Sunday, October 26, 2014

Parit Yang Mengering



Tengah hari di musim kering tahun 56. Saya masih duduk di kelas satu Sekolah Rakyat, desa Ngampin Ambarawa. Ramai suasana di dapur, para pekerja yang jumlahnya puluhan itu sedang makan siang. Mereka bekerja untuk peternakan sapi atau kebun kopi. Nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Ada yang bersuara keras, ada yang bisik bisik. Suara memberondong dengan irama khas, nada sedikit menghejan, menerocos tanpa henti. Suara modin dukuh Lonjong di belakang rumah. Kami biasa memanggilnya Wa Modin yang sering ikut bekerja di kebun kami.
 “ Ashar sore ini ada ingsinyir (insinyur) dari Semarang mau datang. Mau ninjau pekerjaan saluran parit di depan”. Tak ada yang bersuara, dia tetap saja bicara. Saya tanya sama ibu kemudian, apa itu ingsinyir. Jawabannya ‘Orang pintar. kau harus belajar biar jadi ingsinyir’. 

Habis makan saya buru buru ke luar. Ke rumah Jumadi, teman sekelas di sebelah timur gereja, dan Kamto tetangga Jumadi. “ Ada orang pintar, ingsinyir mau datang, ashar nanti. Meninjau pekerjaan parit di depan”. Kami bersepakat melihatnya. Jam dua kami bertiga bersama Jumadi dan Kamto,  telah duduk di jembatan bambu, atau kreteg, di tepi jalan raya kira kira 100 meter depan  rumah saya. Diseberang selatan jalan terlihat Ratman yang duduk terpekur melihat mobil lewat. Enggan diajak gabung menyeberang jalan. Kami memang jarang main sampai  sampai menyeberang jalan raya Ambarawa Magelang. 

Dibawah kreteg, ada parit kecil dengan aliran air jernih dari bukit di belakang desa. Kami sering mencari ikan di bawah sana, di blumbang blumbang kecil itu. Paling dapatnya  ikan kotes atau wader. Parit kecil itu rimbun ditumbuhi semak belukar, bambu dan pisang di tepinya yang agak terjal. Tidak terlalu dalam, tidak lebih dari 3 meter. Seperti biasanya, anjing anjing saya selalu ikut ketika saya duduk duduk di jembatan itu, tidak tahu mereka mau cari apa. Toh mereka juga tidak paham siapa itu ingsinyir. Ketika salah satu anjing itu dijerumuskan dibawah, dan basah kuyup, dia  naik lagi dan mengibas kan tubuhnya di dekat kami. Tahu cara membalas dendam.

Jam tiga, dua mobil tiba dan berhenti ditepi jalan di seberang sekolah kami. Kira kira 70 meter dari tempat kami duduk. Salah satu mobilnya adalah Suburban warna abu abu. Beberapa orang turun dari mobil dan langsung ke tepi parit, disambut mandor dan para pekerja. Kami bertiga mendekati tempat itu. Saya bisa menebak mana yang ingsinyir diantara rombongan. Orang yang ditengah, sedikit gemuk berwajah tampan, dan paling banyak bicara, perintah ini itu. Celana hitam dan kemeja putih. Dia berdiri di lereng parit yang agak terjal itu. Tangannya menunjuk nunjuk ke berbagai arah, tempat pengerasan tebing parit dan buk yang menghubungkan kedua sisi tebing. Ada yang aneh. Setiap kali dia menunjukkan tangan, kakinya ikut naik, kadang kaki kiri, kadang kanan, badan bergoyang goyang. Kami bertiga heran setengah mati. Kamto berbisik, “ Ingsinyir ki nek nuding kok nganggo tangan karo sikil ya?”.

Tak lama rombongan itu di sana. Jam setengah lima sudah lengang. Rombongan ingsinyir dri Semarang sudah pulang. Para pekerja dan mandor DPU, sudah pulang ke rumah masing masing. Kami mendekati daerah yang ditinjau tadi. Dibawah,  semak semak ditebangi, juga rumpun pisang dan rumpun bambu yang rimbun. Kamto berdiri persis di tepi parit yang agak terjal bekas tempat berdiri sang ingsinyir. Dia mulai menunjuk tempat tempat di dalam parit layaknya seorang ingsinyir. Anehnya, kakinya serentak ikut naik, kiri kanan kiri kanan, disertai goyangan tubuh yang gontai. Batin saya ‘ Aneh bukan ingsinyir kok berlagak nunjuk nunjuk pakai tangan dan kaki”. Tidak berlangsung lama, bukan hanya tubuhnya bergoyang goyang, tetapi tubuh Kamto kemudian terhempas jatuh ke bawah, ke tumpukan dedaunan itu. Jumadi yang mengikuti berdiri di tempat  itu, badannya bergoyang langsung jatuh ke bawah, sebelum kedua tangannya dan kakinya menunjuk nunjuk. Saya berpikir, pantas toh mereka bukan ingsinygir, sehinggak begitu mudah bergoyang dan jatuh ke bawah. Saya tidak minat untuk berdiri di dinding terjal itu. Gambaran tubuh insinyir yang bergoyang, serta kemudian  Kamto dan Jumadi yang terlempar ke dasar parit, sudah cukup memberikan sinyal, sesuatu tidak berjalan normal. Something is not right.

Kami pulang masing masing tanpa kesimpulan apa apa. Jatuh di parit adalah peristiwa biasa yang hampir terjadi tiap hari buat kami bertiga.  Tidak perlu dipikir lebih lanjut. Yang menjadi pikiran saya, ingsinyir itu menunjuk pakai tangan dan kakinya ganti ganti. Apakah karena berdiri ditempat terjal sehingga posisi badan tidak stabil, atau suatu tradisi turun temurun seorang ingsinyir?. Ah tah perlu dipikir.  Habis mandi sore, mau makan, ibu saya bertanya “Wis weruh ingsinyir le?” Dengan lugas saya menjawab. “Wis, ning aneh ingsinyir ki nek tuding tuding nganggo tangan karo sikil”. Ibu saya agak terhenyak, tetapi tidak bertanya apa apa kecuali pesan ‘sing sregep le sinau’. Ibu memang bercita cita anak anaknya jadi ingsinyir kemudian.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Poyek DPU itu sudah rampung. Parit nampak lebih rapi. Dinding arah jalan raya semua di tembok. Di bawah setiap beberapa puluh meter, terutama ditempat yang menurun, dibangun dam kecil, mungkin untuk mengendalikan arus air saat banjir. Tidak ada semak belukar lagi, tidak ada rumpun bamboo atau rumpun pisang lagi. Hanya tersisa rumpun bambu di lahan orang tua kami. Beberapa bulan kami bertiga tersadar, blumbang blumbang kecil itu, dimana kami sering mancing dan mencari ikan, juga ikut hilang bersama normalisasi aliran parit. Kadang terasa aneh, aliran parit alami diganti dengan aliran buatan manusia, kok disebut normalisasi. Alamkah yang abnormal ? Atau proyek proyek  normalisasi itu yang sebenarnya abnormal. Tahun tahun berlalu, aliran air di parit semakin kecil, semakin mengering di musim kering. The drying water. Sebaliknya sering banjir di saat musim hujan. Tak bisa menyalahkan proyek normalisasi yang abnormal itu. Mungkin juga karena ludesnya pepohonan di perbukitan belakang desa kami.

Enam puluh tahun lewat. Saya datang kembali di tepi parit itu suatu sore beberapa waktu lalu. Jembatan bambu sudah ganti dengan jembatan beton yang dibangun tahun 74. Sore itu saya ingin memeriksa bagian mana dari parit itu yang paling pas untuk membuat jembatan kedua. Untuk jalur supplai logistik ternak sapi yang dimulai beberapa tahun lalu. Saya berdiri ditepi parit bersama dengan salah satu pekerja. Tiba tiba saja saya ingin turun ke dasar parit. Di dinding  parit yang agak terjal itu, kaki saya terasa gontai, saya angkat kaki kiri saya untuk mempertahankan keseimbangan. Tetapi tak ayal lagi, saya terjerembab ke dasar parit. Serentak ingat sang manusia pintar insinyir yang mengangkat kaki sambil menunjuk nunjuk dengan tangannya enam puluh tahun lalu. Mungkin peristiwanya hampir sama, hanya dia tidak sampai terjerembab. Ah saya  memang bukan insinyir.
Keinginan ibu saya almarhum tercapai, lima dari sembilan bersaudara menjadi insinyir, dua bersuamikan insinyur, dan hanya saya yang nyebal  tidak jadi insinyir, meski ujian masuk perguruan tinggi di tahun 69, saya diterima di ITB dan IPB. Saya menjadi  dokter dan mencintai profesi ini sampai purna tugas dua tahun lalu.

Semalam dalam acara peringatan kepergian bapak, ibu, kakak,  kakak ipar dan anak saya Moko, saya bertemu Jumadi, Kamto dan Ratman kembali. Jumadi masih bekerja sebagai petani, anaknya meninggal tertabrak mobil di jalan raya itu saat masih taman kanak kanak di tahun delapan puluhan, seperti saya kehilangan anak saya Moko. Kamto masih aktif sebagai kusir andong. Ratman juga bertani, mungkin sambil meneruskan profesi ayahnya pak Dulmuji almarhum, sebagai tukang cukur. Pernah saya ceritakan perihal pak Dulmuji sebelumnya, tukang cukur yang suka berbual, katanya Joko Tingkir itu dulunya tukang cukur di Demak Bintoro, sebelum jadi ratu.  Pertemanan tak lekang oleh perjalanan waktu. Juga ingatan akan insinyir itu. 

Salam damai,

Wednesday, December 18, 2013

Kang



Suatu waktu, dalam satu acara pertemuan kedinasan di Salatiga. Samar samar ingatanku. Waktu istirahat, seseorang memanggilku “Kang,  gimana kabarnya? Lama banget nggak pernah ketemu”. Saya terhenyak. Hanya seorang yang pernah memanggilku demikian. Panggilan akrab.  Itupun hanya kadang kala dan sudah lewat 30 tahun yang lalu.  Atie. Wanita yang anggun dan lembut. Dia kemudian bercerita. Tentang perjalanannya  selama ini. Tentang pengaturan obat obatan, tentang anak anak yang mengalami deficit mental, tentang wanita dalam politik. Perjalanan penuh warna. Penuh dinamika.  Tak bisa saya mengikuti semuanya. Lebih banyak  mendengarkan. Kadang bingung karena pertemuan tak terduga itu.

Habis pertemuan sore harinya. Saya menuju parkir mobil. Nginap di Ambarawa. Ada acara keluarga besar di Ngampin, di rumah sebelah gereja tua. Tiba tiba Atie, menjinjing tas warna ungu, menyusul. “Kang, ikut ya. Saya ingin liat rumah di Ambarawa”.  Sebelum saya menjawabnya, dia dengan sigap duduk di samping saya. Kebetulan nyetir sendiri. “Kita lewat Banyubiru saja. Ingin lihat Rawa Pening”. Saya mengikuti saja permintaannya. Dia bercerita terus. Bahkan mengingatkan sewaktu ketemu di satu hotel kecil, di desa di tepian Kota Wiesbaden, tahun 1988. Saya sedang berkunjung di Jerman ke Wiesbaden dan Erlangen waktu itu. Kami bicara sore sore di kebun belakang sambil menikmati kopi dan diskusi tentang penelitiannya. Dia datang khusus dari Bonn waktu itu.

Dia memang sedang menyusun disertasi di salah satu institute farmakologi klinik terkemuka di Eropa, dibawah bimbingan professor Helmut Kewitz. Dalam suatu konperensi internasional di Yogya, di tahun 86, professor Kewits mendadak menderita serangan jantung. Kami panik semua. Belum ada Intensive Care Coronary Unit waktu itu. Untung selamat, meskipun di saat perjalanan pulang menderita serangan ulang di India dan harus  evakuasi emergency.

Suasana mendung. Tetapi rumah sudah ramai penuh kerabat pada kumpul. Nggak tahu acaranya apa. Saya mencari Nyi, kok nggak kelihatan. Katanya di kamar sedang sibuk mempersiapkan pakaian. Bapak saya, duduk tenang di kursi tua itu. Memakai surjan dan blangkon model Yogya. Saya keluar masuk salaman dengan para kerabat. Atie sempat bersalaman dan kenalan dengan kerabat saya dan ngobrol tenang di ruang tengah. Sesaat dia bersalaman dengan Nyi. “ Ki beruntung bisa dapat pendamping  kamu”. Ungkapnya singkat sewaktu ketemu Nyi. Kemudian saya lihat Atie berdiam diri. Di sudut  halaman melihat bunga Desember  yang mulai mekar. Nampak termenung. Mengenakan gaun kekuningan. Agak pucat dalam suasana sore yang redup.  Dia kemudian memetik  bunga  bouginvila warna kuning.

Saya belum sempat bicara dengan Nyi. Para kerabat masih lalu lalang mempersiapkan pertemuan nanti malam. Di luar saya melihat kakak ipar saya menanyi keroncong dengan para pemusik yang akan main nanti malam. Sebagian antre mau mandi sore. Dengan air panas yang disiapkan dari dapur di belakang.  Dua orang gadis kecil, cucu keponakan menjinjing ember bersama sama menuju kamar mandi. Saya mengingatkan “Cepat ya jangan main main di kamar mandi”.  Tiba tiba saya melihat Atie, sudah memakai kimono dan menyandang handuk warna putih. Dia menuju kamar mandi. Wajahnya begitu redup.  Saya menyapanya “Nanti biar diantar sopir ke Salatiga, selesai acara”. Dia terdiam seribu bahasa. Matanya jauh menerawang. Dia tetap berjalan menuju kamar mandi. Ada dua  rumpun bouginvila di kiri kanan kamar mandi.  Sebelum sampai di kamar mandi, disebelah rumpun bouginvila itu, dia menoleh lagi. Wajahnya  nampak pucat. Tetapi dia tersenyum . Sangat anggun.

Tiba tiba saja saya terbangun. Sudah jam 600 lewat. Saya berteriak memanggil Nyi.
“Saya kok mimpi aneh”. “Ah mimpi pagi hari tak ada maknanya” katanya. Dia sedang sarapan dengan cucu saya
. “ Iya saya kok mimpi bertemu dengan mereka yang sudah almarhum ya ?.  Dr. Atie Wagiarti. Juga Bapak “.
Nyi membalas tenang. “ Nanti siang tak buatkan bubur”. 

Dr. Atie Wagiarti Soekandar, seorang dokter, akademisi dan aktifis. Beliau berpulang beberapa tahun lalu. Kami bertemu pertama kali di tahun 79 dalam kongres di Bali. Kemudian di tahun 85 di Yogya, saat mengantar kunjungan almarhum Dr. Midian Sirait, Direktur Jendral Pengawasan Obat masa itu  ke laboratorium saya.  Masih ingat waktu itu saya antarkan dia mencari topeng kayu di Nagan, dan kemudian cerita kalau akan mengambil doktornya di Bonn.

Perjalanan hidupnya  penuh warna, penuh dinamika, banyak aktif di luar bidang akademiknya. Selain sebagai  peneliti dan dosen di Universitas Padjadjaran, dia juga pernah menjabat sebagai salah satu Direktur di badan Pengawasan Obat dan Makanan RI.  Juga aktif diberbagai kegiatan sosial. Aktif di Yayasan Pantara yang bergerak dalam kegiatan untuk menolong anak anak yang menderita gangguan khusus kecerdasan, dibawah ibu Karlina Wirahadikusumah. Juga pernah aktif di Indonesian Centre  for  Women on  Politics.

Kami semua dikejutkan dengan berita mendadak di tahun 2008, yang mengabarkan kepergiannya. Kami semua merasa kehilangan seorang teman, seorang akademisi yang penuh perhatian dengan masalah masalah masyarakat.  Memang lama sekali kami tidak bertemu. Terakhir mungkin di pertengahan tahun sembilan puluhan di Jakarta.  Pagi tadi bertemu dengannya, dia datang hanya dalam mimpi yang samar. Catatan kecil ini untuk mengenangnya  kembali. Seorang teman yang penuh dedikasi untuk bidang ilmu dan masyarakatnya.  Perjalanan panjang penuh warna, karya dan pengabdian.

Selamat jalan Atie, semoga engkau selalu damai di sana. Kami semua selalu mengingatmu dan menyayangimu. My dear Atie, rest in peace and eternity.
Ki Ageng Similikithi

1
https://www.facebook.com/notes/ki-ageng-similikithi/kang/10152051358223467

Saturday, December 14, 2013

Percakapan santun


Wajahnya begitu santun. Pandangannya menatap ke luar lewat jendela yang terbuka lebar. Angin sejuk berembus lembut.  Akhir pekan yang cerah.  Tahun  delapan puluhan awal. Saya mengantar  seorang kerabat bertamu ke Salatiga. Di rumah peristirahatannya. Bapak tersebut, sebut saja namanya bapak Karyo, adalah pejabat Kepala Biro Kepegawaian propinsi salah satu dinas pemerintahan.  Sehari sebelumnya sudah memberikan waktu di akhir pekan untuk  menemuinya.

“ Dimas, berpuluh tahun saya telah mengamati perjalanan karier banyak pejabat di propinsi ini, sejak awal mereka masuk, sampai ke puncak. Perjalanan panjang penuh warna”.

Ucapannya lembut , sambil menarik napas panjang, seolah menggumam terhadap diri sendiri. Saya duduk di kursi seberang. Sementara kerabat saya duduk di kursi di dekat pak Karyo. Kerabat saya terbata menjawab, seperti tidak siap.

“Injiiiiiih pak. Mila kula sowan Bapak, badhe nyuwun pangestu” . Iya pak, makanya saya menghadap mohon restu.
“Tanpa diminta pun saya selalu memberi restu. Saya adalah abdi negara.  Kuajiban saya adalah mengabdi untuk negara”.

Kerabat saya semakin tidak siap memberi response. Kedua tangannya terselip diantara ke dua lutut. Badannya ikut bergoyang saat menganggukkan kepala berulang kali. Dengan gagap dia berkata.

“ Kawula sampun wonten luar Jawa 13 tahun. Nderek nyuwun penempatan wonten mriki”.
Saya sudah bertugas di luar Jawa selama 13 tahun. Mohon penempatan di daerah sini.
Katanya lirih menghiba.  Bahasa tubuhnya semakin menunjukkan jika dia dibawah angin posisinya. Hanya mengangguk angguk. Tidak  Mengangguk Angguk Sambil Berseru tri lili lili lili, seperti dalam lagu anak anak itu. Kedua tangannya semakin tenggelam di antara ke dua lutut.
“Dimas, sudah sampai saatnya sampeyan balik ke sini, lenggah dadi manggalaning praja,  ngayahi tugas narendra gung binathara”.  Duduk sebagai pejabat publik, menjalankan tugas mulia.  Kerabat saya semakin kehabisan perbendaharaan untuk berkata. Hanya bilang “ injih mekaten”, sambil mengangguk angguk pelan.

Pak Karyo memperbaiki posisi duduknya. Bersandar di kursinya. Sambil terus bicara tentang kuajiban dan tugas pegawai negeri. Matanya tetap menatap langit di luar, seolah mencari petuah dari langit. Beberapa kalimatnya masih teringat saya, seperti yang sering diutarakan dalam penataran P4. Kalimat kalimat itu begitu magis, seolah datang dari dunia sakral. Saya ikut terbawa, kedua tangan saya menyilang di dada  dan ikut mengangguk angguk. Tidak sesering kerabat saya.

Hampir setengah jam ritual itu berjalan khidmat. Dalam bahasa yang sangat santun. Penuh ungkapan indah pengabdian abdi negara. Ketika pak Karyo berhenti, dan mempersilahkan kami minum teh, saya menginjak kaki kerabat saya untuk berpamitan.  Dia mempersiapkan sesuatu. Amplop dengan garis  garis merah di tepi, par avion.

Pak Karyo masih menatap langit di luar sana. Sesekali menarik napas.  Tiba tiba setting ritual berubah. Kerabat saya masih dalam posisi duduk. Mendekatkan diri sambil menunduk.  Kedua tangannya bebas dari jepitan lututnya. Tetapi diantara jari tangannya menjepit amplop Par Avion itu.  Pak Karyo  tetap tak mengubah posisinya. Tak membuka kacamatanya.  Tetap memandang langit. Tetap bersandar di kursi. Tetapi jari jari tangannya dengan sigap menjepit amplop dari kerabat saya tadi.

Saya terkesiap. Kejadian berlangsung begitu cepat. Pak Karyo berujar. “Ah mbok nggak usah repot Dimas”, tetapi amplop langsung pindah tangan. Amplop ini biasanya untuk pos udara. Paling tidak butuh waktu seminggu jika untuk kirim surat ke luar Jawa. Tetapi pagi itu perjalanan amplop itu hanya berlangsung dalam detik.

Gratifikasi kadang tidak bisa dipisahkan dari kesantunan Jawa. Mungkin hanya ungkapan terima kasih semata. Tetapi kalau gratifikasinya rumah, itu sudah lain masalahnya. Entahlah apapun namanya, entah itu gratifikasi, glondong pengareng areng, memang produk budaya yang bisa menuju jalan sesat.

Salam damai
Ki Ageng

Monday, November 25, 2013

Sang Komandan



Dalam satu konperensi pers  mengenai  di tahun 2004 di Manila, seorang wartawan kantor berita pemerintah negara adidaya  Asia mencecar kami dengan pertanyaan, apa yang bisa anda lakukan dengan para pelaku dan pengedar obat palsu itu,  berapa banyak sumberdaya anda melawan mereka?  Boss agak tersentak dengan pertanyaan menusuk itu. Dia menjawab dengan tenang dan melempar inti pertanyaan ke saya, ‘He is the responsible officer in charge”.  Saya menjelaskan strategi  dan Rapid Alert System yang sedang kami kembangkan, dan meenghimbau agar pemerintahnya bisa bekerja sama.  Dengan nada meninggi saya menutup penjelasan, “I promise we will hunt down those criminals”. Boss saya agak  kaget mendengar nya. Di luar ruangan dia bertanya, apa maksud kata kata  saya. “Let me work out and get back to you”. 

Selang beberapa minggu kemudian, kami menyelenggarakan pertemuan  membahas masalah yang sama  di Hanoi. Malam malam di hari pertama, kira kira jam 1 pagi, ada tilpon berdering. Suara nyaring diseberang sana menanyakan mengenai masalah peredaran obat palsu, terutama anti malaria di Asia. What your organization has done so far? Is your organization sleeping and keep quiete on this issue?  Setengah ngantuk saya menjawab, organisasi kami punya berbagai program dan amunisi melawan peredaran obat palsu.  But you are wright, I am sleeping now,  its pass mid nite .  Not a good time for an interview.  Anda menghubungi kami lewat tengah malam, bukan saat tepat untuk wawancara. 

Erik, seorang perwira polisi dari salah satu negara Skandinavia mewakili lembaga kepolisian internasional sengaja kami undang dalam pertemuan tersebut. Kami belum sempat berbicara secara pribadi dengan dia. Hanya tahu dalam perkenalan di awal sidang dan saat dia presentasi menjelaskan programnya saja. Kemudian dia minta bertemu informal sorenya sesudah sidang selesai. Saya menyanggupi dan mengajak wakil saya Truls bertemu dia di coffee shop hotel. Erik ternyata  pribadi yang hangat, ramah dan mudah diajak diskusi. Agak terkejut ketika dia membawa hadiah sebotol anggur putih dengan merek dari lembaganya, lembaga kepolisian internasional.  Truls menginjak kaki saya ketika saya akan menerima botol anggur itu. Erik melihat keraguan kami. “No worry friends. This is a legal product from my organization. Not confiscated from raids”. Kami tertawa semua  dan bergurau tentang pemalsuan anggur. Kemudian  bicara santai mengenai kemungkinan kerja sama  operasi bersama. 

Beberapa waktu berlalu, Erik kembali ke negaranya dari kantor lembaga kepolisian internasional. Dia mendapatkan promosi menjadi kepala kepolisian wilayah di sana. Mungkin sama dengan Kapolda kalau di Indonesia. Truls, wakil saya pindah ke Fiji, kedudukannya digantikan oleh seorang staf putri yang tadinya pejabat tinggi di Mongolia.  Seorang perwira SY dari Inggris menggantikan kedudukan Erik, namanya John. Dia seorang perwira yang sangat berpengalaman dalam operasi sandi melawan kejahatan antar negara.
Dalam pertemuan di Manila tahun 2006, kami mulai membuat rencana strategis kerjasama antara dua organisasi untuk melawan peredaran obat palsu terutama anti malaria di Delta Mekong. Organisasi kami diwakili oleh Eva dan saya , penanggung jawab program malaria dan program obat obatan. Kami menyelenggarakan berbagai pertemuan dengan laboratorium laboratorium forensik  terkemuka di dunia dari Kanada, USA, Australia dan New Zealland. Menjelang salah satu pertemuan di Manila, di tahun 2007, John bilang kalau masa tugas di lembaga kepolisian antar negara sudah selesai dan harus kembali ke negaranya. Dia akan mengajak staf penggantinya.  

Ketika pertemuan koordinasi  terjadi, benar John membawa  kolega yang akan menggantikannya, seorang perwira polisi dari Perancis. Saya tidak bisa menutupi kekagetan saya ketika dia diperkenalkan, seorang wanita muda yang gemulai dan bahasa halus dengan  aksen Perancis yang khas. Dia lebih pantas  menjadi peragawati  atau bintang layar lebar kayaknya. Salah seorang pejabat senior  yang hadir sempat bertanya apa ranking dia di kepolisian negaranya, mungkin juga karena rasa kaget saja pertanyaan nggak pas ini meluncur.   Aline manjawab dengan tenang bahwa dia berpangkat kapten, tetapi sudah berpengalaman dalam investigasi forensic  dan  operasi  di lapangan.  

Kesan kami berubah total ketika dia mulai menjelaskan hasil hasil pemeriksaan forensik terhadap sampel sampel yang dikumpulkan. Analisisnya begitu tajam. Dia bisa memperkirakan kira kira fasilitas pabrik seperti apa yang dipakai untuk memproduksi obat palsu tersebut. Termasuk menebak lokasi asalnya berdasarkan kandungan  serbuk benang sari tetumbuhan dan senyawa kapur  yang ada di dalam sampel.  Ada satu lokasi  di salah satu daerah pegunungan di Asia yang sangat mungkin menjadi  tempat produksi obat obat palsu tersebut. Bukti bukti ini lebih dari cukup untuk diberikan kepada kepolisian negara yang bersangkutan dan mengajak kerja sama operasi lapangan. 

Sejak itu secara resmi kendali operasi dipegang oleh Aline atas nama organisasinya. Kami hanya mendukung di belakang dan melakukan koordinasi dan penggalian sumberdayanya.  Beberapa rapat koordinasi yang rumit, terutama yang menyangkut kepekaan politik suatu negara, bisa dilalui dengan lancar. Di sebagian besar negara kegiatan ini mendapatkan perhatian khusus dari pemimpin politik, bahkan seorang wakil menteri dalam negeri suatu negara penting, ikut datang dan memberikan masukan akan harapan dari negaranya.

Operasi pertama berhasil gemilang.  Berjuta juta dolar obat palsu bisa diamankan secara serentak di negara negara yang ikut dalam operasi bersama ini. Organisasi di mana Aline bekerja, yang memimpin operasi, menyebarkan press release di media global. Organisasi dimana saya bekerja, sesuai dengan cara kerja yang telah dianut bertahun tahun, tidak membuat publikasi besar besaran.  Tetap low profile, walau sebagian besar beaya operasi datang dari program saya.  Tetapi tak ayal, radio ABC mewawancarai saya langsung, hanya diberi tahu setengah jam sebelumnya. Karena keberhasilan operasi pertama, maka kemudian disepakati untuk mengulang sekali lagi operasi bersama yang melibatkan tiga lembaga internasional, dan tiga lembaga  nasional dari  6 negara Asia tersebut.  Aline memegang kendali operasi berkoordinasi dengan lembaga regulasi dan penegak hukum di masing masing negara.  Operasi tahap ke dua juga berhasil gemilang, dan ditutup secara resmi dalam satu pertemuan di Yogyakarta.  

Tahun tahun berlalu, saya masih mengingat dengan jelas kegiatan operasi tersebut. Saya merasa beruntung bisa mendorong dan terlibat dalam operasi bersama yang melibatkan berbagai lembaga internasional dan lembaga lintas sektoral di berbagai negara.  Betapapun rancangan dan rencana yang telah dibuat dalam perencanaan, tetapi  faktor keberhasilan adalah komando operasi antar negara, yang dipegang Aline. Dia seorang komandan operasi yang sangat teliti dan berdedikasi. Pribadi yang hangat dan sabar dalam setiap tahap negosiasi.  Ketika angin politik menerpa bertubi tubi,  semua keputusan dikembalikan kepada para politisi untuk membuat keputusan, asalkan kegiatan kerja sama tetap berjalan untuk keamanan publik.  Ketika tiba waktunya saya meninggalkan organisasi saya karena pension, pengganti saya Klara mempelajari operasi ini dengan seksama dan memutuskan akan meneruskannya.

Wednesday, July 31, 2013

I am on my way to Tengri Loo


Terhenyak saya menerima pesan singkat di inboks. Sangat singkat.  I am on my way to Tengri Loo. How are you my dear ?  Menjelang tengah malam ketika menerima pesan itu. Belum jernih benar siapa si pengirim.  Akhir akhir ini memang sering banyak pesan masuk inboks. Isinya macam macam, kadang aneh. Sambil lalu saya balas “ I am fine. Whats up?”.  Beberapa saat kemudian dia membalas lagi. “You must have forgotten me. We were supposed to go to Issyk Kul”.

Kaget setengah mati ketika dia menyebut Issyk Kul. Danau indah di Asia Tengah.  Lebih dua puluh tahun  telah berlalu.  Kami bertemu dalam suatu misi di Kyrgistan,   Aika baru beberapa tahun kembali dari Sophia, Bulgaria. Sejak sekolah menengah  tinggal  di Bulgaria dan menamatkan pendidikan universitas.Di awal  sembilan puluhan, setelah Kyrgiztan lepas dari Uni Soviet, dia mendapatkan tugas mengepalai  unit logistik dibawah  Kementrian Kesehatan.  Kami berempat  dengan beberapa kolega dari kantor Eropa waktu itu, diundang pemerintah Kyrgiztan untuk  membantu transisi dari sistem Uni Soviet ke sistem yang lebih modern yang  dianut banyak negara di dunia. Tidak gampang. Telah ada sistem tetapi kolaps. Lebih mudah datang di negara2  kurang berkembang dimana belum ada sistem sama sekali.
Aika adalah salah satu anggota tim tuan rumah waktu itu. Berhari hari kami diskusi dengan mereka untuk memformulasi kebijaksanaan nasional dalam bidang farmasi. Aika ternyata professional muda yang sangat dinamis. Charming and intelligent.  Sangat mudah bergaul. Dalam kelompok selalu  bisa mengatasi perbedaan.  Kami semua dibuat terkagum kagum.

Kami tinggal di suatu hotel di tepi kota Bishkek.  Di belakang hotel terhampar padang rumput yang luas. Lupa bulannya ketika itu, tetapi cuaca masih dingin buat saya untuk berjalan jalan di padang itu. Beberapa orang sering lalu lalang di padang naik kuda. Suatu sore kami jalan jalan dengan Aika. Dia mengajak naik kuda.  “Saya berdarah Mongolia, sangat akrab dengan kuda, di waktu liburan”.  Saya sekali memberanikan diri naik kuda, suatu sore. Mungkin nampak aneh dan kikuk.  Saya bilang, terakhir saya naik kuda waktu umur 13 tahun. Jatuh dari pelana, terseret dan kapok tidak pernah mencobanya lagi.

Sewaktu kecil, memang kami punya dua kuda. Satu kuda pacu yang tidak begitu ramah, dan satunya kuda tunggang,namanya Mirah. Kuda pacu kami mati sakit tetanus karena dibacok seseorang pada suatu malam di tahun  60, menjelang perlombaan se kawedanan.  Kuda bisu itu memang  pendiam tetapi telah beberapa kali memenangkan kejuaraan di Ambarawa dan sekitarnya.  Kami begitu kehilangan waktu itu. Ayah saya memutuskan untuk tidak lagi memelihara kuda sampai akhir hayatnya.
Memandang Aika memacu kuda dalam suasana sore yang redup  sangat menakjubkan.  Pemandangan indah.  Rambutnya berjurai  tertiup angin. Tubuhnya  bergerak  luwes berirama mengikuti derap kuda. Mungkin seperti yang sering digambarkan dalam cerita, tentara perempuan  Mongolia, yang begitu terampil di punggung kuda.  Aika berwajah jelita. Seperti kebanyakan wanita Kyrgiztan, warna  putih bersih, walau  sedikit pucat.

“Jika ada waktu, lebih baik tunda keberangkatanmu. Saya temani ke Issyk Kul beberapa hari”.  Issyk Kul adalah danau indah di  daerah perbukitan  Tengri Loo arah Timur Laut.  Di dekat perbatasan dengan Xinjian province China.Orang China menyebut  Tengri Loo dengan Tian Shan.  Tidak mungkin merubah jadual perjalanan. Kami dalam misi resmi.  Aika pula yang mengatur kenang kenangan  dari Wakil Perdana Menteri. Teman teman dihadiahi kenang kenangan kotak  catur dari gading. Saya bilang tidak main catur. Kemudian diberi topi khas Kyrgiztan dan cambuk kuda dari kulit.  Saya tidak mengharapkan hadiah sebenarnya, tetapi I love this hat, thank you so much dear.

Dia bersama rombongan mengantar kami sampai ke perbatasan.  Berhenti beberapa waktu di atas perbukitan. Menjelang sore ketika itu. Sejauh mata memandang hanya padang rumput warna keemasan bergelombang naik turun. Kami disuguh daging kambing yang di panggang. Ada banyak paha kambing dihidangkan waktu itu. Beberapa orang mulai menari setelah minum. Saya tidak  ikut minum.Nggak terbiasa. Kesulitan yang saya hadapi di Kyrgiztan hanya satu. Makanan hanya daging sama keju dan  susu. Jarang sekali jumpa sayuran.  Aika  memeluk erat saat kami berpisah. Saya yakin ini bukan tradisi Kyrgiztan, tetapi pasti dari Sophia. “ We are supposed to go to Issyk Kul”, sapanya sambil berkaca.  Kami berpisah. Malam itu jalan darat menuju Almaty, Kazakhtan. Tiba di sana tengah malam.
Pagi sekali naik pesawat dari bandara Almaty, lewat Frankfurt,  Bangkok, dan Jakarta. Sewaktu datang pertama di Kazakhtan dulu, saya benar benar kaget. Orangnya wajahnya   khas Asia, tetapi badannya tinggi tinggi seperti orang Eropa. Saya pikir, ini Eropa enggak, Asia juga enggak, sampai saya tilpon Nyi. Di Frankfurt sebelumnya pemegang paspor Indonesia tidak perlu visa. Tetapi waktu datang sepuluh hari sebelumnya, saya telah dapat visa on arrival, bayar  10 DM. Meski punya visa,imigrasi ketatnya nggak karuan. Mereka sangat hati hati oleh karena banyak orang Asia Tengah masuk Eropa waktu itu.
Beberapa kali masih sempat kontak lewat surat dengan Aika.  Pernah minta dibuatkan tulisan yang indah. Saya kirimkan catatan singkat berjudul   Elegant  Lady from Tengri Loo. Lama tak mendengar kabar kemudian.  Sepuluh tahun berlalu, di awal tahun dua ribu, kami tak sengaja bertemu  di Geneva. Dia bukan lagi seorang  smart young professional. Dia sudah menduduki jabatan tinggi di pemerintahan.   Dia memimpin delegasi negaranya dalam negosiasi. Kami sempat makan malam dan ngobrol di salah satu rumah makan ditepi danau.  Obrolan ringan. Dia masih  bilang ‘ We were supposed to go to Issyk Kul”.
Pertemuan terakhir kami lebih setahun lalu di Sydney. Dalam suatu konperensi Asia Pasifik. Tak pernah ada dalam agenda, tetapi saya memang bermaksud pamitan pension kepada teman teman. Aika datang sehari sebelum konperensi. Saya kaget setengah mati ketika menerima pesannya di hotel. Saya tidak pernah memberitahunya.  “Staf saya bilang kau disini Ki,mau pension. Saya kebetulan juga sedang di Canberra”.  You must be very happy to retire. I hope I can come to Borobudur, and you can come to Issyk Kul. Kami mengobrol  di salah satu rumah makan di Darling Harbour. Saya tidak bisa  tenang.  Power point plenary lecture saya belum saya finalkan.
Pesan singkat dalam inboks kali ini ditutup dengan kata katanya yang  khas. So long my dear.  Terbersit dalam benak saya “An elegant lady from Tengri Loo”.
Salam damai
Ki Agen Similikithi

Friday, December 14, 2012

Ke Sekaten


“ Bangun bangun. Sudah sampai”. Samar samar terdengar suara membangunkanku. Suara yang sudah  saya kenal sekali waktu itu. Entah pak Maslan, pak Warto atau mas Gek, yang bersama sama dalam satu mobil.  Larut malam, di suatu hari Jumat di tahun 57, ketika rombongan sampai di desa kami, Ngampin Ambarawa. Sehabis lihat sekaten di Yogya. Saya  berjalan terseok menuju rumah yang berjarak kira kira seratus meter dari tepi jalan. Gondo, adik saya digendong salah seorang pembantu lelaki. Gelap gulita. Seorang penjaga malam menjemput dan menerangi dengan obor blarak (daun kelapa kering)  di tangan.


Tiba tiba saya tersadar ada sesuatu yang hilang dari genggaman tangan.
“ Mana telor pindang saya?” Saya berteriak.
Keheningan mendadak pecah. Gaduh sesaat. Seseorang tertawa, saya lupa suara siapa.
“ Wah pasti jatuh di mobil. Untung sopirnya, dapat bonus telor”.
Hampir menangis menahan kecewa saya. Telor yang digodog dengan daun jati, warna merah itu dibagikan sewaktu akan pulang di Yogya tadi. Saya pikir mau saya makan esok harinya. Mungkin buat sangu sekolah besoknya.

Itu kisah sesudah menonton sekaten saya pertama kali. Sekeluarga naik dua mobil suburban Morodadi. Berangkat sore sekitar jam tiga. Saya bersama dalam satu mobil dengan rombongan yang semuanya pria. Pak Maslan, guru, asli dari Medan. Pak Warto juga guru, dari Godean Yogyakarta. Mereka mondok di rumah saya. Mas Gek asli dari Bali, anak angkat bapak & ibu. Yang lain di mobil satunya. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya di jalan di sebelah barat alun alun, saya lihat tiga orang berpakaian surjan dan belangkon, bertengkar hebat. Saya pikir, sedang main ketoprak. Tak tahunya mereka tengkar karena masalah parkir sepeda. Pak Warto yang dari Yogya lebih memahami apa yang mereka petengkarkan, menarik saya untuk menjauh. Saya nggak mudeng. Bertengkar kok dalam bahasa Jawa halus. “Menawi mekaten, sampeyan apus apus ta. Gombal”.  Di desa saya orang tidak berserapah menggunakan kata gombal. Biasanya kata “celeng” lebih lugas, karena binatang ini sering masuk kampung merusak tanaman ketela.

Yang masih tersisa dalam ingatan sekaten hanya permainan droemmollen. Juga orang berjualan bolang baling, atau galundeng. Di Ambarawa waktu itu, bolang baling yang dalamnya kosong, tak begitu populer. Orang lebih kenal gelek, juga dari tepung gandung yang digoreng, yang dalamnya solid, kadang  masih setengah mentah. Kalau dimakan bisa melar. Pernah kejadian, seorang tukang andong berlomba makan gelek. Kusir andong dari Banyubiru yang menang,  menghabiskan 12 buah gelek, minum air putih satu kendi. Tragisnya beberapa saat kemudian masuk rumah sakit dan meninggal, perut besar atau waduknya pecah.  Namun gelek tetap saja lebih populer dibanding galundeng di Ambarawa. Bahkan battalion Ambarawa yang bertugas di perbatasan Kalimantan Utara saat konfrontasi, selalu minta dibekali gelek yang dimampatkan kecil kecil. Lebih praktis untuk makan di tengah belantara dibanding nasi.

Ketika mondok di Gerjen di tahun 1969 sampai 1971, mudah sekali menonton sekaten karena lokasinya hanya satu blok dari tempat pondokan. Tak begitu menarik, manusia berdesakan, rebutan makanan gunungan. Adu kuat siapa menang, dia dapat. Agak istimewa sedikit di tahun 73, bersama teman teman sepondokan di Taman Sari pergi ke sekaten. Saya masih sedikit limbung. Pacar ternyata telah resmi kawin saat liburan semester beberapa hari sebelumnya. Kami beli galundeng banyak sekali. Malamnya makan galundeng rame rame di kost kostan. Lebih aman dibanding makan gelek. Galundeng tidak mengembang dalam perut. Dengan galundeng dan tahu goreng dan alunan musik metal, sudah cukup membuat ajojing teman sak pondokan, sampai jam dua malam. Easy going. Laki laki tak perlu patah hati. Patah tumbuh hilang berganti. Mungkin semua sudah lupa kejadian itu. Life must go on. Masih ingat teman teman malam itu. Anton dan Darma, berkeluarga sebelum lulus, nggak tahu dimana mereka sekarang. Khavid jadi ahli THT di Surakarta. Agus Rochadi, dokter militer dan ahli jantung di Jakarta. Prapto jadi guru besar seni, dan pernah menjabat rektor di institutnya.

Beberapa hari sesudah kejadian itu, saya kembali ke sekaten bersama gadis AKUB itu. Belum pacaran. Tetapi dia mau saja diajak jalan lihat sekaten. Tidak beli galundeng. Tetapi lumayan sudah bergandengan tangan. Makan bakso di dekat kostnya di Purwanggan, kerasa terlalu asin. Yang saya masih ingat betul, bertemuarhum Dr. Roesman berdua. Beliau dosen histologi. Tak sempat bicara ditengah lautan manusia. Hanya  melambaikan tangan. Beberapa minggu kemudian, saya jalan kaki siang hari dari Mangkubumen. Dosen ilmu kesehatan masyarakat, dokter Hersusanto, mengajak naik mobil Fiatnya. Saya didrop di tempat kost di Patangpuluhan. Beliau sempat bertanya “Sampeyan nggak lagi sama Emsa ya?”. Saya hanya tersenyum ringan.

Di tahun delapan puluhan, saya sempat mengajak anak anak lihat sekaten. Semakin penuh sesak. Manusia berdesakan, tidak tahu untuk apa. Pengin membawa anak anak naik droemmollen. Saat jalan mau pulang, sekelompok anak muda dengan beringas mendesak kami dengan anak anak kecil. Nggak tahu kenapa. Tak ada alasan berdesakan. Saya emosi, salah satu saya tarik dan saya hardik. Ketika beberapa petugas keamanan mendekat, anak anak muda itu bubar dengan sendirinya. Sejak itu saya tak pernah ke sekaten. Bagi saya tak ada yang mengesankan. Hanya potret kesemrawutan lautan manusia semata. Beradu kekuatan berdesakan. Kadang membawa korban. Mau cari hiburan kok harus menanggung resiko. Tidak manusiawi.

Salam damai
Ki Ageng Similikithi
 http://www.facebook.com/notes/ki-ageng-similikithi/ke-sekaten/10151211548238467