Salam dari Yogya. Sudah dua hari ini di rumah. Akhir minggu lalu tiba di Jakarta, isirahat di rumah anak tiga malam. Sempat lihat lihat kebun raya Bogor dan taman Safari. Seumur umur belum pernah mengunjungi ke dua tempat itu. Sengaja saya minta dijemput sopir di Jakarta. Pengin jalan darat Jakarta Yogya. Mampir di Pekalongan sebentar. Nostalgia masa lalu. Banyak yang telah berubah. Dalam perjalanan Pekalongan ke Yogya lewat jalur Sukorejo Parakan, waktu telah menunjukkan lewat jam sepuluh malam. Jalan sempit naik turun antara Weleri Sukorejo. Mendung dan gelap gulita di luar. Nyi asyik tidur. Berkali kali saya mengingatkan sopir untuk hati hati. Jalannya sering terlalu kencang untuk jalan sempit berkelok kelok seperti itu. Tak ada bintang terlihat di atas sana.
Ingatan saya melayang ke masa masa tiga puluh tahun lalu. Di pertengahan tahun tujuh puluhan. Jalan di kegelapan malam seperti ini sering saya lakukan sewaktu pulang praktek dokter. Waktu itu baru beberapa waktu lulus dokter. Ijin praktek belum keluar. Masih menggantikan dokter senior lain yang tidak bisa melakukan praktek pribadi karena menjalani pendidikan spesialis. Salah satu yang saya gantikan adalah dokter yang prakteknya di daerah Gunung Kidul. Di antara perbukitan yang sepi di malam hari. Prakteknya dua hari sekali di daerah itu. Antara jam setengah enam sore sampai kira kira jam sembilan malam. Jika ada panggilan ke rumah pasien mau tak mau harus disanggupi. Jarak dari rumah kontrakan saya ( di Suryodiningratan) kira kira makan waktu hampir sejam naik skuter. Jika tak ada panggilan pasien, biasanya jam sepuluh malam pasti sudah sampai rumah. Jika ada panggilan pasien, sampai rumah biasanya lewat tengah malam.
Di hari hari lain, saya juga buka praktek, tetapi lebih dekat, sedikit di luar kota Yogya. Biasanya siang sampai di rumah dari kantor jam tiga siang. Jam empat atau setengah lima harus sudah berangkat lagi ke tempat praktek. Anak saya baru satu waktu itu, masih umur setahun lebih. Siang hari antara jam satu sampai jam tiga, kerja di poliklinik pabrik di Sleman. Dua kali seminggu. Rutin selama empat tahun. Tak mungkin mengandalkan gaji untuk mencukupi kebutuhan sehari hari. Di awal tahun delapan puluh saya harus berangkat ke UK untuk ambil program doktor. Pulang ke Yogya tahun delapan puluh tiga, tak pernah lagi sempat buka praktek pribadi.
Banyak pengalaman yang menarik selama menjalani praktek dokter. Yang ingin saya ceritakan hanyalah sepenggal pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Sehabis mengunjungi pasien di rumah mereka. Saya sendiri tak pernah tahu apa makna kisah itu.
Suatu malam, waktu hampir menunjukkan jam setengah sepuluh ketika pasien terakhir meninggalkan ruang praktek. Semua sudah terlayani dengan baik. Tak ada kasus aneh atau peristiwa istimewa. Saya sudah siap siap untuk pulang ketika perawat memberi tahu bahwa ada panggilan pasien. Dua orang pemuda mengatakan bahwa ayahnya sakit berat. Perut kesakitan luar biasa sejak siang hari. Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit atau ke klinik ? Nggak mungkin katanya karena nggak ada kendaraan. Untuk mbonceng sepeda, kondisinya nggak memungkinkan.
Rumahnya katanya nggak jauh, hanya menyeberangi tiga perbukitan. "Dekat kok, hanya dibalik bukit bukit itu". Tetapi perawat menjawab bahwa sudah kelewat malam. Perawat mengatakan, katanya desa itu berjarak kira kira sepuluh kilometer, naik turun bukit. "Kalau sempat ya besok saja di bawa ke sini. Kalau nggak di bawa ke rumah sakit". Namun melihat kekhawatiran di wajah ke dua pemuda itu, saya menyimpulkan kalau ayahnya benar benar memerlukan pertolongan malam itu juga. Akhirnya saya putuskan untuk mendatangi pasien itu. Perawat sengaja tak saya ajak oleh karena dia nampak sudah sangat kecapaian. Saya naik skuter mengikuti kedua pemuda naik sepeda. Tak bisa berjalan cepat. Sepeda harus dituntun jika menaiki bukit.
Cuaca cerah malam itu. Bulan bersinar temaram. Kami berjalan pelan di jalan sepi diantara perbukitan, tegalan dan semak belukar. Suara belalang malam menambah rasa sunyi yang mencekam. Akhirnya kami sampai di desa yang dituju. Hanya beberapa rumah, berjajar rapi di kaki sebuah bukit kecil. Tak ada listrik. Hanya lampu lampu minyak yang menerangi beranda rumah. Tak semua rumah memasang lampu penerangan. Listrik belum masuk desa waktu itu. Rumah pasien sangat sederhana di ujung jalan. Sewaktu saya masuk, beberapa orang duduk menunggu di ruang tengah, di amben (bhs Jawa, mungkin kata lainnya sofa) beralaskan tikar. Kepulan asap tembakau memenuhi ruangan, menambah sesak ruang berdinding bambu itu.
Saya mendapati pasien,seorang pria usia lanjut, yang sangat menderita, kesakitan hebat karena koliek. Saya lakukan wawancara dan pemeriksaan secara cermat. Kecurigaan saya adalah koliek usus, mungkin karena salah makan. Biasanya kasus seperti ini jika tidak ada riwayat syok anafilaksi saya berikan suntikan yang mengendorkan kontraksi dan mengurangi nyeri. Saya selalu menyiapkannya sebagai salah satu obat emergency. Pasien setuju diberi suntikan. Malah dia minta agar di suntik, oleh karena rasa mualnya sangat mengganggu jika harus minum obat. Saya berikan suntikan dosis penuh dan saya tunggu beberapa saat pengaruhnya. Tak ada lima belas menit kemudian, pesien sudah kentut dan merasa nyeri banyak berkurang. Saya minta untuk kontrol esok paginya ke rumah sakit dan saya berikan surat pengantar untuk pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut. Paling tidak malam ini tak menderita nyeri dan bisa beristirahat.Tak banyak saya sempat bicara dengan keluarganya. Isterinya berjualan di pasar Piyungan. Kedua anak muda itu masih sekolah. Mereka mengantar sampai ke pinggir jalan sewaktu saya pulang. Tampak begitu lega dan berbahagia melihat suami dan ayahnya sudah membaik.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat sewaktu saya meninggalkan rumah itu. Pelan pelan naik skuter ok jalan tak rata, permukaannya di tutup batu kali. Belum sempat mempercepat jalan skuter, di tikungan jalan ada seseorang menghentikan saya. "Dokter, sudah selesai ya ?" Saya memang pakai baju putih kalau praktek. Mungkin dia tahu kalau saya dokter. Saya berhenti tanpa mematikan mesin skuter. Seorang wanita muda, tak jelas roman mukanya. Nampak agak gugup dan gelisah.
"Dokter saya mohon pertolongannya ya dok. Anak saya satu satunya sudah tiga hari tidak mau makan. Kadang kadang kejang".
" Di mana rumahnya Bu ? Mengapa nggak dibawa ke Puskesmas ?
"Sudah ditangani sendiri sama mBah dukun di rumah. Belum ada perkembangan dok. Kejangnya semakin sering. Tolonglah anak saya ya dok"..
Hati saya tersentuh melihat kegetirannya. Tak ada alsan untuk menolak, walau malam telah larut. Saya hanya ingat Nyi sama anak saya di rumah. Saya merindukan mereka. Pasti sudah menunggu sejak tadi. Biarlah saya mengunjungi anak wanita tadi. Kalau toh terus pulang, sudah kelewat malam. Tak banyak beda dari sisi keterlambatan waktu. Tetapi banyak sekali artinya bagi pasien itu.
Wanita itu begitu bersemangat menaiki sepeda di depan, dan saya mengikutinya dari belakang. Kadang kadang dia bercerita tentang suaminya yang mengembara mencari nafkah di Jakarta. Saya tak banyak menghiraukan ceritanya. Kadang2 ceria, kadang2 nampak sedih dan khawatir.
"Gimana ya Dok, anak saya sembuh ya ?'
"Iya Bu, anak ibu semoga cepat membaik "
Selendangnya nampak melambai lambai tertiup angin malam. Bayangan wanita itu nampak tegar di atas sepeda, dalam cahanya bulan temaram. Bayangan saya seolah seperti wanita wanita perkasa diatas kuda dalam cerita. Tetapi dia hanyalah seorang ibu bersahaja yang sedang dirundung rasa khawatir karena anaknya yang sakit. Saya akan berusaha menolongnya. Hanya saya heran kok kuat sekali dia mengayuh sepeda naik turun bukit. Dua pemuda tadi selalu menuntun sepedanya di tanjakan. Ibu ini begitu tegar dan bersemangat. Seolah ingin cepat sampai membawa saya melihat anaknya. Saat menuruni bukit kedua, nampak di ujung jalan ada rumah. Hanya remang remang dalam bayangan sinar bulan. Ada lampu minyak di rumah itu. Beberapa puluh meter kea rah kiri dari rumah itu ada lampu petromaks menerangi sekelompok orang yang sedang main bola voli. Pikir saya hampir tengah malam mengapa mereka masih main voli ?
Kami hampir sampai di rumah itu. Wanita itu nampak menoleh kearah saya dan tersenyum lepas. "Terima kasih lho Dok mau datang ke rumah saya" Dia turun dari sepeda dan menyingkapkan selendangnya. Cepat cepat memasuki rumah. Tiba tiba seseorang datang mendekat. Nampaknya dia salah satu dari keompok yang main voli tadi. Saya terhenyak ketika dia mulai menyapa.
"Mengapa malam larut begini datang ke sini ?
"Saya dokter akan melihat pasien anak ibu yang naik sepeda tadi".
"Tak ada pasien di sini dok. Lebih baik kembali saja".
Beberapa temannya ikut mendatangi dan memberikan minuman air putih.
Pikiran saya agak jelas. Wanita itu tak nampak di antara mereka. Bayangan rumah itu ternyata sebuah komplek pemakaman kecil. Nampak senyap tak ada siapa siapa. Orang orang itu kembali lagi bermain voli. Saya terhenyak di depan pemakaman. Cepat cepat kembali naik skuter saya. Pikiran saya tak berhenti berpikir siapa wanita itu? Siapa yang main bola voli itu ? Di jalan beberapa kali saya bertanya ke orang yang sedang ronda arah jalan raya. Hampir sejam kemudian saya mencapai jalan besar. Saya melaju kea rah Yogya.
Sampai rumah sudah menjelang pagi. Nyi sudah tertidur. Makan malam sudah dingin. Tak ada napsu makan. Pikiran saya tertuju ke wanita tadi. Siapapun dia, dia pasti sangat sedih kehilangan anak bayinya. Kesedihan yang dibawa sampai mati. Di alam sana pun dia masih memikirkan anaknya yang sakit. Mengapa nasib begitu mendera tak kenal ampun.
Esok sorenya saya biasa datang ke praktek. Pasien koliek semalam ternyata datang duluan dan menjadi pasien pertama saya. Sudah sehat seperti sedia kala. Dia banyak cerita tentang penyakit2 di desanya. Katanya ada wanita muda yang bunuh diri menggantung dengan selendang beberapa waktu lalu. Dia baru saja melahirkan ditolong dukun. Beberapa hari sesudah lahir bayinya meninggal karena kejang kejang Pikiran saya ini pasti tetanus neonatorum, karena tali pusat di potong dukun dengan sembilu (bilahan bamboo yang tajam).
Wanita tadi begitu sedih dan murung selama berminggu minggu setelah kehilangan anaknya. Belum empat puluh hari kematian anaknya, dia bunuh diri di belakang rumahnya. Dengan selendang yang dipakai untuk menggendong bayinya sampai ke pemakaman. Mungkin dia menderita depresi paska kelahiran, yang sering tak terdiagnosa oleh pelayanan rutin. Tetapi bunuh diri kadang datang beruntun di daerah Gunung Kidul. Mungkin tertinggi di Indonesia Tak tahu sebab pastinya. Perlu banyak penelitian.
Apa pun sebabnya, saya selalu sedih mengingat wanita tadi. Mengingat wajahnya yang penuh gelisah dan rasa khawatir. Wajah yang penuh harap pertolongan dokter. Sayang semuanya terlambat. Kesedihan dan kedukaan kehilangan anak bayinya di bawa sampai ke alam sana. Ya Tuhan berikanlah dia kedamaian di alam sana bersama anak bayi yang sangat dicintainya.. Air mata saya menetes mengakhiri kisah yang sudah lama berlalu ini.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber, 26 Desember 2007)
Wednesday, December 26, 2007
Wednesday, December 19, 2007
Gadis di jendela
Lebih empat pukuh tahun lalu. Gang Mawar di Solo Barat. Saya tinggal di ujung jalan. Setiap kali kulewati gang kecil yang teduh dengan banyak tanaman di halaman rumah sepanjang jalan. Entah berapa ribu kali aku melewati jalan berkerikil itu selama tiga setengah tahun. Banyak kenangan banyak cerita sepanjang jalan itu. Catatan ini hanya sekelumit kilasan peristiwa yang saya ingat.
Rumah indah bercat kuning di pertengahan antara rumahku dan ujung jalan. Ada dua pohon jambu air di depan rumah. Dua jendela menghadap ke jalan di samping pintu. Ada garasi di samping kanan. Tak ada yang sangat istimewa bagiku. Rumah rumah ditepi jalan itu selalu saya lewati, selalu saya pandang sekilas, tanpa diskriminasi. Semuanya sama. Penghuni penghuni yang ramah khas penduduk Solo.
Sampai satu saat sepulang sekolah ada sesuatu yang istimewa. Di jendela itu nampak seorang gadis berwajah tenang, memandang langit menikmati dunia. Hanya kesan sekilas yang menggoda pikiran. Hanya sesaat itu saja. Namun hari hari kemudian perhatian saya selalu tertuju ke rumah itu. Apakah dia akan bersandar tangan di jendela itu. Pertanyaan mengharap selalu datang kala melewati jalan sepi itu. Ada kalanya dia menatap dari jendela, kadang duduk di kursi di beranda. Ternyata ada dua bersaudara, kakak beradik. Keduanya gadis gadis yang nampak bahagia, cantik, ceria dan menarik.
Tak tahu siapa mereka. Tak ada nyali untuk menyapa. Dari seragam sekolahnya, mungkin mereka dari salah satu SMA di barat kota Solo dekat dengan SMA ku. Seragam biru putih. Kami tak pernah saling menyapa. Saya hanya mengangguk sopan jika melihat mereka di depan rumah. Ternyata nyali tak cukup kuat untuk berkenalan. Apa lagi bercerita tentang sekolah. Kadang saya melihat teman teman putrinya kumpul ramai di rumah itu selepas sekolah. Saya tak pernah melihatnya naik sepeda ke sekolah. Walau hati saya selalu mengharap sama sama naik sepeda. Akan saya sapa dan berjalan berjajar ke sekolah. Namun mereka tak pernah saya jumpai naik sepeda. Mungkin di antar jemput pakai mobil.
Saya juga tidak tahu persis orang tua kedua gadis itu. Nampaknya seorang petinggi kantor pemerintahan. Jika tidak mana mungkin ada mobil. Saya tak banyak kenalan di sekitar lingkunganya. Baru setahun di Solo dan kebanyakan teman sekolah saya tinggal di bagian timur dan selatan kota Solo. Satu saat saya bilang ke teman saya Diono dan Martalin mengenai gadis cantik yang selalu berada di jendela menatap langit. Mereka berdua begitu percaya diri akan mendatangi mereka untuk berkenalan. Tetapi saya tak juga mempunyai keberanian cukup untuk melakukannya.
Hanya menatap dan memberikan anggukan sopan jika dia berada di jendela itu. Hari hari berlalu, bulan berganti. Perkembangan tak banyak. Dari anggukan kepala berkembang melempar senyum dan melambaikan tangan. Gadis gadis yang bahagia. Menatap masa depan. Memandang dunia menatap langit lewat jendela. Semua orang akan mengalami masa masa bahagia mengukir masa depan seperti mereka.
Beberapa bulan kemudian saya tak melihat gadis itu di jendela. Berhari hari dan berminggu minggu lewat jalan itu hanya melihat jendela dan pintu yang tertutup. Rumah itu tidak kosong. Penghuninya masih tinggal. Saya merasa sangat kehilangan tak melihatnya di jendela. Tidak ada yang menerima lambaian tangan saya. Tak ada senyum yang bisa saya lihat. Malam malam pikiran saya selalu menerawang membayangkan wajah wajah ceria itu.
Beberapa bulan kemudian saya lihat rumah itu sering kedatangan tamu. Ada mobil parkir di situ sore sore atau malam hari. Namun jendela itu masih saja selalu tertutup. Gadis itu tak pernah nampak lagi menatap ke luar lewat jendela. Ada rasa kehilangan yang tak terungkap.
Suatu saat giliran ronda ada tetangga yang bercerita. Ayah kedua gadis itu diambil pihak kemananan. Diamankan entah dimana. Istilahnya memang manusiawi diamankan. Tetapi arti nyatanya ya ditahan dan direnggut kebebasan pribadinya. Masa masa itu adalah masa tanpa kepastian buat mereka yang menjadi atau dicurigai anggota partai kiri.
Kedua gadis itu pasti kehilangan ayahnya. Keluarga itu pasti kehilangan penyangganya. Pikiran saya selalu bertanya siapa tamu yang bergantian datang dan parkir mobil di rumah itu. Kadang sore hari kadang malam hari. Selalu saja berganti setiap hari. Kedua gadis itu tak lagi sempat menatap langit melihat dunia lewat jendela itu. Saya kehilangan wajahnya yang ceria di jendela. Tetapi kedua gadis itu lebih parah. Mereka kehilangan kasih sayang orang tuanya, kehilangan kemerdekaannya. Menerima tamu yang datang silih berganti hanya untuk bertahan.
Masa masa sesudah peristiwa tahun 1965 menyisakan penderitaan untuk banyak keluarga. Banyak anak kehilangan cinta kasih orang tua. Banyak gadis kehilangan kemerdekaan dan cita cita masa depan. Saya tidak pernah tahu apakah ayah kedua gadis itu kembali lagi. Sampai saya meninggalkan Solo di tahun 1968, jendela rumah itu tetap saja tertutup. Lamunan saya semoga mereka sempat kembali mengarungi perjalanan hidup dengan damai. Mungkin saat ini mereka menikmati kehadiran cucu cucunya walaupun dulu tak sempat lagi menatap langit lewat jendela. Mungkin.
Biarlah masa masa suram itu berlalu. Tak kembali lagi ke bumi pertiwi dan mendera kebahagiaan banyak keluarga dan anak anak muda.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber, 14 Desember 2007)
Rumah indah bercat kuning di pertengahan antara rumahku dan ujung jalan. Ada dua pohon jambu air di depan rumah. Dua jendela menghadap ke jalan di samping pintu. Ada garasi di samping kanan. Tak ada yang sangat istimewa bagiku. Rumah rumah ditepi jalan itu selalu saya lewati, selalu saya pandang sekilas, tanpa diskriminasi. Semuanya sama. Penghuni penghuni yang ramah khas penduduk Solo.
Sampai satu saat sepulang sekolah ada sesuatu yang istimewa. Di jendela itu nampak seorang gadis berwajah tenang, memandang langit menikmati dunia. Hanya kesan sekilas yang menggoda pikiran. Hanya sesaat itu saja. Namun hari hari kemudian perhatian saya selalu tertuju ke rumah itu. Apakah dia akan bersandar tangan di jendela itu. Pertanyaan mengharap selalu datang kala melewati jalan sepi itu. Ada kalanya dia menatap dari jendela, kadang duduk di kursi di beranda. Ternyata ada dua bersaudara, kakak beradik. Keduanya gadis gadis yang nampak bahagia, cantik, ceria dan menarik.
Tak tahu siapa mereka. Tak ada nyali untuk menyapa. Dari seragam sekolahnya, mungkin mereka dari salah satu SMA di barat kota Solo dekat dengan SMA ku. Seragam biru putih. Kami tak pernah saling menyapa. Saya hanya mengangguk sopan jika melihat mereka di depan rumah. Ternyata nyali tak cukup kuat untuk berkenalan. Apa lagi bercerita tentang sekolah. Kadang saya melihat teman teman putrinya kumpul ramai di rumah itu selepas sekolah. Saya tak pernah melihatnya naik sepeda ke sekolah. Walau hati saya selalu mengharap sama sama naik sepeda. Akan saya sapa dan berjalan berjajar ke sekolah. Namun mereka tak pernah saya jumpai naik sepeda. Mungkin di antar jemput pakai mobil.
Saya juga tidak tahu persis orang tua kedua gadis itu. Nampaknya seorang petinggi kantor pemerintahan. Jika tidak mana mungkin ada mobil. Saya tak banyak kenalan di sekitar lingkunganya. Baru setahun di Solo dan kebanyakan teman sekolah saya tinggal di bagian timur dan selatan kota Solo. Satu saat saya bilang ke teman saya Diono dan Martalin mengenai gadis cantik yang selalu berada di jendela menatap langit. Mereka berdua begitu percaya diri akan mendatangi mereka untuk berkenalan. Tetapi saya tak juga mempunyai keberanian cukup untuk melakukannya.
Hanya menatap dan memberikan anggukan sopan jika dia berada di jendela itu. Hari hari berlalu, bulan berganti. Perkembangan tak banyak. Dari anggukan kepala berkembang melempar senyum dan melambaikan tangan. Gadis gadis yang bahagia. Menatap masa depan. Memandang dunia menatap langit lewat jendela. Semua orang akan mengalami masa masa bahagia mengukir masa depan seperti mereka.
Beberapa bulan kemudian saya tak melihat gadis itu di jendela. Berhari hari dan berminggu minggu lewat jalan itu hanya melihat jendela dan pintu yang tertutup. Rumah itu tidak kosong. Penghuninya masih tinggal. Saya merasa sangat kehilangan tak melihatnya di jendela. Tidak ada yang menerima lambaian tangan saya. Tak ada senyum yang bisa saya lihat. Malam malam pikiran saya selalu menerawang membayangkan wajah wajah ceria itu.
Beberapa bulan kemudian saya lihat rumah itu sering kedatangan tamu. Ada mobil parkir di situ sore sore atau malam hari. Namun jendela itu masih saja selalu tertutup. Gadis itu tak pernah nampak lagi menatap ke luar lewat jendela. Ada rasa kehilangan yang tak terungkap.
Suatu saat giliran ronda ada tetangga yang bercerita. Ayah kedua gadis itu diambil pihak kemananan. Diamankan entah dimana. Istilahnya memang manusiawi diamankan. Tetapi arti nyatanya ya ditahan dan direnggut kebebasan pribadinya. Masa masa itu adalah masa tanpa kepastian buat mereka yang menjadi atau dicurigai anggota partai kiri.
Kedua gadis itu pasti kehilangan ayahnya. Keluarga itu pasti kehilangan penyangganya. Pikiran saya selalu bertanya siapa tamu yang bergantian datang dan parkir mobil di rumah itu. Kadang sore hari kadang malam hari. Selalu saja berganti setiap hari. Kedua gadis itu tak lagi sempat menatap langit melihat dunia lewat jendela itu. Saya kehilangan wajahnya yang ceria di jendela. Tetapi kedua gadis itu lebih parah. Mereka kehilangan kasih sayang orang tuanya, kehilangan kemerdekaannya. Menerima tamu yang datang silih berganti hanya untuk bertahan.
Masa masa sesudah peristiwa tahun 1965 menyisakan penderitaan untuk banyak keluarga. Banyak anak kehilangan cinta kasih orang tua. Banyak gadis kehilangan kemerdekaan dan cita cita masa depan. Saya tidak pernah tahu apakah ayah kedua gadis itu kembali lagi. Sampai saya meninggalkan Solo di tahun 1968, jendela rumah itu tetap saja tertutup. Lamunan saya semoga mereka sempat kembali mengarungi perjalanan hidup dengan damai. Mungkin saat ini mereka menikmati kehadiran cucu cucunya walaupun dulu tak sempat lagi menatap langit lewat jendela. Mungkin.
Biarlah masa masa suram itu berlalu. Tak kembali lagi ke bumi pertiwi dan mendera kebahagiaan banyak keluarga dan anak anak muda.
Salam damai
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber, 14 Desember 2007)
Monday, December 10, 2007
Pelecehan seksual, perkosaan dan hukum proaktif
Pelecehan seksual, perkosaan dan hukum pro aktif
Salam sejahtera untuk semua. Beberapa hari tak sempat membuka Koki. Ada acara pertemuan yang begitu padat di Bangkok. Akhirnya akhir pekan ini kembali di Manila. Ada berita menarik yang disiarkan CNN, BBC atau Al Jazeera. Bukan berita besar, tetapi sempat menarik perhatian media dan kalangan internasional karena kontroversinya.
Berita tentang korban perkosaan di Arab Saudi yang malah mendapat hukuman tambahan dicambuk dua ratus kali. Tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan pihak manapun. Hanya ulasan awam semata. Saya bukan ahli hukum. Hanya berdasarkan atas rasa keadilan. Tak bisa dihindari di banyak negara penerapan hukum sering tak selaras dengan rasa keadilan. Terutama jika itu menimpa pihak yang tak berdaya di mata hukum.
Kembali ke berita kasus perkosaan di Saudi yang menggemparkan itu. (http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/7098480.stm). Wanita muda ini, tak disebutkan kewarganegaraannya, menjadi korban perkosaan oleh sekelompok pria yang menemukan dia bersama dengan kawan prianya dalam satu mobil. Keputusan pengadilan menghukum pelaku perkosaan. Tetapi si koban juga dijatuhi hukuman cambuk 90 kali, oleh karena melanggar hukum segregasi pria dan wanita, dan telah menimbulkan rangsangan syahwat terhadap pelaku sehingga perkosaan berlangsung. Berusaha naik banding, si korban malah mendapat tambahan hukuman menjadi 200 kali cambuk dan kurungan enam bulan. Alasannya karena membocorkan beritanya ke dunia luar. Penasehat hukumnya juga mengalami skorsing.
Di banyak negara berkembang hukum memang tak selalu akrab dan melindungi korban perkosaan dan pelecehan seksual. Sering korban pelecehan seksual dan perkosaan selalu dalam kesulitan berhadapan dengan prosedur hukum formal karena banyak hal. Dalam prosedur penyidikan dan pemeriksaan, tak jarang korban mengalami trauma karena proses yang sering harassing dan intrusive. Tetapi prosedur dan pertanyaan2 ini mungkin diperlukan untuk membuktikan bahwa memang terjadi peristiwa perkosaan dan bukan hubungan seksual atas kehendak bersama. Misalnya, apakah anda merasakan kenikmatan seksual sewaktu kejadian berlangsung ? Apakah vagina anda bereaksi berkontraksi sewaktu ada penetrasi ? Bagaimana pakaian anda waktu itu, apakah memakai pakaian yang merangsang ? Saya tak punya kompetensi untuk mempertanyakan penyidikan yang telah menjadi standard operating procedure.
Tetapi sulit menghindari kesan bahwa substansi hukum juga sering membedakan apakah korban berpenampilan, berpakaian, dan berperilaku yang bisa merangsang napsu pihak pelaku. Dengan kata lain, seolah korban perkosaan dipersalahkan jika dia sebelumnya telah berpenampilan, berperilaku atau berpakaian seronok dan meangsang napsu pelaku. Sebaiknya pelaku perkosaan atu pelecehan mendapat peluang keringanan atau excuse jika korban yang diperkosa atu dilecehkan, berperilaku, berpenampilan dan berpakaian seronok. Ini juga yang mungkin tidak membuat jera para pemerkosa atau pelaku pelecehan seksual.
Wanita yang berjalan sendirian di jalan, terutama di malam hari, tak jarang mengalami pelecehan dalam bentuk siulan siulan krang ajar, sampai colekan colekan yang merendahkan. Jika anda mengalami kejadian seperti ini, apakah anda berani lapor ke pihak keamanan ? Pasti ragu kan oleh karena bentuk pelecehan ini sudah dianggap hal yang biasa. Padahal dalam hukum pidana kita, orang bisa dihukum karena ‘’perbuatan yang tidak menyenangkan”.
Saya masih ingat di salah satu hotel di Almaty, Kazakhtan, dalam satu misi resmi salah satu anggota tim wanita dari Ukraina yang sangat jelita, ditawar oleh seseorang. How much I should spend if I want to sleep with you ? I have one hundred dollars. Teman wanita ini tak menanggapi, hanya menjawab acuh” That would be impossible”. Dia tak tergetar dengan pertanyaan yang melecehkan tersebut. Katanya kalau marah, malah tambah rumit. Hindari saja.
Kembali ke perangkat hukum yang cenderung menyalahkan dan memberatkan korban perkosaan dan pelecehan yang berpenampilan, berpakaian dan berperilaku seronok (kebanyakan wanita). Pikir pikir hukum formal juga harus memberi sanksi bagi mereka mereka (kebanyakan pria) yang mudah terangsang jika melihat lawan jenis berpenampilan, berpakaian atau berperilaku seronok. Ini akan lebih adil dan berimbang. Hukum berimbang dan proaktif.
Mereka mereka yang suka melakukan berbagai tingkat pelecehan, seperti siulan siulan kurang ajar, colak colek, langsung bisa dijerat dengan pasal ‘’pelecehan seksual’’ atau pasal ‘’melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan”. Demikian pula yang jelas jelas memaksakan kehendak dan perbuatan seksual, tanpa persetujuan kedua belah pihak, bisa dijerat dengan pasal ‘’perkosaan” atau pasal “memaksakan kehendak tanpa persetujuan kedua belah pihak”. Ingat dalam dunia politik tanah air, perbuatan ‘’memaksakan kehendak” juga dapat ditindak secara hukum.
Nah orang orang yang gampang terangsang seksual ditempat umum, mestinya bisa ditindak atau dijerat dengan pasal hukum. Ini secara proaktif untuk mencegah pelecehan dan perkosaan. Jika perlu penggunaan kaca mata hitam ditempat umum dilarang. Hanya menjadi sarana lirak lirik. Boleh pakai kaca mata gelap ditempat umum tetapi hanya malam hari.
Yang menjadi masalah adalah bagimana mendeteksi seseorang terangsang syahwat di tempat umum, jika yang bersangkutan tidak/belum melakukan tindakan pelecehan apa apa. Dalam mencegah penyebaran avian flue dan SARS di bandara2 dipasang detector yang bisa mendeteksi orang yang menderita demam. Mungkin detector yang bisa mendeteksi orang yang terangsang syahwat, juga bisa dikembangkan dan dipasang ditempat umum seperti di bandara, stasiun kereta, stanplaat bis, bis malam, cinema, coffee shop, mall dll. Tempat2 yang mempunyai resiko tinggi meningkatnya syahwat. Begitu ada orang yang syahwatnya naik melampaui batas, detector ini akan berbunyi ‘’theeeeeeng”, seperti bunyi dawai kecapi yang tegang. Ini untuk pria. Jika yang terekam adalah pihak wanita, detector akan berbunyi ‘’Pussss ngeooooong”, seperti suara kucing meringik lirih. Walaupun tak ditindak dengan hukum formal, orang2 yang bersyahwat luar biasa ini akan berpikir seribu kali untuk mengumbar syahwat di tempat umum.
Jika dengan perangkat detector ini para pesyahwat luar biasa ini belum jera juga, maka bisa dikembangkan semacam alat bandul magnetic. Bandul ini bisa di setel secara remote. Walaupun syahwat meninggi, karena ada bandul magnetic yang memberati, tak mungkin alat alat persyahwatan itu bisa berdiri tegak. Jika dengan bandul magnetic ini tetap saja pelaku melakukan kejahatan perkosaan, mungkin bisa dipertimbangkan tindakan pengebirian (kastrasi) secara hukum. Toh pengebirian hukum terjadi setiap hari oleh para aparat. Apa salahnya melakukan pengebirian secara hukum. Ini bisa dilakukan dengan suntikan hormonal, tak perlu tindakan fisik operasi pemotongan apa apa.
Ini hanyalah angan angan untuk mencegah pelecehan seksual dan perkosaan. Di bidang lain, kaidah hukum juga telah berlaku sangat proaktif. Misalnya di bidang politik, keamanan, dan pemberantasan terorisme. Axis of evil dipakai untuk mengisolasi negara yang tak disukai. Mengapa tidak diberlakukan proaktif mencegah pelecehan dan perkosaan ? Hanya axisnya sedikit diubah tempatnya, dari mata kea lat syahwat.
Nggak tahulah. Jamane jaman edan.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber 10 Desember 2007)
Salam sejahtera untuk semua. Beberapa hari tak sempat membuka Koki. Ada acara pertemuan yang begitu padat di Bangkok. Akhirnya akhir pekan ini kembali di Manila. Ada berita menarik yang disiarkan CNN, BBC atau Al Jazeera. Bukan berita besar, tetapi sempat menarik perhatian media dan kalangan internasional karena kontroversinya.
Berita tentang korban perkosaan di Arab Saudi yang malah mendapat hukuman tambahan dicambuk dua ratus kali. Tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan pihak manapun. Hanya ulasan awam semata. Saya bukan ahli hukum. Hanya berdasarkan atas rasa keadilan. Tak bisa dihindari di banyak negara penerapan hukum sering tak selaras dengan rasa keadilan. Terutama jika itu menimpa pihak yang tak berdaya di mata hukum.
Kembali ke berita kasus perkosaan di Saudi yang menggemparkan itu. (http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/7098480.stm). Wanita muda ini, tak disebutkan kewarganegaraannya, menjadi korban perkosaan oleh sekelompok pria yang menemukan dia bersama dengan kawan prianya dalam satu mobil. Keputusan pengadilan menghukum pelaku perkosaan. Tetapi si koban juga dijatuhi hukuman cambuk 90 kali, oleh karena melanggar hukum segregasi pria dan wanita, dan telah menimbulkan rangsangan syahwat terhadap pelaku sehingga perkosaan berlangsung. Berusaha naik banding, si korban malah mendapat tambahan hukuman menjadi 200 kali cambuk dan kurungan enam bulan. Alasannya karena membocorkan beritanya ke dunia luar. Penasehat hukumnya juga mengalami skorsing.
Di banyak negara berkembang hukum memang tak selalu akrab dan melindungi korban perkosaan dan pelecehan seksual. Sering korban pelecehan seksual dan perkosaan selalu dalam kesulitan berhadapan dengan prosedur hukum formal karena banyak hal. Dalam prosedur penyidikan dan pemeriksaan, tak jarang korban mengalami trauma karena proses yang sering harassing dan intrusive. Tetapi prosedur dan pertanyaan2 ini mungkin diperlukan untuk membuktikan bahwa memang terjadi peristiwa perkosaan dan bukan hubungan seksual atas kehendak bersama. Misalnya, apakah anda merasakan kenikmatan seksual sewaktu kejadian berlangsung ? Apakah vagina anda bereaksi berkontraksi sewaktu ada penetrasi ? Bagaimana pakaian anda waktu itu, apakah memakai pakaian yang merangsang ? Saya tak punya kompetensi untuk mempertanyakan penyidikan yang telah menjadi standard operating procedure.
Tetapi sulit menghindari kesan bahwa substansi hukum juga sering membedakan apakah korban berpenampilan, berpakaian, dan berperilaku yang bisa merangsang napsu pihak pelaku. Dengan kata lain, seolah korban perkosaan dipersalahkan jika dia sebelumnya telah berpenampilan, berperilaku atau berpakaian seronok dan meangsang napsu pelaku. Sebaiknya pelaku perkosaan atu pelecehan mendapat peluang keringanan atau excuse jika korban yang diperkosa atu dilecehkan, berperilaku, berpenampilan dan berpakaian seronok. Ini juga yang mungkin tidak membuat jera para pemerkosa atau pelaku pelecehan seksual.
Wanita yang berjalan sendirian di jalan, terutama di malam hari, tak jarang mengalami pelecehan dalam bentuk siulan siulan krang ajar, sampai colekan colekan yang merendahkan. Jika anda mengalami kejadian seperti ini, apakah anda berani lapor ke pihak keamanan ? Pasti ragu kan oleh karena bentuk pelecehan ini sudah dianggap hal yang biasa. Padahal dalam hukum pidana kita, orang bisa dihukum karena ‘’perbuatan yang tidak menyenangkan”.
Saya masih ingat di salah satu hotel di Almaty, Kazakhtan, dalam satu misi resmi salah satu anggota tim wanita dari Ukraina yang sangat jelita, ditawar oleh seseorang. How much I should spend if I want to sleep with you ? I have one hundred dollars. Teman wanita ini tak menanggapi, hanya menjawab acuh” That would be impossible”. Dia tak tergetar dengan pertanyaan yang melecehkan tersebut. Katanya kalau marah, malah tambah rumit. Hindari saja.
Kembali ke perangkat hukum yang cenderung menyalahkan dan memberatkan korban perkosaan dan pelecehan yang berpenampilan, berpakaian dan berperilaku seronok (kebanyakan wanita). Pikir pikir hukum formal juga harus memberi sanksi bagi mereka mereka (kebanyakan pria) yang mudah terangsang jika melihat lawan jenis berpenampilan, berpakaian atau berperilaku seronok. Ini akan lebih adil dan berimbang. Hukum berimbang dan proaktif.
Mereka mereka yang suka melakukan berbagai tingkat pelecehan, seperti siulan siulan kurang ajar, colak colek, langsung bisa dijerat dengan pasal ‘’pelecehan seksual’’ atau pasal ‘’melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan”. Demikian pula yang jelas jelas memaksakan kehendak dan perbuatan seksual, tanpa persetujuan kedua belah pihak, bisa dijerat dengan pasal ‘’perkosaan” atau pasal “memaksakan kehendak tanpa persetujuan kedua belah pihak”. Ingat dalam dunia politik tanah air, perbuatan ‘’memaksakan kehendak” juga dapat ditindak secara hukum.
Nah orang orang yang gampang terangsang seksual ditempat umum, mestinya bisa ditindak atau dijerat dengan pasal hukum. Ini secara proaktif untuk mencegah pelecehan dan perkosaan. Jika perlu penggunaan kaca mata hitam ditempat umum dilarang. Hanya menjadi sarana lirak lirik. Boleh pakai kaca mata gelap ditempat umum tetapi hanya malam hari.
Yang menjadi masalah adalah bagimana mendeteksi seseorang terangsang syahwat di tempat umum, jika yang bersangkutan tidak/belum melakukan tindakan pelecehan apa apa. Dalam mencegah penyebaran avian flue dan SARS di bandara2 dipasang detector yang bisa mendeteksi orang yang menderita demam. Mungkin detector yang bisa mendeteksi orang yang terangsang syahwat, juga bisa dikembangkan dan dipasang ditempat umum seperti di bandara, stasiun kereta, stanplaat bis, bis malam, cinema, coffee shop, mall dll. Tempat2 yang mempunyai resiko tinggi meningkatnya syahwat. Begitu ada orang yang syahwatnya naik melampaui batas, detector ini akan berbunyi ‘’theeeeeeng”, seperti bunyi dawai kecapi yang tegang. Ini untuk pria. Jika yang terekam adalah pihak wanita, detector akan berbunyi ‘’Pussss ngeooooong”, seperti suara kucing meringik lirih. Walaupun tak ditindak dengan hukum formal, orang2 yang bersyahwat luar biasa ini akan berpikir seribu kali untuk mengumbar syahwat di tempat umum.
Jika dengan perangkat detector ini para pesyahwat luar biasa ini belum jera juga, maka bisa dikembangkan semacam alat bandul magnetic. Bandul ini bisa di setel secara remote. Walaupun syahwat meninggi, karena ada bandul magnetic yang memberati, tak mungkin alat alat persyahwatan itu bisa berdiri tegak. Jika dengan bandul magnetic ini tetap saja pelaku melakukan kejahatan perkosaan, mungkin bisa dipertimbangkan tindakan pengebirian (kastrasi) secara hukum. Toh pengebirian hukum terjadi setiap hari oleh para aparat. Apa salahnya melakukan pengebirian secara hukum. Ini bisa dilakukan dengan suntikan hormonal, tak perlu tindakan fisik operasi pemotongan apa apa.
Ini hanyalah angan angan untuk mencegah pelecehan seksual dan perkosaan. Di bidang lain, kaidah hukum juga telah berlaku sangat proaktif. Misalnya di bidang politik, keamanan, dan pemberantasan terorisme. Axis of evil dipakai untuk mengisolasi negara yang tak disukai. Mengapa tidak diberlakukan proaktif mencegah pelecehan dan perkosaan ? Hanya axisnya sedikit diubah tempatnya, dari mata kea lat syahwat.
Nggak tahulah. Jamane jaman edan.
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber 10 Desember 2007)
Saturday, December 8, 2007
Tertipu luar dalam
Perkembangan bahasa verbal di tanah air sangat pesat terutama yang berkaitan dengan ungkapan idiomatik sehari hari. Kadang kadang menyulitkan pengguna bahasa, jika yang bersangkutan tak berada dalam konteks yang sesuai. Akhir akhir ini saya sering berdebat dengan Nyi, perkara istilah tertipu luar dalam. Saya tak paham apa maknanya. Dalam pemberitaan sering tersirat adanya wanita (tak berdaya )yang tertipu harta benda maupun tertipu dalam hubungan seksual. Tertipu harta benda bisa dimengerti oleh karena memang banyak penipu bergentayangan mencari rejeki. Korbannya terutama mereka yang lengah dan tak berdaya. TKW umpamanya sering menjadi korban penipuan luar kehilangan uang selepas tiba di bandara.
Tetapi tertipu bagian dalam ini susah di cerna. Jika hubungan seksual dilakukan tidak atas kemauan bersama, atau atas paksaan satu pihak (pria) jelas ini termasuk perkosaan. Tetapi jika hubungan tersebut dilakukan atas kemauan bersama, ini merupakan suatu informed mutual decision. Masalahnya menjadi rumit jika pihak wanita terlibat bujuk rayu pria untuk yang kemudian berlanjut sampai hubungan seksual. Apakah ini secara hukum menjadi apa yang dikenal "tertipu bagian dalam"? Kalau si pria sambil merayu dan menikmati hubungan seksualnya, kemudian juga mencuri harta entah uang, cell phone, jam tangan, perhiasan dan lain lain, ini namanya tertipu bagian luar.
Penipuan bagian luar mudah dibuktikan secara hukum oleh karena ada barang yang hilang. Tetapi penipuan bagian dalam susah dibuktikan secara hukum, oleh karena tidak tahu apakah sewaktu kegiatan seksual tersebut terjadi, didasari atas suka sama suka, mau sama mau, atau keterpaksaan. Saya bukanlah ahli delik tipu menipu bagian luar atau bagian dalam. Katanya menurut hukum di Indonesia, jika hubungan seksual itu terjadi karena si wanita di iming2i akan diajak kawin (lagi), diajak pesiar ke luar negeri, atau dijanjikan peran sinetron, dan iming2 itu tak sampai terlaksana, maka dapat menjadi delik penipuan bagian dalam. Sipelaku dapat ditindak secara hukum jika korban melaporkan ke aparat hukum oleh karena perbuatan tersebut adalah delik aduan. Jika delik aduan penipuan bagian dalam tak memenuhi, aparat bisa menggunakan pasal 'perbuatan tidak menyenangkan", walaupun sebenarnya sewaktu hubungan itu terjadi, mestinya ya sama sama senang dan sama sama mau.
Jika penipuan bagian dalam ini bersaman dengan kejadian penipuan luar, tak susahlah menyidik dan melakukan tindakan hukum. Misalnya si korban dipikat dengan minyak sinyongyong, diajak tidur bersama lalu dompet diambil dan dibawa lari. Peristiwa ini sering terjadi terhadap penumpang bis malam, atau terhadap wanita client dari dukun (palsu) yang mengaku sakti. Ceritanya hampir selalu sama. Mestinya hukuman bagi pelaku diperberat. Yang sering korban juga diintimidasi macam macam. Bahkan korban sering disalahkan. Di Saudi korban perkosaan bisa dihukum. Alasannya mungkin karena korban telah menimbulkan dan merangsang syahwat bagi pelaku perkosaan secara excessive. Nggak mudheng saya.
Pengalaman saya dalam penipuan luar dalam agak lain. Kira kira dua tahun lalu di Manila. Untung tidak sampai ke pengadilan. Bisa bisa tambah rumit. Bukan sexual harassment tetapi murni adalah kasus penipuan luar dalam.
Seperti biasa di akhir pekan, di hari Sabtu biasanya saya main golf. Hari Minggu jalan jalan bersama Nyi. Di Manila tak banyak pilihan jalan jalan. Paling paling ke mall. Hari itu kami ke mall di Alabang Town Centre. Sebenarnya lebih enak malas malasan di rumah, tetapi Nyi berkeras ke sana oleh karena ada sale. Kalau musim sale begini, biasanya dia mesti belanja keliling mencari oleh oleh untuk cucu.
Saya hanya mengikuti saja. Suara musik yang keras menambah suasana hiruk pikuk. Di Manila saya amati di manapun, entah itu di restoran atau rumah musik, mereka selalu memutar musik keras keras. Seolah olah pelanggan itu tuli semuanya. Di Indonesia saya pernah beberapa kali mengalami keracunan suara musik.. Di NTT musik disetel keras di dalam kendaraan angkot. Di kampung kalau ada tetangga hajatan supitan atau mantu, musik ndang ndhut disetel keras siang malam. Saya sebenarnya sangat senang musik ndang ndhut ini asal nggak terlalu keras. Akhir akhir ini musik campursari, yang sering lagu2nya agak sedikit porno, seperti lagu Cocak Rawa. Di Lubuk Alung Sumatra Barat pernah mblenger ndengerin lagu Pantai Balibis, yang disetel 3 malam berturut turut dengan pengeras suara di gantung di pohon kelapa. Saya baru mengikuti pelatihan. Lagunya bagus dan enak sebenarnya, tetapi tidak untuk 3 hari 3 malam tanpa henti.
Kembali ke kisah di mall Alabang. Konsentrasi mulai terganggu karena suara musik yang gemuruh. Saya menggandeng NYI jalan keluar masuk mall, walau konsentrasi saya terpecah karena suasana yang hingar bingar. Hanya berjalan mengikuti arus manusia. Tak tergesa gesa oleh karena tak ada yang dikejar. Rasanya agak ngantuk, Minggu siang biasanya tidur. Kebiasaan sejak masih muda dulu.
Ada yang terasa aneh yang tak saya sadari pada awalnya. Gandengan Nyi terasa agak berat. Biasanya gandengan hanya dengan saling berpegangan jari jari atau telapak tangan. Terasa ringan dan tidak saling mengikat irama langkah masing masing. Ini kok aneh, dia menggamit erat lengan kiri saya. Rasanya berat dan langkah kaki terganggu karenanya. Kami berjalan terus bergandengan. Beberapa waktu kemudian saya bertanya akan beli apa. Betapa kaget ketika saya menoleh, ternyata bukan NYI. Orang lain yang menggamit lengan kiri saya. Seorang nenek nenek yang memang kelihatannya agak kesulitan berjalan sendiri. Ketika dia melihat saya terkaget kaget, dia juga kaget dan bilang I am sorry. Dia memanggil manggil pengantarnya, mungkin anaknya, dua orang wanita muda yang nampaknya juga begitu sibuk memilih pakaian on the sales. Ketika mereka mengetahui kekeliruan tersebut, malah tertawa lepas sambil bilang "Sorry sir".
Tak ada alasan untuk mengeluh. Tetapi Nyi saya tak lihat di situ. Mungkin dia masuk toko yang lain dan keasyikan milih. Biasanya njlimet sekali dan saya tak pernah sabar menanti. Dari pada bosan menunggu saya mencoba memilih beberapa baju dan pakaian dalam. Ada hem yang dijual satu paket dengan kaos dalam. Saya nggak minat beli kaos ok sudah sejak pengantin baru, nggak pernah pakai kaos dalam. Tetapi model bajunya menarik, warna biru dengan kotak kotak kecil. Dijual separoh harga. Tak sempat mencobanya, saya ambil baju tersebut, ukuran 16 dengan kaos dalamnya. Pelayan toko nampak ramah dan berkali kali bilang kalau baju tersebut cocok untuk saya. Whatever !
Saya bisa menghubungi Nyi lewat ponsel dan kami ketemu di salah satu rumah makan sambil makan siang sekalian. Saya menggerutu keliru nggandeng orang lain. Tak minta maaf malah menertawakan, 'Makanya jangan jelalatan lirak lirik kesana kemari'. Kalau saya lirak lirik kesana kemari, malah nggak akan sampai keliru. Saya keliru nggandeng orang karena percaya yang saya gandheng itu Nyi. Perasaan mantap tanpa keraguan. Bukan karena lirik sana lirik sini. Kalau toh melirik, ini tempat umum, nggak mungkin berjalan menutup mata, atau pakai kaca mata kuda. Keluhan ini juga tak logis tak sesuai konteks.
Sampai di rumah agak sore. Terus tertidur pulas. Malam malam saya ingat baju yang saya beli. Saya buka dan saya coba. Ternyata ukurannya kekecilan. Baju maupun kaos. Saya mengeluh sendirian "Tertipu luar dalam'. Nyi yang sudah tertidur ternyata mendengar keluhan saya. Dia mengigau tak jelas " Saya tertipu luar dalam tiga puluh tahun". Mungkin ngelindur. Tetapi ngelindurnya juga di luar konteks. Tak ada niat mengembalikan baju dan kaos tersebut. Ini bukan delik aduan yang cukup untu melapor ke aparat. Baju dan kaos masih tersimpan rapi. Arsip otentik pengalaman tertipu luar dalam.
Salam luar dalam
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita KompasCyber 30 Nov 2007)
Tetapi tertipu bagian dalam ini susah di cerna. Jika hubungan seksual dilakukan tidak atas kemauan bersama, atau atas paksaan satu pihak (pria) jelas ini termasuk perkosaan. Tetapi jika hubungan tersebut dilakukan atas kemauan bersama, ini merupakan suatu informed mutual decision. Masalahnya menjadi rumit jika pihak wanita terlibat bujuk rayu pria untuk yang kemudian berlanjut sampai hubungan seksual. Apakah ini secara hukum menjadi apa yang dikenal "tertipu bagian dalam"? Kalau si pria sambil merayu dan menikmati hubungan seksualnya, kemudian juga mencuri harta entah uang, cell phone, jam tangan, perhiasan dan lain lain, ini namanya tertipu bagian luar.
Penipuan bagian luar mudah dibuktikan secara hukum oleh karena ada barang yang hilang. Tetapi penipuan bagian dalam susah dibuktikan secara hukum, oleh karena tidak tahu apakah sewaktu kegiatan seksual tersebut terjadi, didasari atas suka sama suka, mau sama mau, atau keterpaksaan. Saya bukanlah ahli delik tipu menipu bagian luar atau bagian dalam. Katanya menurut hukum di Indonesia, jika hubungan seksual itu terjadi karena si wanita di iming2i akan diajak kawin (lagi), diajak pesiar ke luar negeri, atau dijanjikan peran sinetron, dan iming2 itu tak sampai terlaksana, maka dapat menjadi delik penipuan bagian dalam. Sipelaku dapat ditindak secara hukum jika korban melaporkan ke aparat hukum oleh karena perbuatan tersebut adalah delik aduan. Jika delik aduan penipuan bagian dalam tak memenuhi, aparat bisa menggunakan pasal 'perbuatan tidak menyenangkan", walaupun sebenarnya sewaktu hubungan itu terjadi, mestinya ya sama sama senang dan sama sama mau.
Jika penipuan bagian dalam ini bersaman dengan kejadian penipuan luar, tak susahlah menyidik dan melakukan tindakan hukum. Misalnya si korban dipikat dengan minyak sinyongyong, diajak tidur bersama lalu dompet diambil dan dibawa lari. Peristiwa ini sering terjadi terhadap penumpang bis malam, atau terhadap wanita client dari dukun (palsu) yang mengaku sakti. Ceritanya hampir selalu sama. Mestinya hukuman bagi pelaku diperberat. Yang sering korban juga diintimidasi macam macam. Bahkan korban sering disalahkan. Di Saudi korban perkosaan bisa dihukum. Alasannya mungkin karena korban telah menimbulkan dan merangsang syahwat bagi pelaku perkosaan secara excessive. Nggak mudheng saya.
Pengalaman saya dalam penipuan luar dalam agak lain. Kira kira dua tahun lalu di Manila. Untung tidak sampai ke pengadilan. Bisa bisa tambah rumit. Bukan sexual harassment tetapi murni adalah kasus penipuan luar dalam.
Seperti biasa di akhir pekan, di hari Sabtu biasanya saya main golf. Hari Minggu jalan jalan bersama Nyi. Di Manila tak banyak pilihan jalan jalan. Paling paling ke mall. Hari itu kami ke mall di Alabang Town Centre. Sebenarnya lebih enak malas malasan di rumah, tetapi Nyi berkeras ke sana oleh karena ada sale. Kalau musim sale begini, biasanya dia mesti belanja keliling mencari oleh oleh untuk cucu.
Saya hanya mengikuti saja. Suara musik yang keras menambah suasana hiruk pikuk. Di Manila saya amati di manapun, entah itu di restoran atau rumah musik, mereka selalu memutar musik keras keras. Seolah olah pelanggan itu tuli semuanya. Di Indonesia saya pernah beberapa kali mengalami keracunan suara musik.. Di NTT musik disetel keras di dalam kendaraan angkot. Di kampung kalau ada tetangga hajatan supitan atau mantu, musik ndang ndhut disetel keras siang malam. Saya sebenarnya sangat senang musik ndang ndhut ini asal nggak terlalu keras. Akhir akhir ini musik campursari, yang sering lagu2nya agak sedikit porno, seperti lagu Cocak Rawa. Di Lubuk Alung Sumatra Barat pernah mblenger ndengerin lagu Pantai Balibis, yang disetel 3 malam berturut turut dengan pengeras suara di gantung di pohon kelapa. Saya baru mengikuti pelatihan. Lagunya bagus dan enak sebenarnya, tetapi tidak untuk 3 hari 3 malam tanpa henti.
Kembali ke kisah di mall Alabang. Konsentrasi mulai terganggu karena suara musik yang gemuruh. Saya menggandeng NYI jalan keluar masuk mall, walau konsentrasi saya terpecah karena suasana yang hingar bingar. Hanya berjalan mengikuti arus manusia. Tak tergesa gesa oleh karena tak ada yang dikejar. Rasanya agak ngantuk, Minggu siang biasanya tidur. Kebiasaan sejak masih muda dulu.
Ada yang terasa aneh yang tak saya sadari pada awalnya. Gandengan Nyi terasa agak berat. Biasanya gandengan hanya dengan saling berpegangan jari jari atau telapak tangan. Terasa ringan dan tidak saling mengikat irama langkah masing masing. Ini kok aneh, dia menggamit erat lengan kiri saya. Rasanya berat dan langkah kaki terganggu karenanya. Kami berjalan terus bergandengan. Beberapa waktu kemudian saya bertanya akan beli apa. Betapa kaget ketika saya menoleh, ternyata bukan NYI. Orang lain yang menggamit lengan kiri saya. Seorang nenek nenek yang memang kelihatannya agak kesulitan berjalan sendiri. Ketika dia melihat saya terkaget kaget, dia juga kaget dan bilang I am sorry. Dia memanggil manggil pengantarnya, mungkin anaknya, dua orang wanita muda yang nampaknya juga begitu sibuk memilih pakaian on the sales. Ketika mereka mengetahui kekeliruan tersebut, malah tertawa lepas sambil bilang "Sorry sir".
Tak ada alasan untuk mengeluh. Tetapi Nyi saya tak lihat di situ. Mungkin dia masuk toko yang lain dan keasyikan milih. Biasanya njlimet sekali dan saya tak pernah sabar menanti. Dari pada bosan menunggu saya mencoba memilih beberapa baju dan pakaian dalam. Ada hem yang dijual satu paket dengan kaos dalam. Saya nggak minat beli kaos ok sudah sejak pengantin baru, nggak pernah pakai kaos dalam. Tetapi model bajunya menarik, warna biru dengan kotak kotak kecil. Dijual separoh harga. Tak sempat mencobanya, saya ambil baju tersebut, ukuran 16 dengan kaos dalamnya. Pelayan toko nampak ramah dan berkali kali bilang kalau baju tersebut cocok untuk saya. Whatever !
Saya bisa menghubungi Nyi lewat ponsel dan kami ketemu di salah satu rumah makan sambil makan siang sekalian. Saya menggerutu keliru nggandeng orang lain. Tak minta maaf malah menertawakan, 'Makanya jangan jelalatan lirak lirik kesana kemari'. Kalau saya lirak lirik kesana kemari, malah nggak akan sampai keliru. Saya keliru nggandeng orang karena percaya yang saya gandheng itu Nyi. Perasaan mantap tanpa keraguan. Bukan karena lirik sana lirik sini. Kalau toh melirik, ini tempat umum, nggak mungkin berjalan menutup mata, atau pakai kaca mata kuda. Keluhan ini juga tak logis tak sesuai konteks.
Sampai di rumah agak sore. Terus tertidur pulas. Malam malam saya ingat baju yang saya beli. Saya buka dan saya coba. Ternyata ukurannya kekecilan. Baju maupun kaos. Saya mengeluh sendirian "Tertipu luar dalam'. Nyi yang sudah tertidur ternyata mendengar keluhan saya. Dia mengigau tak jelas " Saya tertipu luar dalam tiga puluh tahun". Mungkin ngelindur. Tetapi ngelindurnya juga di luar konteks. Tak ada niat mengembalikan baju dan kaos tersebut. Ini bukan delik aduan yang cukup untu melapor ke aparat. Baju dan kaos masih tersimpan rapi. Arsip otentik pengalaman tertipu luar dalam.
Salam luar dalam
Ki Ageng Similikithi
(Dimuat di Kolom Kita KompasCyber 30 Nov 2007)
Sunday, November 25, 2007
Garin Nugroho - Sang Pendekar
Lama saya mengenal namanya. Mengagumi pikiran pikirannya. Karyanya kondang tak hanya di Nusantara. Karya karya filmnya menembus batas negara, membawa pesan ke dunia luar. Potret kehidupan, pemikiran dan budaya anak anak manusia Nusantara. Tak terencana saya bertemu langsung dan bertukar pikiran dengan sutradara kondang Indonesia, Garin Nugoho. Bertemu secara kebetulan dalam perjalanan Singapura ke Jakarta. Dia dalam perjalanan pulang dari Australia
Saya seolah mengenal wajahnya, ketika pria setengah baya itu duduk di kursi di samping saya di bandara Changi. “Apakah anda Garin Nugroho?”” . “”Ya benar, saya Garin Nugroho” jawabnya ramah. Kami kemudian terlibat pembicaraan akrab selama kira kira sejam. Bicara mengenai berbagai hal, karya film, politik, kebijakan publik, keluarga dan anak anak. Beda usia kami lebih sepuluh tahun, namun tak menghalangi pembicaraan yang akrab.
Ternyata dia SMAnya dulu Loyola Semarang, dan saya di St. Josef Solo. Setiap kali bertemu dengan mantan murid SMA de Brito di Yogya, St. Josef di Solo atau Loyola di Semarang, saya selalu terlibat pembicaraan yang mengasyikkan akan masa masa SMA dulu. Dengan Garin saya tak bicara mengenai kehidupan SMA. Banyak hal lain yang menarik dibicarakan dengan dia.
Saya mengagumi karya karya filmya yang menggambarkan potret kehidupan nyata dan budaya di Indonesia. Filmya terakhir Opera Jawa tengah diputar di London. Film ini menceritakan kehidupan yang terwarnai konflik. Mulai dari permasalahan cinta, hingga masalah sosial, politik, dan perekonomian dimana rakyat kecil selalu menjadi korban (http://id.wikipedia.org/wiki/Opera_Jawa). Karya film ini telah mendapat penghargaan dalam Singapore International Film Festival 2007.
Karya filmya selalu penuh pesan. Saya sangat menyukai alur cerita film “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja”, produksi tahun 2002. Film ini antara lain menceritakan tentang seorang remaja Papua, Arnold (15 Tahun), yang bertemu dengan seorang wanita di sebuah pelabuhan dan terobsesi untuk mencium wanita tersebut. Membaca cerita ini membawa saya teringat akan fantasi saya akan Bu Guru Noenoek, lebih lima puluh tahun lalu (http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=25303§ion=92).
Saya lega ketika sempat mengemukakan uneg uneg saya, mengapa film film Indonesia sering memberikan peran tokoh dengan karakter jelek dari Indonesia, sedangkan sang pembela kebenaran atau tokoh dengan karakter bagus selalu dari pihak asing atau tokoh asing ? Lihatlah cerita film Laki Laki dan Mesiu. Tokoh asing digambarkan sebagai pahlawan pemberantas narkoba, sedangkan jaringannya terdiri dari tokoh2 yang digambarkan dari Indonesia. Ini tak baik untuk memupuk rasa percaya diri anak anak muda. Di Amerika pun mereka membuat karya2 imaginatif film action seperti Rambo, hanya seledar untuk memupuk rasa percaya diri anak anak muda sesudah mereka kalah perang di Viet Nam.
Garin membalas lugas kalau dirinya tak pernah memproduksi karya karya film seperti itu. Jika anda anda sering mengeluhkan alur cerita cerita sinetron kita, tontonlah film Garin. Pasti akan merasakan nuansa yang lain. Nuansa angina kehidupan Nusantara. Lihatlah karya karyanya yang lain, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, dan masih banyak yang lain. Karya karyanya penuh pesan dan menggambarkan kehidupan. Karya karya Garin memang menggambarkan realita budaya dan kehidupan anak anak manusia di Nusantara. Karya karya filmya telah banyak mendapatkan penghargaan internasional. Sayang kita di Indonesia sering mengecilkan karya karya orang sendiri.
Dalam kehidupan politik, Garin juga banyak berperan dalam menghembuskan kesejukan dalam kampanye pemilihan di Indonesia lewat pesan pesan massa yang dibuat dan disebarluaskannya. Dia dekat dengan tokoh elit politik papan atas dan punya banyak kesempatan menyampaikan keprihatinan akan hiruk pikuk dunia politik di Indonesia.
Saya merasa sehaluan dengannya ketika bicara mengenai kebijakan sektor publik. Banyak kecenderungan semua kebijakan hanya dilihat untung rugi ekonomi secara langsung tanpa memperhitungkan keuntungan jangka panjangnya. Entah itu di bidang penyiaran dan informasi publik, pendidikan, ruang ruang publik yang selalu dikomersialkan. Keprihatinannya akan kehidupan politik dan sosial di Indonesia, adalah keprihatinan murni anak bangsa. Tak terkontaminasi ambisi kekuasaan dan uang.
Garin cerita kalau putri pertamanya kuliah di Australia, putra kedua di Jerman, ketiga di Indonesia. Dan dia masih punya anak kecil umur empat tahun kalau nggak salah. Tak banyak sempat cerita tentang keluarga.
Banyak tokoh di Indonesia terkenal karena mitos dan popularitas. Tetapi Garin Nugroho kondang karena karya karyanya. Karya karya yang menggambarkan dan membisikkan kehidupan nyata sekitar kita. Tak berlebihan jika dia adalah pendekar Nusantara.
Selamat berkarya Bung Garin.
Ki Ageng Similikithi
Saya seolah mengenal wajahnya, ketika pria setengah baya itu duduk di kursi di samping saya di bandara Changi. “Apakah anda Garin Nugroho?”” . “”Ya benar, saya Garin Nugroho” jawabnya ramah. Kami kemudian terlibat pembicaraan akrab selama kira kira sejam. Bicara mengenai berbagai hal, karya film, politik, kebijakan publik, keluarga dan anak anak. Beda usia kami lebih sepuluh tahun, namun tak menghalangi pembicaraan yang akrab.
Ternyata dia SMAnya dulu Loyola Semarang, dan saya di St. Josef Solo. Setiap kali bertemu dengan mantan murid SMA de Brito di Yogya, St. Josef di Solo atau Loyola di Semarang, saya selalu terlibat pembicaraan yang mengasyikkan akan masa masa SMA dulu. Dengan Garin saya tak bicara mengenai kehidupan SMA. Banyak hal lain yang menarik dibicarakan dengan dia.
Saya mengagumi karya karya filmya yang menggambarkan potret kehidupan nyata dan budaya di Indonesia. Filmya terakhir Opera Jawa tengah diputar di London. Film ini menceritakan kehidupan yang terwarnai konflik. Mulai dari permasalahan cinta, hingga masalah sosial, politik, dan perekonomian dimana rakyat kecil selalu menjadi korban (http://id.wikipedia.org/wiki/Opera_Jawa). Karya film ini telah mendapat penghargaan dalam Singapore International Film Festival 2007.
Karya filmya selalu penuh pesan. Saya sangat menyukai alur cerita film “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja”, produksi tahun 2002. Film ini antara lain menceritakan tentang seorang remaja Papua, Arnold (15 Tahun), yang bertemu dengan seorang wanita di sebuah pelabuhan dan terobsesi untuk mencium wanita tersebut. Membaca cerita ini membawa saya teringat akan fantasi saya akan Bu Guru Noenoek, lebih lima puluh tahun lalu (http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=25303§ion=92).
Saya lega ketika sempat mengemukakan uneg uneg saya, mengapa film film Indonesia sering memberikan peran tokoh dengan karakter jelek dari Indonesia, sedangkan sang pembela kebenaran atau tokoh dengan karakter bagus selalu dari pihak asing atau tokoh asing ? Lihatlah cerita film Laki Laki dan Mesiu. Tokoh asing digambarkan sebagai pahlawan pemberantas narkoba, sedangkan jaringannya terdiri dari tokoh2 yang digambarkan dari Indonesia. Ini tak baik untuk memupuk rasa percaya diri anak anak muda. Di Amerika pun mereka membuat karya2 imaginatif film action seperti Rambo, hanya seledar untuk memupuk rasa percaya diri anak anak muda sesudah mereka kalah perang di Viet Nam.
Garin membalas lugas kalau dirinya tak pernah memproduksi karya karya film seperti itu. Jika anda anda sering mengeluhkan alur cerita cerita sinetron kita, tontonlah film Garin. Pasti akan merasakan nuansa yang lain. Nuansa angina kehidupan Nusantara. Lihatlah karya karyanya yang lain, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, dan masih banyak yang lain. Karya karyanya penuh pesan dan menggambarkan kehidupan. Karya karya Garin memang menggambarkan realita budaya dan kehidupan anak anak manusia di Nusantara. Karya karya filmya telah banyak mendapatkan penghargaan internasional. Sayang kita di Indonesia sering mengecilkan karya karya orang sendiri.
Dalam kehidupan politik, Garin juga banyak berperan dalam menghembuskan kesejukan dalam kampanye pemilihan di Indonesia lewat pesan pesan massa yang dibuat dan disebarluaskannya. Dia dekat dengan tokoh elit politik papan atas dan punya banyak kesempatan menyampaikan keprihatinan akan hiruk pikuk dunia politik di Indonesia.
Saya merasa sehaluan dengannya ketika bicara mengenai kebijakan sektor publik. Banyak kecenderungan semua kebijakan hanya dilihat untung rugi ekonomi secara langsung tanpa memperhitungkan keuntungan jangka panjangnya. Entah itu di bidang penyiaran dan informasi publik, pendidikan, ruang ruang publik yang selalu dikomersialkan. Keprihatinannya akan kehidupan politik dan sosial di Indonesia, adalah keprihatinan murni anak bangsa. Tak terkontaminasi ambisi kekuasaan dan uang.
Garin cerita kalau putri pertamanya kuliah di Australia, putra kedua di Jerman, ketiga di Indonesia. Dan dia masih punya anak kecil umur empat tahun kalau nggak salah. Tak banyak sempat cerita tentang keluarga.
Banyak tokoh di Indonesia terkenal karena mitos dan popularitas. Tetapi Garin Nugroho kondang karena karya karyanya. Karya karya yang menggambarkan dan membisikkan kehidupan nyata sekitar kita. Tak berlebihan jika dia adalah pendekar Nusantara.
Selamat berkarya Bung Garin.
Ki Ageng Similikithi
Wednesday, November 21, 2007
Gelar
Saya menulis tulisan ini dalam perjalanan Manila – Jakarta, dengan Singapore Airlines. Transit tiga jam di Singapura. Ada pertemuan di Jakarta sejak dua hari lalu. Tak mungkin mengikuti sejak awal karena masih banyak pekerjaan di kantor. Sebelum berangkat tadi saya mengisi formulir pendaftaran suatu konperensi ilmiah di tahun 2008. Setelah nama, ada isian untuk mencantumkan gelar, professor, Dr atau Mr. Isian biasa untuk forum forum ilmiah di manapun.
Ingatan saya kemudian melayang ke penggunaan gelar. Apapun gelar itu, apakah akademis maupun non akademis, di kalangan masyarakat umum, banyak orang beranggapan bahwa pencantuman gelar akan memberikan nilai lebih bagi yang menyandang. Entah itu tingkat kepercayaan masyarakat, popularitas, rasa percaya diri dan lain sebagainya. Sah sah saja orang punya harapan dan persepsi masing masing asalkan tidak merugikan atau menipu orang lain.
Saya ingat lebih tiga puluh tahun lalu, seorang teman sekelas saya, begitu lulus dokter muda dan berhak menyandang gelar Drs. Med, dia langsung mencetak kartu nama. Setiap berkenalan dengan orang tua gadis yang diapeli, tak lupa dia memberikan kartu namanya. Saat dia ngapeli seorang gadis di Solo, ibu si gadis itu katanya sangat gembira melihat kartu namanya. Calon menantu bergelar doktorandus medicinae. Teman saya tadi orangnya kalem, tak banyak bicara, tak suka sombong. Kartu nama itu bukanlah lambang kesombongan. Tetapi hanyalah refleksi jati diri agar tambah mantap cari pacar. Lebih dari itu,mungkin sekedar alat promosi cari pasangan hidup. Waktu itu saya berpikir, cari pacar kok pakai modal kartu nama. Seperti detailing obat saja.
Dalam majalah majalah umum sering kita lihat seorang tokoh para normal, peramal nasib, atau yang lain mencantumkan gelar Prof. Suatu saat saya sempat bertanya ke salah satu dari mereka mengenai gelar itu. Katanya gelar itu bukanlah gelar akademis Professor. Tetapi Professional, walaupun peramal atau para normal, toh itu juga profesi. Sah sah saja asalkan tak melanggar hukum dan merugikan orang banyak. Seorang professor akademik pun kadang kadang juga suka meramal nasib. Malah dalam beberapa kasus, susah membedakan antara professor ilmuwan dan tukang ramal. Apa salahnya ?
Sering orang tidak dipanggil namanya langsung. Tetapi didahului dengan profesi didepan namanya. Pak/Bu Guru. Di Malaysia jadi Cikgu (Encik Guru). Pak/Bu Dokter, Pak Camat, pak lurah, pak carik. Ki Dalang Mantingan, Ki Dalang Nartosabdo. Dalang memang profesi yang disegani dalam masyarakat Jawa, oleh karena tidak semua orang bisa jadi dalang. Profesinya mulia karena menghibur orang dengan cerita wayangnya. Hanya dalam jaman orde baru, istilah dalang dipakai dalam konotasi negatip. Sebagai pengganti actor intelektual. Yang mendalangi kerusuhan, keonaran atau gerakan subversi.
Yang menjadi masalah kalau pencantuman gelar itu dipakai untuk menipu atau merugikan orang lain. Di tahun tujuh puluhan, ada orang yang mencantumkan gelar PHD dalam iklan di surat kabar. Dia membuka universitas baru dan menerima pendaftaran mahasiswa. Ternyata universitas itu fiktif semata. Pada waktu di pengadilan dia merasa tidak memasang gelar palsu. PHD artinya Ponakan Haji Djamaludin katanya. Maaf saya tidak bermaksud melecehkan Bapak/Ibu Djamaludin. Ini berita dalam surat kabar. Seandainya dia mencantumkan gelar PHD, tetapi nggak menipu, nggak ada orang yang memusingkan. Mau ponakan haji Djamaludin mau tidak siapa mau urusan.
Di masa lalu gelar bangsawan selalu digandrungi banyak orang. Entah itu raden mas, raden rara, raden panji. Jika nggak salah raden mas (RM) atau raden rara (RR) sebenarnya hanya boleh dipakai untuk putra putri raja. Raden panji untuk cucu raja. Ingat cerita roman antara Panji Semirang dan Galuh Candrakirana dari Kediri dan Singosari. Jika turunan ningrat biasa hanya ditulis Raden, disingkat R. Saya masih ingat sewaktu SMP, ayah teman putri saya, namanya Raden Sudjiwo. Papan nama di depan rumahnya tertulis RS Djiwo. Sewaktu kami main ke rumahnya salah seorang teman saya yang lain, Ripno, membaca papan nama itu keras keras "rumah sakit jiwa". Pak Djiwo ternyata sedang membaca koran diberanda samping, dan pasti mendengar suara teman saya tadi. Kami nggak berani lagi datang ke rumahnya.
Di Malaysia, tokoh2 masyarakat yang dianggap berjasa sering diberi gelar kehormatan oleh Sultan. Seperti kebiasaan di Inggris. Gelar ini bisa Datuk, bisa Tan Sri. Saya nggak tahu bedanya. Kebiasaan ini juga sering kita lihat di keraton Yogya, Solo atau Mangkunegaran, yang memberikan gelar kepada tokoh masyarakat KRT (Kanjeng Raden Tumenggung).
Saya nggak tahu persis asal mula gelar Ki Ageng. Dalam sejarah Jawa, biasanya gelar Ki Ageng dipakai untuk pemimpin daerah otonom (perdikan) di bawah kerajaan. Dalam legenda Jawa yang terkenal adalah Ki Ageng Pemanahan yang menurunkan raja raja di Mataram. Konon Ki Ageng Pemanahan punya sahabat bernama Ki Penjawi. Suatu saat Ki Penjawi dalam mimpinya mendapat wangsit bahwa jika dia minum air kelapa muda dari pohon di dekat rumahnya, kelak anak cucunya akan menjadi raja raja di Jawa.
Dia kemudian mengambil kelapa tadi dan di taruh di meja. Oleh karena belum dahaga benar, dia pesan ke Nyi Penjawi kalau air kelapa muda itu akan diminum nanti siang, jangan sampai diminum. Dia pergi sebentar berjalan jalan supaya haus, agar bisa minum air kelapa muda itu sekaligus. Pas dia pergi Ki Ageng Pemanahan, sahabatnya datang bertamu. Ada kelapa muda di meja, siapa punya Nyi ? Nyi Penjawi lupa pesan suaminya. Air kelapa muda itu diminum habis oleh Ki Ageng Pemanahan.
Betapa kecewa Ki Penjawi sewaktu datang melihat air kelapa muda itu telah habis. Dia hanya berkata kepada sahabatnya " Ki anak cucumu akan menjadi raja raja di Jawa". Konon kemudian raja raja Mataram selalu memberi status tanah perdikan (daerah otonom) kepada anak cucu Ki Penjawi. Selang beberapa generasi kemudian, salah satu kepala daerah perdikan di selatan Yogya adalah Ki Ageng Mangir. Tak jelas apakah dia juga keturunan Ki Penjawi. Juga tak jelas apakah yang ini, sekedar legenda atau kisah nyata di abad ke enam belas. Kisah tragis yang mungkin tak pernah terungkap.
Ki Ageng Mangir dipercaya mempunyai kesaktian lebih oleh karena mempunyai tombak keramat. Dia dicap sebagai pembelot oleh karena tak pernah mau menghadap ke keraton. Suatu saat Sultan menyuruh salah satu putrinya yang cantik untuk menjadi penari keliling (ledhek) ke daerah Mangir. Ki Ageng Mangir melihat ledhek canyik itu akhirnya jatuh cinta dan mengawininya. Ki Ageng Mangir begitu mencintai dan menyayangi istrinya yang sebenarnya adalah putri keraton Mataram. Sewaktu putri hamil muda, baru mengaku kalau sesungguhnya dia adalah putri dari Mataram. Begitu cintanya kepada istrinya, Ki Ageng Mangir akhirnya luluh dan ingin menghadap dan mohon maaf ke keraton. Suatu hari Ki Ageng Mangir dan istrinya menghadap ke keraton. Pada saat dia bersujud mencium kaki raja Mataram, kepalanya dibenturkan ke kursi singgasana oleh Sultan dan meninggal seketika. Saya selalu mengagumi Ki Ageng Mangir, demi cintanya ke istri dia mengorbankan jiwanya. Dia mengorbankan ambisi pribadi membelot dari Mataram. Kisah cinta dan pengkhiatan yang berakhir tragis. Kerajaan kerajaan di Jawa selalu diwarnai kisah pengkhianatan dan perselisihan keluarga semenjak jaman Kediri dan Singasari. Terbawa sampai masa kini, pada saat pergantian kekuasaan. Hanya penyelesaiannya sekarang lebih halus.
Sewaktu saya masih kecil, mungkin kelas dua SR, kakek saya selalu bercerita tentang Ki Ageng Singayuda. Beliau adalah moyangnya entah berapa generasi sebelumnya. Saya pernah mengunjungi makamnya. Dia mengasingkan ke daerah pelosok karena perpecahan dan perselisihan di Surakarta. Konon dia adalah salah satu pengikut Raden Mas Said melawan Belanda, dan yang kemudian bergelar Mangkunegoro I.
Ki Ageng yang saya pakai tak berarti apa apa. Hanya kebetulan. Tak ada pengakuan, tak ada akreditasi. Tak ada otonomi. Mau nulis ke KOKI cerita pribadi, ya masih harus ada ijin dari Nyi. Apalagi mau ballroom. Sewaktu masih muda, jika menghadapi masalah saya selalu berpikir 'everything is under control'. Sesudah tua ini, saya mengatakan 'everything is under control. But not by me". Tetapi jelek jelek gelar Ki Ageng menambah PD, walau gelar karbitan. Sering terima email, bahkan minta nasehat seolah saya tokoh spiritual beken.
Gelar saya yang resmi Doctor medicinae (Dr) di tahun 1975, Doctor Philosophiae (PhD) di tahun 1983 dari UK. Tetapi saya jarang menulis gelar2 tersebut, kecuali gelar Dr di kertas resep sewaktu masih praktek dulu di akhir tahun tujuh puluhan. Saya sekarang banyak bergerak diluar bidang dari gelar gelar tersebut. Nggak enak mau selalu mencantumkannya.
Salam
Ki Ageng Similikithi
Dimuat di kolom kita Kompas Cyber Media, 22 November 2007
Ingatan saya kemudian melayang ke penggunaan gelar. Apapun gelar itu, apakah akademis maupun non akademis, di kalangan masyarakat umum, banyak orang beranggapan bahwa pencantuman gelar akan memberikan nilai lebih bagi yang menyandang. Entah itu tingkat kepercayaan masyarakat, popularitas, rasa percaya diri dan lain sebagainya. Sah sah saja orang punya harapan dan persepsi masing masing asalkan tidak merugikan atau menipu orang lain.
Saya ingat lebih tiga puluh tahun lalu, seorang teman sekelas saya, begitu lulus dokter muda dan berhak menyandang gelar Drs. Med, dia langsung mencetak kartu nama. Setiap berkenalan dengan orang tua gadis yang diapeli, tak lupa dia memberikan kartu namanya. Saat dia ngapeli seorang gadis di Solo, ibu si gadis itu katanya sangat gembira melihat kartu namanya. Calon menantu bergelar doktorandus medicinae. Teman saya tadi orangnya kalem, tak banyak bicara, tak suka sombong. Kartu nama itu bukanlah lambang kesombongan. Tetapi hanyalah refleksi jati diri agar tambah mantap cari pacar. Lebih dari itu,mungkin sekedar alat promosi cari pasangan hidup. Waktu itu saya berpikir, cari pacar kok pakai modal kartu nama. Seperti detailing obat saja.
Dalam majalah majalah umum sering kita lihat seorang tokoh para normal, peramal nasib, atau yang lain mencantumkan gelar Prof. Suatu saat saya sempat bertanya ke salah satu dari mereka mengenai gelar itu. Katanya gelar itu bukanlah gelar akademis Professor. Tetapi Professional, walaupun peramal atau para normal, toh itu juga profesi. Sah sah saja asalkan tak melanggar hukum dan merugikan orang banyak. Seorang professor akademik pun kadang kadang juga suka meramal nasib. Malah dalam beberapa kasus, susah membedakan antara professor ilmuwan dan tukang ramal. Apa salahnya ?
Sering orang tidak dipanggil namanya langsung. Tetapi didahului dengan profesi didepan namanya. Pak/Bu Guru. Di Malaysia jadi Cikgu (Encik Guru). Pak/Bu Dokter, Pak Camat, pak lurah, pak carik. Ki Dalang Mantingan, Ki Dalang Nartosabdo. Dalang memang profesi yang disegani dalam masyarakat Jawa, oleh karena tidak semua orang bisa jadi dalang. Profesinya mulia karena menghibur orang dengan cerita wayangnya. Hanya dalam jaman orde baru, istilah dalang dipakai dalam konotasi negatip. Sebagai pengganti actor intelektual. Yang mendalangi kerusuhan, keonaran atau gerakan subversi.
Yang menjadi masalah kalau pencantuman gelar itu dipakai untuk menipu atau merugikan orang lain. Di tahun tujuh puluhan, ada orang yang mencantumkan gelar PHD dalam iklan di surat kabar. Dia membuka universitas baru dan menerima pendaftaran mahasiswa. Ternyata universitas itu fiktif semata. Pada waktu di pengadilan dia merasa tidak memasang gelar palsu. PHD artinya Ponakan Haji Djamaludin katanya. Maaf saya tidak bermaksud melecehkan Bapak/Ibu Djamaludin. Ini berita dalam surat kabar. Seandainya dia mencantumkan gelar PHD, tetapi nggak menipu, nggak ada orang yang memusingkan. Mau ponakan haji Djamaludin mau tidak siapa mau urusan.
Di masa lalu gelar bangsawan selalu digandrungi banyak orang. Entah itu raden mas, raden rara, raden panji. Jika nggak salah raden mas (RM) atau raden rara (RR) sebenarnya hanya boleh dipakai untuk putra putri raja. Raden panji untuk cucu raja. Ingat cerita roman antara Panji Semirang dan Galuh Candrakirana dari Kediri dan Singosari. Jika turunan ningrat biasa hanya ditulis Raden, disingkat R. Saya masih ingat sewaktu SMP, ayah teman putri saya, namanya Raden Sudjiwo. Papan nama di depan rumahnya tertulis RS Djiwo. Sewaktu kami main ke rumahnya salah seorang teman saya yang lain, Ripno, membaca papan nama itu keras keras "rumah sakit jiwa". Pak Djiwo ternyata sedang membaca koran diberanda samping, dan pasti mendengar suara teman saya tadi. Kami nggak berani lagi datang ke rumahnya.
Di Malaysia, tokoh2 masyarakat yang dianggap berjasa sering diberi gelar kehormatan oleh Sultan. Seperti kebiasaan di Inggris. Gelar ini bisa Datuk, bisa Tan Sri. Saya nggak tahu bedanya. Kebiasaan ini juga sering kita lihat di keraton Yogya, Solo atau Mangkunegaran, yang memberikan gelar kepada tokoh masyarakat KRT (Kanjeng Raden Tumenggung).
Saya nggak tahu persis asal mula gelar Ki Ageng. Dalam sejarah Jawa, biasanya gelar Ki Ageng dipakai untuk pemimpin daerah otonom (perdikan) di bawah kerajaan. Dalam legenda Jawa yang terkenal adalah Ki Ageng Pemanahan yang menurunkan raja raja di Mataram. Konon Ki Ageng Pemanahan punya sahabat bernama Ki Penjawi. Suatu saat Ki Penjawi dalam mimpinya mendapat wangsit bahwa jika dia minum air kelapa muda dari pohon di dekat rumahnya, kelak anak cucunya akan menjadi raja raja di Jawa.
Dia kemudian mengambil kelapa tadi dan di taruh di meja. Oleh karena belum dahaga benar, dia pesan ke Nyi Penjawi kalau air kelapa muda itu akan diminum nanti siang, jangan sampai diminum. Dia pergi sebentar berjalan jalan supaya haus, agar bisa minum air kelapa muda itu sekaligus. Pas dia pergi Ki Ageng Pemanahan, sahabatnya datang bertamu. Ada kelapa muda di meja, siapa punya Nyi ? Nyi Penjawi lupa pesan suaminya. Air kelapa muda itu diminum habis oleh Ki Ageng Pemanahan.
Betapa kecewa Ki Penjawi sewaktu datang melihat air kelapa muda itu telah habis. Dia hanya berkata kepada sahabatnya " Ki anak cucumu akan menjadi raja raja di Jawa". Konon kemudian raja raja Mataram selalu memberi status tanah perdikan (daerah otonom) kepada anak cucu Ki Penjawi. Selang beberapa generasi kemudian, salah satu kepala daerah perdikan di selatan Yogya adalah Ki Ageng Mangir. Tak jelas apakah dia juga keturunan Ki Penjawi. Juga tak jelas apakah yang ini, sekedar legenda atau kisah nyata di abad ke enam belas. Kisah tragis yang mungkin tak pernah terungkap.
Ki Ageng Mangir dipercaya mempunyai kesaktian lebih oleh karena mempunyai tombak keramat. Dia dicap sebagai pembelot oleh karena tak pernah mau menghadap ke keraton. Suatu saat Sultan menyuruh salah satu putrinya yang cantik untuk menjadi penari keliling (ledhek) ke daerah Mangir. Ki Ageng Mangir melihat ledhek canyik itu akhirnya jatuh cinta dan mengawininya. Ki Ageng Mangir begitu mencintai dan menyayangi istrinya yang sebenarnya adalah putri keraton Mataram. Sewaktu putri hamil muda, baru mengaku kalau sesungguhnya dia adalah putri dari Mataram. Begitu cintanya kepada istrinya, Ki Ageng Mangir akhirnya luluh dan ingin menghadap dan mohon maaf ke keraton. Suatu hari Ki Ageng Mangir dan istrinya menghadap ke keraton. Pada saat dia bersujud mencium kaki raja Mataram, kepalanya dibenturkan ke kursi singgasana oleh Sultan dan meninggal seketika. Saya selalu mengagumi Ki Ageng Mangir, demi cintanya ke istri dia mengorbankan jiwanya. Dia mengorbankan ambisi pribadi membelot dari Mataram. Kisah cinta dan pengkhiatan yang berakhir tragis. Kerajaan kerajaan di Jawa selalu diwarnai kisah pengkhianatan dan perselisihan keluarga semenjak jaman Kediri dan Singasari. Terbawa sampai masa kini, pada saat pergantian kekuasaan. Hanya penyelesaiannya sekarang lebih halus.
Sewaktu saya masih kecil, mungkin kelas dua SR, kakek saya selalu bercerita tentang Ki Ageng Singayuda. Beliau adalah moyangnya entah berapa generasi sebelumnya. Saya pernah mengunjungi makamnya. Dia mengasingkan ke daerah pelosok karena perpecahan dan perselisihan di Surakarta. Konon dia adalah salah satu pengikut Raden Mas Said melawan Belanda, dan yang kemudian bergelar Mangkunegoro I.
Ki Ageng yang saya pakai tak berarti apa apa. Hanya kebetulan. Tak ada pengakuan, tak ada akreditasi. Tak ada otonomi. Mau nulis ke KOKI cerita pribadi, ya masih harus ada ijin dari Nyi. Apalagi mau ballroom. Sewaktu masih muda, jika menghadapi masalah saya selalu berpikir 'everything is under control'. Sesudah tua ini, saya mengatakan 'everything is under control. But not by me". Tetapi jelek jelek gelar Ki Ageng menambah PD, walau gelar karbitan. Sering terima email, bahkan minta nasehat seolah saya tokoh spiritual beken.
Gelar saya yang resmi Doctor medicinae (Dr) di tahun 1975, Doctor Philosophiae (PhD) di tahun 1983 dari UK. Tetapi saya jarang menulis gelar2 tersebut, kecuali gelar Dr di kertas resep sewaktu masih praktek dulu di akhir tahun tujuh puluhan. Saya sekarang banyak bergerak diluar bidang dari gelar gelar tersebut. Nggak enak mau selalu mencantumkannya.
Salam
Ki Ageng Similikithi
Dimuat di kolom kita Kompas Cyber Media, 22 November 2007
Saturday, November 17, 2007
Pemilu yang sejuk dan damai
Salam dari Geneva yang dingin.
Genderang pemilihan, entah itu PEMILU (pemilihan umum) atau PILKADA (pemilihan kepala daerah), sudah berdentang di tanah air.. Bukan genderang perang. Pemilu atau Pilkada itu sama sekali bukan perang, walaupun kadang gelora kampanyenya seperti seolah olah mau perang. Sentimen (mood) pemilihan ada di mana mana. Genderang pemilihan membahana bahkan di tingkat propinsi dan kabupaten. Suasana agak sedikit memanas. Ada yang bilang ini pesta pora demokrasi. Bagi saya sama sekali bukan pesta pora. Rasa ketar ketir setiap kali ketemu rombongan kampanye di jalan raya.
Para tokoh dan politisi yang berambisi terpilih nampak siap berlaga. Masyarakat seolah disibukkan atau terpaksa larut secara emosional dalam kegiatan kampanye, baik yang secara aktif menikmati hiruk pikut itu, atau bahkan yang ketar ketir terkena imbas di jalan raya. Semua terlibat baik secara aktif atau pasif dalam hiruk pikuk kampanye. Katakanlah itu pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, DPR, bahkan lurah. Hanya pemilihan ketua RT yang sepi dan senyap, tak ada gelora kampanye. Orang jadi ketua RT karena semangat sukarela dan pengorbanan. Tak ada kekuasaan tak ada otoritas yang bisa dibelokkan untuk kepentingan pribadi. Jarang ketua RT terlibat dalam penggelapan harta negara.
Banyak terjadi perubahan perlaku para tokoh dan pimpinan politik. Perilaku untuk memikat pemilih. Yang tadinya suka dugem, untuk jaim (jaga image) mulai banyak ikut pengajian, diskusi kelompok di masyarakat, atau bahkan tirakat. Jika memungkinkan semua diskusi kelompon dan seminar diikuti, mulai dari perdamaian dunia, terorisme, pelecehan seksual, hak azasi manusia, good governance. Sebagian ada yang kemudian mendekatkan diri dengan tokoh tokoh para normal untuk sekedar minta doa restu, berkah sampai ke dukungan supranatural. Mantan Gubernur Jakarta nampak sangat akrab berfoto dengan Mbah Maridjan, untuk meluruskan jalan ke RI 1. Mbah Maridjan urusannya sebenarnya hanya mengamati gunung Merapi, menandingi para pakar gunung api dari Lembaga Geologi di tingkat propinsi dan nasional. Tetapi karena ada demand spiritual dari dunia politik dan selebritis, ya mau sekedar turun gunung memenuhi demand budaya pop politik masa kini. Saling menguntungkan.
Lokasi lokasi untuk nyepi tidak lagi sepi. Banyak tokoh yang tiba tiba senang nyepi. Bisa ke Parangtritis untuk ngalap berkah Nyai Loro Kidul. Nyai Loro Kidul juga senang disambangi tokoh2 ini. Betapa sepinya hidup di bawah laut sendirian. Kalau ada calon yang datang menyambangi apa salahnya. Peri pun juga perlu hiburan. Dunia memang berubah. Nyai Loro Kidul juga kadang kala suka dugem, apa lagi sama calon Gubernur atau Bupati. Gunung yang kesohor untuk nyepi juga makin banyak dikunjungi, Gunung Kawi, Gunung Kendalisodo, Gunung Srandil dan lain lain. Namun jangan lupa, gunung2 ini khasiatnya beda beda untuk nyepi. Kalau mau kaya nyepilah ke gunung Kawi. Kalau mau cari WIL atau PIL, nyepilah ke gurung Srandil. Kalau mau naik pangkat nyepilah ke Gunung Kendalisodo. Kalau mau menang pemilihan, datanglah ke pantai Parangtritis.
Jangan sampai nyepi di tempat yang salah. Penginnya cari sebanyak mungkin pendukung, salah salah bisa dapat WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain). Di Indonesia punya WIL atau PIL adalah kontra indikasi untuk terpilih. Hanya presiden Clinton yang bisa menang PEMILU sekaligus dapat WIL Monica Lewinski. Jangan sampai ketahuan kalau punya WIL atau PIL, kalau mau menang.
Buat orang awam seperti saya, datangnya masa kampanye Pemilu kadang terasa seperti datangnya bencana yang terencana. Jalanan macet, kadang harus menunggu berjam jam sampai barisan kampanye lewat. Masih untung kalau mobil tak digores gores. Tetapi jelas mobil akan di gebrak gebrak jika ada barisan kampanye lewat.
Pemilihan di tingkat manapun selalu menebarkan suasana hingar bingar, tak nyaman dan tak aman untuk kalangan awan. Kapankan para pimpinan partai politik dan organisasi massa ini mampu menciptakan suasana sejuk dan damai dalam pemilihan ? Tidak kah mereka punya kamus kata kata sejuk, kata kata damai dengan toleransi ? Membakar massa untuk berperilaku keras dan sok heroik bisa dilakukan siapa saja. Jika kemampuannya hanya mampu membakar massa, tetapi tak mampu meciptakan kesejukan dan tak mampu menyejahterakan masyarakat, bukanlah karakter pemimpin yang bijak.
Sebagai orang awam saya tak banyak bisa menyumbang bagaimana menciptakan suasana pemilu yang damai dan sejuk. Tetapi karena saya ada minat perdukunan dan perintelan, saya mencoba menyumbangkan sesuatu. Saya berusaha menggelar satu operasi sandi melincinkan pemilihan. Saya namakan dengan kode sandi operasi PILKADA. Operasi khusus pemilihan damai dan sejuk. Kombinasi operasi dukun dan intel ini akan melibatkan berbagai unit intelijen dari badan badan terkait di tingkat nasional, KopKamtibus, Kasipidus, Balibangopsus, Baopsusintel, Polkamsus. Saya juga nggak dhong arti singkatan singkatan ini. Yang saya tahu hanyasingkatan TONANGKIMA (Peleton Angkutan Kompi Lima) di dekat kraton Yogya , DANCUKPELI (komandan pucuk peluru kendali) di Surabaya. Tetapi badan badan tersebut belum saatnya masuk dalam koordinasi intelijen operasi ini.
Saya akan menggelar operasi sandi untuk membersihkan mimpi yang tak rasional, mimpi pengin jadi presiden, atau jadi gubernur. Kalau mau mimpi, mimpilah jadi ketua RT. Banyak anak kecil suka diberi pesan agar bermimpi jadi presiden atau gubernur. Ini bisa merusak stabilitas nasional. Maka target operasi saya akan saya persempit ke guru guru TK. Sebagian besar dari mereka adalah figur2 lembut, cantik dan menarik. Saya selalu mengagumi guru TK sejak masa kanak kanak. Memandangpun orang bisa terbawa hanyut. Tetapi karena saya berjiwa INTEL, rasa pribadi ini saya redam. Ini prinsip, titik. Tetapi jika ibu ibu guru ini ngajari anak anak TK jadi presiden atau gubernur, ini bisa membahayakan stabilitas nasional. Sebagai abdi negara (bukan abdi dalem), saya harus bertindak decisive.
Ada dua strategi dalam operasi sandhi ini. Pertama dengan memonitor mimpi anggota masyarakat. Para tokoh spiritual atau dukun yang kampiun akan saya kumpulkan untuk mengembangkan alat khusus yang bisa memonitor mimpi seseorang di masyarakat. Karena tingkat kesulitan spiritualnya tinggi, mungkin para dukun ini akan minta kenduri dengan menyembelih kambing dan sapi sampai empat puluh ekor. Ini terlalu mahal dan boros. Kalau syarat motong ayam 7 ekor sih boleh. Kalau kambing atau sapi sampai empat puluh, payah. Kalau mereka sekedar pengin sate atau gulai kambing, bisa saya traktir.
Strategi kedua adalah memonitor materi yang diajarkan oleh ibu ibu guru TK ini. Jangan jangan disisipkan pesan tersamar agar bercita cita jadi presiden atau gubernur. JIka ada murid TK yang diberitahu ibunya agar kelak jadi presiden atau gubernur, ibu ini akan saya litsus. Litsus itu kepanjangannya adalah penelitian khusus di jaman Orba. Rencana operasi sandi ini siap digelar dan dikoordinasi lintas sektoral.
Namun sebelum digelar saya merenung, tidakkah para pemimpin partai dan kelompok kelompok politik ini punya strategi alternatif untuk menciptakan suasana pemilu yang sejuk dan damai. Mungkin dengan melihat rencana operasi sandhi ini bisa mendorong mereka untuk mencari alternatif alternatif yang lebih rasional. Ketakutan saya kalau mereka malah melaksanakan strategi konyol yang saya uraikan di sini. Jamane jaman edan.
Salam damai Ki Ageng Similikithi
Genderang pemilihan, entah itu PEMILU (pemilihan umum) atau PILKADA (pemilihan kepala daerah), sudah berdentang di tanah air.. Bukan genderang perang. Pemilu atau Pilkada itu sama sekali bukan perang, walaupun kadang gelora kampanyenya seperti seolah olah mau perang. Sentimen (mood) pemilihan ada di mana mana. Genderang pemilihan membahana bahkan di tingkat propinsi dan kabupaten. Suasana agak sedikit memanas. Ada yang bilang ini pesta pora demokrasi. Bagi saya sama sekali bukan pesta pora. Rasa ketar ketir setiap kali ketemu rombongan kampanye di jalan raya.
Para tokoh dan politisi yang berambisi terpilih nampak siap berlaga. Masyarakat seolah disibukkan atau terpaksa larut secara emosional dalam kegiatan kampanye, baik yang secara aktif menikmati hiruk pikut itu, atau bahkan yang ketar ketir terkena imbas di jalan raya. Semua terlibat baik secara aktif atau pasif dalam hiruk pikuk kampanye. Katakanlah itu pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, DPR, bahkan lurah. Hanya pemilihan ketua RT yang sepi dan senyap, tak ada gelora kampanye. Orang jadi ketua RT karena semangat sukarela dan pengorbanan. Tak ada kekuasaan tak ada otoritas yang bisa dibelokkan untuk kepentingan pribadi. Jarang ketua RT terlibat dalam penggelapan harta negara.
Banyak terjadi perubahan perlaku para tokoh dan pimpinan politik. Perilaku untuk memikat pemilih. Yang tadinya suka dugem, untuk jaim (jaga image) mulai banyak ikut pengajian, diskusi kelompok di masyarakat, atau bahkan tirakat. Jika memungkinkan semua diskusi kelompon dan seminar diikuti, mulai dari perdamaian dunia, terorisme, pelecehan seksual, hak azasi manusia, good governance. Sebagian ada yang kemudian mendekatkan diri dengan tokoh tokoh para normal untuk sekedar minta doa restu, berkah sampai ke dukungan supranatural. Mantan Gubernur Jakarta nampak sangat akrab berfoto dengan Mbah Maridjan, untuk meluruskan jalan ke RI 1. Mbah Maridjan urusannya sebenarnya hanya mengamati gunung Merapi, menandingi para pakar gunung api dari Lembaga Geologi di tingkat propinsi dan nasional. Tetapi karena ada demand spiritual dari dunia politik dan selebritis, ya mau sekedar turun gunung memenuhi demand budaya pop politik masa kini. Saling menguntungkan.
Lokasi lokasi untuk nyepi tidak lagi sepi. Banyak tokoh yang tiba tiba senang nyepi. Bisa ke Parangtritis untuk ngalap berkah Nyai Loro Kidul. Nyai Loro Kidul juga senang disambangi tokoh2 ini. Betapa sepinya hidup di bawah laut sendirian. Kalau ada calon yang datang menyambangi apa salahnya. Peri pun juga perlu hiburan. Dunia memang berubah. Nyai Loro Kidul juga kadang kala suka dugem, apa lagi sama calon Gubernur atau Bupati. Gunung yang kesohor untuk nyepi juga makin banyak dikunjungi, Gunung Kawi, Gunung Kendalisodo, Gunung Srandil dan lain lain. Namun jangan lupa, gunung2 ini khasiatnya beda beda untuk nyepi. Kalau mau kaya nyepilah ke gunung Kawi. Kalau mau cari WIL atau PIL, nyepilah ke gurung Srandil. Kalau mau naik pangkat nyepilah ke Gunung Kendalisodo. Kalau mau menang pemilihan, datanglah ke pantai Parangtritis.
Jangan sampai nyepi di tempat yang salah. Penginnya cari sebanyak mungkin pendukung, salah salah bisa dapat WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain). Di Indonesia punya WIL atau PIL adalah kontra indikasi untuk terpilih. Hanya presiden Clinton yang bisa menang PEMILU sekaligus dapat WIL Monica Lewinski. Jangan sampai ketahuan kalau punya WIL atau PIL, kalau mau menang.
Buat orang awam seperti saya, datangnya masa kampanye Pemilu kadang terasa seperti datangnya bencana yang terencana. Jalanan macet, kadang harus menunggu berjam jam sampai barisan kampanye lewat. Masih untung kalau mobil tak digores gores. Tetapi jelas mobil akan di gebrak gebrak jika ada barisan kampanye lewat.
Pemilihan di tingkat manapun selalu menebarkan suasana hingar bingar, tak nyaman dan tak aman untuk kalangan awan. Kapankan para pimpinan partai politik dan organisasi massa ini mampu menciptakan suasana sejuk dan damai dalam pemilihan ? Tidak kah mereka punya kamus kata kata sejuk, kata kata damai dengan toleransi ? Membakar massa untuk berperilaku keras dan sok heroik bisa dilakukan siapa saja. Jika kemampuannya hanya mampu membakar massa, tetapi tak mampu meciptakan kesejukan dan tak mampu menyejahterakan masyarakat, bukanlah karakter pemimpin yang bijak.
Sebagai orang awam saya tak banyak bisa menyumbang bagaimana menciptakan suasana pemilu yang damai dan sejuk. Tetapi karena saya ada minat perdukunan dan perintelan, saya mencoba menyumbangkan sesuatu. Saya berusaha menggelar satu operasi sandi melincinkan pemilihan. Saya namakan dengan kode sandi operasi PILKADA. Operasi khusus pemilihan damai dan sejuk. Kombinasi operasi dukun dan intel ini akan melibatkan berbagai unit intelijen dari badan badan terkait di tingkat nasional, KopKamtibus, Kasipidus, Balibangopsus, Baopsusintel, Polkamsus. Saya juga nggak dhong arti singkatan singkatan ini. Yang saya tahu hanyasingkatan TONANGKIMA (Peleton Angkutan Kompi Lima) di dekat kraton Yogya , DANCUKPELI (komandan pucuk peluru kendali) di Surabaya. Tetapi badan badan tersebut belum saatnya masuk dalam koordinasi intelijen operasi ini.
Saya akan menggelar operasi sandi untuk membersihkan mimpi yang tak rasional, mimpi pengin jadi presiden, atau jadi gubernur. Kalau mau mimpi, mimpilah jadi ketua RT. Banyak anak kecil suka diberi pesan agar bermimpi jadi presiden atau gubernur. Ini bisa merusak stabilitas nasional. Maka target operasi saya akan saya persempit ke guru guru TK. Sebagian besar dari mereka adalah figur2 lembut, cantik dan menarik. Saya selalu mengagumi guru TK sejak masa kanak kanak. Memandangpun orang bisa terbawa hanyut. Tetapi karena saya berjiwa INTEL, rasa pribadi ini saya redam. Ini prinsip, titik. Tetapi jika ibu ibu guru ini ngajari anak anak TK jadi presiden atau gubernur, ini bisa membahayakan stabilitas nasional. Sebagai abdi negara (bukan abdi dalem), saya harus bertindak decisive.
Ada dua strategi dalam operasi sandhi ini. Pertama dengan memonitor mimpi anggota masyarakat. Para tokoh spiritual atau dukun yang kampiun akan saya kumpulkan untuk mengembangkan alat khusus yang bisa memonitor mimpi seseorang di masyarakat. Karena tingkat kesulitan spiritualnya tinggi, mungkin para dukun ini akan minta kenduri dengan menyembelih kambing dan sapi sampai empat puluh ekor. Ini terlalu mahal dan boros. Kalau syarat motong ayam 7 ekor sih boleh. Kalau kambing atau sapi sampai empat puluh, payah. Kalau mereka sekedar pengin sate atau gulai kambing, bisa saya traktir.
Strategi kedua adalah memonitor materi yang diajarkan oleh ibu ibu guru TK ini. Jangan jangan disisipkan pesan tersamar agar bercita cita jadi presiden atau gubernur. JIka ada murid TK yang diberitahu ibunya agar kelak jadi presiden atau gubernur, ibu ini akan saya litsus. Litsus itu kepanjangannya adalah penelitian khusus di jaman Orba. Rencana operasi sandi ini siap digelar dan dikoordinasi lintas sektoral.
Namun sebelum digelar saya merenung, tidakkah para pemimpin partai dan kelompok kelompok politik ini punya strategi alternatif untuk menciptakan suasana pemilu yang sejuk dan damai. Mungkin dengan melihat rencana operasi sandhi ini bisa mendorong mereka untuk mencari alternatif alternatif yang lebih rasional. Ketakutan saya kalau mereka malah melaksanakan strategi konyol yang saya uraikan di sini. Jamane jaman edan.
Salam damai Ki Ageng Similikithi
Subscribe to:
Posts (Atom)