi. Berangkat kantor, pulang kantor, makan pagi, makan siang, waktu selalu sama. Ada jam saku yang selalu beliau pakai. Selalu memakai jas, topi bundar (seperti topi safari) dan tongkat. Tak banyak bicara. Setiap perkataan selalu diperhitungkan. Seolah ada protokol ketat bagaimana saya harus bicara dengan beliau. Tak ada istilah telat atau terlambat.
Ketika mahasiswa saya mondok di Patangpuluhan, di tempat almarhum Bpk Slamet yang pensiunan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) dan pernah bekerja sebagai engineer sipil di jaman Hindia Belanda. Beliau yang membangun jalan Wonosobo Dieng. Pernah saya ceritakan di Koki bagaimana bangganya menyelesaikan tugas. Puluhan kali saya mendengar beliau mendemonstrasikan suara ledakan dinamit "bleeeeeeng" sewaktu membangun jalan itu. "Ini jalan termiring di seluruh Indonesia".
Walau kami sering terpingkal mendengar ceritanya, tetapi jelas benar kebanggaan beliau akan profesinya sebagai penanggung jawab pembangunan jalan itu. Kebanggaan akan menyelesaikan tugas dengan baik. Yang bikin kami semua geli sewaktu beliau cerita, akan meledakkan satu batu besar. Penduduk berkeberatan karena batu itu angker. Jawabannya " Saya ini bertugas, kalau perlu dhemit dan setan pun saya lawan" "Bleeeeeeeng", dinamit itu meledak katanya setan dan dhemit pada lari. "Saya bukan kelas pekerja, saya seorang priyayi dan tak pelu gentar menghadapi setiap halangan dalam tugas".
Di tahun 1973, sewaktu kami masih ko- asisten, punya seorang tetangga pegawai kantor pos. Umurnya masih sekitar pertengahan tiga puluhan. Setiap pagi kami bertemu di warung makan pagi di Patangpuluhan Yogyakarta. Dia selalu datang jam 0620 di warung, pesan teh panas dan nasi dengan sayur tempe. Jam 0640, dia cepat cepat berangkat ke kantor. Orangnya pendiam, tak suka banyak bicara. Dalam satu kesempatan dia cerita mengenai pekerjaannya. Dia sudah bekerja selama sepuluh tahun. Mula mula sebagai pengantar surat, kemudian tiga tahun terakhir katanya sering ditugaskan mengawal kiriman pos ke Bandung lewat kereta api. "Belum pernah saya gagal mengawal kiriman. Tak pernah kehilangan ".Temannya banyak kali kehilangan barang yang dikawal. Dia tak pernah mau diajak kompromi kiri kanan. Tugas mengawal barang adalah nomer satu.
Dari ke tiga cerita tadi saya mendapat kesan kuat akan adanya kebanggaan akan profesi, kebanggaan dan kesunnguhan menjalankan tugas dengan baik, dan kebiasaan disiplin yang tinggi. Mentalitas priyayi selalu kita sorot sisi negatipnya semata mata. Tak pernah kita melihat secara kualitatif dibalik mentalitas itu. Mereka memang tak ingin disamakan dengan orang kebanyakan atau kelas pekerja yang tak punya etos kerja. Para petugas di bandara yang saya lihat kali ini, mungkin tak punya kebanggaan profesi, tak punya kebanggaan menjalankan tugasnya dengan baik, minimal untuk tidak merokok sesuai dengan aturan yang harus di jalankannya. Bagaimana mau memberantas korupsi di negeri ini jika para petugas pun tak mampu menegakkan aturan larangan merokok ?
Sektor publik kita banyak kehilangan kebanggaan profesi, kebanggaan menjalankan tugas dengan baik, sikap disiplin dalam menjalankan tugas. Kolusi dan korupsi terjadi di banyak lini dengan mempertaruhkan martabat profesi dan jabatan. Anggota DPR , bupati, kadang merangkap profesi, bahkan bermain film biru. Jamane jaman edan. Para pejabat bermental "priyayi " yang memiliki kebanggaan profesi, tugas dan disiplin harus terpinggirkan. Tergantikan oleh mereka yang bertutur kata indah, bermuka manis, tetapi bermental pengerat (dalam filsafat Jawa dikenal sebagai barisan para bacingah).
Salam damai dan Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber Media, 17 Oktober 2007)
Sambil menahan kantuk saya menulis cerita ini. Mulanya pengin cerita tentang perasaan saat pulang tiba di bandara. Pulang ke Yogya. Sudah ratusan kali saya alami sejak tahun delapan puluhan.
Namun tiba tiba pikiran berubah. Seorang petugas polisi menyapa dengan ramah, kemudian dia duduk bersama dengan teman temanya di meja sana. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Tetapi agak aneh buat saya. Ada tulisan dilarang merokok jelas terpampang di kafe ini. Tetapi rombongan petugas polisi yang sedang istirahat itu merokok dengan tenang. Mestinya merekalah yang ikut menegakkan aturan dilarang merokok di bandara ini. Sesudah beberapa saat, saya pindah keluar. Saya berjalan menelusuri terminal keberangkatan. Banyak calon penumpang yang menunggu pesawat lanjutan sedang berstirahat. Terminal ini sebenarnya artistik dan asri.
Seorang calon penumpang asing nampak terbaring di salah satu bangku. Tiduran sambil merokok dan di sampingnya berserakan botol bekas minuman. Nampak tak peduli dengan larangan merokok. Tak bisa disalahkan. Jika petugaspun tak mampu mentaaati, mana orang akan mentaati aturan. Ternyata di dalam terminal juga sama saja. Banyak petugas baik yang sedang bertugas maupun beristirahat pada merokok. Walaupun jelas ada tulisan dilarang merokok di mana mana. Seolah hanya jadi bagian dari dekorasi yang meramaikan dinding2 terminal.
Keinginan menulis saya berubah. Sekedar ingin menulis tentang kebanggaan petugas terhadap profesi dan tugas yang diembannya. Tak ada maksud untuk mencerca dan menjelekkan sama sekali. Di masa lalu kita selalu mendengar kritikan keras terhadap pejabat atau petugas yang bermental priyayi. Tak jelas benar apa itu mentalitas priyayi. Bisa feodal, bisa minta selalu diladeni. Setelah jaman kemerdekaan apa yang berbau mentalitas priyayi di babat habis. Terutama yang berakar dari bekas bekas pegawai pemerintahan Hindia Belanda.
Betulkah hanya sifat feodalisme, sifat yang minta selalu diladeni itu saja yang ada dalam apa yang disebut mentalitas priyayi itu ? Benarkah hanya ada keburukan dari apa yang dikenal dengan mentalitas priyayi ? Saya menerima kesan yang berbeda tentang persepsi mentalitas priyayi dari mereka yang pernah menjadi priyayi, pegawai pemerintah jaman Hindia Belanda.
Ketika saya kecil saya mengenal pakdhe saya almarhum yang pernah menjadi pegawai PTT (lupa kepanjangannya mungkin poste, telegraf dan telefone). Jabatan terakhir sebagai Kepala Kantor Pos Ambarawa di tahun lima puluhan. Saya bertahun tahun selalu tidur di rumah beliau setiap malam. Dari beliau saya melihat disiplin yang begitu tinggi. Berangkat kantor, pulang kantor, makan pagi, makan siang, waktu selalu sama. Ada jam saku yang selalu beliau pakai. Selalu memakai jas, topi bundar (seperti topi safari) dan tongkat. Tak banyak bicara. Setiap perkataan selalu diperhitungkan. Seolah ada protokol ketat bagaimana saya harus bicara dengan beliau. Tak ada istilah telat atau terlambat.
Ketika mahasiswa saya mondok di Patangpuluhan, di tempat almarhum Bpk Slamet yang pensiunan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) dan pernah bekerja sebagai engineer sipil di jaman Hindia Belanda. Beliau yang membangun jalan Wonosobo Dieng. Pernah saya ceritakan di Koki bagaimana bangganya menyelesaikan tugas. Puluhan kali saya mendengar beliau mendemonstrasikan suara ledakan dinamit "bleeeeeeng" sewaktu membangun jalan itu. "Ini jalan termiring di seluruh Indonesia".
Walau kami sering terpingkal mendengar ceritanya, tetapi jelas benar kebanggaan beliau akan profesinya sebagai penanggung jawab pembangunan jalan itu. Kebanggaan akan menyelesaikan tugas dengan baik. Yang bikin kami semua geli sewaktu beliau cerita, akan meledakkan satu batu besar. Penduduk berkeberatan karena batu itu angker. Jawabannya " Saya ini bertugas, kalau perlu dhemit dan setan pun saya lawan" "Bleeeeeeeng", dinamit itu meledak katanya setan dan dhemit pada lari. "Saya bukan kelas pekerja, saya seorang priyayi dan tak pelu gentar menghadapi setiap halangan dalam tugas".
Di tahun 1973, sewaktu kami masih ko- asisten, punya seorang tetangga pegawai kantor pos. Umurnya masih sekitar pertengahan tiga puluhan. Setiap pagi kami bertemu di warung makan pagi di Patangpuluhan Yogyakarta. Dia selalu datang jam 0620 di warung, pesan teh panas dan nasi dengan sayur tempe. Jam 0640, dia cepat cepat berangkat ke kantor. Orangnya pendiam, tak suka banyak bicara. Dalam satu kesempatan dia cerita mengenai pekerjaannya. Dia sudah bekerja selama sepuluh tahun. Mula mula sebagai pengantar surat, kemudian tiga tahun terakhir katanya sering ditugaskan mengawal kiriman pos ke Bandung lewat kereta api. "Belum pernah saya gagal mengawal kiriman. Tak pernah kehilangan ".Temannya banyak kali kehilangan barang yang dikawal. Dia tak pernah mau diajak kompromi kiri kanan. Tugas mengawal barang adalah nomer satu.
Dari ke tiga cerita tadi saya mendapat kesan kuat akan adanya kebanggaan akan profesi, kebanggaan dan kesunnguhan menjalankan tugas dengan baik, dan kebiasaan disiplin yang tinggi. Mentalitas priyayi selalu kita sorot sisi negatipnya semata mata. Tak pernah kita melihat secara kualitatif dibalik mentalitas itu. Mereka memang tak ingin disamakan dengan orang kebanyakan atau kelas pekerja yang tak punya etos kerja. Para petugas di bandara yang saya lihat kali ini, mungkin tak punya kebanggaan profesi, tak punya kebanggaan menjalankan tugasnya dengan baik, minimal untuk tidak merokok sesuai dengan aturan yang harus di jalankannya. Bagaimana mau memberantas korupsi di negeri ini jika para petugas pun tak mampu menegakkan aturan larangan merokok ?
Sektor publik kita banyak kehilangan kebanggaan profesi, kebanggaan menjalankan tugas dengan baik, sikap disiplin dalam menjalankan tugas. Kolusi dan korupsi terjadi di banyak lini dengan mempertaruhkan martabat profesi dan jabatan. Anggota DPR , bupati, kadang merangkap profesi, bahkan bermain film biru. Jamane jaman edan. Para pejabat bermental "priyayi " yang memiliki kebanggaan profesi, tugas dan disiplin harus terpinggirkan. Tergantikan oleh mereka yang bertutur kata indah, bermuka manis, tetapi bermental pengerat (dalam filsafat Jawa dikenal sebagai barisan para bacingah).
Salam damai dan Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber Media, 17 Oktober 2007)
Subscribe to:
Posts (Atom)